
Dewa Arga atau Nagara Bimasena bersama kedua rekannya yaitu Jojo dan Aldi membersihkan gudang bekas milik kakeknya. Gudang itu tidak berukuran besar tetapi memiliki 3 lantai dan sudah menggunakan lift untuk naik atau turun.
Gudang bekas penyimpanan barang itu sudah kosong sejak lama dan kini dimanfaatkan untuk Dewa sebagai gudang penyimpanan barang onlinenya.
Dewa, Aldi dan Jojo membersihkan masing-masing lantai seperti menyapu, mengepel dan mengelap debu.
Dewa membersihkan di lantai pertama, dengan berkeringat bercucuran ia mengepel dan menyapu sekuat tenaga.
Zian, datang membawa sejumlah makanan untuk mereka bertiga. Dewa memanggil teman-temannya untuk sarapan bersama.
"Oh ya tuan..."
"Jangan panggil tuan!"
"Hemm... Kakek anda akan mengirimkan sejumlah meja, kursi, lemari dan AC."
Dewa yang sedang menyedot es tehnya terkejut. "Lah, kenapa kakek mengirimkan semua itu?"
"Kakek anda ingin membantu."
"Kembalikan saja! Aku tidak ingin menerima bantuannya," jawab Dewa.
Zian tersenyum kecil, ia sangat bangga sekali dengan Dewa bahkan putranya sendiripun tidak seperti Dewa, dia sering menghamburkan uang hasil kerja keras papanya yang mengabdi sebagai asisten pribadi kakek selama belasan tahun.
"Dewa, biar aku bantu bersihkan," ucap Zian.
"Kalau bantu tenaga gak masalah. Zi bisa bersihkan halaman dan cabuti rumputnya."
"Baik, tuan."
Ruang tamu penuh dengan senyuman mengembang, bagaimana tidak? Semua aset milik Nona kini sudah ditangan ibu dan kedua anak tirinya. Semua dokumen penting sudah Nona serahkan dan tentunya surat bermaterai sudah ditandatangani jika Nona sudah memberikan kepada mereka dan tidak akan menuntut apapun lagi.
Bagas duduk diseberang Nona, ia heran kenapa adik tirinya bisa sangat yakin menyerahkan semuanya. "Jadi sekarang apa yang akan kau lakukan jika tidak memiliki apapun?" tanya Bagas.
Bayu menyenggol tangan Bagas dan tidak nyaman dengan pertanyaan kakak keduanya. "Itu urusannya. Dia tanggung jawab suaminya."
"Benar, kalian tidak usah mengkhawatirkanku. Aku sudah memiliki suami yang bertanggung jawab," jawab Nona.
Nona berdiri, ia berpamitan untuk pulang setelah menyerahkan seluruh berkasnya. Kini dia sudah tidak memiliki apa-apa kecuali tabungan yang disimpannya.
"Aku harap kalian tidak memusuhiku lagi. Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya," ucap Nona sambil menunduk.
Nona pergi meninggalkan rumah ibu tirinya. Dia pergi dengan sejuta harapan bahwa ia tak akan mati jika kehilangan seluruh harta yang ia dapat selama ini dari keserakahan ibu kandungnya. Setelah sampai di halaman, Nona menatap langit. Dia tersenyum senang dan berharap ibu kandungnya bisa melihat pengorbanannya.
Mommy... Nuna janji akan menjadi anak yang baik. Nuna tidak akan kurang ajar lagi dengan ibu tiri dan kakak tiriku. Nuna akan patuh kepada mereka.
"Nona, tunggu!"
__ADS_1
Nona menoleh, ia melihat Bagas yang berjalan kesusahan menghampirinya. Bagas mengeluarkan dompetnya, ia mengambil seuntai kalung emas lalu memasangkannya pada leher Nona.
"Apa ini kak?"
"Ini hadiah pernikahanmu dari kakak. Sebenarnya waktu pernikahanmu kakak ingin memberikan ini tapi rasa sakit hati masih menjalar dan baru kali ini kakak memberikannya," ucap Bagas sambil tersenyum. "Tapi kakak masih tidak menyukai Dewa. Bocah itu tidak pantas untuk menjadi suamimu," sambung Bagas.
Nona tersenyum kecil, ia senang jika Bagas mengkhawatirkannya. Dia memeluk Bagas, kakak yang selalu membencinya kini memberikan lampu hijau untuk berbaikan dengannya. Bagas mengelus punggung Nona, memberikan pelukan hangat untuk adik perempuannya.
"Terima kasih sudah peduli denganku, kak."
Setelah itu, Nona memutuskan untuk ke gudang milik Dewa. Dia sudah menyuruh Arsel untuk membawakan perkakas keperluan untuk gudang, seperti meja, kursi, lemari milik rumahnya sendiri.
Dalam perjalanan, Nona sangat lega bisa berbaikan dengan keluarga tirinya. Semoga saja setelahnya bisa berbaikan selamanya.
Nona mengelus perutnya, ketiga buah hatinya akan membuatnya bertambah semangat untuk menjalani hidup yang pelik ini.
"Arsel, aku lupa jika hari ini Kak Dani menikah. Nanti tolong siapkan kadonya. Huh... setelah hamil malah jadi pelupa."
"Baik, Nona."
Setelah sampai di gudang milik Dewa, ia melihat sang suami tengah mengecat tembok yang sudah usang. Dengan bantuan Zian, mereka melakukan bersama-sama.
"Sayang, urusannya sudah selesai?" tanya Dewa.
Nona mengambil sapu tangannya lalu mengusap keringat sang suami. "Sudah, mas. Oh ya, apa lebih baik pasang AC saja? Jangan pakai kipas!"
"Mas ini 'kan baru merintis jadi disesuaikan budjet dulu. Modal kita 'kan pas-pasan," ucap Dewa.
"Bulan-bulan depan saja, sayang. Mas juga mikir bayar listriknya," jawab Dewa.
Mas ini irit atau pelit ya? Batin Nona heran.
"Nona, Yang dilakukan Dewa sudah benar. Karena modal yang terbatas jadi memang harus seperti ini dulu. Jika penjualan bulan berikutnya meningkat maka bisa memasukkan keperluan lain," ucap Zian bisa melihat apa yang sedang dipikirkan Nona.
Nona memandang wajah Zian yang seperti seumuran dengan Bara. Zian tersenyum tipis tetapi tidak memandang Nona.
Dia cenayang atau apa yang bisa membaca pikiranku? Batin Nona.
Mereka melanjutkan pekerjaan, sedangkan Nona hanya duduk melihat sang suami bekerja. Usaha Dewa membuatnya merasa senang, dia tahu perjuangan menjadi orang sukses itu tidaklah mudah.
Nona melirik teman-teman sang suami yang keluar dari dalam lift, mereka begitu kelelahan.
"Wa, diatas sudah selesai. Mau di cat sekalian?" tanya Jojo.
"Gak perlu, besok-besok saja," jawab Dewa.
"Permisi, Pakeeeeet...." teriak orang dari luar.
Dewa langsung berlari keluar, ternyata pakaian yang akan dijualnya sudah datang dikirim truk bak terbuka. Dewa menyuruh untuk segera menurunkannya.
__ADS_1
"Mas, tolong tanda tangani ini!"
Dewa mengangguk, ia menandatangani surat resi penerimaan barang. Modal awalnya ia belikan pakaian dengan model terbaru. Bisnis online saat ini cukup menjanjikan, makanya banyak orang yang tertarik membuka toko online dibanding toko offline.
Setelah semua barang diturunkan, Dewa dan yang lainnya memasukkan ke dalam. Mereka bahu membahu membawa pakaian itu.
Dewa menyuruh meletakkan dipojok lalu ia akan menatanya kembali jika gudangnya sudah benar-benar siap untuk dipakai.
"Huh... Tinggal beli laptop saja untuk bekerja," ucap Dewa sambil bersedekap memandangi barang daganganya.
"Mas pakai milikku saja, aku punya dua," ucap Nona.
Dewa tersenyum senang sehingga ia bisa menghemat pengeluarannya.
"Dewa, bagaimana jika toko online milikmu diiklankan menggunakan jasa iklan? Itu bisa memperluas calon pembelimu, ucap Zian memberi ide.
Dewa setuju, Zian akan mengurusnya nanti. Dia sangat senang bisa bekerja untuk Dewa.
****
Sarah memandang dari jauh tempat pernikahan sang papa. Dia meremas jemarinya mengingat papanya akan memiliki keluarga baru. Kesedihan nampak terbaca di pelupuk matanya. Air mata menetes tanpa henti bahkan ia sudah lelah untuk menyekanya.
Tamu sudah berdatangan, termasuk Bara yang hadir dalam pernikahan sahabatnya. Walau Bara sangat bersedih karena sudah putus dari Sarah tetapi ia masih bisa tersenyum dihadapan teman-temannya.
Sarah turun dari mobilnya, tangannya membawa kayu. Dia berjalan masuk dengan tatapan tajam. Saat sudah sampai di depan pintu, ia menatap pengantin yang terlihat bahagia di atas pelaminan.
Sorot mata Sarah memandang mereka dengan dendam. Sarah melangkah maju memegang sebilah kayu yang siap menyerang pengantin. Semua orang memandanginya dan Sarah lalu mengayunkan kayu itu pada barang-barang yang ada disana seperti kue ulang tahun, gelas-gelas yang sudah di tata rapi sedemikian rupa bahkan semua makanan ia obrak-abrik.
Semua orang terkejut dan beberapa orang menahan tubuh Sarah. Dani yang melihat putrinya seperti itu tak kuasa menahan emosi. Dia menghampiri Sarah dan menamparnya dihadapan semua tamu.
"Tak bisakah kali ini saja jangan mengurusi urusan papa? Siapa yang mengajarimu liar seperti ini?"
"Papa yang mengajariku, aku belajar dari papa."
Plaaaak ...
Tamparan kedua mendarat tepat dipipi Sarah, Sarah hanya bisa menatap dendam papanya.
Semua orang saling berbisik ketika melihat kejadian tidak mengenakkan lagi. Pengantin perempuan yang menggunakan penutup wajah langsung melepasnya. Rambut hitam yang di sanggul cantik dan mata coklat menatap Sarah.
Wanita berparas bule itu turun dari pelaminan menghampiri keributan dibawah. Semua mata tertuju kepadanya apalagi Nona yang berada disana sangat terkejut.
"Alisa?" gumam Nona.
Sarah juga ikut terkejut, wajah ibu tirinya sangat mirip dengan istri dari mantan pacarnya.
"Si--siapa kau?" tanya Sarah terbata-bata.
"Manis, kenapa gadis cantik sepertimu melakukan hal ini? Mommy tidak suka," ucap Alisa sambil mengelus kepala Sarah.
__ADS_1