
Dewa dan Nona langsung bergegas di kantor polisi, ia melihat Sarah yang sudah ditahan oleh pihak kepolisian. Dewa yakin jika Sarah tidak senekat itu. Nona yang
cemburu ia tahan karena tidak ingin bertengkar dengan Dewa. Sarah menggenggam
tangan Dewa supaya membantu mengeluarkannya dari sini.
“Jadi masalahnya kenapa kau bisa masuk penjara? Apa benar jika kau melempar batu
dirumah kakak ku? Kenapa kau lakukan itu?” tanya Nona.
Sarah tak memperdulikan ucapan Nona, ia malah meminta bantuan Dewa. “Dewa, bantu aku untuk mengeluarkanku dari sini. Ada hal penting yang harus kuurus setelah ini,” ucap Sarah memohon sambil menggenggam tangan Dewa.
Dewa langsung melepaskan genggaman Sarah karena tidak ingin membuat Nona cemburu.
“Papamu saja setuju jika kau ditahan karena saking bandelnya, kami bisa apa? Rasakan saja!
Mungkin beberapa tahun kemudian kau bisa bebas,” ucap Nona sambil berdiri dan
meninggalkan ruangan itu.
Dewa juga tidak bisa berbuat apa-apa, ia juga tidak membenarkan perbuatan Sarah karena itu juga sangat membahayakan. Dewa berpamitan untuk pulang, ia berjanji akan sering datang kesini. Sarah memegangi tangan Dewa, ini adalah harapan
satu-satunya supaya dia bisa bebas dari penjara.
“Tolong, Dewa!
Hubungi mamaku! Aku tidak tahu dia ada dimana tetapi aku masih menyimpan nomornya dan semoga saja masih aktif.”
**
Nona mendapat telepon dari Bara untuk segera berkumpul dirumah sang ibu. Nona
mengiyakan dan langsung segera kesana, sambil menunggu Dewa yang belum keluar dari kantor polisi, Nona hanya diam melamun melihat ekspresi Dewa yang nampak
sedih ketika bertemu dengan Sarah. Nona menggeleng-gelengkan kepala, ia
membuang semua pikiran buruknya. Nona memang tidak begitu mengenali Sarah
tetapi yang jelas gadis itu memang mengalami masalah keluarga yang cukup berat
bahkan Dani pun setuju jika Sarah mendekam di sel karena saking bandelnya.
__ADS_1
Dewa masuk ke mobil, Arsel segera melajukan ke rumah ibu tiri Nona. Dewa terlihat sedang
menelpon seseorang. Nona terus memperhatikannya.
“Menelpon
siapa, sayang?” tanya Nona.
“Mamanya Sarah.”
“Kau masih sangat peduli dengan Sarah.”
Dewa memandangi Nona, ia tersenyum kecil. “Sarah adalah temanku, dia selalu baik
kepadaku. Dia memang mantan pacarku bukan berarti dia juga mantan temanku. Kita
tetap teman baik.”
Nona hanya manggut-manggut, ia memalingkan wajah menatap lalu lintas sore ini. Dewa yang
merasa Nona cemburu langsung sadar, ia menghadapkan wajah Nona ke hadapannya.
“Cieee cemburu, aku kan sudah menjadi milikmu selamanya. Jangan cemburu dong!”
perhatian dengan Sarah.”
“Itu bukan perhatian, sayang, Tapi sebuah solidaritas sebagai teman karena Sarah selama
ini juga sering membantuku,” jelas Dewa.
Dewa begitu gemas, ia memeluk Nona didadanya. Nona merasa tenang ketika mencium aroma bau keringat yang bercampur bau parfum Dewa. Sungguh menenangkan. Rasanya ingin terus-terusan berada didekapnya.
Sambil mendekap sang istri, Dewa mencoba menelpon mama Sarah yang ia sendiri
belum tahu wajahnya.
“Hallo?”
Suara perempuan menyahut dari telpon, Dewa segera menjawabnya.
“Selamat
__ADS_1
sore, bisakah saya bicara dengan mama Sarah?” tanya Dewa.
Nona langsung beranjak dari dekapan Dewa.
“Sarah? Heeem... Ini siapa? Sudah 10 tahun lebih aku tidak berkomunikasi dengan Sarah.
Ada apa dengannya?”
“Begini tante, Sarah sedang ditahan di penjara.
Sarah meminta saya untuk menelpon tante karena tante adalah mamanya Sarah,”
jelas Dewa.
“Ha? Kenapa malah menelponku? Telpon papanya! Dia sudah tanggung jawab papanya.”
“Tapi papanya tidak mau mengeluarkan Sarah dari penjara.”
Tut... tut....tut....
Telpon langsung terputus, mama Sarah seolah sengaja menutupnya. Dewa mencoba
menelponnya kembali tetapi nomor itu sudah tidak aktif.
**
Setelah sampai dirumah sang ibu, mereka segera masuk. Sudah ada keluarga besar yang
berkumpul tetapi tanpa anak-anak mereka. Nona dan Dewa ikut duduk. Setelah anggota
keluarga terkumpul. Bara segera membuka suara.
“Mungkin hal ini akan menjadi hal yang mengejutkan bagi kalian tetapi jika tidak dibicarakan akan menyiksa Zalina," ucap Bara dengan nada sedih.
Semua orang masih menunggu ucapan Bara selanjutnya. Bara memandang sang istri dengan tatapan sendu. "Zalina sedang sakit kanker serviks," sambung Bara.
Semua anggota keluarga sangat terkejut. Mereka menatap Zalina yang sudah meneteskan air mata. Nona yang mendengarnya langsung memeluk Zalina. Zalina adalah iparnya yang terbaik selama ini. Mereka menangis bersama sampai membuat tangisan mereka menular pada yang lain.
Bayu dan istrinya tidak bisa berkata-kata karena ini bukan urusan mereka dan mereka tak mempunyai simpati sedikitpun. Nona melepaskan pelukan pada Zalina dan kini mendekati
Bara, ia ingin memeluknya erat. Dia merasa kasihan dengan Bara
__ADS_1
"Setelah ini apa yang kakak rencanakan?"
"Pastinya aku akan membawa Zalina berobat ke luar negeri. Aku ingin istri tercintaku sembuh dari penyakitnya," jawab Bara.