
Setelah kepulangan Nagara, Dewa dan teman-temannya melanjutkan pekerjaan. Teman-temannya masih kesal dengan perlakuan saudara kembar Dewa. Namun Dewa tak mau dimasukan ke hati sebab ia tahu jika saudara kembarnya dulu tidak seperti itu.
Mereka melakukan aktivitas masing-masing sementara Dewa mencoba untuk menghubungi Arsel karena pria itu sudah lama tidak menghubunginya. Rasa gundah melanda ketika nomor Arsel tidak aktif, Dewa menghampiri teman-temannya untuk menanyakan apakah mereka sempat berkomunikasi dengan Arsel.
"Kami menghubungi juga tidak aktif, Wa."
Dewa semakin cemas, apa ini ulah Altaf sebab dari dulu pria itu sangat licik. Dewa memakai sepatunya dan mengambil tas lalu berencana untuk pergi ke rumah Altaf. Dia menyerahkan gudang kepada Jojo selagi dirinya pergi. Arsel adalah teman baiknya, tak ada kabar beberapa hari saja sudah cukup membuatnya cemas.
Dewa menyetir mobilnya, untung saja jalanan tidak macet membuatnya bisa mengebut. Dia sangat khawatir dengan Arsel, Arsel memang pria yang menyedihkan. Sang kakak membencinya dan mengadu domba Arsel pada keluarganya.
Setelah sampai di rumah Altaf, ia terhalang penjaga dan tidak diperbolehkan oleh masuk. Dewa terus menjelaskan jika dirinya adalah teman Arsel namun petugas itu tetap tak mengizinkan Dewa untuk masuk kedalam.
"Apa ini perintah Altaf?"
Penjaga itu mengangguk, ia lalu mendorong Dewa untuk menjauhi pagar besar itu.
Dewa tak menyerah begitu saja, ia berteriak memanggil nama Arsel dan berharap pria itu mendengarnya.
"Arsel... Arsel.... Jika kau didalam menjawablah!" teriak Dewa.
Salah satu korden kamar terbuka, ia melihat Arsel. Dewa melambaikan tangan namun Arsel malah menutup korden dan menghilang begitu saja. Tentu saja semua ini membuat Dewa sangat kecewa, apa pria itu dengan sengaja menjauhinya?
"Arsel, telpon aku jika ada masalah!" teriak Dewa.
__ADS_1
Tiba-tiba korden terbuka lagi dan Arsel kali ini membawa kertas besar yang bertuliskan 'tolong keluarkan aku!'
Dewa mengepalkan tangannya, rupanya benar jika Arsel dikurung.
Dewa mengangguk, ia langsung masuk ke mobil dan akan membuat rencana supaya Arsel bisa keluar dari rumah itu.
Dewa memutuskan untuk kembali ke gudang untuk mengatur strategi bersama teman-temannya, ia harus mengeluarkan Arsel dari penjara Altaf.
***
Disisi lain, Nona mengerjakan pekerjaannya di toko meubel yang sudah kembali ke tangannya yang sebelumnya dikuasai oleh ibu tiri. Dengan bantuan Bara, ia mengelola semuanya dari awal. Semua ini ia lakukan untuk membantu sang suami yang banting tulang untuk menafkahi keluarga kecilnya.
Namanya pun seorang ibu, ia pasti sangat kepikiran dengan anak-anaknya. Tak bertemu beberapa jam saja ia sudah sangat rindu.
Nona mencoba menelpon pengasuh mereka, ia melakuan panggilan video supaya bisa melihat ketiga putra dan satu putrinya. Umurnya yang sudah 30 an lebih sangat pantas mempunyai 4 anak kandung sedangkan Dewa yang belum ada usia 25 tahun terkesan menggelikan bagi siapa yang baru mengetahuinya.
"Mbak, mereka gak bandel 'kan?" tanya Nona.
"Nggak, kak. Mereka penurut kok."
"Hai sayang, bentar lagi mama pulang. Jangan bandel-bandel, ya!" ucap Nona mengajak berbicara anak-anaknya.
Setelah puas melakukan panggilan video, ia kini melanjutkan pekerjaan. Dia tersenyum sendiri sembari menulis laporan penjualan mingguan. Anak-anaknya tumbuh dengan baik bahkan sangat aktif membuat mereka kerepotan. Namun semua itu hilang ketika anak-anaknya bisa akur dan bermain bersama.
__ADS_1
Saat sedang fokus, ponselnya berbunyi ternyata dari guru Kenzi. Nona sangat terkejut saat sang guru melapor jika Kenzi memukuli temannya sendiri. Nona segera datang ke sekolah Kenzi yang tak jauh dari tempat kerjanya.
Nona secepat kilat menyetir mobil supaya segera sampai di sekolah Kenzo.
Setelah sampai, ia langsung masuk ke ruang guru dan mendapati Kenzi hanya menunduk takut pada Nona. Sang guru menjelaskan jika Kenzi memukuli temannya yang katanya hanya bergurau dengan Kenzi.
"Sekarang teman Kenzi sedang ada di rumah sakit dan kami sudah membujuk orang tua korban supaya masalah ini tidak sampai ke pihak kepolisian," ucap wali kelas Kenzi.
Nona sangat berterima kasih, hari ini Kenzi harus pulang dan di skors selama satu minggu. Nona membawakan tas milik Kenzi lalu tak lupa berpamitan pada guru-guru sebelum pulang.
Setelah di dalam mobil, Nona menginterogasi Kenzi. Apa sebabnya bocah SD itu sampai berani memukuli temannya? Kenzi tak menjawab, ia sangat takut pada Nona.
"Zi, ayolah jawab! Kenapa diam saja?" tanya Nona sambil menyetir mobil.
Kenzi diam tak bergeming membuat Nona hilang kesabaran lalu mengancam untuk membawa Kenzi ke panti asuhan jika tidak mau mengaku. Kenzi mulai menangis, ia kini jujur dengan Nona jika temannya itu mengejeknya dengan sebutan anak pembunuh. Nona sangat terkejut, pasti sangat berat beban Kenzo dan Kenzi kali ini.
"Zi, jangan dipikirkan! Mereka tidak tahu apa-apa! Kenzo dan Kenzi 'kan tidak tahu apa-apa soal itu. Kalian tidak bersalah," ucap Nona.
Kenzi semakin menangis sesegukan, Nona segera menepikan mobil untuk menenangkan Kenzi. Dia mendekapnya dengan penuh kehangatan.
"Kenapa hidup Kenzi berat sekali?" ucap Kenzi sambil menangis di pelukan Nona.
Nona juga tak kuasa menahan air matanya. Bocah SD itu bisa-bisanya berpikir seperti itu, pasti ada yang tidak beres. Nona harus memanggil psikiater untuk Kenzo dan Kenzi. Nona tidak mau masa kecil mereka di penuhi masalah pribadi orang tuanya yang kini sudah tidak ada bersama mereka.
__ADS_1