Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 50 : Tambahan pekerjaan


__ADS_3

"Nona, buka pintunya! Kenapa tiba-tiba mengusirku dari kamar?"


Tok... tok... tok... tok...


Dewa menggedor pintu, dirinya masih bingung kenapa Nona memperlakukannya seperti ini. Dewa yang sudah kesal lalu memutuskan untuk mendobraknya. Dia mencari ancang-ancang, mundur beberapa langkah dari pintu dan dengan yakin dia berlari kearah pintu untuk mendobrak. Tetapi tiba-tiba pintu dibuka oleh Nona, Dewa yang terlanjur tidak bisa mengerem lalu terjatuh di lantai.


"Huh... Nona, apa yang kau lakukan?" tanya Dewa begitu kesal.


Dia berusaha berdiri, Nona memandangnya sambil bersedekap di dada. Dewa begitu geram melihat sang istri kurang ajar seperti itu. Tidak melakukan kesalahan apapun tiba-tiba di perlakukan seenak jidat.


"Nona, aku ini bukan anak kecil yang bisa kau perlakukan seperti ini," ucap Dewa kesal.


Nona yang melihat Dewa marah cukup terkejut, dia mendekati Dewa lalu menunjuk dadanya. "Kau yang memulai, katamu sudah tidak berhubungan dengan Sarah lagi? Tapi kenapa dia tadi menelpon lalu mengajak berkencan di cafe?"


"Mana aku tahu? Kenapa tidak tanya kepada Sarah sendiri?"


Nona terkejut melihat keberanian Dewa, tangannya meraih bantal dan di lemparnya kearah wajah Dewa. "Tidur diluar sana! Dasar tukang selingkuh!"


Dewa yang dasarnya sudah lelah malah tersulut emosi. Dia mengambil bantal dan menatap tajam Nona. Nona yang mengetahui ternyata Dewa bisa marah sempat terkejut.


"Apa sih maumu? Sedikit-sedikit mengusirku? Aku tidak tahu kesalahan apa yang aku buat selalu saja menyalahkanku," ucap Dewa.


"Kenapa kau menaikkan nada bicaramu? Aku lebih tua darimu."


"Tapi aku suamimu, begini sifat aslimu, Nona? Tak jauh berbeda dari saudaramu," ucap Dewa.


Nona menampar pipi Dewa, Dewa hanya bisa pasrah. Seginikah harga dirinya sebagai seorang lelaki? Selalu direndahkan oleh istrinya sendiri. "Selagi kau masih ikut tinggal gratis disini denganku harusnya kau tahu batasanmu. Kau tidak memberiku uang banyak aku tidak masalah yang terpenting..."

__ADS_1


"Cukup, Nona! Aku memang tidak bisa memberimu uang banyak tapi tidak bisakah kau lebih sopan dengan suamimu?" tanya Dewa memutus ucapan Nona. "Oke... Sekarang aku tahu sifatmu yang sebenarnya. Semua rasa cinta yang kau ucapkan ternyata palsu," ucap Dewa.


Dewa begitu kecewa, ia pergi ke ruang tamu untuk tidur disana. Nona hanya terdiam. Dia memandangi punggung Dewa, cara Dewa berjalan nampak lesu. Bocah ABG itu langsung terkulai lemas di sofa empuk itu.


Aku harus bagaimana? Tidak mungkin dalam sekejap Nona langsung mencintaiku. Kenapa aku begitu percaya dengannya? Aku memang salah tidak memberikan nafkah untuknya, tapi posisi aku sendiripun untuk naik angkot ke pabrik juga tidak punya uang.


Dewa mencoba memejamkan mata tetapi ucapan Nona selalu terbayang dipikirannya. Sebenarnya Nona mencintainya atau tidak? Atau itu hanya ucapan palsu saja yang gampang diucapkan?


Keesokan harinya.


Dewa terbangun jam 5 pagi, dia menuju ke kamar untuk mengambil seragam kerja serta tasnya. Tak lupa ia meninggalkan uang sisa yang diberikan Nona kemarin. Dewa tersenyum kecil, dia sudah tidak ingin menerima uang pemberian istrinya sepeserpun setelah ucapan istrinya kemarin malam. Dewa memandangi Nona yang masih terlelap, ia mengecup pucuk kepala Nona.


"Sayang, aku berangkat dulu. Sampai ketemu nanti malam," bisik Dewa.


Dewa segera berangkat bekerja, dia berangkat pagi-pagi untuk ke rumah Bara. Kemarin malam dia menelpon Bara untuk meminta pekerjaan entah itu mencuci mobil atau sebagainya sampai jam setengah 8 pagi setelah itu dia langsung bekerja di pabrik.


Dewa ingin sekali mempunyai motor sendiri supaya lebih enak jika akan bepergian tetapi untuk situasi sekarang sepertinya belum bisa membeli motor sendiri.


"Dewa, itu mobilnya sudah bapak parkir didepan. Segera di cuci!" ucap Bapak.


"Baik, pak."


Dewa mengambil selang air lalu menyalakan keran dan tidak lupa sabun khusus mobil. Dewa sering melakukan seperti ini di rumah Bara sebelum berangkat sekolah. Tak heran jika Bara begitu mengagumi semangat bocah itu tetapi dia jarang bertemu dengan Elara karena saat Elara keluar untuk berangkat sekolah, Dewa sudah selesai dan langsung berangkat sekolah.


Dewa mencuci mobil itu dengan hati-hati karena mobil milik Bara adalah mobil mahal. Sebenarnya Bara punya langganan untuk mencucikan mobil mewahnya tetapi terkadang dia memberikan pekerjaan itu kepada Dewa, mengingat Dewa lebih membutuhkan uang.


Setelah bapak selesai dengan pekerjaannya, dia melihat Dewa yang semakin hari nampak kurus. Bapak mendekatinya, ia merasa bersalah tidak memberi kebebasan kepada Dewa setelah lulus sekolah.

__ADS_1


"Dewa, nanti mau sarapan bersama? Bapak yang belikan," ucap Bapak.


"Gak usah, pak. Aku langsung ke pabrik saja. Oh ya, aku sudah dapat pekerjaan di pabrik sepatu yang terkenal itu."


Bapak tersenyum senang. "Akhirnya dapat pekerjaan juga. Tapi kenapa malah mencucikan lagi mobil Tuan Bara?"


"Buat tambahan, pak. Sebulan ini 'kan aku belum gajian."


Bapak mengusap punggung Dewa, putra semata wayangnya itu menatapnya dengan tatapan sedih tetapi Dewa menepisnya, dia tidak ingin tahu jika Nona terkadang memperlakukannya tidak baik. Bapak membantu Dewa membersihkan 2 mobil mewah milik Bara supaya Dewa bisa cepat berangkat ke pabrik.


"Bapak lakukan pekerjaan bapak sendiri saja, aku bisa menyelesaikannya sebelum jam 7," ucap Dewa.


"Tidak Papa, setelah ini bapak hanya menyiram tanaman saja."


Bapak dan anak itu melakukannya bersama-sama. Bapak sedari tadi melirik Dewa yang berwajah sedih. Bapak menduga jika Nona memang memperlakukan Dewa tidak baik, mengingat bapak sudah hafal sifat Nona.


"Jika istrimu mengatakan hal yang menyakitkan, jangan ditanggapi!" ucap bapak.


"Nona baik kok, pak."


Bapak lalu mengeluarkan dompetnya, ia memberi uang 500 ribu untuk Dewa. "Pakai uang ini untuk ongkos ke pabrik selama belum gajian. Besok jangan kesini lagi! Bapak akan bilang pada Tuan Bara. Kerja di pabrik itu capek apalagi ditambah kerja disini, tidak ingat saat masih sekolah kau masuk rumah sakit karena kecapekan? Kau sudah menikah harus menjaga diri dengan baik," ucap Bapak.


Dewa menggelengkan kepala. "Tidak usah, pak. Aku sudah berkeluarga sendiri, malu jika menerima uang dari bapak."


Bapak menarik tangan Dewa dan memberikan uang itu untuknya. "Bagi bapak kau masih tanggung jawab bapak. Bapak dan ibu masih menyesal menikahkanmu semuda ini. Ibumu juga sudah mulai buka warung sembako kecil-kecilan. Uangnya nanti bisa pakai buat kuliahmu. Ibumu memang ingin mengkuliahkanmu, kau bisa mengambil kuliah sore atau akhir pekan. Bicarakan dengan Nona! Hati orang tua mana yang tidak sakit hati saat putranya dihina oleh keluarga pihak perempuan?" jelas bapak sambil mengelap air matanya.


Dewa memandang wajah bapaknya. Kenapa bapak bisa berbicara begitu? Ibu tiri Nona kemarin datang ke rumah orang tua Dewa lagi. Tentu saja untuk membicarakan terkait rumah yang akan disitanya dan ternyata Nona sudah membayar ke mak lampir itu.

__ADS_1


"Terima kasihlah kepada menantumu! Dia sudah membayarkan untuk kalian," ucap Mak lampir itu.


Dewa sangat terkejut, kenapa Nona harus membayar ke ibu tirinya? Pantas saja semakin hari Nona semakin meremehkan suaminya sendiri.


__ADS_2