
POV NAGARA
Hari demi hari aku menjalani hidup sebagai Dewa, tentunya aku meminta bantuan kepada Zian untuk mencari tahu tentang sikap Dewa. Rupanya dia gampang tersenyum dan humoris tetapi na'as, teman-temannya yang nakal selalu menghinanya. Dewa selalu mengalah dan tidak mau membalas perbuatan mereka.
Untung saja setelah menjadi Dewa, aku masuk SMK yang otomatis mendapat teman baru bukan teman SMP Dewa, itu membuat penyamaranku menjadi mudah dan bisa memulai hidup baru bersama teman-teman baru.
Satu tahun terlewati, dua tahun, tiga tahun, dan tahun keempat, semuanya berjalan lancar. Aku sudah terbiasa menjadi Dewa dan bahkan aku sering membantu pekerjaan bapak di rumah Kak Bara. Dia sangat baik, saat Nona bercerita tentang keburukan Bara seolah aku tidak mempercayainya.
Tahun keempat adalah tahun ajibku, aku disuruh menikah dengan putri Wiratmaja. Tentu saja sebelumnya aku harus meminta izin dulu kepada kakek tapi aku juga yang memaksa untuk merestui pernikahanku dengan Nona, si bule cantik. Seperti mendapat kejatuhan durian sekampung, rasanya seperti mimpi bisa menikahi Nona.
Setelah kami menikah, aku sedikit mengerjai Nona. Aku berpura-pura sangat polos seolah masih bocah, 'kan memang benar jika aku bocah. Uhuy... malam pertama tapi apalah daya, Nona tidak mau melakukan itu. Sabar... sabar...
Ya begitulah diriku menjadi Dewa, jika aku menjadi Nagara sudah aku lahap si Nona saat malam pertama. Jika aku menjadi Nagara saat Nona menghinaku karena masalah uang sudah aku tampar mulutnya, hehehe tampar dengan bibir. Sebenarnya suka geregetan saat Nona berbicara yang menyakitkan hati tetapi yasudahlah, dia tetap istriku yang baik dan imut. Aku mencintaimu, Nona.
***
POV AUTHOR.
Keesokan harinya.
Bara menuju ke rumahnya, ia ingin sekali membawa Elara ke rehabilitasi untuk menyembuhkan mentalnya yang sedang drop.
__ADS_1
Bara hanya diam, ini memang kesalahannya yang meremehkan penyakit tersebut padahal dokter Logan sudah menyarankan untuk membawa Elara rehabilitasi di rumah sakit luar negeri yang terkenal.
Skizofrenia adalah gangguan mental yang terjadi dalam jangka panjang. Gangguan ini menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Gejala tersebut merupakan gejala dari psikosis, yaitu kondisi di mana penderitanya kesulitan membedakan kenyataan dengan pikirannya sendiri.
Elara juga sering berhalusinasi tentang Papa kandungnya yang selalu menemaninya melukis saat tengah malam. Elara sering tertawa-tawa sendiri ditengah malam tetapi Zalina selalu mengelaknya dan mengatakan putrinya baik-baik saja.
"Maafkan papa yang tidak memperhatikanmu dengan baik. Ini semua kesalahan papa," gumam Bara.
Dada Bara sangat sesak melihat putrinya tidak seperti anak-anak seusianya. Harusnya kini Elara bisa seperti Sarah yang bisa bermain dengan teman-teman, mendapat cinta dari sang kekasih dan bisa berkuliah justru kini malah mendekam di rehabilitasi.
Dalam hati Bara, hatinya sangat sakit melihat putrinya menjadi gila. Sungguh hal yang menyakitkan bagi seorang Papa yang merawat Elara sedari kecil.
Papa mencintaimu sebagai putriku. Kau putriku dan tetap putriku. Ketika aku ingin sekali memiliki anak sendiri pada akhirnya papa hanya bisa melihatmu. Kau adalah putri papa untuk selamanya.
Sarah menunggunya di mobil dengan khawatir melihat Bara yang lemas. Sarah keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Bara. Sarah yang menyetir mobil melihat Bara yang tidak memungkinkan untuk menyetir.
Sarah segera melajukan mobilnya menuju apartemennya. Rumah Bara kini sudah dikosongkan karena Bara akan menjual rumah tersebut. Dia tidak mau tinggal di rumah penuh kenangan itu.
Setelah sampai di apartemen. Sarah menggandeng Bara untuk duduk. Sarah mengambilkannya minum. Bara masih diam sembari mengusap matanya yang berlinang air mata. Sarah datang lalu mengusap air mata Bara.
"Jangan menangis! Elara 'kan tidak pergi kemana-mana. Dia masih di kota ini."
__ADS_1
Bara hanya diam, tidak menggubris ucapan Sarah. Sarah yang kesal meletakkan gelas tersebut di meja dan dirinya langsung naik di pangkuan Bara.
"Sarah?" ucap Bara terkejut.
"Emangnya aku mau melakukan apa?
Bara tersenyum kecil memandang wajah Sarah yang ada didepannya.
"Om Bara tinggal disini saja, ya?"
"Tidak bisa, kita belum sah. Sudah, turun Sarah!" ucap Bara.
Sarah tidak mau, ia manyun menatap Bara. Bara mencubit gemas pacarnya itu. Hahaha serasa menggelikan jika disebut pacar. Baby sugarnya sangat menggemaskan.
"Sarah, om ini pria dewasa. Jangan begini!" ucap Bara.
Sarah langsung menutup bibir Bara dengan bibirnya, Sarah menggigit bibir Bara dan memasukkan lidahnya. Bara tersentak dan mendorong Sarah sampai terjatuh di lantai.
"Aaaah... aaaaw pantatku...."
"Sarah, kau tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Iiihhh... Sudah sengaja mendorong kini bertanya begitu. Dasar om munafik!" gerutu Sarah.