Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 86 : Malam kelabu


__ADS_3

Malam hari kelabu, wanita berambut pirang sedang termenung menunggu sang pangeran pulang dari kuliah. Lampu temaram dari kamar hotel membuat suasana menjadi sunyi. Tetesan air mata nampak mengalir deras, entah sudah berapa kali dia menangis. Menangis tidak jelas mengingat hal-hal yang membuatnya kecewa. Goresan-goresan luka menyayat hati membuat pilu semua perasaan ini.


Mommy, Alisa... Aku ingin berjumpa dengan kalian. Kenapa mereka tega sekali membunuh kalian? Apa salah kalian? Kenapa aku tidak sekalian mereka bunuh jika mereka terus saja melukai perasaanku?


Tok... tok... tok...


Pintu kamar hotel diketuk seseorang. Nona beranjak untuk membuka. Dia melihat kakak tertuanya yang datang.


"Kak Bara?"


Nona membantu Bara berjalan. Dia mendudukan di tepi ranjang. Bara nampak sangat sedih seketika menceritakan keluh kesahnya pada Nona. Bara sudah di tinggal sang istri untuk selamanya, ditinggal Elara sampai beberapa tahun kedepan. Kini ia harus kehilangan Sarah apalagi hubungannya dengan Dani menjadi hancur karena keegoisannya.


"Kakak sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kakak sendirian," ucap Bara.


"Kakak masih punya aku, ibu, Kak Bayu, Kak Bagas. Kakak tidak sendirian."


Bara mengusap wajahnya dengan kasar lalu menatap mata Nona yang seperti selesai menangis. Bara tersadar langsung menangkup wajah Nona.


"Kau baru menangis? Kenapa? Cerita pada kakak! Huh... Harusnya Dewa tidak perlu kuliah saat istrinya hamil begini supaya bisa menjagamu."


Nona tersenyum tipis. "Aku rindu mommy dan juga saudari kembarku."


Mendengar kata itu, Bara langsung terdiam. Nona bisa melihat perubahan raut wajah Bara yang terlihat berbeda seperti menyimpan rahasia.


"Kak Bara kenapa sangat jahat? Padahal kakak adalah saksi saat pembunuhan mommyku? Kak Bara juga sempat bertemu Alisa," ucap Nona.


"Kakak sudah bilang jika ibumu meninggal karena sakit," jawab Bara dengan nada meninggi.


Nona tersentak karena baru pertama kali mendengar sang kakak membentaknya. Perasaan Nona yang sedang kacau langsung menangis sesegukkan. Bara yang sadar meminta maaf kepada Nona.


"Aku hanya ingin kejujuran. Hanya itu," ucap Nona sambil menangis.

__ADS_1


Bara memeluk Nona, memberikan kehangatan dan dia menceritakan tentang semua yang terjadi di kala itu.


"Waktu itu, ibumu menemui ayah dengan saudari kembarmu. Ayah sangat marah pasalnya ibumu tidak jujur. Ayah lalu menyuruh ibumu untuk ke pondok kayu dekat hutan," jelas Bara.


Flashback dimulai.


Terjadi perdebatan sengit antara ayah dan ibu Nona. Mereka bertengkar hebat tetapi belum terjadi kekerasaan.


"Aku ingin Alisa ikut denganmu, waktuku sudah tidak banyak lagi. Aku terkena kanker payudara. Ku mohon!"


"Nuna saja sudah membuat keluargaku membenciku apalagi ditambah dengan kehadiran Alisa. Aku akan berusaha mencari dokter terbaik untukmu," ucap ayah.


"Tidak! Ku mohon bawa Alisa atau aku harus bunuh diri supaya Alisa bisa ikut denganmu?" Mommy mengambil senapan yang tertempel di dinding. Dia menarik pelatuknya. "Tolong lepaskan! Tolong!" teriak mommy meronta.


Tetapi ayah langsung menarik senapan itu lalu peluru mengenai sebotol anggur merah dan seketika pecah di lantai yang terbuat dari kayu.


Mommy pingsan dan tergeletak disamping anggur merah yang tumpah dan disaat itu Bara melihat Alisa mengintip dikamar. Bara masuk ke kamar melihat Alisa yang meringkuk ketakutan.


Flashback selesai.


"Jadi dimana Alisa sekarang?" tanya Nona.


Ceklek...


"Sayang, mas pulang bawa martabak nih," ucapan Dewa membuka pintu. "Eh.. Ada kak Bara juga."


Nona menyambut kedatangan suaminya dan melupakan obrolan tadi. Dia melihat Dewa sangat lelah. "Mas mandi dulu nanti aku siapkan makanan."


Dewa mengangguk. Dia masuk ke kamar mandi, mandi menggunakan air dingin favoritnya. Rasa pegal seketika hilang saat berpadu dengan air dingin. Bisa saja ia menggunakan harta kakeknya tetapi belum saatnya. Dirinya masih mau berusaha sukses dengan caranya sendiri.


Setelah mandi, ia keluar dan mendapati Nona yang malah terlelap. Dewa menghela nafas, mungkin itu efek dari bayi mereka membuat Nona seperti ini padahal Dewa sudah membelikan martabak.

__ADS_1


"Dewa, itu makananmu. Nona langsung tidur karena bilang badannya kurang enak," ucap Bara duduk di sofa sambil bermain ponsel.


Dewa mengelap rambut basahnya dengan handuk. Dia mendekati Bara. "Wajar saja kak Nona seperti itu, hamil satu bayi saja terkadang buat badan tidak enak apalagi hamil tiga bayi sekaligus."


"Hamil kembar tiga? Hebat sekali kau, Dewa. Kak Bara yang hampir 20 tahun menikah saja selalu buat tak jadi-jadi," jawab Bara.


Dewa duduk disamping Bara. Dia membuka martabak yang sudah terlanjut di beli lalu memakannya bersama-sama.


"Aku doakan supaya setelah menikah dengan Sarah nanti Kak Bara segera mempunyai keturunan," ucapan Dewa.


Bara terdiam, saat akan menyuapkan martabak ke dalam mulutnya ia terhenti dan menaruh martabaknya lagi seperti semula. Mendengar kata Sarah, ia menjadi sedih kembali. Baru berpacaran beberapa hari hubungan mereka menjadi seperti ini.


"Aku hanya pria tua yang ingin merasakan jatuh cinta lagi tapi sayangnya tidak sesuai kenyataan."


"Kak Bara putus dengan Sarah?"


"Kakak sendiri pun kurang paham pasalnya papa Sarah yang tidak merestui hubungan kami. Aku juga egois tidak memikirkan perasaannya," jawab Bara.


Dewa memandang wajah Bara yang nampak sedih lalu menepuk bahunya. "Kak Bara tinggal memohon pada papanya Sarah, 'kan kalian berteman pasti papanya Sarah akan luluh juga."


Bara memandang Dewa. Dia tersenyum sambil mengusap kepala Dewa. Dia heran bocah seperti Dewa bisa meluluhkan hati banyak wanita termasuk para orang tuanya. Sepertinya ia harus belajar banyak dari Dewa.


"Dewa, waktu kemarin malam kau seperti bukan dirimu dan Kak Bara masih heran kau mendapat emas batangan itu dari mana? Maaf jika membuatmu tersinggung," tanya Bara dengan penasaran.


Dewa mengunyah martabak dengan pelan. Dia harus menjawab pertanyaan Bara walau ia tak ingin menjawabnya. Bara masih menunggu jawabannya, bukannya Bara ingin mengejek tetapi tiba-tiba membawa emas itu siapa yang tidak terkejut?


"Itu punya temanku, kak. Aku pinjam. Terkadang aku kesal dengan ucapan adik-adik Kak Bara apalagi jika mereka membuat Nona menangis."


"Maafkan mereka! Mereka memang seperti itu. Jangan dimasukkan ke hati! Anggap saja angin lalu!"


Dewa hanya tersenyum. Sebenarnya dia tak masalah mau dihina seperti apa tetapi ia mengingat istrinya yang sedang hamil dan tidak ingin membuat istrinya sakit karena mengingat ucapan mereka. Saat bersamaan, Nona terbangun karena tercium bau martabak. Dia beranjak dari tempat tidur lalu menghampiri mereka.

__ADS_1


"Aku lupa jika ada martabak. Kalian makan sendiri tanpa aku," ucapan Nona.


"Sayang malah tidur sih," jawab Dewa.


__ADS_2