
Sarah mengambil ponselnya yang berada di sofa. Dia bergegas keluar tetapi Arsel menahannya. "Setidaknya bilang sesuatu sebelum kau pergi dari sini."
"Bilang apa? Aku juga barusan dari sini kok. Benar 'kan, Dewa? Wah... Kau makan apel pemberianku," ucap Sarah membuat Nona semakin cemburu.
Arsel menarik tangan Sarah dengan kasar. Sarah menepisnya lalu berjalan ke arah Nona yang berdiri diam melihatnya. "Tante suka berondong ya? Wah hebat sekali tante ini. Dewa... kau juga lebih suka tante-tante? Wow... kau meninggalkanku demi menikahi tante ini?" ucap Sarah.
Nona berdecih, dia mendekati Sarah. Mereka bertatapan dengan tajam. Dewa tidak menyangka pernah berpacaran dengan gadis tidak sopan ini, cara tutur bahasa bahkan cara berpakaian pun terkesan tidak sopan.
Hawa ruangan semakin memanas, Arsel dengan cepat menarik tangan Sarah secara paksa. Dia membawa Sarah keluar dari ruangan itu sebelum Nona marah besar dan menunjukan jati dirinya.
Setelah sampai diluar, Sarah menepis tangan Arsel. Arsel masih memandangnya dengan tatapan elang. Sifat Sarah yang bar-bar cukup membuat Arsel murka.
"Bukan sekali ini saja kau membuat ulah dengan Nona. Jaga ucapanmu jika berhadapan dengan Nona!" ucap Arsel dengan nada penuh penekanan.
Sarah mendekati wajah Arsel, ia tersenyum tipis. Arsel mundur perlahan. karena wajah mereka sangat dekat. Pria itu memalingkan wajah sementara Sarah hanya menyunggingkan senyuman.
"Dilihat-lihat kau tampan juga? Mau main ke diskotik denganku?" tanya Sarah.
Arsel langsung pergi dari Sarah tetapi Sarah memegangi tangannya. "Aku tunggu di hotel Granduke no 456. Aku akan setia menunggu," ucap Sarah sambil mengedipkan satu matanya.
Sarah berjalan meninggalkan Arsel, Arsel berdecih. Anak kecil seperti Sarah bisa-bisanya mengajak ke diskotik dan hotel. Seburuk itukah mantan Dewa? Apakah Dewa pernah mencicipi gadis itu? Itu hal yang terlintas dalam benak Arsel dan dia harus menyelidikinya.
Didalam ruangan,
Nona kembali melihat layar ponselnya. Sejak Sarah keluar, Nona memilih mendiamkan Dewa. Dewa meminta maaf atas nama Sarah tetapi sang istri hanya menjawab singkat.
Dewa mencoba untuk bangun dari ranjang rumah sakit itu dan ingin mendekati Nona yang duduk disofa. Nona tidak peduli jika Dewa ingin mendekatinya.
Kaki Dewa mulai turun dari ranjang, dengan langkah mantap dia mulai menopang tubuhnya yang masih rapuh dengan kakinya.
Nona melirik tetapi dia tidak memperdulikan Dewa. Dewa mulai melangkah pelan tetapi ia terhuyung dam jatuh ke lantai. Nona terkejut, ia mendekati Dewa lalu memapah Dewa.
Dewa melirik Nona yang panik dengan iseng mengejai Nona dengan berpura-pura sakit.
"Awwwh... aduuuuh... kepalaku sakit... Aaaaah...." ringik Dewa.
__ADS_1
Nona panik, dia akan memanggil dokter tetapi tangannya di tarik oleh Dewa. "Aaaaw... sakit sekali sayang. Rasanya ingin mati," ucap Dewa.
"Biar aku panggilkan dokter."
"Aaaaaw... Aaaaw... elus saja kepalaku!" pinta Dewa memelas.
Nona mencoba mengelus kepala Dewa yang terluka. Nona khawatir jika Dewa akan lebih kesakitan. Elusan demi elusan membuat Dewa tersenyum. Dia tertawa terbahak-bahak saat berhasil mengerjai Nona.
"Buaahahaha... Kena tipu."
Nona berhenti mengelus Dewa, ia merasa kesal karena sudah dikerjai. Nona refleks menoyor kepala Dewa tepat di bekas jahitan membuat Dewa berteriak kesakitan. Dewa berguling-guling di lantai menahan rasa sakit itu, Nona yang mengira Dewa berpura-pura hanya melirik sinis lalu tanpa berdosa duduk di sofa. Dewa tidak hentinya merengek kesakitan.
"Aaaaah... Sakit sekali sayang, kau berdosa telah menyakiti suamimu sendiri," ucap Dewa.
"Jangan akting! Aku tidak suka dikerjai," jawab Nona datar.
Dewa mencoba untuk berdiri, dia merangkak menghampiri Nona yang sedang duduk disofa. Nona tetap tidak memperdulikannya.
"Istri macam apa yang hanya diam saat melihat suaminya kesakitan?" sindir Dewa yang sudah duduk disamping Nona.
"Sayang, jangan marah! Aku suka menggodamu, sayang," rayu Dewa.
"Aku tidak suka digoda," ucap Nona sambil memunggungi Dewa.
Dewa memeluk dari belakang, ia meminta maaf sudah membuat Nona khawatir. Nona tetap saja tidak mau memaafkan Dewa. Pelukan Dewa semakin erat, kepalanya mulai bersandar pada bahu Nona yang putih mulus.
"Istriku merajuk," ucap Dewa.
Nona melepaskan pelukan Dewa, ia bergeser menjauh dari tempat duduk Dewa. Dewa tidak tinggal diam saja, ia ikut mendekati Nona.
"Sayang, jangan marah! Nanti gak cantik lagi lho."
"Kau kan memang menganggapku tidak cantik. Buktinya kau tidak pernah memujiku cantik," jawab Nona.
Dewa mengernyitkah dahi. "Ooooh... jadi mau dipuji cantik? Wuuiiih... Istriku cantik sekali, sangat cantik jika sedang marah."
__ADS_1
Dewa mencoba memeluk Nona dari belakang lagi, ia menggigit kecil telinga dan leher Nona. Nona merasa geli, ia menyikut dada Dewa.
"Awww... sakit sayang," ucap Dewa kesakitan.
"Begini juga caramu membujuk Sarah saat dia sedang marah?" tanya Nona.
"Apa sih kok bawa-bawa Sarah?"
Nona bersedekap memandang Dewa. "Benar 'kan jika kau seperti ini juga pada Sarah? Kau memeluk dia dari belakang, mengecup leher dan telinganya."
Dewa semakin bingung tetapi melihat ekspresi Nona yang cemburu membuatnya geli. "Apa yang kau pikirkan tentang Sarah denganku?" tanya Dewa.
Nona berdiri, ia memasang wajah imut tapi marah. Bibirnya dia gigit sendiri karena saking kesalnya dengan Dewa. "Kau suka 'kan jika Sarah memakai pakaian kurang bahan seperti tadi? Kalian jika pergi bersama dia berpakaian seperti itu 'kan? Dasar bocah mesum!" ucap Nona.
Dewa tertawa kecil, ia menarik tubuh Nona lalu jatuh ke pangkuannya. Dewa menahan tubuh berat Nona yang jauh lebih dewasa darinya. Dewa mencubit bibir Nona yang di monyong-monyongkan karena saking kesalnya. Nona menepisnya. "Kurang ajar. Aku lebih tua darimu," ucap Nona yang tidak terima bibirnya di jewer.
"Bagaimana kita bisa bahagia jika kau masih mengungkit masa laluku? Kita sudah menikah dan mempunyai buku nikah. Tak seharusnya kita menengok masa lalu yang sudah lewat. Sekarang pikirkan masa depan kita dan tentunya perut langsing ini harus segera terisi," ucap Dewa sambil mengelus perut Nona.
Nona berdiri dari pangkuan Dewa, ia memalingkan wajah. Dewa menggeleng-gelengkan kepala melihat Nona yang belum redam amarahnya.
"Yasudah, sayang ingin aku bagaimana supaya sayang tidak marah lagi denganku?" tanya Dewa memilih mengalah.
"Kau hanya boleh memandangku, kau tidak boleh memandang cewek lain apalagi cewek itu seksi. Kau hanya milikku seorang sampai azal memisahkan kita," jawab Nona.
Dewa berusaha berdiri, dia menyentil hidung Nona dengan lembut. Nona mundur perlahan dan Dewa semakin mendekatinya. Nona takut jika Dewa akan menyerang didalam bilik rumah sakit ini. Perlahan demi perlahan kaki Nona terpentok tembok, dia tidak bisa melarikan diri dari Dewa.
"Mau apa?" tanya Nona takut.
"Kau sungguh menggemaskan. Ingin sekali aku menggigit hidungmu."
"Jadi ini juga caramu merayu Sarah dengan menggigit hidungnya?" tanya Nona mendadak menjadi bodoh.
Dewa terhenti lalu menepuk jidatnya. "Kenapa kau polos sekali, Nunaku?" ucap Dewa sambil terkekeh geli.
******
__ADS_1