Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
episode 45(s2)


__ADS_3

Maaf telat up lagi tapi tetap usahakan tetap stay updatenya sampai tamat ni cerita.


Semoga gak mengecewakan walau alurnya sudah berantakan saya sendiri sampe lupa nama" charanya apalagi yang jarang muncul jadi maklumi jika ada gak muncul" atau namanya sering berubah" saya sendiri malas baca dari awal🙏.


Happy reading.....


Sebelum kejadian


"Viola jangan jauh-jauh mainnya tunggu kakak", kata Fadli yang terlihat kesusahan melewati lereng deket sungai.


"Cepetan kak nanti aku tinggalin loh", seru Viola dengan santainya melewati lereng dan terus maju meninggalkan Fadli di belakang.


"Akh, tunggu Viola", teriak Fadli yang tertinggal di belakang.


"Sini lewat sini Fad jangan injak itu sini", tuntut Rifki sambil mengulurkan tangannya.


Fadli meraih uluran tangan Rifki dan hampir saja ia salah menginjak.


"Akh"


"Hati-hati di sini agak berbahaya kau lewat pelan-pelan saja aku akan menyusul Viola mengajaknya kembali firasatku gak enak", kata Rifki khawatir.


"Aku baik-baik saja kau susul anak itu kalau aku gak bisa lewat aku balik minta ayah nyusul kalian", kata Fadli.


"Baiklah"


Rifki melewati lereng dengan penuh hati-hati tepat di bawah mereka ada sungai yang entah di dalamnya ada apa.


"Ku harap tidak terjadi hal buruk", pikir Fadli.


Tiba-tiba sosok hitam lewat dengan lincah tepat di depan mata Fadli.


"A- apa itu tadi? Kok perasaanku gak enak ya?", kata Fadli dengan nada suara bergetar dan mulai merasa ada janggal di tempat ini.


"J- jangan takut ayo maju t- tapi aku takut apa l- lebih baik balik arah?", gumam Fadli mulai ragu.


"Di mana mereka nak?", tanya seeseorang sambil menepuk pundak Fadli.


"Aaaaaaaaa..."


Di sisi Maura dan Fira.


"Apa ayah bisa menyusul? Kan jalan di sana lereng dan di bawahnya sungai mana lagi Fira denger-denger kalau masuk lebih dalam lerengnya sangat curam dan sempit dan juga di sebelahnya jurang yang dalam", jelas Fira takut dan khawatir.


"Percayalah ayahmu pasti membawa mereka kembali dengan selamat tidak akan terjadi apa-apa sayang tenanglah jangan takut", jelas Maura sambil mendekap Fira erat dalam pelukannya.


"Hm"


Di sisi Rifki dan Viola


"VIOLA BERHENTI AYO KEMBALI DI SINI BERBAHAYA SEBELAH KITA JURANG", teriak Rifki saat berhasil mengejar Viola, adiknya itu.


"Gak ah kak aku masih mau bermain gak berbahaya kok", seru Viola keras kepala dan terus berlari.


"Akh, Viola!! Tunggu!! Di sana curam!!", teriak Rifki namun gadis itu tak mendengar hingga...


"Tertangkap kau gadis kecil", kata sosok misterius.


"VIOLA", seru Rifki.


"Kakak tolong Piola", teriak Viola sambil meronta-ronta namun sosok itu semakin mengunci pergerakan Viola.


"Aaaaaakkkkh sakit a, ayah ibu!! Tolong!!", teriak Viola.


"Diam", kata sosok itu dan semakin mengunci pergerakan Viola di bagian leher sampai Viola tidak bisa bernafas.


"Lepaskan adikku", seru Rifki.


"Diam kau bocah aku tidak ada urusan denganmu tugasku hanya melenyapkan anak ini sesuai perintah dia dan kau bocah jika tidak ingin berakhir seperti saudaramu berikan liontin yang kau pakai itu", ucap sosok itu.


"Gak akan dan tidak akan pernah terjadi", tolak Rifki tegas dan perlahan-lahan mundur.

__ADS_1


"Begitukah? Sayang sekali aku harus mengakhiri hidupmu di sini setelah adik kecil manismu ini jadi tunggu saja giliranmu bocah", ucap sosok pria itu.


"Jangan kau sentuh adikku", bentak Rifki.


"Kak to-long Pi-ola se-sa-k kak", ucap Viola yang mulai kehabisan nafas.


"Matilah"


"JANGAN VIOLA"


Di sisi Fadli


"Kau ini dasar bikin jantungan saja", keluh Ryan sambil menjitak kepala Fadli.


"Ya maap yah habis ayah tiba-tiba muncul lagi mana tadi ada sosok hitan melintas aku takut", kata Fadli sambil memeluk dirinya.


Ryan melihat putranya itu tubuhnya bergemetaran.


Sambil menghela nafas "kembalilah biar ayah menyusul mereka".


"Gak! Aku takut di sini terlalu menakutkan dan aku gak berani kembali sendiri", kata Fadli tegas walau ia merasa ketakutan.


"Baiklah sini biar ayah tuntut jalannya hati-hati saja jalannya di dalam jalannya sangat curam", kata Ryan sambil menghela nafas.


"Hm"


Baru saja jalan memasuki lereng curam mereka mendengar teriakan Rifki.


"A- ayah", panggil Fadli dengan nada bicara terbata-bata.


"Ayo sini ayah gendong kita harus cepat", kata Ryan dengan sigap mengendong Fadli masuk lebih dalam dengan sangat lincah.


"Ayah sangat hebat pantas ibu jatuh cinta ke ayah", gumam Fadli dengan suara kecil namun masih dapat di dengar Ryan.


"Memangnya kenapa nak kalau ayah hebat?", tanya Ryan.


"Aku ingin seperti ayah tumbuh kuat dan hebat", jawab Fadli dengan wajah berseri-seri.


"Andai kau tahu nak dunia ini sangat keras", pikir Ryan.


Di sisi Rifki dan Viola


"Kakak", teriak Viola saat peluru itu kena tepat di bahu kiri Rifki.


"Ah, kau pintar menghindar memang seperti ku harapkan dari putra sulung tuan muda Ryan",ucapnya saat melihat pelurunya meleset dari bidikan awal.


"Tapi kau tetap anak-anak yang lemah tidak bisa berbuat apa-apa bahkan kau tak bisa menyelamatkan adikmu", tambahnya sambil mengeratkan lebih kuat dan Viola benar-benar kehabisan nafas.


"H- hentikan lepaskan adikku dia masih sangat kecil bukankah urusanmu denganku? Dia menginginkan liontin ini karena liontin ini memiliki kekuatan magis bekas **** iyakan?! Demi mengembalikan kekasihnya tanpa peduli resiko yang harus di tanggung?! Jawab aku paman!! Benar kan?!", teriak Rifki.


Seketika sosok itu melepaskan Viola dan maju menyerang Rifki.


"Bocah sepertimu harus mati karena kau bisa menjadi ancaman besar di masa depan terlalu banyak yang kau ketahui yang seharusnya gak diketahui bocah sepertimu enyahlah", ucap sosok itu siap dengan pistolnya.


Tepat saat itu hal tak terduga terjadi tepat di depan mata mereka.


"JANGAN"


DOR


"VIOLA", seru Rifki saat melihat adiknya itu berusaha melindunginya.


"Ah sialan", ucap sosok itu mengumpat kata-kata kasar.


"Berhenti!!", sebuah teriakan membuyarkan lamunan Rifki.


"A- ayah"


"Ayah orang itu melarikan diri", kata Fadli.


"Biarkan saja", kata Ryan dan matanya beralih melihat putrinya terbujur kaku dan lemah.

__ADS_1


"M- maaf kak m- maaf ayah j-ika aku men-dengar kak Lifki gak begini maafkan Pi-ola", kata Viola sembari tangannya meraih Rifki.


"Bertahanlah kakak mohon", pinta Rifki sambil memengang tangan Viola yang dingin.


"Udahlah kak Pio-la ga-k kua-at la gi biar kaan Pio la tenang ya ka k Lif k i, kak Pad li dan ay ah titi p salam ibu da n kak Li fa Pio la saya ng ka li an", kata Viola dan ia pun menghembuskan nafas terakhirnya.


"Viola dek, buka matamu VIOLA", histeris Rifki sambil memeluk tubuh kecil Viola.


"Viola", gumam Fadli tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya.


Ryan? Sorot matanya benar-benar kosong.


"Ayo kembali ibu dan Fira sudah lama menunggu", kata Ryan sambil mengendong tubuh Viola.


Di taman


"Sayang kok lama? Eh? Apa yang terjadi?", tanya Maura.


"Kalian kenapa?", tanya Fira heran melihat dua saudara laki-lakinya tidak biasanya.


"Sayang Viola sudah tidak ada", kata Ryan.


"Maksudmu apa hah?!", teriak Maura.


Ryan menceritakan semuanya tentu Maura dan Fira syok tak percaya.


"Bohong putriku tidak tidak", histeris Maura sambil menangis sejadi-jadinya.


"Ayo pulang dan urus semuanya", kata Ryan dengan tatapan kosongnya berjalan begitu saja.


Di rumah


Tentu ini kabar kematian Viola menjadi tamparan bagi mereka tapi apa daya semuanya sudah terlambat.


Saat selesai acara pemakaman


"Arfan", panggil Anisa.


"Aku tidak pernah menyangka akan kehilangan untuk kesekian kalinya dulu anak kita sekarang cucu kita bahkan ini bukan pertama kalinya", kata Arfan.


"Ini benar-benar di luar kendali kita Ar dulu Reyna kehilangan anak pertamanya dalam kandungan sekarang Ryan kehilangan anaknya juga tapi aku sangat khawatir sejak kejadian itu baik Ryan maupun Maura tidak mengatakan sepatah kata", kata Anisa.


"Mereka sudah dewasa Nisa kita hanya perlu memberikan dorongan hidup bagi mereka mau bagaimana pun masa depan masih panjang", ucap Arfan.


"Kau benar"


Tempat pemakaman


"Viola maafkan kakak tidak bisa melindungimu aku sudah gagal maaf maafkan aku ini sungguh tidak adil", kata Rifki yang terus bersimpuh menangis di depan makam Viola.


"Rifki", gumam Fira sambil memerhatikan dari jauh.


...Apa arti kehidupan?...


...Kenapa?...


...Kenapa orang-orang dengan mudahnya membunuh orang tak berdosa hanya demi memuaskan diri mereka?...


...Aku tak paham...


...Aku......


...Aku lemah...


...~Rifki~...


Jangan lupa vote dan komen ya dan terus dukung.


Apa aku terlalu sadis? Entah.


Bye"

__ADS_1


__ADS_2