Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 101 : Naik helikopter


__ADS_3

Dewa tersenyum melihat Nona sudah terlelap, ia menyelimuti Nona dan mengecup pipinya. Setelah itu ia ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sambil berendam di bak, ia tersenyum kecil mengingat istrinya yang semakin agresif dan dia sangat kewalahan.


Nuna, kau imut sekali.


Dewa menggosok tubuhnya menggunakan busa mandi sampai bersih, kulitnya kini semakin memutih karena sudah jarang bekerja berat dan sudah lama tidak bermain basket.


Setelah selesai mandi, ia segera keluar sambil menenteng ponsel. Saat ponsel itu bergetar, ia melihatnya dan temannya yang satu gedung apartemen dengannya menyuruhnya naik ke apartemennya.


Dewa langsung memakai baju dan tidak lupa menyisir rambutnya lalu meninggalkan Nona yang terlelap sendirian.


Dewa keluar, ia menuju ke lift untuk menuju lantai teratas bangunan mewah itu. Anak dari sang pemilik gedung ini adalah kakak kelasnya dulu.


Beberapa menit kemudian pintu lift terbuka, ia mengetuk pintu dan menunggu pintu terbuka.


Saat pintu terbuka, ia disuruh masuk oleh mama temannya.


"Tunggu sebentar! Navi sedang mandi."


"Baik, tante."


Dewa duduk menunggu Navier selesai mandi. Disana ia disuguhi banyak camilan terapi tidak menyentuhnya sama sekali. Saat sedang asyik menunggu, papa Navier keluar dan melihat Dewa yang berada di rumahnya.


"Oh... Kau cucu dari Adhiatma?" tanya Sean.


Dewa berdiri lalu bersalaman dengan Sean sambil menganggukkan kepalanya.


"Dunia sempit sekali ya? Kakekmu dulu rekan bisnisku. Kau berteman dekat dengan Navi? Navi jarang sekali membawa temannya kesini kecuali jika teman terdekat."


"Saya adik kelasnya dulu dan kebetulan apartemen saya ada di bawah," jawab Dewa dengan sopan.


Sean tersenyum, ia mengelus kepala Dewa. Dewa menaikkan alisnya melihat sikap Sean yang aneh.


"Imut sekali wajahmu. Jika aku memiliki anak perempuan pasti akan ku jodohkan denganmu," ucap Sean.


"Dia sudah beristri dan akan menjadi seorang ayah," ucap Navier sambil menghampiri mereka.


Sean terkejut. Dewa tersenyum manis kearah Sean.


"Wah... kecil-kecil sudah ganas kau," ucap Sean.


Setelah itu, Navier mengajak Dewa ke kamarnya untuk bermain PS4. Navier memang sudah dekat dengan Dewa karena dulu ia setim basket dengan Dewa.


"Istrimu tidak diajak kesini?" tanya Navier.


"Dia sedang tidur."


"Oh... baru hohohihe ya?" tanya Navier.


Dewa menatap Navier dengan heran. Navier langsung menunjuk resleting Dewa yang terbuka. Dewa terkejut lalu menaikkan resletingnya.


Pantas saja papa Navier menertawakanku.


"Kak Navi, kau tidak bekerja?" tanya Dewa.


"Libur dulu. Capek kerja terus. Oh ya kau kerja dimana?"


"Aku buka toko online sendiri dan baru rintis," jawab Dewa.


Sambil bermain game, mereka terus mengobrol seolah sudah sangat akrab. Navier belum tahu jika Dewa adalah orang kaya sama sepertinya tetapi ia heran kenapa bisa membeli apartemen mewah yang berada di gedung milik Sean yaitu papanya. Navier tidak ingin menyakiti hati Dewa lalu mengurungkan niatnya untuk bertanya.


"Kak Navi, istriku mengidam ingin naik helikopter. Bisa tidak kami naik heli milik Kak Navi?"


"Eh... mengidamnya aneh sekali? Boleh saja, kapan? Sekarang?"


Dewa melihat jam yang menunjukan pukul 4 sore. Sepertinya masih bisa. "Sekarang juga tidak apa-apa, tapi kita main gamenya..."


"Tak masalah... besok-besok masih bisa main game bareng lagi," jawab Navier sambil berdiri. "Aku akan menyiapkan helikopter nya. Kau siap-siap bersama istrimu," pinta Navier.


Dewa tersenyum. Dia mematikan game dan bergegas untuk kembali ke apartemennya. Kali ini, Dewa tidak bisa mengabulkan permintaan istrinya karena tidak memiliki helikopter. Dia harus meminta kakak kelas yang kaya raya itu untuk meminjamkan heli nya.

__ADS_1


Di apartemen Dewa.


"Sayang, jalan-jalan sore naik helikopter yuk."


Nona yang baru saja terlelap membuka matanya dengan lebar. Dia menganggukkan kepala dan langsung mau. Dewa mempersiapkan kebutuhan seperti minyak kayu putih dan permen karena ini pertama kalinya ia naik helikopter.


Berselang menit kemudian. Navier mengetuk pintu apartemen Dewa. Helikopter sudah siap dan sudah terparkir di depan gedung mewah itu.


"Bagaimana? Sudah siap?" tanya Navier.


Mereka lalu turun bersama-sama. Nona sedari tadi melirik presdir muda itu, ini pertama kalinya ia bertemu.


Mas Nagara dan Navier lebih kaya mana ya? Tapi Mas Naga tidak punya helikopter sendiri berarti masih kaya Navier. Batin Nona aneh-aneh.


Mereka menuju ke parkiran belakang gedung. Disana memang ada lapangan khusus helikopter mendarat.


"Ayo masuk! Jangan malu-malu! Anggap saja saudara sendiri," ucap Navier begitu ramah.


Mereka lalu masuk ke helikopter itu. Nona sangat senang karena ini pertama kalinya naik helikopter bersama sang suami tetapi ia melirik Dewa yang sudah tegang.


"Kenapa mas?" tanya Nona.


"Mas takut ketinggian."


Nona tertawa kecil lalu mengusap rambut Dewa. Dewa hanya nyengir kuda. Dia mengambil minyak kayu putih lalu mengusap pada hidungnya. Tak lupa ia berdoa supaya tidak terjadi apa-apa saat diatas.


Baling-baling mulai berputar, Nona tersenyum senang. Dewa semakin berdebar dan memilih untuk menutup mata. Navier si pemilik helikopter masih nampak santai dan tenang.


Saat sudah mengudara diatas, Nampak pemandangan kota metropolitan itu. Nona semakin senang, semenjak hamil ia malah justru terlihat norak padahal dirinya sudah menjadi orang kaya sedari lahir.


"Mas, sepertinya punya heli sendiri enak ya?" ucap Nona sambil menggenggam tangan Dewa.


Dewa tersenyum. "Untuk apa? Mobil saja sudah cukup 'kan?" tanya Dewa.


"Ah... Mas Dewa ini malu-malu, tenang saja hanya kita yang akan tahu jika memiliki helikopter," ucap Nona.


Dewa hanya nyengir padahal dalam hati ia sangat takut naik helikopter.


Setelah berputar-putar hampir satu jam, tiba-tiba saja terjadi guncangan.


Dewa berteriak ketakutan, Nona semakin tertawa senang.


Guncangan semakin terasa, Dewa dan Navier semakin panik. Mereka yang duduk bersebelahan saling menggenggam erat.


"Mama... Navi takut... Navi belum mau mati Maaaa... Navi belum kawin... Navi belum merasakan huaaaaaaaa...," ucap Navier ketakutan.


"Ya Allah, aku belum ingin mati. Anak dan istriku sedang menungguku dirumah," ucap Dewa sambil bersandar pada dada Navier.


Navier menaikkan alisnya lalu berpikir sejenak. "Istrimu disebelahmu pe'ak!" ucap Navier.


Dewa tersadar lalu tersenyum nyengir. Nona hanya menghela nafas melihat kekonyolan dua bocah itu. Sampai guncangan terjadi lagi membuat Dewa dan Navier semakin panik.


"Uaaaaa mama....," teriak Navier.


"Kak Navi, ayo turun! Aku takut...," teriak Dewa panik. "Pak sopir turunkan kami!" sambung Dewa.


Gloooodaaaaak...


Guncangan terjadi lagi. Kini mereka saling menggenggam satu sama lain sambil menutup mata. Nona melirik bocah alay itu sambil terheran.


"Kalian menggenggam apa?" tanya Nona.


"Kau tidak lihat mbak jika kami berpegangan tangan?" ucap Navier masih menutup mata.


Dewa dan Navier membuka mata, ia melihat tangan satu sama lain yang memegang ular dibalik celana.


"Uaaaaaaa... Sialan! Ku pikir menggenggam tangan malah menggenggam ularmu... Tanganku... Uaaaaa tanganku terkontaminasi... Jijik sekali aku denganmu," ucap Navier.


"Kak Navi juga memegang ularku. Ishh...," jawab Dewa sambil mengelap tangannya.


Glooooooodaaaaak....

__ADS_1


"Aaah... Turunkan kami pak sopir! Aku tidak ingin mati seperti ini. Kiri... kiri... pak!" teriak Dewa.


"Kau pikir naik angkot? Duduk kau, Dewa! Nanti jatuh..."


Dewa semakin tidak karuan, badannya bergetar seakan mau pipis dicelana. Guncangan terjadi lagi sampai saat dia berdiri terjatuh di depan Navier tetapi sebuah insiden yang tidak akan membuat dia melupakannya saat bibir Dewa terjatuh di bibir Navier. Ya... mereka berciuman.


Nona sangat terkejut, ia seakan ingin muntah. Saat itulah Dewa menjauhi Navier dan mengelap mulutnya.


"Piyuuuuh... piyuuuuuh... Hueeeek...," ucap Dewa.


Saat itu Navier menelpon mamanya untuk mengadu. "Hallo, ma... Anakmu dicium laki-laki.. Iyuuuuuh... Ma, panggilkan dokter Juna ke rumah. Navi gak mau kena rabies."


Dewa mendengus kesal, ia tidak mau kalah dengan Navier. Dia menelpon Zian. "Zi, panggilkan dokter Logan! Insiden tidak mengenakkan terjadi."


Nona hanya menghela nafas melihat kedua bocah konyol itu yang sungguh alay tingkat Dewa.


"Eitsss... Dokter Logan itu 'kan dokter psikiater?" tanya Navier heran.


"Dokter Juna juga dokter orang bukan dokter hewan? Kenapa rabies memanggil dokter Juna? Kau anjing rupanya?" tanya Dewa.


"Wah... anak ini kurang ajar. Ayo kita bertengkar!" ajak Navier.


Mereka saling bertengkar seperti anak kecil, saling menjambak dan menggelitiki satu sama lain. Nona yang kesal langsung berteriak. "Cukuuuuuuuuuup!!!! Kalian tidak bisa tenang lebih baik keluar dari heli ini!!"


Dewa dan Navier terkejut. Mereka terdiam karena ibu hamil jika mengamuk sangat berbahaya.


Glooooodaaaaak


Terjadi goncangan lagi, mereka tambah panik. Terlihat helikopter akan mendarat darurat. Dewa melihat kebawah, di pinggir tempat itu terdapat rumah. Baling-baling terus berputar membuat semua terbang termasuk atap seng yang mudah terlepas.


Seng tersebut terbang dan ternyata dibaliknya sedang ada orang BAB.


"Mataku rusak... Lihatlah dibawah ada orang pup!" ucap Dewa menutup mata. "Naik lagi saja, pak supir!" sambung Dewa.


"Sialan! Aku berharap jika itu perempuan," ucap Navier.


Ketika helikopter sudah menyentuh tanah, baling-baling masih berputar kencang dan menerbangkan semua yang ada disekitarnya.


Plaaaaak...


Sebuah s*mpak terbang dan menabrak jendela samping mereka. Mereka tersebut dalaman itu tepat menempel di jendela helikopter.


Nona memalingkan wajah malu sedangkan kedua bocah somplak itu tertawa terbahak-bahak.


"Wah... CD mu terbang, Dewa," ucap Navier.


"Itu CD mu amankan dulu!" jawab Dewa.


Setelah baling-baling berhenti, mereka segera turun. Navier memakai kaca mata hitamnya membuat siapapun terpana. Dewa membantu Nona untuk turun, keadaan disekitar rusak parah karena terkena terpaan dari baling-baling raksasa itu.


Tiba- tiba...


Plaaaaak...


Plaaaaak...


Pria yang ternyata adalah yang sedang BAB tadi menampar Dewa dan Navier.


"Kurang ajar! Tak kuasa eike mendapat perbuatan ini. Eike meminta pertanggungjawaban!! Ganti rugi, kalian membuat kamar mandi eike rusak," ucap pria kemayu itu.


Navier dengan angkuhnya mengambil dompet lalu mengambil uang ratusan ribu untuk pria kemayu itu. "Nah, ini uang ganti rugi. Huuuuussss pergi sana makhluk astral," ucap Navier.


"Issssh... Tak kuasa eike.. Untung tampan dan kaya jika tidak akan kuhabisi."


Dewa merasa merinding lalu melihat pria kemayu itu pergi tetapi kembali lagi. "Ini s*mpak eike ketinggalan. Cih... Dasar!"


"Pergi sana kau jauh-jauh! Huh... heli ku harus ku cuci di laut mati untuk menghilangkan kontaminasi dari pria banci itu," gumam Navier.


Dewa dan Nona menghela nafas. Nona mencium pipi Dewa untuk berterima kasih karena sudah mewujudkan mengidam naik helikopter walau banyak kejadian tidak terduga.


"Apa sih yang tidak untukmu, sayang?" ucap Dewa sambil mengecup kepala Nona.

__ADS_1


"Iyuuuuh... Jangan bermesraan didepanku!" ucap Navier.


__ADS_2