Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 103 : Kesuksesan


__ADS_3

Hari demi hari berganti, bulan demi bulan silih berganti dan ini adalah tepat bulan ke 8 Nona hamil anak kembar 3. Toko online Dewa begitu sukses bahkan sudah terkenal di beberapa negara. Tak hanya menjual pakaian grosir atau ecer, toko online yang dinamai Nagapasa memiliki omset yang tinggi setiap bulannya.


Nagapasa sendiri juga membuka toko online kosmetik yang menjadi incaran para wanita masa kini.


Kini karyawan Dewa berjumlah 6 orang yang semuanya adalah teman-temannya. Dewa begitu royal dan tidak pelit kepada mereka.


Dari usahanya yang bermodalkan tidak lebih dari 10 juga kini sudah terkumpul bahkan tak terhitung karena Dewa malas menghitungnya tetapi ia sudah bisa membelikan orang tuanya rumah baru yang lebih besar dari rumah mereka yang dulu.


Keluarga Wiratmaja?


Bara masih seperti biasa menjadi duda ngenes yang mempertahankan cintanya pada Sarah si ABG labil yang suka iseng mengerjai perasaan Bara.


Setelah kepergian Zalina dan Elara, ia menata kehidupannya menjalani seperti sedia kala. Sesekali Bara menjenguk anaknya alias keponakanya yaitu Elara. Elara semakin membaik walau dia belum layak untuk keluar dari rehabilitasi.


Elara belum tahu jika papa kandungnya adalah Bagas karena Bagas sendiri belum siap memberitahu.


Bagas?


Bagas masih sakit bahkan dia sudah bercerai dengan Sita, hak asuh anak mereka didapat oleh Sita dan mantan istrinya sudah pergi ke Malaysia bersama anaknya.


Dukungan ibunya selalu membuat Bagas semangat dan begitu juga saudaranya yang selalu membantunya.


Bayu?


Masih seperti biasanya, Bayu masih angkuh dan sombong tetapi kini ia sudah tidak bersama istri keduanya.


Ibu tiri?


"Nona, kau hamil besar begini masih bersih-bersih sendiri?" tanya ibu sambil merebut kain pel dari tangan Nona.


"Ibu kapan datang?" tanya Nona heran karena tidak mendengar suara pintu terbuka.


Ibu melempar kain itu pada lantai lalu mengajak Nona untuk duduk. Ibu berdecih memasang muka sebal tetapi dibalik itu ia begitu peduli dengan Nona.


"Bocah itu sangat teledor meninggalkan istrinya sendirian. Awas saja jika ketiga cucuku ada apa-apa!" ucap Ibu geram.


Nona tersenyum kecil melihat ibu tirinya perlahan memperlakukannya dengan baik walau sang ibu tidak mau mengakuinya. Ibu berdiri dan mengecek obat vitamin yang ada di atas meja.


"Hari ini belum di minum lagi? Kenapa kau sangat sulit meminum obat seperti ayahmu? Huh... bikin kesal saja," ucap ibu


Beliau mengambil beberapa obat lalu tak lupa air putih dan beliau menyodorkan pada Nona. "Cepat ambilah! Tangan ibu pegal jika hanya kau amati saja."


Nona tersenyum, ia meminum obat itu dengan senang. Sosok ibu yang dulu jahat kini sudah menjadi baik kepada Nona. Selagi menunggu putrinya meminum obat. Ibu melihat apartemen putrinya yang sangat bagus dan besar. Entah uang darimana mereka membeli yang jelas hasil penjualan Dewa tidak mungkin membeli apartemen ini.


"Nona, kau menyicil beli rumah ini?" tanya Ibu.

__ADS_1


"Iya, bu dan sebagian sudah ku bayar dengan menjual rumah lama dan beberapa perabot tidak penting lalu tentu saja dari hasil kerja keras Mas Dewa juga yang menjalankan toko online."


Maaf, bu. Nuna harus bohong.


Ibu memperhatikan perut Nona yang begitu besar. Bulan depan anak kembar itu pasti lahir dan sudah terprediksi jika laki-laki semua.


"Kalian sudah menyiapkan nama untuk ketiga bayi kalian?" tanya ibu.


"Kalau itu Mas Dewa yang akan memberi nama."


"Okelah jika begitu, ibu hanya ingin yang terbaik untukmu. Ibu mau pulang dulu, Bagas sendirian di rumah."


Nona mencium tangan ibu lalu memeluknya. Sudah lama ia tidak merasakan kehangatan ini. Ibu memeluknya dengan erat, ia menyesal sudah memperlakukan Nona tidak baik.


"Oh ya, Nona. Ibu hanya ingin kau bahagia."


"Aku sudah bahagia, bu. Ibu juga harus bahagia."


*****


Gudang Nagapasa.


Dewa mencetak resi pesanan milik pelanggannya. Setelah tercetak, ia keluar dari ruangannya lalu menghampiri para karyawannya.


"Baik, bos."


Dewa menoleh kearah pintu, temannya menginformasi jika produk barunya sudah sampai. Dewa langsung keluar dan mengecek sendiri.


"Langsung bawa masuk!" pinta Dewa.


Para karyawannya membawa masuk dagangan barunya yaitu susu kedelai bubuk dan susu diet maupun susu penggemuk yang sedang viral di dunia maya.


"Ini sudah terdaftar BPOM 'kan? Jika tidak aku akan mengembalikan semua ke pabriknya langsung," tanya Dewa kepada si pengirim.


"Ini bisa di cek sertifikasinya, bang."


Dewa membaca dengan teliti. "Baiklah, 100 pcs, ya? Jika laku terjual maka aku minta 200 buat bulan depan."


"Siap, bang. Makasih."


Dewa masuk ke ruangannya dan Jojo menghampirinya dengan panik. Dewa menyuruh Jojo mengambil nafas panjang supaya bisa menjelaskan dengan jelas.


"Huuuuft... Wa, kata suplier A mereka sudah mengirim baju 3 hari yang lalu dan bahkan sudah menerima tanda tangan darimu."


Dewa mengernyitkan dahi lalu mengecek data masuk barang-barang di laptopnya. Tidak ada barang masuk yaitu baju dari suplier A.

__ADS_1


Dewa tidak tinggal diam, ia menelpon pihak si A untuk menjelaskannya.


"Pak, barang anda belum sampai di tempat kami," ucap Dewa melalui panggilan telepon.


"Kami sudah mengirimnya dan ini bukti tanda tangannya. Bapak yang belum membayar sisanya."


Dewa semakin terkejut. Dia menjelaskan belum menerima apapun. Baju itu berjumlah cukup banyak bahkan sudah banyak orang yang memesan.


"Pak Dewa harus tanggung jawab untuk membayar sisanya."


"Bapak ngelawak, ya? Saya bahkan tidak menerima barang satupun. Saya juga sudah membayar DP nya seminggu yang lalu. Saya akan membawa kasus ini kepolisian atas kasus penipuan," ucap Dewa.


"Eh... Jangan begitu, pak! Saya akan konfirmasi dulu pada karyawan saya. Saya akan hubungi Pak Dewa setelah ini."


Dewa menghela nafas panjang, ia bersandar pada tembok sembari memijat kepalanya. Inilah manis pahitnya berjualan online yang sering terjadi.


"Wa, bagaimana?" tanya Jojo.


"Kita tunggu konfirmasinya saja jika sampai besok tidak ada konfirmasi maka kita memang kena tipu."


Jojo memeluk Dewa, sebagai seorang sahabat ia sangat sedih. Dewa merasa risih lalu melepas pelukan sahabatnya itu.


"Wa, jangan nangis!" ejek Jojo.


"Apa sih, Jo?" jawab Dewa kesal.


Dewa mengambil jaketnya dan berpamitan untuk pulang sebentar menemui sang istri yang sedang hamil besar.


Setengah jam kemudian.


"Huaaaa... Mas sedih... Mas kena tipu. Bagaimana ini?" ucap Dewa begitu sedih di sambil kepalanya berada di atas perut istrinya yang besar.


"Mas kumpul dengan Navier kok malah jadi alay begini sih? Sedikit-sedikit mengadu seperti anak kecil," ucap Nona sambil mengelus kepala Dewa.


Dewa semakin sedih. Dia bahkan tidak mau membuka matanya. Nona semakin gemas dibuatnya. Suami bocahnya begitu imut saat sedang sedih.


Braaaaaaaak....


Pintu terbuka membuatnya sangat terkejut. Navier yang memakai jas rapi seperti pulang dari kantornya menghampiri Dewa.


"Dewaaaaaa, adikku... Kakak sedang bersedih... Mari kita karouke sambil mabuk cola!" ucap Navier.


Dewa beranjak dari perut Nona. "Wahai kakak... Barang siapa yang mengajakku untuk berpesta saat ini aku tidak bisa menolaknya. Aku pun juga sangat sedih. Ayo kita habiskan 10 cola sekaligus sampai pingsan!" jawab Dewa sambil memeluk Navier.


Nona ternganga melihat kedua bocah aneh itu. "Amit-amit jabang bayi! Jangan tiru bapakmu, nak."

__ADS_1


__ADS_2