Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 52 : Predator


__ADS_3

Bara duduk di kursi kantornya, pikirannya merasa tidak tenang saat mengingat pesan tersembunyi dari Zalina dan dokter pribsdinya. Bara melirik sebuah foto keluarga yang terdapat dirinya, Zalina dan putri mereka yaitu Elara. Pasalnya Elara masih membutuhkan keluarga lengkap mengingat kejiwaan Elara sedikit terganggu.


Zalina, bagaimanapun kau harus sembuh.


Kling...


Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal, orang tersebut mengirimkan foto Zalina dengan seseorang berbaju dokter.


"Papa?"


Pintu terbuka, Elara datang ke kantor papanya. Bara berdiri lalu menyuruh Elara duduk disampingnya. Elara mendekap pada Bara. Bara tahu jika Elara begitu kesepian di rumah, putrinya tidak memiliki teman untuk bermain bersama.


"Dimana, Sarah?" tanya Bara.


"Apaan sih, pah? Aku ada disini malah papa menanyakan Sarah."


Bara mencubit dagu putrinya. Wajah Elara sangat mirip dengan temannya yang sudah meninggal bahkan sifatnya hampir sama yang tidak bisa bergaul dengan orang lain.


"Aku mau tanya, Pah. Jika Mama membuat kesalahan apa papah mau memaafkannya?"


Bara terdiam, ia memandang wajah sedih Elara. Gadis itu tidak mungkin tahu penyakit mamanya. Bara harus melindungi mental Elara yang sewaktu-waktu bisa kambuh.


"Tergantung kesalahan apa yang mamamu perbuat."


"Papa janji harus memaafkan mama jika mama membuat kesalahan," pinta Elara.


Bara tidak menjawab ucapan putrinya. Bara mengalihkan pembicaraan supaya putrinya tidak berpikiran yang macam-macam. Elara berdiri, ia berpamitan untuk pulang ke rumah. Tangan sang Papa mengusap pipinya.


"Papa sayang Elara, semoga Elara juga sayang dengan papa."


"Aku juga sayang, papa."


Sarah masuk ke ruangan Bara. Ternyata Elara pergi bersama Sarah. Bara nampak senang jika mereka akur dan bisa dekat. Seperti biasanya, Sarah mengenakan pakaian minim.


"Ayo lama sekali!" ucap Sarah kepada Elara.


"Sabar dong!"


Elara mencium pipi papanya, ia meminta izin kepada sang Papa untuk pergi bersama Sarah. Papanya mengizinkan tetapi dengan syarat nanti sore harus cepat pulang.

__ADS_1


Bara mengambil beberapa uang untuk Elara dan tentunya untuk Sarah. Sarah menolak, ia justru memberikannya kepada Elara.


"Yasudah, kami berangkat dulu," ucap Elara.


"Hati-hati dijalan!"


Sarah dan Elara hari ini akan pergi ke rumah Nona yang baru. Gadis aneh itu ingin mengobrol dengan Nona. Nona tidak menolak karena Elara adalah keponakannya sendiri. Dia meminta untuk menunggu sebentar sembari Nona pulang ke rumah.


Sarah menyetir mobil, Elara belum bisa menyetir mobil dikarenakan sang Papa belum mengizinkannya. Elara sedari tadi melirik Sarah. Dia berdecih melihat Sarah yang berdandan begitu cantik.


"Apa maksudmu sok imut di depan papaku? Aku tahu seleramu Om-om tapi jangan papaku juga," pungkas Elara.


"Apaan sih? Siapa yang sok imut? Aku dandan begini karena nanti pasti bertemu dengan pangeran Arsel. Tiap ada tantemu pasti ada Arsel juga 'kan?" jawab Sarah.


Mendengar itu Elara cukup kesal, ia mengambil tas Sarah yang ada di kursi belakang dan mengambil make up milik Sarah.


"Eh... mau ngapain?" tanya Sarah.


"Emangnya kau saja yang bisa dandan? Entah itu Arsel atau Dewa, kau tidak boleh terlihat cantik didepan mereka."


"Dasar cewek aneh!"


"Kau yang aneh!" jawab Elara.


Elara memang sangat cantik dan manis seperti mamanya tetapi sifat Zalina juga menurun ke Elara.


...----------------...


Dewa, selalu mengekor pada Pak Amri. Satu persatu yang diajarkan oleh beliau cepat ia pahami. Pak Amri tidak melepaskan Dewa begitu saja, masih banyak hal yang harus dipelajari Dewa.


Raut wajah bocah itu tampak senang karena ia dan sang istri mudah untuk berbaikan walaupun ucapan Nona sangat membekas di hati Dewa.


"Dewa, coba cek mesin no 22! Seperti ada kendala," ucap Pak Amri.


"Baik, pak."


Dewa bergegas mengecek mesin itu. Pak Amri ada dibelakangnya untuk mengajarinya. Pegawai pria lain seperti iri dengan kedekatan mereka. Pasalnya Pak Amri tidak pernah sedekat itu dengan anak baru. Pak Amri terkenal cuek tetapi entah kenapa beliau dengan Dewa malah sangat ramah.


Disisi lain, Nona dan keluarga tirinya sedang makan bersama. Mereka tampak begitu sumringah tetapi tidak dengan Nona. Keluarga serakah itu sudah memiliki apa yang mereka mau.

__ADS_1


"Oh Nona, ku dengar suamimu bekerja di pabrik? Haha... Dia memang pantas bekerja disana," ucap Bayu dengan sedikit mengejek.


"Tentu saja, dia bocah tanpa mempunyai bakat bisa apa?" sahut Bagas sambil memotong daging dan mengunyahnya kedalam mulut.


Altaf tertawa kecil. "Gaji suamimu bisa untuk menghidupimu? Jika tidak, maka bilang padaku. Aku bisa memenuhi semua keinginanmu."


Nona memotong daging menggunakan pisau dengan kesal. Dia ingin sekali merobek mulut mereka yang dengan sengaja menghina suaminya. Bara yang duduk disebelahnya hanya menyuruh Nona diam dan tidak usah menanggapi mulut bebek seperti mereka.


"Bara, kapan ibu akan mempunyai cucu darimu? Kedua adik laki-lakimu sudah memberikan Ibu cucu."


Bara dan Zalina hanya saling memandang. Bara tersenyum kecil lalu merangkul pundak Zalina. "Sebentar lagi pasti kami akan punya bayi. Benar 'kan sayang?" ucap Bara.


DEG!!!


Perkataan Bara membuat Zalina sangat sedih. Sampai kapanpun ia tidak akan bisa memberikan anak pada Bara.


Bagas yang duduk diseberang mereka meletakkan garpunya sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Dia berdiri dan berpamitan untuk ke kamar mandi.


Mereka melanjutkan makan, suasana tidak nyaman bagi Nona karena sedari tadi Altaf memperhatikannya. Walau mereka pernah hampir menikah tetapi Nona tidak pernah menyukai Altaf.


"Nona, kau sudah hamil?" tanya Dinda, kakak iparnya.


Nona menggelengkan kepalanya.


"Bocah itu mana bisa menghamilinya? Nafsu saja mungkin belum punya," ejek Bayu.


Nona begitu kesal, ia menyiram Bayu dengan air jus miliknya. Mereka sangat terkejut, istri Bayu langsung mengelap wajah Bayu yang basah.


"Kau... Beraninya dengan kakakmu sendiri," ucap Ibu.


Nona langsung meninggalkan mereka dan menuju ke kamar mandi. Setelah ini dia memutuskan akan pulang tetapi saat dia ke kamar mandi bertemu dengan Bagas. Bagas mendorongnya ke tembok dan mencengkeram lengannya.


"Kau yang meneror kami 'kan? Kau yang melempar batu pada kaca kamar kami dan menuliskan surat ancaman. Nona, aku tahu kau sudah bangkrut. Hingga kini kau memanfaatkan kelemahanku untuk meminta balik semua harta yang telah aku ambil kepadamu."


"Apa maksud kakak?"


Bagas semakin mencengkeram Nona. Nona begitu ketakutan.


"Hahaha... Adikku menggemaskan jika sedang ketakutan. Kau itu sangat cantik, kau wanita idaman kakak. Kenapa tidak dari dulu mau menjadi wanita kakak? Pasti kakak akan memperlakukanmu dengan baik dan memberi semua harta yang kau mau. Sayangnya kau malah lebih memilih Bara. Sudah diapakan apa saja tubuhmu oleh Bara?" tanya Bagas sambil mengusap bibir Nona dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


Nona menendang kaki Bagas. Kakak sintingnya memang sangat gila.


"Dasar predator!" ucap Nona.


__ADS_2