
Nona tertawa terbahak-bahak, Mona heran melihatnya. Nona tertawa geli melihat putrinya
berbicara ngelantur, pasalnya Mona saja masak air sampai gosong bilang ingin
menikah? Mona saja masih merengek dibikinkan susu setiap malam ingin menikah?
Mona mendengus kesal, ia membanting mangkuk yang ada di depannya dan segera
meninggalkan mamanya yang masih mengejeknya. Mona kembali ke kamarnya, ia
berguling-guling di atas tempat tidurnya.
Arrrrgghh , anaknya mau
kawin malah diketawain. Huh... Dulu papa menikah sama mama juga baru lulus SMA,
dapatnya tante lagi. Huh... Aku kan sudah besar, aku bisa masak nasi, aku bisa
masak air, waktu itu saja aku lupa matikan kompor jadi gosong. Sebal! Papa,
anakmu ingin kawin Papa.
Mona memeluk guling dan memandang langit-langit kamarnya, sempat terfikir
mencoba untuk menikah sembunyi-sembunyi saja namun ia masih waras. Tiba-tiba mamanya membuka pintu dan melihat anak gadisnya cemberut. Nona tersenyum kearahnya dan menghampirinya.
“Siapa pria itu?” tanya Nona.
“Huh...”
Mona marah dan membalikkan badannya. Nona hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepalanya. Nona
mengelus rambut Mona yang kecoklatan, anak gadisnya benar-benar sudah dewasa.
“Siapa?”
__ADS_1
“Gak ada, aku hanya bercanda. Sudahlah mommy pergi aja! Aku mau tidur.”
“Ya sudah, jika sudah siap perkenalkan pada mommy!”
Mona memalingkan wajah, ia sangat malu jika harus mengakui
ingin menikah dengan Arsel yaitu teman mamanya alias perjaka tua nan matang. Setelah
sang mama keluar, Mona segera mengambil buku diarynya dan menulis tentang perasaannya.
Dear Diary
Aku bingung, apakah
cinta kami benar-benar baik? Pasalnya umur kami sangat jauh, pantasnya ia menjadi papaku tapi dia masih tampan dan lajang, dia baik dan siapa wanita yang tidak akan luluh padanya? Aku benar-benar menyukainya, aku benar-benar mencintainya namun terkadang ada rasa malu dibenakku, jika aku beneran menikah dengannya maka aku akan dianggap sugar
baby. Huh... otakku bener-bener masih labil.
Tak terasa, Mona sampai tertidur dan terbangun sore hari,
rambutnya juga acak-acakan, ia menguap dan mengusap matanya menuju ruang
keluarga.
“Hoaaam, Mommy lapeeeerr ...” rengek Mona.
Mona membuka mata, betapa terkejutnya dia melihat Arsel ada
di sana bersama Dewa dan Nona. Mona kelabakan tentunya juga sangat malu sekali,
apalagi dia merasa sangat jelek setelah bangun tidur.
“Anak begini mau kau nikahi, Sel? Dia belum dewasa, makan
masih merengek pada orang tuanya, dia pemalas,” ucap Nona yang hampir pingsan mendengar ucapan Arsel yang ingin melamar Mona.
“Mommy... Mommy harusnya baikin aku di depan Uncle Arsel,
__ADS_1
bukannya jelekin aku.”
Nona tertawa mengejek. “Haha, kau pikir menikah hanya sekedar
bersenang-senang dengan orang yang di cintai? Berat, Mon. Kau saja tidur masih minta ditemenin.”
Dewa menghela nafas, ia tahu jika sang istri tidak akan
setuju, apalagi Arsel seumuran dengan Nona yang sudah kepala 4. Nona juga tidak akan membiarkan anak gadisnya menikah muda, jalan Mona masih panjang.
“Contohlah ketiga kakak kembarmu, mereka tidak aneh-aneh apalagi merengek meminta menikah. Fokuslah pada kuliahmu!” ucap Nona.
“Nona, aku meminta maaf jika lamaranku sangat membuatmu
keberatan, tapi untuk masalah umur Mona ku rasa tidak ada masalah, dia sudah
termasuk dewasa. Setelah menikah nanti pasti dia bisa menyesuaikan,” sela Arsel.
“Dengar ya, Arsel! Kau pulang saja! Cari istri yang tak jauh
umurnya dari mu! Mona sangat berharga untukku,” pinta Nona.
Mona mulai menangis, ia berlari masuk ke kamar dan membanting pintu sekuat mungkin. Dewa tidak tahu harus apa karena jika Nona mengatakan tidak maka tidak bisa diganggu gugat.
“Jangan dekati putriku lagi apapun alasannya!” sambung Nona dan mulai berjalan meninggalkan Dewa dan Arsel.
Dewa menatap Arsel, ia sudah tidak bisa membantu banyak lagi, Nyonya besar sudah marah dan dia tidak bisa melakukan apa-apa.
“Berjuanglah! Walau Nona sangat keras kepala namun dia pasti akan luluh juga. Aku akan mendukungmu,” ucap Dewa.
“Terima kasih, Dewa. Aku akan memperjuangkan untuk
mendapatkan putrimu,” jawab Arsel.
***
Semoga masih sabar menunggu ya ;)
__ADS_1