
Nona memandangi kerumunan karyawan yang pulang dari bekerja. Manik mata birunya seolah mencari keberadaan seseorang dan tentu saja itu Dewa. Setelah urusan di kebun kopi selesai, ia menyempatkan untuk menjemput Dewa di pabrik tempat suaminya bekerja.
Nona semakin was-was tatkala melihat banyak perempuan cantik yang bekerja di pabrik itu. Helaan nafas panjang terdengar oleh Arsel. Arsel tersenyum kecut, ia nampak iri dengan Dewa yang di khawatirkan oleh Nona.
"Kenapa Dewa tidak keluar-keluar ya?" gumam Nona.
Nona keluar dari mobil, matanya melihat jika Dewa baru keluar dari gerbang. Nona tersenyum sumringah, ia berlari kecil menghampiri Dewa. Semua mata tertuju padanya apalagi wajah Nona begitu bule dan berambut pirang.
Tangan Nona menggandeng Dewa masuk mobil, para pegawai yang melihat Dewa dijemput wanita bule cantik yang menggunakan mobil mewah merasa terkejut.
Setelah masuk ke mobil, Nona melihat wajah kusam Dewa. Nona mengambil tisu basah dan mengelapnya pada wajah Dewa. Suaminya terlihat begitu lelah karena ini baru pertama kalinya dia bekerja berdiri seharian dan tidak bisa duduk. Usapan demi usapan Nona lakukan, kulit suaminya yang tidak terlalu putih itu justru membuatnya jatuh cinta. Bahkan Nona juga ingin menghitamkan kulitnya supaya bisa mengimbangi Dewa.
"Sayang, jika kita punya anak warna kulitnya seperti apa, ya?" tanya Nona.
"Putih sepertimu, sayang."
Arsel yang mendengar pembicaraan mereka ingin muntah. Pasalnya dia mendengar apa yang harusnya dia tak dengar
"Sayang, nanti malam aku ingin mengajakmu berbicara," ucap Dewa.
"Kenapa tidak sekarang?" tanya Nona sambil membungkus tisu bekas wajah Dewa di plastik.
"Nanti malam saja."
Nona menganggukkan kepala, ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Dewa. Semakin hari dia semakin menyayangi sang suami bahkan dia sudah menyiapkan rencana bulan madu untuk mereka. Tempat bulan madu mereka tidak terlalu jauh hanya ke pulau seberang mengingat kini Dewa sudah bekerja dan tentu saja suaminya tidak punya waktu banyak untuk berlibur.
Setelah sampai rumah, Arsel membukakan pintu mobil untuk mereka. Nona dan Dewa bergandengan tangan saat masuk ke dalam rumah. Pembantu baru sudah menyiapkan air hangat untuk mereka mandi. Dewa yang didalam pikirannya menghitung jumlah pembantu menjadi pusing karena dia tidak banyak uang untuk membayar mereka.
Dewa masuk ke kamar mandi duluan, ia berendam air panas untuk menetralkan rasa lelahnya. Sedangkan Nona sama seperti biasanya, para pelayan melepaskan bajunya dan menghapus make upnya terlebih dahulu. Walau dia kini sudah tidak mempunyai banyak harta tetapi tidak menghilangkan kebiasaannya seperti seorang ratu.
Pelayan menghapus make upnya dengan hati-hati, wajah Nona yang gampang memerah membuatnya mengusap secara pelan.
__ADS_1
Setelah selesai, Nona menyuruh semua pelayannya keluar dari kamar. Nona yang hanya menggunakan balutan handuk memasuki kamar mandi dan dia bergabung berendam bersama Dewa di bak yang sama. Dewa menggeser tubuhnya lalu merangkul bahu Nona. Ini adalah hal yang paling menyenangkan bagi pasutri baru itu.
"Sayang, mumpung kita dalam kondisi rileks seperti ini aku mau membicarakan hal serius denganmu," ucap Dewa.
Nona yang sedang membilas tangannya hanya mendengar ucapan Dewa.
"Aku ingin kuliah dan pasti membutuhkan uang lebih jadi alangkah baiknya kita tunda dulu punya anak, bagaimana?" tanya Dewa.
"Kenapa berubah pikiran?"
Tangan Dewa mulai menggosok punggung Nona menggunakan sabun favorit beraroma ekstrak bunga mawar. Sentuhan dari Dewa membuat Nona sangat nyaman dan membuat mengantuk.
"Aku ingin kuliah supaya cepat naik pangkat. Aku tahu jika zaman sekarang serba mahal dan gajiku hanya gaji pokok, setidaknya aku ingin punya pangkat walau rendah di pabrik itu. Banyak anak yang masih muda sudah menjadi supervisor bahkan manajer disana," ucap Dewa.
Nona yang mulai terpejam sedikit menyunggingkan senyuman. "Aku bahkan bisa menjadikanmu seorang CEO di perusahaanku tetapi kau tidak mau?"
"Nunaku sayang, aku sudah bilang jika akan sukses dengan caraku sendiri. Jika aku menerima bantuanmu maka keluargamu akan semakin menindasku."
Nona menghadap wajah Dewa. Anak ABG seperti Dewa patut diacungi jempol. Nona memang tidak salah memilih seorang suami.
"Tenang sayang, saat malam hari aku hanyalah milikmu seorang. Aku mencintaimu, Nunaku," jawab Dewa sambil mengecup pipi Nona.
Mereka mengusap badan satu sama lain dan tentunya sesekali melempar busa ke wajah. Aktivitas yang melelahkan telah ternetralisir oleh air hangat dan tentunya karena mereka mandi bersama. Bahkan Dewa sudah terbiasa mandi berendam di bak dan kini sudah tidak membutuhkan gayung lagi. Dirinya tertawa kecil saat mengingat pertama kali menikah dengan Nona. Hal itu sungguh memalukan.
...****************...
Bara sedang membaca buku di ranjang empuknya. Setelah menuruti putrinya untuk makan seafood, ia langsung beristirahat di kamar sembari membaca buku. Zalina sedang berendam di kamar mandi, sudah kebiasaannya saat malam hari dia berendam berlama-lama.
Dering ponsel Zalina berbunyi, ponsel Zalina yang berada di samping Bara membuatnya mengangkat telpon itu tetapi nomor dari tidak dikenal itu langsung menutupnya setelah suara Bara menjawab.
Bara meletakkan ponsel Zalina di tempat semula tetapi dia meliriknya lagi seolah ada yang janggal. Tangan Bara mengambilnya lalu membukanya. Semua pesan tidak ada yang mencurigakan.
__ADS_1
Jemari Bara menggeser pada layar ponsel sampai dia melihat sebuah ikon aneh yang membuatnya penasaran.
Telunjuk tangannya menyentuh itu, mata Bara terbelalak saat ponsel Zalina berubah fitur seolah berbeda ponsel. Tampilan ponsel itu berubah mulai dari fitur-fiturnya sampai wallpaper Zalina.
Bara membuka fitur pesan, ia membaca sebuah pesan yang cukup intim bahkan membuat Bara sangat terkejut.
Zalina, kenapa kau menyembunyikan penyakitmu dariku? Kenapa? Apa kau tidak menganggapku suamimu?
Bara mengambil jaketnya dan memutuskan untuk keluar mencari udara segar. Elara yang sedang bertelpon di ruang tamu melihat papanya.
"Papa mau kemana?" tanya Elara.
"Papa mau keluar sebentar. Sana istirahat di kamar! Dimana Sarah? Dia sudah tidur?" tanya Bara sambil mengusap pipi Elara.
"Bentar, pah. Ini lagi telponan sama temen. Sarah keluar entah kemana, mungkin dapat bookingan," ucap Elara sambil tertawa.
Bara yang mendengarnya terkejut. "Dia bilang mau kemana?"
Elara mengangkat bahunya, dia melanjutkan pembicaraan dengan temannya di telpon. Bara begitu panik, pasalnya Sarah beberapa hari ini adalah tanggung jawabnya. Bara segera mencarinya dan tidak lupa menelpon Sarah.
Disisi lain, Sarah sedang duduk berdua dengan Arsel di cafe. Sarah mencoba mendekati Arsel karena dia tahu jika Elara sudah menyukai Arsel. Pikiran licik Sarah memang masih ada, dia harus membuat Arsel menyukainya walau Sarah tidak suka.
"Rumahmu dimana?" tanya Sarah.
"Kau sudah lihat jika aku tidak membawanya. Cepat katakan apa maumu!"
"Heeeem... Sepertinya Elara menyukaimu tapi lebih baik jangan menghiraukannya!" ucap Sarah.
Arsel berdecih, kedua gadis itu sama-sama psiko dan aneh membuat Arsel begitu risih bila dekat dengan Elara maupun Sarah.
"Malam-malam begini meminta bertemu hanya untuk membahas ini? Membuang waktuku saja," ucap Arsel.
__ADS_1
"Aku menyukaimu, ayo kita berpacaran!"
******