
"Mas Dewa..... Gantian gendong mereka! Nuna capek...." teriak Nona yang masih diatas tempat tidur sambil memejamkan mata.
Ketiga balita mereka kini sudah bisa merangkak dan semakin aktif. Bayi 9 bulan itu saling berebut mainan satu sama lain sampai menangis.
Dewa sebagai seorang ayah tak membiarkan begitu saja, melihat sang istri yang seharian mengurus mereka bertiga sendirian menjadi tak tega dan membiarkan Nona beristirahat.
Dewa menemani mereka bermain bersama, ketiga baby D itu sangat suka sekali bermain dengan sang papa.
Davan, Devan, Daven, itulah nama mereka yang mirip bahkan orang lain sangat bingung mengenali ketiga bayi kembar itu. Hanya Nona dan Dewa yang bisa mengenali putra-putranya.
"Dav, Dev, Ven. Mau main ke rumah Paman Navi? Tapi jangan nakal disana," ucap Dewa.
Tentu saja ketiga bayinya tidak menjawab karena belum paham ucapan papanya.
"Jangan bawa kesana mas! Gak enak sama mereka, ketiga anak kita gak bisa diam disana," teriak Nona yang mendengar ucapan Dewa.
"Hmmm... Mas bosen dirumah."
Dewa mengelus ketiga putranya, semenjak baby D semakin aktif mereka tidak bisa liburan. Mereka memilih mengalah ketimbang baby D rewel ditengah jalan.
__ADS_1
"Mas, Nuna telat mens," ucap Nona.
"Yang bener? Jangan nakutin mas dong!"
Nona beranjak dari tempat tidur lalu membuka laci untuk mengambil alat pengetes kehamilan.
Dewa masih memperhatikan gerak-gerik sang istri sampai dia masuk ke kamar mandi.
10 menit kemudian.
Nona keluar dengan langkah lemas, ia melihat Dewa sambil menangis entah terharu atau sedih.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Dewa.
Dewa mendekati Nona lalu mengecek sendiri. Matanya terbelalak tatkala mengetahui sang istri hamil lagi. Nona mengusap wajahnya kasar, ia lalu memperhatikan ketiga putranya yang masih kecil bahkan belum bisa berjalan.
"Kenapa gak KB sih? Mas kan sudah bilang untuk KB tapi kamu selalu alasan nanti bikin gendutlah nanti bikin jerawatan lah dan inilah dan itulah," ucap Dewa.
"Ini kan perbuatanmu. Kenapa hanya aku yang disalahkan," teriak Nona.
__ADS_1
Dewa menghela nafas panjang, ia membiarkan Nona untuk tenang. Nona mengambil ponsel dan mencari penjual nanas muda secara online. Yang hanya ia pikirkan bagaimana cara menggugurkan bayinya.
Dewa melirik Nona, ia merebut ponsel sang istri.
"Apa-apaan ini? Kau mau menggugurkan bayi kita?" tanya Dewa.
"Mau bagaimana lagi? Mereka masih kecil dan aku juga belum siap mempunyai bayi lagi.
"Ini anak kita, bayangkan saja jika ketika putra kita akan kita hilangkan! Bagaimana perasaanmu?" ucap Dewa.
Nona memandang ketiga putranya. "Aku gak mungkin membunuh mereka."
"Nah itu kau tahu. Didalam perutmu juga anak kita. Perlakukan ia dengan baik seperti kakak-kakaknya. Jangan gugurkan! Kita pasti bisa merawatnya," ucap Dewa.
Nona memeluk sang suami, pikirannya yang kacau tidak bisa membuatnya berpikir positif. Dewa akan membantu merawat anak-anaknya dan jangan sampai Nona kelelahan.
Nona juga sangat keras kepala, ia tidak mau menyewa baby sitter untuk membantunya mengurus ketiga putranya.
"Besok kita periksa ke dokter," ucap Dewa.
__ADS_1
Nona mengangguk, ia mengelap air matanya lalu ikut duduk bersama baby D untuk menemani bermain. Melihat putranya yang masih kecil tentu saja ini sangat berat jika hamil lagi. Mereka harus membagi kasih sayang kepada anak-anaknya secara adil.
"Jangan sedih! Banyak anak banyak rezeki, semua ini ada hikmahnya," ucap Dewa menenangkan sang istri.