Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 62 : Lamunan Dewa


__ADS_3

Dewa melangkah masuk ke rumah Bara, suasana masih mengandung duka. Banyak tikar masih digelar dan diatasnya banyak kardus air minum. Kepergian Zalina memang membuat Dewa cukup sedih pasalnya Zalina selalu baik kepadanya. Dewa meletakkan tasnya dipojok ruangan, semerbak bau wangi tercium dari dapur. Kaki jenjang Dewa melangkah masuk ke dapur. Matanya mengerjap tatkala melihat ketiga bidadari sedang memasak.


POV DEWA


Mataku mengerjap dalam kehangatan melihat ketiga istriku sedang akur. Mereka saling membantu bahkan melempar senyuman satu sama lain. Perut kosong itu yang berbunyi kukuruyuk menjadi terdiam membisu seribu bahasa. Melihat mereka akur saja membuat perutku langsung kenyang.


Nona, dia adalah istri pertamaku yang aku nikahi karena dia pantas menjadi istriku. Wajahnya yang bule dan senyumannya yang manis membuatku terpikat.


Sarah, dia adalah istri keduaku. Dia memang terlihat bar-bar, tetapi dia begitu baik dan pengertian. Sifat dewasanya membuatku luluh.


Elara, dia adalah istri ketigaku. Dia yang paling manja dan ingin selalu dimanja olehku. Poninya yang imut membuatku selalu gemas dengannya.


Ketiga istriku memang memiliki kelebihan satu sama lain. Inilah alasannya aku merasa bahagia jika waktu pulang kerja. Senyuman mereka adalah semangatku, andai saja kami cepat di karuniai anak pasti kami sangat bahagia.


Pleeetaaaak...


POV Author


"Aduhhhh...." Dewa mengusap telinganya yang disentil oleh seseorang. Kepalanya menengok ke samping, ia melihat Nona sedang bersedekap dada.


"Memikirkan apa?" tanya Nona.


Dewa tersenyum, pikiran anehnya langsung dia tepis. Membayangkan mempunyai istri tiga memang menyenangkan tetapi tidak akan terbayang bagaimana jadinya jika mereka bertiga bertengkar.


Tangan Nona menggandeng Dewa ke dapur, Nona menarik kursi dan menyuruh Dewa duduk. Wanita bule itu kembali membantu Sarah menggoreng pisang goreng. Dewa tersenyum pada akhirnya istri dan mantan pacar bisa akur tetapi...


"Tante bagaimana sih goreng pisang saja sampai gosong?" ucap Sarah.


"Mana aku tahu, kau 'kan yang sedari tadi menunggunya. Lagi pula jangan panggil aku tante! Kita jaraknya tidak sampai 10 tahun," jawab Nona tidak terima di panggil tante.


Sarah mendekati Nona sambil bersedekap, mereka saling bertatap maut satu sama lain. "Aku 'kan seumuran Elara."


"Tapi Ela adalah keponakanku jadi wajar saja dia panggil aku tante."

__ADS_1


"Yasudah, anggap aja aku keponakanmu, gampang 'kan?" ucap Sarah tidak mau kalah.


Dewa yang sadar langsung memisahkan mereka. Tak baik bertengkar pada suasana berduka saat ini. Nona dan Sarah memalingkan wajah mereka melirik Elara yang asyik memakan pisang goreng buatannya.


"Yah.. Kau tidak mau menggoreng malah menghabiskannya?" ucap Sarah.


"Ela, itu untuk teman-teman papamu. Cih... Benar ucapanku tadi, mending pesan makanan saja biar tidak ribet," ucap Nona.


Sarah mendengus. "Dewa, seperti ini model istrimu? Pemalas, bagaimana bisa mengurus rumah tangga jika masak saja malas."


"Apa kau bilang? Anak kecil seperti dirimu mana tahu urusan rumah tangga?" jawab Nona tidak terima.


Mereka bertengkar lagi seperti anak kecil, Elara menarik Dewa untuk duduk dan makan pisang goreng buatan Sarah dan Nona. Karena Dewa juga lelah sepulang kerja ia memilih membiarkan pertengkaran kecil mereka serta melahap pisang goreng bersama Elara.


"Kau tahu, Dewa? Kehilangan seorang mama membuatmu menjadi gila. Bahkan aku sekarang menjadi anak yatim piatu," ucap Elara.


"Sabar, Ela! Semua ini pasti ada hikmahnya. Kau masih punya papamu."


Dewa berhenti mengunyah pisang itu lalu menatap Elara yang menangis. Sebagai seorang teman, Dewa harus membuat Elara segera melupakan kejadian ini. Dia mengusap air mata Elara. Elara malah menangis semakin kuat. Nona dan Sarah yang beradu mulut memandang Elara yang menangis sesegukkan.


"Kenapa Ela?" tanya Nona mendekati keponakannya.


Elara masih menangis sesegukkan, Nona memeluknya dari samping. Nona tahu kesedihan Elara saat ini.


"Mana pisang gorengnya?" tanya Bara tiba-tiba datang.


Matanya melihat Elara menangis, ia menghampiri putrinya. "Kenapa, sayang?" tanya Bara.


"Aku sudah tidak punya orang tua 'kan, pah?" ucap Elara sambil sesegukkan.


"Kau masih punya papah. Sudah jangan menangis, sayang!"


Bara menggendong Elara menuju ke kamar, ia juga menyuruh Sarah untuk menemani Elara. Setelah sampai kamar, Bara meletakkan Elara di tempat tidur dan mengusap air matanya. "Istirahat saja dulu! Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh!" ucap Bara.

__ADS_1


Elara menganggukkan kepala, ia memejamkan mata untuk tidur. Sarah yang berdiri disamping Bara hanya diam memandang Elara yang berusaha untuk tidur. Ketika Bara akan berjalan keluar, tangannya tidak sengaja menyenggol tangan Sarah. Mereka bertatapan.


"Maaf, om tidak sengaja," ucap Bara.


Sarah menggigit bibirnya, ia menangis didepan Bara. Bara yang bingung hanya diam melihatnya. Sarah memeluk Bara, ia menumpahkan kesedihannya kepada Bara.


"Jika boleh memilih lebih baik aku menjadi anak Om Bara saja. Saat senang Om Bara memberi pelukan dan sama halnya saat sedih Om Bara juga memberi pelukan tidak seperti Mama dan papaku yang egois. Mereka memikirkan dirinya sendiri dan akan membuangku ketika sudah menemukan keluarga baru," ucap Sarah.


Bara mengusap punggung Sarah, ia tidak bisa berkata-kata sebab memang kedua orang tua Sarah itu salah. Elara yang belum tidur mengintip melalui matanya. Melihat papanya dan Sarah berpelukan membuatnya bisa melihat kesedihan Sarah.


"Jika ada apa-apa kau boleh datang kepada Om, ceritakan apa saja yang membuatmu sedih. Om akan menghiburmu."


"Andai saja jika Om Bara adalah papaku, aku pasti akan sangat senang," ucap Sarah.


***


Nona menemani Dewa makan, melihat suaminya makan dengan lahap membuatnya sangat senang. Manik mata Nona memandang wajah Dewa yang sangat kusam, Nona mengambil tisu basah lalu mengelapnya.


"Di pabrik segitu panasnya sampai kotorannya seperti ini?" tanya Nona.


"Begitulah, sayang."


"Kenapa tidak bekerja di kantor saja? Aku bisa tanyakan pekerjaan di kantor milik Kak Bara."


Dewa menghentikan makannya. Dia melamun tidak jelas lalu tersenyum kecil. Apa salahnya kerja di pabrik? Toh itu juga pabrik besar.


"Sayang, lebih baik kerja dari usaha mencari sendiri jauh lebih baik ketimbang kita memakai orang dalam. Masuk ke pabrik itu juga persaingannya ketat sekali, bahkan aku sampai bisa lolos bekerja disana adalah sebuah anugrah karena aku juga tidak terlalu pandai," ucap Dewa.


Nona meminta maaf jika maksud ucapannya salah. Dewa menggelengkan kepala jika maksud Nona baik. Sembari makan, Nona juga menceritakan bisnis kebun kopi yang dia kelola, dia meminta izin kepada Dewa untuk memperluas kebun kopinya.


"Bagaimana menurutmu, sayang? Bolehkah aku membeli tanah disamping kebun milikku?" tanya Nona.


"Terserah kau saja, sayang. Aku tidak paham bisnis seperti ini. Selagi membuatmu untung mending lakukan saja!" jawab Dewa membuat Nona tidak puas atas jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2