
"Aku menyukaimu, ayo kita berpacaran!"
Arsel menaikkan alisnya. Dia langsung berdiri meninggalkan Sarah yang menunggu jawabannya. Sarah bergegas menyusul Arsel tetapi sorot matanya tertuju pada Bara yang sudah berada di luar cafe menatapnya dengan khawatir.
"Maaf jika Om menganggu kalian, Om hanya khawatir padamu Sarah."
Arsel menundukkan kepala kepada Bara. Dia berpamitan untuk pulang, Sarah mengejarnya lalu memeluk Arsel dari belakang. "Plis... Ayo kita pacaran! Aku butuh pria sepertimu yang bisa melindungiku," ucap Sarah.
Bara hanya melihat sambil terdiam. Sesunyi itukah hati Sarah sampai mengajak pria berkencan? Arsel dengan kasar melepaskan tangan Sarah. Arsel yang terkenal dingin dan cuek memasang wajah angkuhnya. Tatapannya mengeras saat Sarah menampilkan wajah memelas.
Arsel melangkah meninggalkan Sarah menuju mobilnya, Sarah yang geram melepas sepatunya lalu melemparnya ke kepala Arsel dengan tepat. Arsel terhenti, ia melihat wajah Sarah yang tersenyum.
"Sarah, itu sangat tidak sopan," ucap Bara.
"Haha... memang siapa dia bisa menolak diriku?"
Arsel mendekati Sarah, dia bersedekap memandang Sarah yang hanya menyunggingkan senyuman maut. "Gadis gila," ucap Arsel.
Sarah menuju ke Bara, ia menautkan tangannya pada lengan Bara. "Yuk om pulang!" ajak Sarah sambil mengejek Arsel.
"Arsel, maafkan Sarah, ya! Dia masih labil. Kita pulang dulu," ucap Bara.
Arsel menganggukkan kepala. Bara dan Sarah masuk ke mobil. Sarah sembari tadi melamun. Dia begitu kesal saat Arsel menolaknya. Padahal cara ampuh membuat Elara kalah hanyalah mengajak Arsel berpacaran. Kedua gadis gila itu melakukan taruhan, siapa yang bisa berpacaran dengan Arsel akan menjadi pemenang dan harus mengakui kekalahannya.
Sarah melihat rute yang dilaluinya tidak benar. Sarah menatap Bara yang hanya diam, mata Bara nampak memerah.
"Om kenapa?" tanya Sarah.
Bara tersenyum. "Memangnya Om kenapa?"
"Ih... Kok tanya balik sih? Om galau, ya? Pasti gara-gara Tante Zalina."
Bara menepikan mobilnya. Jalanan malam yang sudah sepi membuat suasana menjadi sunyi. Sarah mulai takut pasalnya dia tidak begitu mengenal Bara.
"Papamu tadi menelpon kenapa kau tidak mengangkat?" ucap Bara mengalihkan pembicaraan.
"Buat apa? Sebentar lagi dia menikah dan pastinya memiliki keluarga baru. Aku sudah besar tidak butuh perhatian dari papaku lagian dia juga egois," jawab Sarah.
"Papamu tidak seperti itu. Dia sangat menyayangimu."
Sarah menguap, ia sangat mengantuk lalu memutuskan untuk tidur. Sarah masih menggunakan pakaian sangat minim. Bara melepaskan jaketnya, ia memberikan kepada Sarah. Bara sudah menganggap Sarah sebagai putrinya sendiri bahkan Dani selalu menitipkan putrinya kepada Bara jika dia ke luar kota. Tiba-tiba ponselnya berdering ternyata Dani.
__ADS_1
"Hallo, Dan?" ucap Bara.
"Bro, gimana anakku? Dia nakal?"
"Tidak, dia penurut."
"Besok aku akan pulang dan tentunya membawa pacarku. Sarah di tempatmu dulu, aku belum siap memperkenalkannya kepada Sarah," ucap Dani.
Bara mengernyitkan kening. "Jangan begitu! Sarah harus segera tahu. Dia hanya butuh kejujuranmu saja."
"Sarah itu sifatnya sama seperti ibunya dulu yang keras kepala. Aku takut ini malah membuat Sarah semakin benci kepadaku."
Sembari mereka mengobrol, tampak kilatan-kilatan petir menyambar-nyambar pertanda akan hujan. Bara yang akan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri akhirnya harus pulang karena dia juga merasa kasian dengan Sarah. Setelah ia menutup telpon, hujan deras langsung turun seketika. Suara bunyi hujan yang khas begitu berisik di malam ini. Sarah yang sudah terlelap terkejut, dirinya sangat panik pasalnya dia takut dengan hujan bahkan suaranya sekalipun.
"Aaaaaaah....."
Sarah berteriak sambil menutup telinganya. Dia memanggil nama Dewa yang dulu selalu menenangkannya saat hujan tiba. "Dewa.... aku takut..."
Bara melepas sabuk pengamannya, ia mendekati Sarah lalu memeluknya. Dani pernah berkata jika Sarah takut dengan suara air hujan.
"Takut, om." Sarah menangis dipelukan Bara.
Bara menenangkan Sarah yang dia anggap seperti putrinya sendiri. Bara mencoba menyanyikan lagu anak-anak berjudul hujan yang membuat Sarah terhenti dari tangisannya. Sarah mendorong tubuh Bara, ia nampak kesal dengan pria yang usianya seumuran papanya itu.
Bara tersenyum kecil, ia kembali ke posisi tempat duduknya. "Sudah tahu bukan muhrim kenapa kau memancing pria dengan pakaian minimmu?" tanya Bara.
Sarah perlahan mundur, ia ingin keluar dari mobil tetapi diluar sedang hujan. Sarah langsung refleks menutupi belahannya dengan jaket milik Bara.
"Jadi selama ini Om Bara bernafsu juga denganku?" tanya Sarah panik.
"Mana bisa? Kau sudah kuanggap sebagai putri sendiri."
"Oh enggak bernafsu, ya?" tanya Sarah menyeringai.
JEDEEEEEEEERRRR.....
Suara petir menggelegar dengan kuat. Sarah begitu terkejut langsung menarik tangan Bara. "Om, aku takut. Pulang yuk!" ucap Sarah.
"Baiklah. Lepaskan tanganmu dulu!"
Sarah langsung melepaskannya. Bara mengemudikan mobil untuk segera pulang ke rumah.
__ADS_1
****
Dewa tengah merebahkan dirinya di ranjang yang empuk. Badannya begitu sangat remuk bekerja seharian ini. Mata Dewa melihat Nona yang tengah memandangi laptopnya. Nona begitu sibuk dengan pekerjaannya.
"Jadi sayang sudah tidak bekerja di perusahaan sayang yang dulu?" tanya Dewa.
"Sudah di pecah, sayang. Punyaku tinggal 2 toko saja tetapi tidak masalah. Aku masih bisa mengelolanya dengan baik."
Dewa beranjak dari tempat tidur, ia menghampiri Nona dan memeluknya dari belakang. "Yuk bobo! Sudah malam, besok lagi kerjanya."
"Sayang tidur dulu saja! Setelah ini aku menyusul," ucap Nona.
Dewa mengecup pipi Nona, ia kembali ke tempat tidur lalu langsung terlelap ke alam mimpi. Besok dia harus berangkat bekerja dihari kedua training.
Setelah Dewa tertidur, ponselnya bergetar. Nona meliriknya tetapi Dewa tidak mendengar, ia berdiri meraih ponsel Dewa. Dia kesal saat telepon itu dari Sarah. Dengan rasa malas, Nona mengangkatnya.
"Ada apa menelpon suamiku?"
"Wah... Kenapa malah tante yang mengangkat? Aku ingin berbicara kepada Dewa," jawab Nona.
"Dia tidur."
"Oke, kalau begitu bilang pada Dewa jika besok malam aku menunggu di cafe biasa. Titip love juga pada Dewa," ucap Sarah sedikit menggoda.
Nona langsung menutup telpon. Dia meremas jemari tangannya. Entah mengapa hatinya begitu sangat sakit. Nona memandang Dewa yang sudah terlelap. Dia mengambil air dan menyiramkannya kepada Dewa.
Byuuuuuur....
Dewa tergagap, ia langsung bangun dan terbatuk-batuk. Nona menyeretnya keluar dari kamar. Dewa masih bingung.
"Sayang, kenapa?" tanya Dewa.
Nona mendorongnya keluar dari kamar. "Malam ini tidur diluar saja!"
"Apa salahku sayang?" tanya Dewa.
"Aku benci denganmu!"
Braaaaaaaaak....
Nona membanting pintu dengan kuat. Dewa masih bingung lalu mengusap wajahnya yang basah.
__ADS_1
Tok.. tok... tok...
"Nona, buka pintunya! Kenapa tiba-tiba mengusirku dari kamar?"