
Malam ini aku sangat bersemangat dan menepati janji akan usahakan sering update btw malam ini ultahku🤗🥳🥳🎉🎉. Ohya sekedar info aja chapter hari ini masih pov Riko kemarin ya.
Selamat membaca...
Keluarga bukan selamanya berkaitan dengan hubungan darah
Keluarga ialah
Tempat dirimu pulang kapan pun, di mana pun, dan setiap saat
~Riko~
Pov Riko
Aku baru saja mendarat di bandara Indonesia, Jakarta. Baru kali ini aku menghirup udara luar dan hangat. Biasanya di Tokyo saat liburan musim gugur atau musim dingin udaranya bisa di atas derajat dan aku terpaksa memakai pakaian tebal supaya tidak kedinginan. Di Jakarta sepertinya aku bisa memakai kaos oblong keknya bisa tambah celana pendek dan juga sendal.
"Tuan muda mobilnya sudah siap saatnya berangkat", kata bodyguard di ssbelahku.
__ADS_1
"Iya, sebelum itu kita cari hotel dan restoran baru sampai gini enaknya makan-makan", kataku sambil melirik tangan kananku sekaligus sahabat dekatku, Virga.
"Terserah kaulah tapi ada benarnya", kata Virga sadar aku meliriknya daritadi.
"Eh iya, tadi kau mimpi apa di pesawat? Sampai nangis gitu?", tanya Virga khawatir.
"Hanya masa lalu kau tidak perlu terlalu khawatir ayo kita jalan-jalan", ajakku sambil menarik tangannya masuk ke dalam mobil.
Tanpa ku sadari hari itu ada seseorang yang mengawasi kami ke manapun aku pergi seharian.
Malamnya, di kamar hotel
"Gak kok, aku gak sakit hanya saja aku kepikiran siapa yang mengawasi kita seharian ini? Sejak aku sampai di sini rasanya ada yang mengawasi gerak-gerik kita", kataku berkeringat dingin. Virga mengenggam tanganku dan berkata semuanya akan baik-baik saja dan mengusulkan aku harus lapor ke kak Ryan takutnya musuh tahu lokasiku.
Dengan ketakutan aku menelpon kak Ryan.
"Halo kenapa dek?", tanya Ryan dengan suara serak mungkin lagi tidur.
__ADS_1
"Maaf menganggu kak padahal kakak lagi tidur", kataku tidak enak hati sudah membangunkannya dan kak Ryan berkata tidak apa-apa dan bertanya ada apa menelponnya.
"Tapi kakak gak papa? Suara kakak serak loh?", tanyaku khawatir.
"Ini aku kecapean saja lagi masa pemulihan bentar lagi keluar rumah sakit kok dan jangan alihkan topik ada apa kau menelpon? Disana malam kan?! Kenapa gak tidur?!", hardik Ryan.
Aku pun kalang kabut bingung menjawab apa dan ku atur pernapasanku. Setelah tenang aku pun menceritakan apa yang sudah ku lalui hari ini tak terkecuali.
"Kakak tahu siapa dia", kata kak Ryan yang membuatku syok berat. Dengan ketakutan ku bertanya siapa orang itu?.
"Kau tenang saja dia adalah Reyhan, kembaran kakak yang ibu kira sudah meninggal ayah sudah tahu keberadaannya dia hanya mengawasimu kok jadi tenang saja gak usah takut kalau ada apa-apa datanglah padanya dia akan membantumu", jelas kak Ryan.
"Kenapa kak Reyhan di Jakarta? Kenapa dia tidak pulang?", tanyaku penasaran karena ibu selama ini selalu menangis setiap kak Reyhan dan kak Rena diungkit.
"Dia bilang belum saatnya ayah dan aku sudah berusaha membujuknya bahkan mengancamnya namun semua itu tidak membuat Reyhan berubah pikiran dan akhirnya ayah membiarkannya dengan syarat sebulan sekali memberi kabar dan Reyhan menyetujuinya.
"Begitu rupanya aku paham kak makasih", kataku dan kami sedikit berbincang-bincang santai dan mengakhiri telepon karena sudah larut malam.
__ADS_1
Aku memanggil Virga dan mengatakan besok kita akan memulai penyelidikan dari hotel mumpung hotel ku tempati hotel ayah, ibu, kak Ryan dan kak Maura di jebak yah sengaja emang.
Segini dulu ya selamat malam dan see you..