Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 117 : SEASON 1 TAMAT


__ADS_3

Sambil mendorong keranjang bayi, mereka menikmati suasana pantai ini. Begitu banyak masalah yang mereka lewati membuat mereka semakin kuat untuk menjalani kedepannya. Nagara Dewa, ia sudah mendapat jati dirinya sendiri. Masalalu yang membuatnya menyesal ia sudah kubur hidup-hidup dan merubah masa depan yang  jauh lebih baik.


Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut Nona, tangan Dewa memasukan rambut sang istri pada bagian telinga Nona. Nona tersipu malu mendapat perlakuan Dewa yang sangat manis. Ini memang bukan bulan madu bahkan mereka belum sempat berbulan madu tetapi jalan-jalan sore dipantai seperti ini saja sudah membuat Nona sangat bahagia.


“Mas Dewa, bisakah kita tetap harmonis seperti ini?”


“Kenapa tidak?”


“Aku takut jika ada pertengkaran yang membuat hubungan kita renggang.”


Dewa tersenyum kecil sambil memandang ketiga gembulnya yang tengah tertidur di keranjang bayi. “Jika kita bertengkar pasti mas akan mengalah.”


Nona menatap Dewa, senyuman Dewa membuatnya luluh seketika.


“I love you, mas.”


“Love you too, Nuna.”


Mereka terhenti di pinggir pantai, tangan mereka saling bergandengan menikmati mata hari yang akan tenggelam. Cahaya oranye diufuk barat membuat mereka


semakin  terlihat sangat romantis.


Sungguh, hal ini jangan sampai terlupakan.


Ponsel Nona bergetar, ia mendapat telpon dari Bara. Dia sangat terkejut mendapat kabar jika Bagas meninggal dunia karena penyakit Aids yang dideritanya. Setelah sembuh dari sipilis ia justru terkena Aids yang mematikan, entah apa yang dia lakukan setelah sembuh dari sipilis lalu terkena Aids yang jelas kematian Bagas yang mendadak kini membuat keluarga Wiratmaja begitu berduka.


Keesokan harinya,


Setelah pemakaman Bagas yang meninggalkan satu putri dan kedua putranya, anggota keluarga yang tersisa bermusyawarah diruang tamu mengenai nasib anak-anak yang ditinggalkannya. Elara, yang baru saja mengetahui jika papa kandungnya meninggal hanya terdiam linglung. Dirinya yang baru saja sembuh mendadak syok lagi.  Bara dan Sarah menenangkannya.


Keluarga Wiratmaja menjadi sangat hancur akibat perbuatannya sendiri. Bayu kini juga mengalami kebangkrutan sampai-sampai meminta pada bantuan Dewa yaitu adik iparnya yang selalu diremehkannya. Dewa bukan orang yang pendendam, ia membantu Bayu sebisa mungkin.


“Aku dan Nona memutuskan ingin merawat Kenzo dan Kenzi,” ucap Dewa.


“Mereka sudah aku daftarkan ke panti asuhan,” ucap Bayu.


“Kenapa? Titipkan ke panti asuhan jika sudah tidak memiliki kerabat, Kenzo dan Kenzi masih mempunyai kita. Jangan khawatir! Kami akan merawat mereka seperti putra kami sendiri.”


Nona menggenggam tangan Dewa, Dewa tersenyum kepadanya. Suaminya memang memiliki hati yang sangat mulia, itulah sebabnya ia sangat mencintai Dewa.  Elara berdiri, ia meminta keluar sebentar. Saat Sarah ingin menemaninya ia tidak mau dan berkata ingin sendiri. Sarah menghormati Elara, ia membiarkan Elara sendirian.


Saat Elara akan keluar, ia bertemu dengan Zian dan Denish diluar halaman rumah. Dia tidak menyapa, ia melewati mereka seolah tidak mengenal.


“Sombong sekali dia, pah,” ucap Denish.


“Dia sedang berduka,” jawab Zian.


“Cih... Berduka jangan dibuat alasan.”


Zian menatap punggung Elara yang keluar dari halaman rumah besar ini. Elara yang berjalan sempoyongan membuat Zian menghampirinya. Dan benar saja, setelah Zian beberapa meter dibelakang Elara seketika gadis itu pingsan.  Zian mencoba membangunkan Elara tetapi gadis itu tak kunjung bangun. Denish menghampirinya dan hanya melihat sambil bersedekap dada.


“Cantik juga jika sedang pingsan begitu,” gumam Denish.


“Denish, kenapa kau diam saja? Panggilkan keluarganya!” pinta Zian.

__ADS_1


“Iya.”


**


Satu tahun kemudian.


Ketiga little D sedang bermain di keranjang mainannya. Mereka saling berebut mainan sampai memangis. Sang mommy yang sibuk mengelola bisnisnya melalui laptop sampai tidak memperhatikan mereka.


“Jangan bertengkar sayang!” ucap Nona yang tetap tidak memandang mereka.


GUBRAK....


“Huaaaaaa....”


Nona sangat terkejut lalu menghampiri mereka, mereka jatuh bersamaan dan saling menindih.


“Aduh... Anak mommy jatuh...”


Nona membangunkan ketiga putranya yang sedang aktif-aktifnya. Repotnya jika ketigabputranya menenangis secara bersamaan. Dia sebagai ibu terkadang sangat gemas jika mereka tidak mau diam.


“Jangan nangis sayang!”


Nona memangku ketiga putranya lalu memberi susu asi yang sudah ia peras kedalam botol.


“Devan jangan nakal! Cepat minum!” ucap Nona.


Bocah yang belum ada tahun itu malah menumpahkannya membuat Nona harus bersabar. Tak berselang lama,


Dewa pulang dengan membawa makanan. Nona mengernyit saat melihat perubahan warna rambut pada Dewa.


“Haha... Memang kalian saja yang bisa berambut pirang?” jawab Dewa sambil mengusap rambutnya.


Nona memperhatikan wajah Dewa yang menjadi lain dengan rambut pirangnya menambah ketampanan sang suami tetapi ia mendengus kesal saat menyadari ketampanan Dewa.


“Cat warna hitam lagi saja!” pinta Nona.


“Tidak mau,” jawab Dewa mengejek.


Dewa menghampiri ketiga putranya lalu mengajaknya bermain. Ketiga putranya membuat selalu rindu bahkan saat ditempat kerja sekaligus. Bahkan ini masih jam kerja Dewa tetapi ia


sempatkan untuk pulang bertemu ketiga putranya dan tentu saja juga bertemu


istri tercinta.


“Mas Dewa, harusnya kontrak kita kali ini sudah selesai alias habis. Jika kita dulu tidak membatalkan kontrak pasti sekarang kita diharuskan untuk berpisah,” ucap Nona.


“Tidak juga, jika ada si bocah-bocah ini kau masih mau untuk bercerai?”


Nona menggeleng, ia berdiri dan langsung memeluk Dewa dari belakang. 2 tahun sudah mereka bersama saling mengisi kekosongan hati. Yang awalnya hanya sebuah perjodohan kini saling mencintai satu sama lain. Dewa membalikkan badan, ia menatap sang istri yang  juga menatapnya.  Sorot cinta dari mereka terpancar, harapan demi harapan terlukis indah. Kebahagiaan saat ini tidak bisa ditukar maupun dibeli dengan apapun.


“Mas Dewa mau apa?” tanya Nona.


“Menciummu.”

__ADS_1


Tak waktu butuh lama, Dewa langsung mencium bibir Nona dengan mesra. Mereka berciuman


disiang panas ini sampai melupakan ketiga buah hati mereka yang berada dibawah mereka. Nona menikmati permainan panas ini sampai meremas baju Dewa sangat kuat.


“Bubububu... blublubu....”


Ciuman mereka terhenti saat menyadari ketiga anaknya bermain ludah. Dewa dan Nona tertawa bersama-sama lalu menggendong mereka. Sebuah keluarga yang sempurna, saling melengkapi satu sama lain. Saling tertawa bersama dan saling menjadi penyemangat dikala susah.


Ting tong... ting tong...


Bel rumah berbunyi, Nona tertawa girang karena pasti mereka yang datang. Hari ini mereka akan mengambil foto keluarga bersama. Ketika membuka pintu, ia melihat keluarga Bayu dan Bara datang.


“Wah... Ponakan onty pada datang. Ayo masuk!” ucap Nona.


Dewa menyambut mereka dengan ramah terutama pada keponakannya yang baru berumur 2 bulan yaitu Bastian Prayoga Wiratmaja anak dari Bara dan Sarah.  Mereka berkumpul diruang tamu untuk sekedar bercengkrama, anak-anak mereka bermain bersama termasuk anak Bayu yang baru saja masuk ke bangku SD, Faira Mentari Wiratmaja. Tak lupa Duo Ken juga ikut bermain, mereka yang paling besar mengajak bermain adik-adik keponakannya.


“Oh ya, Alisa belum datang. Kita tunggu saja ya! Katanya baru perjalanan,” ucap Nona lalu memperhatikan  keponakan


perempuannya yang tertinggal. “Elara diamana?” tanya Nona.


“Elara sedang sibuk kuliah, dia mengeluh tugasnya banyak jadi dia tidak bisa datang kemari,” jawab Bara.


“Sayang sekali, yasudah khusus Elara foto bersamanya bisa menyusul.”


Dewa memegang kamera untuk merekam keluarganya, nampak kedua orang asuhnya ikut datang dalam acara ini. Dia merekam saat mereka asyik bercengkrama, anak-anak yang saling bertengkar tak luput juga dia rekam.


Ting tong... ting tong....


Nona beranjak membuka pintu yang ternyata Alisa datang bersama suami dan anaknya. Mereka berpelukan, kedua saudari itu sudah menemukan kebahagiaan masing-masing,


Nona yang menikahi bocah dan sedangkan Alisa menikahi om-om tampan. Setelah berpelukan, Nona menyapa keponakan bulenya,


“Hai Sascha, sini main sama tante!”


Mereka masuk kedalam untuk berkumpul dengan anggota keluarga yang lain. Nona memandangi mereka dengan sangat bahagia, mereka sekarang bisa saling akur tanpa adanya perselisihan lagi.


Ting tong... ting tong...


Bel masuk berbunyi, siapakah tamu terakhir? Padahal mereka semua sudah datang. Ketika Nona akan membukanya, Dewa mencegah dan meminta supaya Nona menjaga ketiga putranya. Dewa


membuka pintu apartemennya, sontak ia sangat terkejut. Seorang pria berwajah


sangat mirip dengannya datang ke apartemennya.


“Aku belum


terlambat ‘kan?” tanya pria tersebut.


“Dewa Arga?”


“Saudaraku,  apa kabarmu? Aku sangat merindukanmu.”


SEASON 1 TAMAT

__ADS_1


**


__ADS_2