
Hari yang cerah untuk pasangan muda, apalagi pergumulan semalam membuat tubuh Dewa semakin bugar. Dewa bangun, ia ingin olahraga pagi hari ini sebelum berangkat ke pabrik. Lama tak berolahraga membuat tubuhnya terasa kaku. Bocah yang akan berumur 20 tahun sekitar 6 bulan lagi memiliki tubuh yang bagus, kulit tidak terlalu putih serta otot yang tersimpan pada tubuhnya membuat Nona semakin suka.
Dewa memilih melakukan pemanasan di halaman baru rumah mereka. Perumahan ini termasuk lebih nyaman karena tidak terlalu elit ketimbang perumahan yang lama. Warga juga nampak sering keluar rumah untuk berkomunikasi satu sama lain.
Dewa melakukan push up, sit up, squat jam dan lain sebagainya. Gerakan demi gerakan dia lakukan dengan penuh stamina. Dia mendongakkan kepala melihat burung gereja yang terbang dengan tenang diatas langit cerah pagi ini sampai Dewa mendengar suara ibu-ibu merumpi dekat rumahnya.
Dewa menghentikan aktivitasnya, ia mencari sumber suara itu. Nampak tepat disamping rumahnya terdapat tukang sayur dan emak-emak ngerumpi. Dewa yang warga baru merasa tidak enak jika tidak berkenalan dengan mereka.
Dengan yakin, Dewa mendekati mereka yang asyik memilah sayuran sambil mengoceh.
"Permisi, selamat pagi."
"Eh... Siapa ini? Penghuni baru rumah itu ya? Tinggal sama kakaknya yang bule itu?" tanya salah satu dari ibu-ibu.
Kakak bule?
"Wah... tampan sekali. Kerja dimana kok punya badan bagus?" tanya ibu-ibu yang lainnya.
Dewa tersenyum manis membuat ibu-ibu kelepek. Sayuran yang mereka pegang langsung mereka letakkan dan mereka terfokus pada Dewa.
"Kuliah dimana? Ambil jurusan apa?"
"Ehmm... saya kerja di pabrik sepatu, bu."
"Eh... beneran? Putri saya juga kerja disitu. Noh, itu rumah saya depan rumahmu persis. Main aja gakpapa."
__ADS_1
Dewa hanya mengangukkan kepala. Dia malah mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari ibu-ibu rempong itu. Dewa menjawabnya dengan singkat dan tidak lupa sambil tersenyum.
"Oh ya, disini ada kumpulan. Kakakmu yang bule itu bisa ikut arisan setiap minggu dengan kami sedangkan kau bisa ikut kerja bakti setiap minggu pagi dengan bapak-bapak disini. Ikut kumpul ya, supaya tidak dianggap sombong."
Disaat bersamaan, Nona datang sambil memeluk Dewa dari belakang. "Sayang, kau 'kan anak tunggal, sejak kapan punya kakak?"
Ibu-ibu terkejut mendengar ucapan Nona, dia memandangi Nona dan Dewa tidak mungkin jika mereka bersuami istri. Nona melepas pelukannya lalu menggandeng tangan Dewa. "Sayang, ada tukang sayur. Mau aku masakin apa?" tanya Nona.
Ibu-ibu itu kembali memilah sayur, mereka nampak malu kepada pasangan itu tetap tidak dengan ibu yang rumahnya tepat di depan rumah Nona.
"Maaf ya, kami kira kalian kakak adik. Rupanya suami istri? Hmmm... bunting duluan kah?" tanya ibu itu.
"Apa maksudmu? Kau tidak bisa lihat jika perutku datar begini? Jaman sekarang memang pada gila tetapi jangan negatif ke semua orang pada pasutri baru seperti kami," ucap Nona marah.
Dewa menenangkan Nona. Dewa juga meminta maaf kepada ibu-ibu itu jika Nona berperilaku kasar. Dewa lalu mengajak Nona untuk masuk ke rumah. Nona yang cemberut langsung dipeluk didalam rumah oleh Dewa.
"Kita warga baru disini, sayang. Harus bergaul juga dengan mereka."
"Tidak perlu, di perumahanku dulu tidak begitu. Mau tidak bertegur sapa pun kami tidak masalah yang penting mencari makan sendiri-sendiri tanpa mengganggu tetangga," ucap Nona.
Dewa menghela nafas, ia melepaskan pelukannya. Wajah Nona yang kesal ia usap dengan lembut. "Ini beda sayang, setiap tempat mempunyai aturan sendiri. Setidaknya kita berusaha untuk bertegur sapa dengan mereka."
Nona mendengus, melihat ibu-ibu tadi saja membuatnya muak apalagi harus berkumpul bersama mereka. Dewa mencubit bibir Nona yang manyun, Nona malah mencubit perut Dewa.
"Besok lagi jika sayang keluar menggunakan kaos singlet ini awas saja! Cih... Pamer badan kok sama ibu-ibu," gerutu Nona sambil berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Dewa mengikuti langkah Nona, ia sangat suka sekali menggoda Nona yang sedang cemberut. Nona mengernyitkan dahi melihat Dewa mengikutinya. Dia menatap Dewa sambil bersedekap dada. "Mau apa?"
"Jangan marah, sayang! Aku hanya milikmu seorang."
"Siapa yang marah?" tanya Nona.
Dewa mendekati Nona, ia menggelitiki tubuh Nona. Sang istri terbahak-bahak karena saking gelinya. Semua pembantu hanya tersenyum kecil melihat pasangan. manis itu.
"Aw... ah... aw... cukup, Dewa! Aduh geli..."
"Jadi orang jangan suka marah dong!"
"Iya, aku janji tidak akan marah lagi. Aku cinta kamu suamiku," jawab Nona sambil memonyongkan bibirnya yang ingin mendapat kecupan dari Dewa.
Dewa mencium bibir Nona dengan sekilas. Nona tersipu malu. "Lagi, sayang!" pinta Nona.
Cuppp....
Dewa mencium lagi, Nona tersenyum manis. Rasanya seolah ingin terbang melayang jauh menuju ke angkasa dan tidak ingin turun ke muka bumi yang penuh dengan drama.
"Sayang, aku mau mandi dulu. Mau berangkat kerja," ucap Dewa membuyarkan lamunan Nona.
Nona manggut-manggut. "Eh aku lupa, aku sudah mendaftarkanmu masuk kuliah jurusan komputer. Ku pikir jurusan itu sangat berguna bagimu sekarang."
"Jurusan menuju hatimu ada tidak?" gombal Dewa.
__ADS_1
Nona memukul pundak Dewa, ia terlihat malu. Dewa begitu senang jika Nona tidak marah terlalu lama dengannya. Dewa kini cukup untuk menjaga perasaan Nona saja karena Nona adalah tipe orang yang pecemburu.
***