Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 65 : Akhirnya


__ADS_3

"Sayang, maafin mas! Mas tidak papa tapi motornya...."


Semua orang memandang motor Dewa yang sudah tidak berbentuk, dipenuhi lumpur dan kaca spion yang retak. Bayangan Dewa pasti Nona akan mengusirnya malam ini. Dia bahkan tidak berani menatap sang istri.


"Motornya sampai kotor seperti itu, jatuh dimana?" tanya Bara.


"Di sawah," jawab Dewa.


Semua orang bingung, disekitar rumah Bara tidak ada persawahan. Bahkan tanah kosong saja tidak ada karena rumah Bara berada di perumahan elit.


"Sawah mana?" tanya Nona sudah memasang wajah garang.


"Sawah arah pemakaman Cina," jawab Sarah.


"Kok bisa sampai sana kalian?" tanya Dani.


Dewa yang ketakutan dengan Nona langsung bertekuk lutut dihadapan Nona. Dia memohon supaya tidak marah. Semua orang memandanginya terkekeh geli melihat seorang suami bocah seakan memohon ampun kepada emaknya.


"Sudahlah, sana mandi!" ucap Nona sambil meninggalkan Dewa lalu memilih masuk ke dalam.


Dewa hanya terdiam memandangi punggung Nona yang berjalan meninggalkannya. Sang ibu mertua yang memandangnya dari depan pintu hanya memandang sinis tidak menyukai Dewa. Bara membantu Dewa untuk berdiri dan menyuruhnya mandi.


20 menit kemudian.


Dewa keluar dari kamar mandi, ia mengusap kepalanya yang basah. Karena lumpur itu ia harus membersihkan sebersih mungkin dan menyabuni berulang kali. Dewa melihat Nona yang hanya diam memandang luar jendela. Dia mendekati Nona lalu memeluknya dari belakang.


"Masih ngambek? Maafin, mas!"


"Untuk apa marah? Bahkan kau merasa senang bisa berbonceng motor dengan Sarah."


Dewa mengecup pipi Nona. "Maafin, mas! Mas sangat salah, mas pikir bakal cepat ke apoteknya tapi malah si Sarah rese itu ambil jalan yang salah. Karma kami juga yang terjadi tadi karena kami membuatmu marah dan cemburu," ucap Dewa mencoba merayu. "Lihat nih tangan mas sampai lecet!" sambung Dewa sambil memperlihatkan lengannya.

__ADS_1


Nona melihatnya, luka lecet cukup panjang membekas ditangan Dewa. Nona mengambil obat merah lalu mengobati Dewa. Dia tidak ingin suami kecilnya kesakitan.


Mata biru Nona menggambarkan kesedihan, Dewa mengusap pipi Nona. Rasa bersalah menghantuinya karena membuat sang istri cemburu.


"Oh ya, ini alat buat hamilnya. Coba di pakai dulu," ucap Dewa.


Nona memandang testpack itu. Dia menghela nafas panjang lalu menuju ke kamar mandi. Dewa menunggu sambil berjalan mondar-mandir. Rasa berdebar menyerangnya dengan cepat. Tes kehamilan tersebut adalah penentu apakah dia bisa melanjutkan kerja sambil kuliah atau tidak.


Nona didalam kamar mandi sangat lama membuat Dewa tidak sabar.


Dirinya mengetuk pintu, saat bersamaan Nona membuka pintu.


"Bagaimana, sayang?" tanya Dewa.


Nona menyerahkan alat tersebut kepada Dewa. Dewa melihatnya dengan seksama tetapi tidak paham.


"Artinya apa?" tanya Dewa.


Dewa terdiam lemas, ekspresinya tidak mudah ditebak. Dia akan menjadi seorag ayah. Memang pada awalnya dirinya sangat ingin Nona hamil tetapi setelah dia merenungi nasib masa depannya ia menjadi sedih tatkala mengetahui sang istri hamil.


"Kenapa bisa hamil? Beberapa akhir ini aku sengaja mengeluarkannya diluar."


"Kenapa kau malah berkata seperti itu? Ini 'kan perbuatanmu saat awal-awal kita menikah. Kau dengan pedenya ingin aku hamil tapi sekarang malah berkata seperti itu," ucap Nona dengan emosi.


Nona duduk dipinggir ranjang, ia sangat senang jika mengetahui kehamilannya tetapi akankah mereka masih bisa melakukan bulan madu yang indah? Dewa mengusap perut Nona, memandangi calon buah hatinya yang masih tersimpan di rahim sang istri.


"Oke, demi bayiku. Aku tidak jadi kuliah."


"Maksudmu apa? Kau tetap harus kuliah, katanya ingin sukses?" tanya Nona.


"Jika kuliah membuat waktu kita menjadi sedikit mending tidak usah sekalian. Ini adalah anak pertamaku dan aku ingin dimasa kehamilanmu aku bisa banyak waktu untukmu."

__ADS_1


Nona terharu dengan ucapan Dewa, ia menatap Dewa yang mulai mengeluarkan air mata. Nona bingung lalu menangkup wajah suaminya itu. Air mata Dewa begitu mengalir deras bahkan sampai sesegukkan.


"Kenapa mas?" tanya Nona.


Dewa mengusap air matanya, ia tersenyum bahagia. "Aku akan punya anak, rasanya seperti mimpi tapi aku belum sukses dan banyak uang. Aku juga belum melunasi uang batal kontrak pernikahan kita."


Nona mengusap air mata suaminya, ia menggelengkan kepala. Ia tersenyum manis dan mengatakan jika hutang orang tua Dewa sudah dianggap lunas oleh Nona dan tidak perlu membayar pinalti juga.


"Tapi hutang adalah hutang."


"Ssssstt... Mas sudah membayarnya dengan ini," ucap Nona sambil memegangi tangan Dewa ke perutnya. "Lagian juga surat kontrak sudah aku robek dan aku buang. Kontrak sudah tidak berlaku dan aku sudah membayar ke ibu tiriku. Dia tidak akan mengusikmu lagi," sambung Nona.


Dewa menangis dipaha Nona, baginya ia hanyalah beban bagi Nona. Bisa-bisanya Nona membayar semua tanggungannya. Suami macam apa yang membiarkan semua istrinya menanggung semua itu? Itu semua mempermalukan Dewa.


"Sudah mas jangan menangis! Malu sama dedek bayi."


Dewa mengusap air matanya, ia tersenyum. Dia memeluk Nona, kebahagiaannya memang tidak dapat terbendung. Sebentar lagi mereka akan menjadi orang tua yang bahagia bersama anak-anak mereka. Dewa juga berjanji akan menjadi orang sukses supaya membahagiakan istri dan anak-anak mereka.


***


Di dapur rumah Bara.


"Om kok melamun? Teman-teman om Bara sudah datang tuh," ucap Sarah sambil mengusap rambut basahnya mengggunakan handuk.


Mata Bara memandangi Sarah, kecantikan Sarah sehabis mandi memang tidak dapat dipungkiri lagi. Bara memandangi Sarah tanpa berkedip.


"Hoi, om? Malah melamun. Aku tidak bisa ikut. Aku lagi mens," ucap Sarah.


Bara menggeleng-gelengkan kepala, ia menepuk matanya secara pelan. Sarah hanya heran dengan teman papanya itu.


"Om Bara baru menjadi duda matanya tidak bisa dikontrol. Cih... Semua laki-laki sama saja," gumam Sarah.

__ADS_1


Bara hanya tersenyum kecil, ia mendekati Sarah lalu mengusap rambut Sarah. "Apa yang kau pikirkan? Om hanya heran, dulu kau masih kecil sekarang sudah besar. Kau dan Elara tumbuh sangat cepat sampai om tidak sadar jika umur om juga sudah tidak muda lagi," ucap Bara.


__ADS_2