Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 85 : Perasaan ibu hamil


__ADS_3

Pagi hari di kamar hotel, Dewa bangun mengerjapkan mata. Sinar mentari masuk menyorot tepat pada wajahnya yang rupawan. Ia melirik Nona yang masih terlelap. Semenjak hamil, Nona menjadi pemalas dan hanya ingin tidur.


Telinganya yang masih mencerna kegaduhan diluar memberi efek refleks untuk bangun dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tangan Dewa membuka pintu, kepala ia longakkan keluar melihat kegaduhan yang ternyata adalah kakak ipar dengan calon mertua yang tak lain adalah temannya sendiri.


"Kau memang gila, Bar. Putri ku bisa-bisanya kau ajak ke tidur di hotel. Otakmu dimana? Baru saja Zalina pergi malah sudah kesempatan mendekati putriku. Dasar psiko!" teriak Dani sambil memegangi tangan Sarah dengan erat.


"Dani, ini semua tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidur di kamar sebelah, pagi-pagi aku ke kamar putrimu lagi karena putrimu mengeluh tidak bisa berjalan," jelas Bara.


"Cih... Pedofil mana mau mengaku? Jadi selama ini kau sok-sokan menjaga putriku karena menyukainya. Sarah bahkan teman Elara. Kau di tinggal istri dan putrimu menjadi gila. Mulai sekarang jangan dekati putriku! Persetan dengan pertemanan kita," ucap Dani.


Dani menyeret Sarah padahal kaki Sarah masih sakit. Dia memberontak tetapi Dani tidak menghiraukan. "Om Bara... Tolong om!" teriak Sarah.


Bara hanya bisa menyaksikan kepergian mereka. Pertemanannya dengan Dani menjadi rusak karena keegoisannya. Baru merasakan cinta ia sudah kehilangan cintanya lagi.


Dewa mendekati Bara, Bara tersenyum kecil.


"Ini semua tidak seperti yang kau lihat. Aku tidak mungkin tidur dengan Sarah," jelas Bara yang tidak mau dianggap aneh-aneh oleh Dewa.


"Aku percaya Kak Bara."


Bara tersenyum lalu masuk ke kamarnya. Dia akan pulang ke apartemen yang sudah ia beli bahkan dekat dengan apartemen Sarah. Dewa menghela nafas, kakinya melangkah masuk ke kamar hotel. Matanya melihat Nona sudah bangun tetapi masih berbaring di ranjang yang empuk.


"Mas, gendong..." rengek Nona.


"Apa sih? Yuk berkemas pulang! Mas juga mau kerja."


Dewa mengambil tas dan memasukkan baju kotor yang mereka pakai kemarin saat pesta. Nona mengerucutkan bibir bahkan dia tidak mau bangun.

__ADS_1


"Sedang hamil jangan di buat alasan untuk malas-malasan. Mas juga harus kerja buat kebutuhan si kembar nantinya," ucap Dewa.


"Mas Dewa bilang begitu maksudnya apa? Aku 'kan hamil anak mas, yang menghamili juga Mas Dewa," jawab Nona dengan kesal.


Dewa menutup tasnya, ia memperhatikan Nona yang menatapnya heran. "Terus jika bukan yang menghamili mas, siapa lagi? Sayang, masih pagi jangan bikin ribut deh."


Nona yang kesal melempar Dewa dengan bantal. Entah mengapa dia merasa jika itu bukan Dewa yang biasanya. Dewa menghela nafas dan tetap membereskan selimut lalu melipatnya.


"Ayo sayang! Sebentar lagi mas harus berangkat kerja. Yuk mas antar ke kamar mandi!" ajak Dewa.


"Tidak mau, Mas Dewa bisa beli jepit mahal itu tetapi Mas Dewa saat nikah tidak memberikan mahar banyak. Mas diam-diam menghanyutkan."


"Apa sih kok sekarang bahas mahar? Sayang, ini masih pagi ya jangan mengajak mas berdebat," ucap Dewa.


"Mas Dewa memberi aku apa saja sih saat menikah sampai mas sok seperti ini? Mas hanya memberi cincin beberapa gram saja. Dasar pelit!" celetuk Nona.


"Kau memandang aku seperti apa? Kenapa kau merendahkan suamimu sendiri? Kau selalu memandang soal harta. Mas ini orang miskin bahkan menikah denganmu karena menebus hutang. Kau tahu jika dulu mas hampir mati di rumah sakit? Orang tua mas sampai rela berhutang kepada ayahmu hanya untuk biaya rumah sakit. Sabar! Nanti mas akan ganti uangmu. Mas akan menambahi maharmu tapi bukan sekarang," ucap Dewa yang terlanjur kesal.


Nona menangis sesegukkan ketika Dewa meninggikan suaranya. Dewa mendekati Nona lalu meminta maaf karena sudah membentaknya. Dewa teringat ucapan dokter jika ibu hamil memiliki pikiran labil dan ia harus mengalah.


"Mas harus bekerja, Yuk pulang!" ucapan Dewa.


Nona menggelengkan kepalanya. Dia masih ingin disini karena nyaman. Dewa tidak bisa memaksa Nona, ia membiarkan Nona disini sampai merasa bosan sendiri.


"Mas nanti ada kuliah juga, pulangnya agak malem. Bisa 'kan sendiri disini atau mau di temani ibuku?" tanya Dewa.


Nona menggelengkan kepala, ia tidur si ranjang sambil menarik selimut. Dewa menatapnya dengan lembut sambil mengusap kepala Nona.

__ADS_1


"Maafin mas, ya? Mas tadi tidak bermaksud membentak sayang."


Nona mengangguk kecil, air matanya terus saja keluar. Dewa menyesal membentak ibu hamil yang perasaannya gampang terluka. Dewa mendekati perut Nona lalu menciumnya. "Papa kerja dulu ya trio anak papa. Jangan nakal! Jangan merepotkan mama!" ucap Dewa.


Dewa berpamitan untuk langsung berangkat bekerja. Dirinya padahal tidak tega meninggalkan Nona sendirian disini tanpa ada orang yang menemani.


"Mas Dewa, nanti malam belikan martabak ya?"


"Iya sayang. Ingatin mas lagi jika lupa! Telpon, mas!"


Nona mengangguk, Dewa sekali lagi mengecup keningnya. Istrinya begitu menggemaskan tetapi saat sedang hamil membuat emosi sendiri. Setelah itu Dewa keluar dari kamar hotel dan berangkat bekerja mencari nafkah untuk keluarga kecilnya.


Bukannya mas pelit tapi mas sudah berjanji pada Dewa untuk membuatnya sukses dari 0. Itu permintaan terakhir Dewa jika dia ingin sukses mulai dari bawah pada surat wasiatnya yang mas temukan dibawah kasur rumah sakit. Entah siapa yang menulis tapi mas yakin itu adalah permintaan Dewa secara tidak langsung.


Disisi lain.


Bagas memeriksakan alat kelaminnya yang mengalami pembengkakan dan mengeluarkan nanah. Dia di antar Sita yaitu sang istri. Saat hasil pemeriksaan keluar, Bagas dinyatakan menderita penyakit sipilis. Semua ini membuat mereka sangat syok apalagi Sita. Dia tahu jika suaminya sering melakukan itu dengan wanita lain tetapi Sita masih cukup sabar. Setelah mendapat resep obat, mereka pulang dengan Sita yang menyetir mobil. Sedari tadi ia melamun sampai dia memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu pada Bagas.


"Mas, aku ingin cerai saja. Dengan penyakit mas yang seperti ini membuat rumah tangga kita tidak bisa berlanjut."


"Dulu saat aku masih berjaya kau mengejarku tapi sekarang saat aku terjatuh kau berniat meninggalkanku?" ucap Bagas.


"Aku tidak peduli, aku sudah banyak menyimpan bukti perselingkuhanmu untuk bukti di pengadilan dan aku akan memenangkan hak asuh anak kita."


Bagas meremas tangannya. Dia melirik sang istri yang begitu kejam meninggalkannya.


Bagas menjambak rambut Sita, Sita meronta kesakitan bahkan sampai mobilnya oleng menabrak sebuah pohon.

__ADS_1


******


__ADS_2