Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 83 : Nagara


__ADS_3

Sarah masuk ke kamar yang sudah ia pesan. Dia membanting pintu tetapi Bara menahannya. Bara masuk dan memeluk Sarah dari belakang. Tangan Sarah mendorong tubuh Bara.


"Sarah, jangan seperti ini! Om minta maaf dan tolong maafin ibu!" ucap Bara.


Sarah mengikat rambutnya ke atas menampilkan leher putih dan jenjang. Dia juga melepas gaunnya dihadapan Bara yang sama sekali tidak malu dengan pria matang tersebut.


Bara bisa melihat ada sebuah tatto dipunggung Sarah. Apa Sarah senakal itu? Kenapa Dani membiarkan Sarah mempunyai tatto?


Sarah berganti baju di depan Bara, setelah selesai ia menghadap Bara.


"Kenapa om berdiri disitu saja? Mari sini!" ucap Sarah.


"Sarah, kau tidak ingin menikah denganku?" tanya Bara.


Sarah menyalakan TV, memilih chanel yang menurutnya bagus. Bara menatapnya dengan wajah sendu. Dia ingin sekali mendengar jawaban dari Sarah karena cintanya tidak main-main.


"Om Bara itu kaku sekali. Kita baru pacaran sudah mengajak menikah. Mending om Bara cari wanita lain saja untuk diajak menikah. Aku baru masuk kuliah dan tidak ingin terburu untuk menikah," ucap Sarah sambil duduk bersila diatas ranjang.


"Om hanya bertanya mau menikah denganku atau tidak?"


Sarah memandang Bara yang masih berdiri didepan pintu. Bara yang sangat tampan dengan rambut yang dinaikkan atas membuat Sarah tersenyum manis. "Mau dong beb."


Mendengar jawaban itu, Bara menghampiri Sarah, menggendong Sarah dan menciumnya tapi Bara langsung sadar jika tidak seharusnya melakukan itu. Seperti biasa, dia langsung melepaskan gendongannya dan pada akhirnya Sarah terjatuh lagi.


"Aaaaah... aduh... Om ini kebiasaan deh! Sok suci," ucap Sarah sambil mengelus pantatnya.


"Eh... Maaf sayang, mana yang sakit?"


"Huh... benci sama Om Bara. Dasar Om-om nyebelin!" ucap Sarah.


***


Dewa dan Nona masuk ke kamar hotel yang mereka sudah pesan. Wajah Nona sangat pucat sehingga memutuskan untuk pergi dari pesta itu. Semenjak hamil, perasaan Nona menjadi terbawa di hati. Dia mudah tersinggung dan sakit hati. Perlakuan ibu tiri terhadapnya dan Dewa terbayang-bayang sampai menitikkan air mata.


Sambil berbaring, kaki Nona dipijat oleh Dewa. Nona menangis sesegukkan tatkala mengingat sindiran ibu tirinya dengan para teman-temannya. Padahal biasanya Nona sangat cuek dan dingin tapi entah mengapa saat hamil menjadi seperti ini.


"Sayang, jangan menangis! Kenapa sih harus mendengarkan ocehan mereka? Tidak baik untuk ketiga bayi kita," ucap Dewa.

__ADS_1


Nona tetap menangis, Dewa mengusap air mata Nona yang mengalir tanpa ampun. Dia menghela nafas panjang mencari cara supaya sang istri bisa senang dan tidak memikirkan celotehan orang lain.


"Sayang, minggu depan saat libur kita jalan-jalan ya? Kita ke pantai, bagaimana?" tanya Dewa.


Nona menggelengkan kepala, ia semakin tambah menangis membuat Dewa semakin bingung pasalnya ia tidak pandai membuat wanita berhenti menangis.


"Nuna sayang, cup... cup... cup... jangan nangis dong!" ucap Dewa.


Dewa berdiri mundur satu langkah, menyalakan musik dari ponselnya dan mulai berjoget tidak jelas. Nona yang awalnya cuek tertawa geli, ia melihat sang suami berjoget ala tik tok mulai dari lagu India, lagu barat sampai lagu Korea yang sedang ngehits.


Nona tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut, Dewa tersenyum melihat Nona sudah tidak menangis lagi.


"Ayo sini joget bareng!" ucap Dewa sambil mengulurkan tangan.


Nona menggelengkan kepala tetapi Dewa memaksanya. Dewa mengajak Nona berjoget pelan karena sang istri sedang hamil muda. Mereka menikmati malam ini sebagai pasangan romantis, berjoget, berdansa dibawah remang-remang lampu kamar hotel.


Setelah membuat Nona tenang, Nona menguap lalu tertidur. Dewa mengecup pipi sang istri dan menyelimutinya. Melihat sang istri tadi menangis membuatnya tak hanya tinggal diam saja. Dewa pergi ke atas untuk bergabung dengan para kakak ipar dan teman-temannya.


Dewa berganti dengan baju hem hitam serta memakai dasi merah. Dia berkaca dicermin, sorot matanya seolah mengandung kebencian. Malam ini dia akan menjadi Nagara alias dirinya yang sesungguhnya.


Tombol lift di tekannya, ia masuk sambil menyeringai. Malam ini ia akan membuat bungkam mereka. Nagara yang asli sudah hadir dan siap membalas satu persatu yang telah menghina Dewa dan istrinya.


Ting...


Pintu lift terbuka, ia keluar lalu masuk ke ruang ballroom. Langkah wibawanya terlihat dan aura angkuhnya keluar. Ketika sudah ada di depan pintu, mereka melirik Dewa yang sudah sangat keren dan rapi.


Ternyata mereka yang laki-laki sedang bermain biliard dan yang perempuan dengan menggosip tidak jelas.


"Dewa, kemari! Ayo ikut sini!" ucap Bara memanggil adik iparnya.


Dewa tersenyum lalu mendekati Bara.


"Kau bisa bermain biliard?" tanya Bara.


"Orang miskin mana bisa bermain?" celetuk Bayu.


Dewa terkekeuh seolah itu bukan gayanya. Dia mendekati Bayu dan merangkul kakak iparnya itu. "Mau taruhan berapa, kak?" tanya Dewa.

__ADS_1


Bayu menepis tangan Dewa, ia menatap tajam adik iparnya yang sok dekat itu.


"Tidak punya uang jangan berlagak menantang kami!" sahut Bagas sambil menarik dasi Dewa.


Dewa hanya tersenyum kecil, ia membenarkan dasinya lagi. Dia menghela nafas panjang lalu tersenyum menatap kedua kakak iparnya yang sombong.


Plok... plok...


Dewa menepuk tangan dua kali, seorang pelayan memberikan koper kecil untuknya. Dia mengambilnya dan menaruhnya di meja biliard. Semua orang menatap Dewa dengan heran.


"Jika kau ingin bermain-main minggir saja!" ucap Bayu.


Dewa membuka koper hitam itu, nampak batangan emas mengkilap berada di dalam koper. Semua orang tercengang, mereka satu persatu mengecek keaslian emas itu.


"Ini emas murni asli. Wah... adik iparmu kaya sekali," ucap teman mereka.


"Itu emas hanya satu setengah kilo. Aku menaruhkan emas itu sebagai taruhan. Jika kalian menang maka kalian boleh mengambil emas ini tapi dengan satu syarat aku harus melempar emas ini ke wajah kalian. Bagaimana? Setuju?" tanya Dewa.


Bagas dan Bayu tertohok dengan ucapan Dewa. Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan bocah itu.


"Itu hanya emas mainan. Kalian percaya? Dari mana si miskin mendapat emas sebanyak ini?" ucap Bagas.


"Kau ingin menyombongkan diri tapi menggunakan cara tidak masuk akal. Ini emas palsu, kalian dibodohi bocah ini," sambung Bayu.


Bagas mengambil minuman lalu menyiram ke wajah Dewa. Dewa hanya menajamkan senyumnya.


"Kalian keterlaluan," ucap Bara.


Bara mengambil tisu dan membersihkan wajah adik iparnya yang basah. Dewa masih diam tetapi seolah memikirkan hal lain.


Bara menutup koper emas itu lalu mengajak Dewa untuk keluar tetapi Dewa tidak mau. Dia ingin sekali melempar emas batangan miliknya kearah Bayu dan Bagas.


"Kak Bara, apa aku harus diam saja ketika istriku dihina?" ucap Dewa sambil menatap tajam kearah Bagas dan Bayu.


"Kakak tahu, tapi lebih baik mengalah."


"Mengalah? Ketika harga diri dijatuhkan masih bisa mengalah? Sudah banyak sekali aku mengalah dan kali ini kesabaranku telah habis," ucap Dewa.

__ADS_1


__ADS_2