Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 93 : Arsel meminta maaf


__ADS_3

Pak Amri


Wa, bapak sudah menerima rekaman itu dan sudah di proses pihak HRD. Pak Kokom dan Reni akan dipecat untuk masalah asusila dan karena menjebakmu juga.


Dewa


Syukurlah jika kebenaran akhirnya terungkap.


Pak Amri


Pihak perusahaan mau menerimamu sebagai karyawan lagi, mereka juga mau memberikanmu kompensasi kerugian.


Dewa


Waduh... Bagaimana ya, pak? Saya sudah tidak bisa bekerja disana lagi. Bukannya tidak mau tetapi istri saya sedang hamil tidak bisa ditinggal, dia sering sakit jadi saya cari pekerjaan lain yang bisa sambil menjaga istri.


Pak Amri


Wah... Sayang sekali. Tapi kalau bisa besok pagi datang kesini untuk menjelaskan lebih lengkap kepada HRD. Bapak disini hanya sebagai supervisormu saja.


Dewa


Baik, pak. Terima kasih banyak, pak.


Dewa menyimpan ponselnya lalu memandangi sang istri yang terlelap pulas. Baru hamil muda saja sudah begini apalagi untuk bulan-bulan kedepannya. Dewa mendapat pemberitahuan lagi dari toko onlinenya, ia tersenyum senang. Banyak orderan dari calon pembelinya ini semua berkat doa ibu dan istrinya. Dewa hanya mengambil untung lima ribu rupiah setiap ia menjual satu buah baju. Karena toko onlinenya baru buka, ia tidak ingin mengambil untung banyak. Pakaiannya yang dijual dalam bentuk lusinan dan calon pembeli bisa menjualnya kembali.


Tiba-tiba Jojo mengirim pesan kepada Dewa.


Jojo


Wa, kangen 😥


Dewa


Aku juga kangen 🙄


Jojo


Main sama anak-anak yok. Lama gak main bareng setelah lulus


Dewa


Istriku lagi hamil, gak bisa ditinggal


Jojo


Weeeeeh 😨


Selamat bro..


Dewa


Panggil anak-anak deh untuk ke rumahku! Kita makan bersama.


Jojo

__ADS_1


Asyeeek.. Aku suka nih yang gratis..


Ukeee.. Kapan nih?


Dewa


😅


Akhir minggu saja.


Jojo


Ukee... Aku pasti panggil mereka


Dewa


Sip


Ku tunggu.


"Mas Dewa, Nuna haus," ucap Nona membuat Dewa begitu terkejut.


"Haus ya sayang? Nah, diminum!" ucap Dewa sambil memberikan air minum pada Nona.


Nona menenggaknya sampai habis lalu menyerahkan gelasnya pada Dewa. "Mas kok belum tidur?"


"Iya nih, ngurusin orderan dulu. Banyak yang beli setelah sayang iklankan di IG."


Nona tersenyum. Dia mengusap pipi Dewa. "Kerja boleh tapi pikirkan kesehatan juga! Jangan terlalu capek!"


Nona menyuruh tidur disebelahnya karena ranjang itu cukup muat untuk dua orang. Dewa tidak menolak, ia membaringkan tubuhnya disebelah Nona.


Nona menggenggam erat Dewa, ia begitu bahagia memiliki suami yang sangat perhatian.


"Mas, nanti jika si baby lahir mau diberi nama siapa?" tanya Nona.


"Mas juga belum tahu. Enaknya beri nama apa ya?"


Nona menggelengkan kepala yang ia ingin memberi nama yaitu sang suami. Tatapan Dewa kepada Nona begitu lembut, ia begitu menyayangi sang istri yang jauh lebih tua darinya. Seharusnya Nona justru cocok menjadi kakaknya, bukan istrinya tetapi jodoh sudah ditentukan dan tidak akan pernah tertukar. Jodoh Nona yaitu Nagara Bimasena bukan Dewa Arga.


...----------------...


Pagi hari, Dewa memutuskan untuk pergi ke toko milik Nona bersama Arsel. Mereka menaiki mobil dengan Arsel yang menyetir. Mengetahui Dewa orang kaya membuat Arsel menelan ludahnya sendiri. Ia begitu malu saat dulu menghina Dewa.


"Aku minta maaf," ucap Arsel.


Dewa mengerutkan kening belum paham maksud ucapan Arsel. "Untuk apa?"


"Aku dulu sempat menghinamu."


"Oh itu... Kau bukan pertama kali yang menghinaku jadi jangan khawatir, Tuan Muda Arsel," jawab Dewa tersenyum tipis.


Arsel melirik Dewa, bocah itu malah cengengesan lalu memainkan ponselnya. Ini bukan pertama kali Dewa memanggil Arsel dengan sebutan tuan muda.


"Jadi sebenarnya kita hampir mirip, yang menjadi perbedaan hanyalah aku menyamar dan kau diusir oleh kakakmu yaitu Altaf Alvero," ucap Dewa sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Lebih tepatnya bukan diusir, aku yang memilih pergi. Altaf sangat licik menjatuhkan adiknya sendiri."


Dewa mengehela nafas dan bersandar pada kursi mobil yang sangat nyaman. "Hah... Jika kakakmu keras kepala maka kau yang harusnya mengalah. Minta maaflah! Karena tidak baik jika sesama saudara bermusuhan."


Arsel hanya diam. Tidak mungkin ia melakukan semua itu. Dia bahkan memilih tidak mempunyai saudara daripada bersaudara dengan Altaf.


Sesampainya di toko.


Arsel mengajari Dewa dengan sabar, Dewa cepat paham karena pada dasarnya ia pintar. Barang-barang yang dijual Nona pasalnya memiliki kualitas bagus bahkan tidak ada kecacatan sekaligus.


Penjualan memang mengalami penurunan tetapi mengingat toko online yang bisa dijangkau semua orang membuat Dewa memiliki ide.


"Sel, semua barang disini sudah dicoba di jual online?" tanya Dewa.


"Tidak, kami disini hanya menunggu pelanggan datang memilih langsung barang yang akan mereka beli."


"Kenapa tidak dicoba dijual online? Pasarnya malah luas terjangkau bahkan bisa sampai luar negeri."


"Itu dulu saat perusahaan Alona meubel tidak dipecah untuk saudara-saudara Nona, kami bisa sampai luar negeri mengirim barang tetapi kini hanya toko kecil yang mengandalkan pembeli datang."


Dewa tersenyum tipis. Dia akan melakukan cara itu untuk memperluas konsumennya. Dengan cara online pasti banyak yang minat membeli di toko Nona.


Dewa membuka ponselnya, ia mencari perlengkapan meubel di toko online terkenal dan menampilkan banyak sekali perabotan besar dijual di toko online.


"Jika mereka bisa jual kenapa kita tidak bisa? Jaman sekarang sudah canggih, pengiriman barang berat saja sangat mudah yang terpenting pembeli mau dengan ongkos kirimnya ya mudah-mudah saja," ucap Dewa sambil memperhatikan ponselnya dengan seksama. "Nah, sekarang aku buatkan toko online. Aku banyak koneksi orang-orang kaya, siapa tahu mereka mau membeli perabotan mewah disini," sambung Dewa.


Setelah itu, Dewa melanjutkan melihat isi toko. Barang yang dijual Nona tidak murahan tetapi juga masih dibilang harganya terjangkau. Arsel tertohok melihat kegigihan dan semangat bocah itu. Dia sangat menyesal dulu sempat meremehkan Dewa.


"Ehm... Tuan Nagara..."


"Hei! Jangan panggil aku itu! Aku juga bukan tuan-tuan. Panggil aku, Dewa!"


"Baiklah, Dewa. Semoga setelah ini kita bisa akrab. Sekali maafkan aku yang dulu selalu menghinamu," ucap Arsel sambil menundukkan badan memberi hormat.


Dewa tersenyum menepuk bahu pria yang jauh lebih tua darinya. "Permintaan maafmu kuterima."


**


Setelah dari toko milik Nona. Dewa mampir ke pabrik sepatu untuk datang ke HRD. Disana ia disambut dengan baik padahal ia begitu trauma dengan kejadian waktu itu. Kepala HRD meminta maaf yang sebesar-besarnya dan memohon kepada Dewa supaya tidak melapor tuduhannya kepada polisi.


"Tenang, pak. Saya tidak pendendam. Saya sudah maafkan."


"Terima kasih banyak. Kami juga akan menerimamu sebagai karyawan disini lagi."


"Itu yang saya tidak bisa. Saya sudah ada pekerjaan lain dan tidak bisa bekerja disini."


Kepala HRD memaklumi jika Dewa tidak ingin bekerja disini. Dewa memiliki hal buruk disini yang membuatnya sangat malu apalagi ia hampir dipukuli oleh karyawan lain karena difitnah memperkosa seseorang.


"Dewa, ini uang gaji dan kompensasimu. Ini adalah hakmu, mohon diterima!" ucap HRD.


Setelah urusan selesai dengan HRD. Dewa menemui Pak Amri di kantin karena ini jam istirahat para karyawan..Dia sangat merindukan beliau yang selalu baik kepadanya.


"Wah, Dewa... Bapak sangat rindu."


"Aku juga, pak. Kabarnya baik 'kan?"

__ADS_1


"Iya sangat baik, ku harap kau juga baik-baik saja."


__ADS_2