
"Selamat, bapak, ibu. Anda mendapat bayi kembar 3," ucap dokter sambil memeriksa perut Nona dengan alat USG.
Dewa yang mendengarnya terkejut, kembar 3? Sungguh tidak terduga. Nona tersenyum senang, ia melihat layar yang menampilkan ketiga janinnya yang masih sangat kecil.
"Usianya masih 3 minggu, jadi masih sangat rentan. Ibu harus banyak beristirahat."
Setelah memeriksa perut Nona, sang dokter memberikan resep untuk Nona minum setiap harinya berupa vitamin dan suplemen. Dewa masih bingung apakah dia bahagia atau justru sedih, pasalnya pasti akan sangat repot mengurus anak kembar tiganya. Nona malah yang sedari tadi bertanya pada dokter karena ini adalah kehamilan pertamanya.
Beberapa menit kemudian, mereka selesai juga berkonsultasi. Mereka keluar dari rumah bidan dan langsung menuju rumah orang tua Dewa.
Dewa membonceng Nona dengan hati-hati, Nona memeluknya dari belakang.
Setelah memastikan sang istri naik diatas motor, Dewa melajukan motornya.
"Mas Dewa tidak suka jika aku hamil? Dari tadi biasa saja," ucap Nona.
"Bukannya begitu sayang, mas hanya bingung pasti sangat repot mengurus anak kembar tiga. Mas harus kerja dan kuliah, mas tidak tega membiarkanmu sendirian mengurus si kembar."
Nona tersenyum. Dia bahkan bisa menyewa baby sitter dengan mudah. Ketika banyak uang maka apapun jadi mudah.
"Jika sudah lahir mending sementara tinggal bersama ibuku, ya? Biar dia bisa bantu mengurus si kembar," ucap Dewa.
"Boleh juga, mas."
Suara deru motor menggema di jalan, jalanan terlihat sepi karena ini adalah hari minggu. Nona sangat menikmati saat dibonceng oleh Dewa apalagi kini sudah ada Dewa junior di perutnya.
"Oh ya, mas heran. Kenapa bisa bayi kita kembar? Bahkan kembar 3. Apa sayang juga kembar?" tanya Dewa memancing Nona.
Nona hanya diam seolah bingung dan menunjukkan gelagat yang berbeda.
"E--eh? Ap--pa maksud m--mas? Kembar bagaimana? Aku anak tunggal dari mommyku."
"Tapi kenapa bisa kembar, ya?" tanya Dewa semakin memancing Nona.
__ADS_1
"Jika Tuhan berkehendak pasti bisalah, mas."
Nona lalu mengalihkan pandangan dan mengalihkan pembicaraan. Dewa bisa melihat ada yang disembunyikan oleh Nona, atau jangan-jangan Nona bukanlah Nona melainkan Alisa? Jika memang iya pantas saja mereka berjodoh karena mereka ada sesuatu hal yang disembunyikan.
Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah orang tua Dewa. Bapak dan ibu menyambutnya dengan ramah. Mereka juga senang mendapat kabar jika sang menantu hamil cucunya.
Ibu menyuruh mereka masuk, di atas meja ruang tamu sudah ada beberapa camilan buatan ibu seperti nagasari, ketan, rengginang dan kue bolu coklat kesukaan Dewa.
"Wah, lama aku tidak makan makanan ibu," ucap Dewa sambil menyomot nagasari yang terbungkus daun pisang.
"Kebiasaan tidak cuci tangan dulu," ucap ibu.
Dewa hanya cengengesan, ia justru mengambil makanan lain dan menyantapnya. Ibu menyuruh mereka untuk duduk dulu sedangkan bapak mengajak mengobrol mereka. Nona hanya diam karena ia malah canggung.
"Pak, ambil cuti kita bisa jalan-jalan," ucap Dewa.
"Tidak bisa, Wa. Semenjak Nyonya Zalina tidak ada pekerjaan di kebun semakin banyak. Apalagi kebun sayur milik almarhum malah semakin hari semakin habis dimakan ulat," ucap bapak sambil berdecak heran. "Kebun bunga di rumah Tuan Bara juga semakin hari semakin rontok, banyak yang mati dan layu. Memang benar sih ketika si pemilik telah tiada pasti benda-benda kesayangannya ikut pergi," sambung bapak.
Bapak melihat Nona dan menyuruhnya makan makanan yang ada di depannya. Nona menganggukkan kepala, ia mengambil rengginang didalam toples, tentu saja dia baru pertama kali makan makanan itu.
Beberapa saat, ibu datang membawa senampan es sirup untuk anak dan menantu bulenya. Dewa menyeruput sampai habis tidak tersisa. Rasanya sangat rindu sekali dengan makanan dirumah ini.
Bapak dan ibu saling melirik melihat pasangan muda itu menikmati makanan yang disuguhkan. Nona juga terlihat menyukai makanan itu apalagi Dewa yang sudah menghabiskan sepiring nagasari.
"Oh ya, Nona. Ibu membelikan baju untukmu, ayo ikut ke kamar ibu!" ucap ibu dengan ramah.
Nona mengangguk pelan, sedangkan bapak mendekati Dewa. Seperti biasa, ia menggoda dan menggosip dengan putra kesayangannya. Nagara memang suka menjadi Dewa karena kedua orang tua Dewa yang sangat baik dan sangat menyayanginya.
"Kalian tidak jadi bercerai 'kan?" tanya bapak.
"Tidak jadi, pak. Lagipula juga sudah ada kembar 3 di dalam rahim Nona."
Bapak menatap lekat wajah putranya yang tidak berbohong. "Topcer sekali? Hebat."
__ADS_1
"Dewa gitu loh," ucap Dewa sembari membusungkan dada.
Bapak memandang wajah putranya yang sangat lahap memakan makanan tersebut. Semenjak saat SMP pernah dirawat di rumah sakit, sejak itulah menurut bapak jika Dewa seolah berubah dan sempat hilang ingatan. Dewa tidak mengingat masa kecilnya dan bahkan Dewa tidak tahu dimana letak kamarnya.
Ponsel Dewa berbunyi ternyata dari Zian, Dewa langsung keluar dari rumah mengangkat telpon dari Zian.
"Ada apa?"
"Altaf, Bayu dan Bagas bertemu dengan kakek anda untuk masalah pembangunan perumahan elit."
Dewa langsung berjalan menjauhi rumahnya, mencari tempat yang aman untuk mengobrol dengan Zian.
"Apa hubungannya dengan kakekku?" tanya Dewa.
"Kakek anda salah satu investor untuk pembangunan itu."
Dewa tersenyum kecil. "Biarlah, juga tidak ada hubungannya denganku."
"Anda bisa menyuruh kakek anda untuk membatalkan proyek itu," ucap Zian.
"Aku tidak mau mengurusi itu, Zi. Aku hanya ingin fokus kepada keluarga kecilku."
***
Elara menelpon Bara untuk mengajak makan siang bersama tetapi Bara mengatakan tidak bisa dan beralasan akan makan siang di kantor bersama para karyawannya.
Disisi lain, Elara hanya termenung di taman kampus. Dia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi? Papa yang menjadi tumpuannya kini sudah perlahan menjauh. Elara menatap langit, dia sangat merindukan sang mama. Air matanya tak terasa menetes seolah menampung kesedihan yang mendalam.
Elara mencoba mengirim pesan kepada sang papa dan disaat bersamaan Bara mendapat pesan dari Elara dan Sarah.
Elara
Aku butuh papa. Lama kita tidak makan bersama, aku tunggu di cafe seberang kampus.
__ADS_1
Sarah
Om, cepetan ke apartemenku! Aku ingin menangis dipelukanmu. Papaku memutuskan untuk menikah padahal aku melarangnya.