Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bonus chapter : Arsel & Mona 4


__ADS_3

Nona tertawa terbahak-bahak, Mona heran melihatnya. Nona tertawa geli melihat putrinya


berbicara ngelantur, pasalnya Mona saja masak air sampai gosong bilang ingin


menikah? Mona saja masih merengek dibikinkan susu setiap malam ingin menikah?


Mona mendengus kesal, ia membanting mangkuk yang ada di depannya dan segera


meninggalkan mamanya yang masih mengejeknya. Mona kembali ke kamarnya, ia


berguling-guling di atas tempat tidurnya.


Arrrrgghh , anaknya mau


kawin malah diketawain. Huh... Dulu papa menikah sama mama juga baru lulus SMA,


dapatnya tante lagi. Huh... Aku kan sudah besar, aku bisa masak nasi, aku bisa


masak air, waktu itu saja aku lupa matikan kompor jadi gosong. Sebal! Papa,


anakmu ingin kawin Papa.


Mona memeluk guling dan memandang  langit-langit kamarnya, sempat terfikir


mencoba untuk menikah sembunyi-sembunyi saja namun ia masih waras.  Tiba-tiba mamanya membuka pintu dan melihat anak gadisnya cemberut. Nona tersenyum kearahnya dan menghampirinya.


“Siapa pria itu?” tanya Nona.


“Huh...”


Mona marah dan membalikkan badannya. Nona hanya bisa


menggeleng-gelengkan kepalanya.  Nona


mengelus rambut Mona yang kecoklatan, anak gadisnya benar-benar sudah dewasa.


“Siapa?”

__ADS_1


“Gak ada, aku hanya bercanda. Sudahlah mommy pergi aja! Aku mau tidur.”


“Ya sudah, jika sudah siap perkenalkan pada mommy!”


Mona memalingkan wajah, ia sangat malu jika harus mengakui


ingin menikah dengan Arsel yaitu teman mamanya alias perjaka tua nan matang. Setelah


sang mama keluar, Mona segera mengambil buku diarynya dan menulis tentang perasaannya.


Dear Diary


Aku bingung, apakah


cinta kami benar-benar baik? Pasalnya umur kami  sangat jauh, pantasnya ia menjadi papaku tapi dia masih tampan dan lajang, dia baik dan siapa wanita yang tidak akan luluh padanya? Aku benar-benar menyukainya, aku benar-benar mencintainya namun terkadang ada rasa malu dibenakku, jika aku beneran menikah dengannya maka aku akan dianggap sugar


baby. Huh... otakku bener-bener masih labil.


Tak terasa, Mona sampai tertidur dan terbangun sore hari,


rambutnya juga acak-acakan, ia menguap dan mengusap matanya menuju ruang


keluarga.


“Hoaaam, Mommy lapeeeerr ...” rengek Mona.


Mona membuka mata, betapa terkejutnya dia melihat Arsel ada


di sana bersama Dewa dan Nona. Mona kelabakan tentunya juga sangat malu sekali,


apalagi dia merasa sangat jelek setelah bangun tidur.


“Anak begini mau kau nikahi, Sel? Dia belum dewasa, makan


masih merengek pada orang tuanya, dia pemalas,” ucap Nona yang hampir pingsan mendengar ucapan Arsel yang ingin melamar Mona.


“Mommy... Mommy harusnya baikin aku di depan Uncle Arsel,

__ADS_1


bukannya jelekin aku.”


Nona tertawa mengejek. “Haha, kau pikir menikah hanya sekedar


bersenang-senang dengan orang yang di cintai? Berat, Mon. Kau saja tidur masih minta ditemenin.”


Dewa menghela nafas, ia tahu jika sang istri tidak akan


setuju, apalagi Arsel seumuran dengan Nona yang  sudah kepala 4. Nona juga tidak akan membiarkan anak gadisnya menikah muda, jalan Mona masih panjang.


“Contohlah ketiga kakak kembarmu, mereka tidak aneh-aneh apalagi merengek meminta menikah. Fokuslah pada kuliahmu!” ucap Nona.


“Nona, aku meminta maaf jika lamaranku sangat membuatmu


keberatan, tapi untuk masalah umur Mona ku rasa tidak ada masalah, dia sudah


termasuk dewasa. Setelah menikah nanti pasti dia bisa menyesuaikan,” sela Arsel.


“Dengar ya, Arsel! Kau pulang saja! Cari istri yang tak jauh


umurnya dari mu! Mona sangat berharga untukku,” pinta Nona.


Mona mulai menangis, ia berlari masuk ke kamar dan membanting pintu sekuat mungkin. Dewa tidak tahu harus apa karena jika Nona mengatakan tidak maka tidak bisa diganggu gugat.


“Jangan dekati putriku lagi apapun alasannya!” sambung Nona dan mulai berjalan meninggalkan Dewa dan Arsel.


Dewa menatap Arsel, ia sudah tidak bisa membantu banyak lagi, Nyonya besar sudah marah dan dia tidak bisa melakukan apa-apa.


“Berjuanglah! Walau Nona sangat keras kepala namun dia pasti akan luluh juga. Aku akan mendukungmu,” ucap Dewa.


“Terima kasih, Dewa. Aku akan memperjuangkan untuk


mendapatkan putrimu,” jawab Arsel.


***


Semoga masih sabar menunggu ya ;)

__ADS_1


__ADS_2