
Pagi hari di gudang,
Dewa terus saja menguap, matanya memerah karena tidak bisa tidur malam ini. Monalisa rewel, ia tidak bisa tidur dan menangis sepanjang malam. Mendengar putrinya menangis, pastilah membuat ketika kembar itu terbangun dan mengajak bermain.
Dewa terus meminta mereka untuk tidur kembali, namun bocah yang sangat aktif itu belum bisa mengerti.
Sambil mengecek setiap orderan yang diterima, Dewa menguap dan menguap. Ingin sekali tidur sejenak namun apalah daya ia tidak bisa membiarkan saat karyawannya sibuk ia malah tidur. Sesekali ia mengecek pesan dari sang istri. Untung saja para pengasuh putranya sudah bisa datang setelah bercuti.
Nona
Jangan lupa hari ini gajian para pengasuh!
Dewa
Nanti mas akan transfer ke rekening mereka.
Anak-anak bagaimana?
Nona
Mereka gak nakal kok.
Dewa
Baiklah, mas mau lanjut kerja lagi.
Love you.
Dewa beranjak dari ruangannya, ia keluar untuk mengecek para karyawan yang sedang membungkus para pesanan konsumen. Teman-temannya memperhatikan mata sang bos yang merah. Mereka tahu jika Dewa kurang tidur.
"Kau tidur sajalah dulu! Kerjaan biar kami yang atur."
Dewa mengambil kursi lalu terduduk didepan mereka. "Enggak deh. Eh... aku mau beli kopi di depan. Kalian mau?"
"Es teh saja."
Dewa mengangguk, langkah lemasnya melangkah menuju warung yang ada diseberang gudangnya. Dia memesan satu kopi, beberapa bungkus es teh dan camilan super pedas supaya matanya bisa melek. Sambil menunggu, ia melamun tidak jelas. Sampai matanya berkunang-kunang membuatnya bingung sendiri. Kepala Dewa menggeleng dan ia mengucek mata. Namun pada akhirnya ia pingsan.
Semua orang disana sangat kaget, mereka menolong Dewa yang pingsan lalu memanggil rekan-rekannya yang ada di gudang.
Di klinik,
__ADS_1
Mata Dewa terbuka dan mendapati aroma obat disekitarnya. Dia menutup hidung lalu matanya menyapu seluruh ruangan. Dewa bisa melihat Nona berada di sampingnya.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Dewa.
"Mas Dewa pingsan, tensi mas sangat rendah."
Dewa berusaha untuk bangun, kepalanya merasa diputar-putar. Nona membantunya untuk duduk, tangannya membelai pipi Dewa.
"Mas jika sakit bilang! Jika lelah istirahat, jangan dipaksakan!" ucap Nona.
"Mas gak sakit kok."
"Gak sakit kok sampai pingsan?"
Dewa meminta kembali ke gudang karena pekerjaan hari ini sangat banyak. Nona mencegah, istri mana yang tega membiarkan sang suami sedang sakit untuk bekerja?
"Berbaringlah dulu! Zi akan datang dengan kakekmu. Nuna akan tetap disini, anak-anak dengan para pengasuhnya," ucap Nona.
Dewa mengangguk lemas, kepalanya ia pijat sendiri setelah merasakan nyeri yang menyiksa. Pekerjaan, anak-anak memang membuatnya sangat lelah pikiran. Mengurus 6 orang anak sekaligus walau menggunakan pengasuh tetap saja membuatnya pusing. Dia harus membayar pegawai dan pengasuh yang jumlah totalnya sampai 40 juta dalam satu bulan. Dia harus membayar 10 pegawai dan 5 orang pengasuh termasuk 1 juru masak untuk memasakan keluarga mereka. Belum lagi uang belanja, uang bayar listrik atau air di apartemen mewah itu. Apalagi berjualan online tidak bisa diprediksi kapan sepi atau kapan ramai.
Namun, ia tak pernah mengeluh kepada istrinya. Walau sang istri masih mempunyai toko meubel sendiri namun ia tak pernah menganggu alias tidak pernah meminta uang pada Nona.
"Dewa, Dewa... Kau tidak seperti saudara kembarmu. Dia memanfaatkan kekayaan kakek untuk bisnis barunya. Kau sungguh keras kepala, apa gunanya kakek membuatkanmu kartu tanpa batas? Songong sekali dirimu," ucap kakek.
Dewa tidak menjawab, ia memalingkan wajah.
"Kakek akan membuatkanmu cabang baru supaya kau tidak hanya mendapat satu penghasilan dari satu toko saja dan jangan menolak!" gertak kakek.
Dewa tetap diam, kakek mencubit pipi Dewa dengan gemas. Cucunya yang ia asuh sejak kecil memang mempunyai banyak perubahan. Walau kedua cucunya bertukar identitas namun sifat asli mereka tetap tidak akan tertukar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disisi lain, Arsel sedang mengurus pekerjaan Dewa. Sang bos sedang sakit membuat dirinya harus mengurus pekerjaan sang tuan. Umurnya yang sudah tidak lagi bocah namun masih jomblo membuat dirinya semakin misterius. Teman-temannya tidak tahu jika dirinya adalah adik dari Althaf karena memang mereka tidak mempunyai kemiripan.
Satu persatu resi ia cetak lalu menyerahkan kepada teman-temannya untuk segera di bungkus. Pesanan hari ini sangat ramai membuat mereka sangat sibuk.
"Kak Arsel sampai sekarang kok tidak pernah pergi dengan perempuan?" tanya Jojo.
"Untuk apa? Buang-buang uang saja," jawab Arsel.
Jojo tertawa kecil, ia tahu jika Arsel sangat trauma dekat dengan perempuan karena pada akhirnya ia ditinggal menikah.
__ADS_1
"Elara cantik juga lho," goda Jojo.
"Dia sudah aku anggap adikku sendiri."
Jojo menyenggol bahu Arsel, ia tersenyum membuat Arsel bingung. "Jika suka katakan! Nanti Elara direbut cowok lain."
Arsel hanya menatap kesal, ia tidak memperdulikan ucapan Jojo lalu kembali ke ruangan Dewa untuk menyelesaikan pekerjaan yang lain.
Saat bersamaan, Altaf datang bersama asistennya. Dia langsung masuk ke gudang itu tanpa salam dan berteriak memanggil nama Arsel. Pegawai Dewa sangat kesal, mereka menyuruh Altaf untuk keluar namun pria itu tidak memperdulikan.
"Arsel, keluar kau!" teriak Altaf.
Arsel keluar, ia sangat malas melihat saudaranya itu. Altaf menyuruh asistennya untuk membawa adiknya masuk ke mobil. Arsel memberontak sampai ia dipukuli oleh asisten Altaf.
"Seret dia!" ucap Altaf.
"Baik, tuan."
Arsel terpaksa mengikuti mereka, ia menitipkan gudang milik Dewa pada Jojo dan akan mengambil libur untuk beberapa hari. Setelah masuk mobil, sang kakak membawanya pulang ke rumah untuk menemui seseorang yang sangat merindukan putra keduanya yang kabur dari rumah sejak bertahun-tahun yang lalu.
***
Saat akan menjenguk Dewa, Sarah tidak sengaja bertabrakan dengan Zian saat akan masuk ke klinik. Zian yang hanya diam langsung melewati Sarah membuat wanita itu sangat kesal. Dia sangat kesal sampai mengejarnya.
"Bisakah meminta maaf?" tanya Sarah.
Zian terhenti lalu menengok kebelakang seperti mencari seseorang.
"Suamimu tipe orang yang cemburuan. Jika kita mengobrol maka akan terjadi salah paham seperti waktu itu," jawab Zian.
Zian kembali pergi meninggalkan Sarah namun Sarah tetap mengejarnya sampai mobil membuat Zian heran.
"Aku tahu sih jika kau jijik denganku. Melihat dari tatapan matamu kepadaku sudah terlihat jika kau jijik denganku karena menikah dengan pria matang atau lebih tepatnya om-om. Aku hanya minta jangan berpikiran yang macam-macam denganku!" ucap Sarah.
Zian hanya mengernyitkan dahi tak paham dengan maksud Sarah.
"Ah... Sudahlah... tidak usah dibahas!" ucap Sarah bingung sendiri.
Zian semakin bingung dengan bocah yang baru merasakan pernikahan itu. Dia meninggalkan Zian dan masuk ke klinik.
Dasar aneh! Batin Zian.
__ADS_1