
Dewa menemui Altaf dirumahnya, ia tidak memperkenankan Nona untuk menemui Altaf karena ini urusannya sebagai laki-laki. Setelah melalui perdebatan yang alot dengan penjaga rumah Altaf pada akhirnya Altaf keluar juga. Dewa tidak dibiarkan masuk begitu saja karena Altaf takut jika Dewa akan membawa kuman dirumahnya yang mewah.
"Waktumu satu menit," ucap Altaf.
"Kenapa kau melakukan itu padaku? Hampir saja aku akan dimarahi oleh istriku," ucap Dewa.
Altaf bersedekap memandang Dewa dibalik pagar. Dia tersenyum sinis mendengar ucapan Dewa.
"Kau membuang waktuku saja. Sudahlah, Nak. Pulang saja dan sana lapor ibumu!" ucap Altaf lalu masuk kedalam rumahnya.
Dewa meremas jemarinya, ia begitu geram dengan orang-orang disekitarnya. Dia kembali menaiki motor untuk segera bekerja tetapi dia mengunjungi suatu tempat terlebih dahulu.
Sebuah pemakaman keluarga ia kunjungi. Melihat salah satu makam yang bertuliskan 'Dewa Arga Mahren Afrizal' yang meninggal 4 tahun yang lalu saat masih SMP.
"Dewa, kabarmu bagaimana? Aku merindukanmu. Kau tahu aku sudah menikah walau menggunakan namamu. Orang yang dulu membullymu masih berada dipenjara dan beberapa tahun lagi dia keluar dari penjara. Sungguh tidak adil, ketika dia bisa keluar bebas tetapi kau masih terbaring dibalik tanah. Aku merindukanmu saudara kembarku."
4 tahun yang lalu, Nagara Bimasena Mahesa. Pria yang terlahir dan tumbuh besar dikeluarga kaya raya, hidupnya begitu mewah dengan fasilitas yang tidak main-main. Dia sangat tampan tetapi nakal dan suka menindas orang yang lemah disekolahnya sampai keluarganya mengatakan jika dirinya mempunyai saudara kembar tinggal di kota seberang membuat Nagara atau yang biasa dipanggil Naga mencari keberadaan saudara kembarnya. Sampai suatu hari dia menemukan Dewa yang masih duduk dibangku SMP, ia sangat senang tetapi sebelum memberitahu jika Naga adalah saudara kembarnya, Dewa meninggal dunia karena kasus pembulian oleh teman-temannya.
Sebelum meninggal, Naga sempat bertemu dengan Dewa walau Dewa sedang koma karena tulang rusuknya retak karena terkena hantaman dari benda keras. Naga menyamar menjadi orang lain supaya orang tua asuh Dewa tidak curiga.
"Dewa, aku Nagara. Aku saudara kembarmu. Orang tua kandung kita telah meninggal. Aku menyesal tidak mengetahui keberadaanmu selama ini. Kakek baru memberitahuku akhir-akhir ini," ucap Nagara.
Dewa hanya diam, dia terkulai lemah diranjang rumah sakit. Naga begitu terpuruk melihat saudara kembarnya diambang kematian. Sampai ketika Dewa sudah dinyatakan tidak sadarkan diri dan jantungnya kian melemah. Naga sudah berpesan kepada dokter jika terjadi sesuatu dengan Dewa maka sang dokter jangan gegabah untuk memberitahu keluarga Dewa.
Sampai pada akhirnya hari itu tiba, Dewa yang sudah berjuang melalui koma menghembuskan nafas terakhirnya. Pada saat itulah Naga menggantikan Dewa dirawat dan menjadi Dewa yang sudah membaik dan sembuh dari koma. Sedangkan jasad Dewa yang asli dimakamkan sang kakek disebuah pemakaman keluarga besar Mahesa tepat disamping makam kedua orang tua kandung Dewa.
Nagara begitu syok, saudaranya meninggal karena dianiaya oleh teman Dewa sendiri. Padahal Naga juga sering memukul teman-teman dengan seenaknya dan tidak merasa bersalah.
Naga juga baru sadar jika kehidupan Dewa memperihatinkan, tinggal dirumah sederhana, kedua orang tua asuhnya hanya sebagai pembantu dikeluarga kaya.
__ADS_1
Rasanya sangat tidak adil, Naga hidup bergelimang harta tetapi saudara kembarnya justru memprihatinkan.
"Mulai saat ini aku akan menjadi dirimu, Dewa. Supaya aku juga bisa merasakan kehidupanmu yang pahit. Bisa merasakan puasa karena tidak ada makanan, bisa merasakan apa yang kau rasakan selama ini. Aku juga berjanji tidak akan semena-mena lagi kepada orang lain," ucap Naga.
Flashback selesai.
"Tuan Nagara, anda disini rupanya? Kakek anda masih menunggu kepulangan anda, dia sakit."
"Sudah ku bilang panggil aku, Dewa!"
"Maaf, tuan."
Dewa melirik orang kepercayaannya yang bernama Zian.
"Saya dengar kemarin anda sempat terjebak perangkap Altaf?" tanya Zian.
Dewa tersenyum tipis.
Dewa menggelengkan kepala. Untuk apa meladeni Altaf? Hanya membuang waktunya saja.
"Kakek anda sedang sakit parah, sebaiknya anda pulang. Jika terjadi sesuatu dengan beliau otomatis anda harus menjadi Nagara yang mewarisi perusahaan kakek anda," ucap Zian.
"Zi, aku sudah bilang jika aku bukan Naga lagi melainkan Dewa. Untuk masalah perusahaan aku bisa mempercayaimu. Hidupku kini sudah menjadi Dewa yang sederhana bahkan kini harus berjuang memberi makan anak dan istri."
Zian menatap mata sang tuan yang menyimpan rasa bersalahnya. Zian tahu jika kehidupan Nagara berubah total semenjak menjadi Dewa. Yang biasa Nagara mencela orang lain karena miskin, kini dia yang dicela oleh orang lain sebab dia menjadi Dewa yang miskin.
"Yasudah, Zi. Aku mau berangkat bekerja, sudah hampir terlambat. Nanti malam aku akan menjenguk kakek. Aku juga merindukannya," ucap Dewa.
"Tuan, anda sungguh tidak apa-apa? Anda terlihat lebih kurus. Oh iya, ini kartu debit. Anda bisa memakainya," ucap Zian.
__ADS_1
Dewa menolak dengan halus. "Aku bisa mencari uang sendiri. Terima kasih pengertianmu."
Dewa berjalan meninggalkan Zian, Zian menundukkan kepala kepada pewaris tunggal perusahaan sang kakek. Sang tuan sudah banyak perubahan, dia bisa bersikap lembut dan tentunya sederhana.
Dewa melajukan kendaraannya menuju ke pabrik. Dia masih menganggap dirinya miskin karena dia memang miskin. Dewa tidak mau harta warisan dari sang kakek karena dia akan bekerja keras sendiri demi saudara kandungnya yang kini sudah tiada. Nagara akan membuat Dewa sukses dimata orang yang sering memandang rendah Dewa.
*****
Sore hari, Dewa langsung pulang ke rumah Bara. Melihat sang istri tercinta yang tengah mengandung anaknya. Saat masuk ke gerbang, ia melihat banyak mobil mewah terparkir tentu saja itu mobil para iparnya yang sombong.
Dewa memarkirkan motornya disamping mobil Bagas. Dia masuk tak lupa memberi salam tetapi mereka hanya diam.
Dewa tidak melihat keberadaan Nona dan Bara. Dewa melewati mertua dan iparnya dengan jalan membungkuk sopan.
Nona ternyata ada didapur sedang membuat minuman untuk keluarganya.
"Sayang, mas lapar," ucap Dewa dengan manja sambil memeluk Nona dari belakang.
Nona terkejut dan hampir saja memukul Dewa. "Mas Dewa rupanya? Hemmm... mandi dulu mas! Biar aku siapkan makanan."
"Oke, mas mandi dulu. Eh.. tapi kok tumben keluargamu jam segini sudah datang?"
Nona mengaduk minuman lalu terhenti menatap Dewa. Wajah Dewa ia usap menggunakan sapu tangan, ia merasa kasihan dengan sang suami yang harus bekerja keras untuknya.
"Biarkan saja mereka! Jika mereka mengatakan hal menyakitkan pada mas bilang saja padaku!" ucap Nona.
Dewa tersenyum sambil mengusap kepala sang istri lalu mengusap perut Nona. Dewa begitu gemas dengan wajah bule sang istri yang tegas dan terkadang dingin.
"Sudah sana mas mandi! Bau acem," ucap Nona mendorong Dewa.
__ADS_1
"Haha... Nanti malam main lagi ya, hehe.."