Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bonus Chapter


__ADS_3

Nona mengelus perutnya yang berisi janin 3 minggu. Aktivitasnya yang padat karena ketika bayinya membuat tidak menyadari tanda-tanda kehamilan pada dirinya. Menyesalpun kini sudah terlambat, janin sudah bersarang di rahimnya dan kini mereka akan benar-benar mempunyai anak ke 4.


Dewa berada di dapur, matanya melirik Nona yang termenung di depan ketika buah hatinya bermain di lantai. Sambil mengaduk susu hamil, Dewa sangat mengerti posisi Nona saat ini.


"Sayang, ini minum susu! sudah jangan di pikirkan! Bayi dalam perut ini anak kita juga," ucap Dewa.


"Baik, mas."


Dewa yang sudah siap berangkat kerja melirik ketiga putranya yang asyik bermain. Melihat wajah Nona yang sangat pucat ia tidak tega meninggalkan Nona dan ketiga bayinya sendiria. di rumah.


"Dav, Dev sama Ven mau mas bawa ke gudang boleh gak?" tanya Dewa.


Nona menaikkan alisnya. "Banyak debu mas."


"Mas kan disana ada kamar sendiri. Biar kamu seharian ini istirahat saja," jawab Dewa.


Nona memandang wajah suaminya yang tersenyum manis. Dia tidak tega ketiga bayinya akan di bawa ke tempat kerja. Nona beranjak dari tempat tidur lalu memasukkan perlengkapan ketiga bayinya kedalam tas.


"Nuna mau ikut," ucap Nona.


Dewa mengangguk. "Baiklah, kalo gini kan mas jadi gak kepikiran ninggalin kalian di rumah."

__ADS_1


Dewa membantu menggendong dua putranya sedangkan putranya yang paling kecil yaitu Daven sendirian di lantai. Dewa ingin sekali menggendong ketiga putranya sekaligus namun tak memungkinkan.


"Daven tunggu mama ya? Papa gak bisa gendong langsung bertiga," ucap Dewa.


"Blublubu baaa baa..." oceh bocah 9 bulan itu.


"Mama udah belum?" tanya Dewa.


Nona menenteng tas lalu menggendong putra ketiganya. Inilah yang terjadi pada pasutri yang memiliki anak kembar sekaligus. Tentu saja repot tapi dibalik ini semua membuat merasakan indahnya menjadi orang tua.


Mereka turun dari apartemen lalu menuju ke tempat mobil yang dikemudikan oleh Zian. Zian sudah menunggu sedari tadi, ia maklum jika pasutri itu lama sebab harus mengurus ketiga putranya.


"Zi gak kerja dengan kakek?" tanya Dewa.


Zian melajukan mobilnya dengan cepat, Dewa yang memangku kedua putranya dalam perjalanan mengajak mengobrol mereka bertiga. Dia sangat aktif mengajak putranya berbicara.


"Dav, Dev, Ven, lihat itu awan putih!" ucap Dewa menunjuk kaca luar.


"utih... utih...," ucap Devan.


"tih... tih...," ucap Daven.

__ADS_1


"blu ... blu.. blu..." ucap Davan main ludah.


Nona segera mengelapnya, walau mereka kembar namun kembang tumbuh mereka berbeda-beda. Seperti tumbuhnya gigi, Davan yang anak pertama giginya tumbuh pada usia 8 bulan. Devan yang anak kedua giginya tumbuh pada usia 6 bulan dan Daven yang anak ketiga giginya tumbuh pada usia 7 bulan.


"Dewa, bagaimana cara membedakan mereka?" tanya Zian.


"Oh mudah kok, Davan punya lesung pipi, Devan matanya seperti aku yang berwarna coklat sedangkan kedua saudaranya berwarna biru sedangkan Daven punya tanda lahir di leher."


"Haha, namanya juga mirip membuat saya bingung," jawab Zian.


"Namanya mudah diingat juga kok, Dav, Dev sama Ven."


Zian tetap saja sangat bingung karena wajah mereka sangat mirip serta nama mereka yang mirip membuat susah diingat.


Sedangkan Nona sedari tadi menguap seolah menahan kantuk menyiksa diri. Baru semalam putranya rewel dan tidak bisa tidur. Dewa yang melihatnya merasa kasian.


Maafkan aku Nuna sudah membuatmu kerepotan. Batin Dewa.


*****


Mampir ke novel Elara dan Zian ya gaess..

__ADS_1



__ADS_2