Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 98 : Maaf


__ADS_3

Nah, ini yang minta visual Dewa.


Imut bingit... cocoklah sama Dewa yg ada di novel.







Bagas memalingkah wajah saat Nona mengatakan hal itu, kebenciannya kepada ibu kandung Nona yang dianggap pelakor membuat Bagas sangat membenci mereka.


"Kak Bagas, aku minta maaf jika punya salah apalagi kesalahan ibuku yang membuat keluarga kalian terluka," ucap Nona.


Baru kali ini, Bagas mendengar permintaan maaf dari Nona yang angkuh dan dingin. Bagas memandangi adik tirinya yang mengeluarkan air mata. Selama ini Bagas sangat membenci Nona, anak dari istri sirih ayahnya membuatnya sangat muak.


"Aku minta maaf, aku tidak ingin hidup bermusuhan seperti ini. Maafkan aku, kak!" ucap Nona sambil terisak. "Aku tidak bisa hidup tenang bila Kak Bagas dan Kak Bayu terus membenciku," sambung Nona.


Dewa yang berdiri dibelakang Nona mengelus pundaknya. Selama Nona hidup sebagai anak dari istri simpanan, ia mengalami tekanan yang sangat buruk.


"Kau tahu, Nona? Ibu mu hampir membunuh ibuku, bahkan saat ayah dan ibumu belum menikah sirih, ibumu membuat ibuku lumpuh dan terus muntah darah. Ibumu begitu licik, ia datang ke dukun untuk membuat ibuku hampir meninggal lalu ia bisa menikahi ayahku. Saat itu kau belum lahir dan tidak tahu betapa pahitnya keadaan keluarga kami saat itu," ucap Bagas.


Nona baru tahu kejadian itu, apakah ibu kandungnya sekejam itu membuat keluarga lain berantakan. Pantas saja ibu tiri Nona sangat membencinya. Nona terus menangis, Dewa mencoba mengajaknya keluar tetapi Nona tidak mau. Ia masih meminta ampunan dari Bagas tetapi Bagas tidak memperdulikannya.


"Maafkan aku, kak! Aku mohon, ibuku mungkin khilaf melakukan itu. Ampuni kami!"


"Harusnya kau meminta maaf pada ibuku! Dia yang mengalami luka paling banyak," ucap Bagas.


Bagas menyuruh Nona keluar dari kamarnya. Dewa mencoba membawanya keluar, tangisan Nona tak dapat berhenti begitu saja. Pantas saja keluarga Wiratmaja sangat membencinya.


Saat keluar dari kamar, ia melihat ibu tirinya. Nona langsung bersujud didepannya.


"Ibu... Maafkan kesalahan mommy pada ibu! Maafkan kami, bu!" ucap Nona sambil terisak.


Ibu mundur perlahan, ia masih bingung. "Kenapa kau?"


"Kak Bagas sudah menceritakan semuanya tentang kesalahan mommyku pada ibu. Maafkan dia, bu!"


Ibu berdecih, ia menatap Nona dengan pandangan begitu jijik. Anak dari pelakor bisa sangat sebahagia ini dengan harta yang diberikan sang ayah yang sudah meninggal.


"Ibu...Bagaimana caranya kalian bisa memaafkan kesalahanku?" tanya Nona.


"Hah... Serahkan semua harta peninggalan milik suamiku yang masih berada bersamamu termasuk kebun kopi, itu adalah milik suamiku. Kau anak pelakor tidak pantas mendapat semua itu," jawab Ibu.


Nona terkejut mendengar permintaan dari ibu tirinya. Bagaimana bisa ia menyerahkan semuanya? Dia akan jatuh miskin tetapi ia melihat Dewa. Dewa adalah satu-satunya harapan yang dimiliki.


"Baiklah, aku akan memberikan semuanya pada kalian. Aku sudah tidak membutuhkan harta milik ayah. Aku meminta maaf atas nama ibuku," ucap Nona.


Ibu tersenyum senang. Ini adalah kemenangannya. "Baiklah, semuanya harus kau berikan padaku. Rumah yang kau beli, mobil, 2 toko, kebun kopi," ucap ibu.


Nona menganggukkan kepala. Dia akan menyerahkan semua itu pada keluarga Wiratmaja. Kesalahan orang tuanya memang sangat fatal, bahkan Nona masih merasa bersalah kepada mereka.

__ADS_1


"Aku akan menunggu dokumennya besok pagi. Serahkan itu semua!" ucap ibu lalu meninggalkan Nona.


Dewa menggandeng Nona untuk keluar. Dia tahu kesedihan istrinya saat ini. Mereka masuk ke mobil untuk segera pulang.


Dalam perjalanan, Dewa terus mengenggam tangan Nona. Dia merasa tidak tega pada sang istri, ini bukanlah kesalahan Nona. Nona hanyalah korban.


"Nuna sayang. Tadi belanja apa saja?" tanya Dewa mencairkan suasana.


"Ehm.. aku beli baju lagi."


Dewa tersenyum lalu mengecup pucuk kening sang istri. Nona membalas senyumannya.


"Besok kita harus pindah lagi. Aku sudah jatuh miskin," ucap Nona dengan bergetar.


"Sabar sayang, masih ada aku disini. Itu lebih baik daripada memakai harta tetapi si pemilik tidak ikhlas jatuhnya sia-sia. Oh ya, apartemen di Bougenvile sudah siap. Kita bisa tinggal disana," jawab Dewa


Nona mengangguk, ia sangat senang bisa langsung pindah ke apartemen bergengsi itu. Walau dia sudah jatuh miskin tetapi ia masih memiliki Nagara yang kaya raya dan tidak perlu dikhawatirkan.


"Aku sangat bangga padamu mau meminta maaf walau itu bukan salahmu," ucap Dewa.


"Ya, mau bagaimana lagi? Sudah sangat lelah hidup selalu dibenci, lama-lama jadi muak sendiri tapi saat ini aku jadi tahu hebatnya Kak Bara yang masih bersikap baik kepadaku walau mungkin dia juga sangat sakit hati."


****


Bara, si duda posesif semakin menekan Sarah untuk tidak berkomunikasi dengan pria lain. Sarah hanya memandangnya dengan jengah melihat Bara yang terlalu berlebihan.


"Om, kita mau kemana?" tanya Sarah melihat Bara sedang menyetir mobil.


"Ke rumah papamu."


"Melamarmu."


Sarah berdecih, bercandaan Bara tidak lucu. Dia lalu memilih memainkan ponselnya. Bara melirik Sarah yang seolah tidak tertarik dengan ucapannya tadi.


"Sarah, bila besok kita menikah bagaimana?"


"Besok 'kan pernikahan papaku."


"Ya kita menikah bersama-sama," jawab Bara.


Sarah melirik Bara lalu memukul tangannya. Bara merasa kesakitan, ia mengelus tangannya.


"Om makin hari makin aneh saja. Nikah itu tidak main-main."


"Om juga tidak main-main, Sarah. Om ingin segera menikahimu." jawab Bara sangat serius. "Om Bara juga sudah mengotorimu," sambung Bara.


Sarah memukul lagi, ia sangat kesal dengan ucapan Bara. "Mengotori apanya? Kita hanya berciuman saja."


"Tapi bagiku itu sudah termasuk mengotori."


Sarah meminta turun dari mobil Bara. Dia mengancam akan melompat jika tidak menuruti perkataannya. Bara pada akhirnya mengalah dan memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


Braaak...


Suara pintu mobil dibanting. Sarah keluar dengan emosi. Bara mencoba mengejarnya dan menarik tangan Sarah.

__ADS_1


"Sarah, kau kenapa?" tanya Bara.


"Ku pikir setelah berpacaran dengan pria dewasa bisa jauh lebih baik tetapi sifat om malah kekanakkan. Aku sudah bilang jika belum ingin menikah. Jika Om Bara ingin cepat menikah cari orang lain saja!"


"Om hanya takut kehilanganmu. Om merasa trauma pada kekecewaan."


"Aku tidak peduli. Kita putus saja. Aku sudah tidak nyaman lagi dengan Om Bara," ucap Sarah.


***


Nona dan Dewa masuk ke apartemen yang sudah dibeli Dewa. Memang tidak terlalu besar tetapi sangat mewah. Dewa membelinya khusus untuk Nona bahkan apartemen ini dibeli atas nama Nona.


"Mas, kapan kita akan pindah kesini?" tanya Nona.


"Secepatnya."


Nona memeluk Dewa. Dia sangat berterima kasih pada sang suami. Dewa juga sudah memutuskan untuk membuka gudang yang akan dia jadikan toko online dengan meperkerjakan Arsel untuk menjadi asistennya. Dia sudah meminta izin pada kakeknya untuk menggunakan gudang milik mereka yang tidak terpakai untuk dijadikan gudang barang-barang yang akan mereka jual secara online.


"Oh ya, mas dapat gaji dan kompensasi dari pabrik sepatu itu. Memang sedikit tapi bisa buat modal untuk berjualan online. Sudah ada gudangnya juga, besok kita lihat dan mulai bersih-bersih."


"Benarkah? Nuna juga masih punya uang tabungan. Itu bisa dibuat untuk modal. Kita rintis bersama ya, mas?"


Dewa mengangguk senang. Ini adalah awal dari kesuksesannya tanpa bantuan dari kakek. Dia akan memulai dari nol bersama sang istri tercinta.


...Grup Chat Cowok Ketceh Badai...


^^^Dewa^^^


^^^Ping!!!!^^^


^^^Gaes... disini masih ada yang menganggur? Aku butuh 2 orang untuk menjadi karyawanku.^^^


Jojo


Karyawan apa, Wa?


Mukidi


Aku menganggur, mau dong.


^^^Dewa^^^


^^^Karyawan untuk bantu aku jualan online. Jika mau, datang besok ke Jalan B. Aku akan ada disana, sudah ada tempatnya tinggal dibersihkan saja.^^^


Mukidi


Aku mau, gaji tapi oke 'kan?


Jojo


Kerja dulu woy baru tanya gaji.


^^^Dewa^^^


^^^Hahaha tenang saja, dijamin oke dan tergantung penjualan juga. Besok datang ya! Bantu aku bersih-bersih.^^^

__ADS_1


__ADS_2