Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 108 : Hamil?


__ADS_3

"Aku sudah bilang jika Sarah masih belum dewasa. Dia masih mencari jati dirinya. Kau yang sudah dewasa harusnya mengerti," ucap Dani.


Bara menyeruput kopi yang ia pesan dari kantin rumah sakit. Dani memperhatikan sahabatnya, ia tahu jika Bara begitu kecewa dengan perilaku Sarah yang tidak sopan.


"Kau sungguh ingin mengakhiri hubungan kalian?" tanya Dani.


Bara hanya diam seperti berpikir sejenak. Memori saat bersama Sarah tak pernah terlupakan.


Dalam benak Bara, ia tak ingin meninggalkan wanita yang sangat ia cintai tapi mengingat sifat Sarah yang masih kekanakkan membuat Bara harus melupakannya.


Disisi lain, ibu sambung Sarah yaitu Alisa memandangi putri tirinya yang sudah siuman. Alisa mengusap pipi Sarah yang berderai air mata. Kesedihan mengalir begitu saja. Isakan demi isakan keluar dari mulut Sarah.


"Kenapa tidak jujur dari awal? Seperti ini kau yang menanggung sendiri. Aku akan bilang papamu supaya menyuruh Kak Bara bertanggung jawab," ucap Alisa.


Sarah menggeleng. "Jangan tante! Aku tidak mau papa kecewa denganku. Aku bandel dan tidak mau mendengar ucapannya."


Alisa mengusap wajahnya kasar. Bagaimana bisa ini terjadi saat mereka belum menikah? Bara yang di kenal baik dan kalem bisa-bisanya melakukan itu pada anak dari sahabatnya sendiri. Bagaimana jika Dani sampai tahu?


"Tante aku mau gugurkan bayi ini. Tolong bantu aku carikan obatnya!"


"Kau gila Sarah? Banyak orang yang ingin menginginkan kehamilan malah kau ingin menggugurkannya."


"Aku belum siap, tante." Tangisan Sarah semakin kencang membuat Alisa tak sampai hati untuk memarahinya lebih lanjut.


Alisa merengkuh tubuh Sarah dalam dekapannya. Sarah si gadis kurang perhatian menjadi korban keegoisan orang tuanya. Bahkan Dani kurang tegas untuk mengatur putrinya yang bandel dan jarang pulang ke rumah.


"Dokter bilang sudah berapa bulan?" tanya Alisa.


"3 bulan," jawab Sarah sambil sesegukan.


"Bahkan tante baru hamil 1 bulan dan kalian susah curi start dulu."


Pintu terbuka, Dani masuk melihat istri dan anaknya saling berpelukan. Dia senang jika mereka sudah bisa akrab. Alisa yang sadar akan kehadiran suaminya melepas pelukan.


"Kak Bara tidak masuk kemari?" tanya Alisa.


Dani menggeleng, ia mendekati putrinya yang begitu lemas. Tangannya mengelus kening Sarah dengan lembut. Ia tak menyangka gara-gara putus cinta bisa sakit seperti ini.


"Papa, setelah ini aku mau tinggal di Surabaya saja," ucap Sarah.


Alisa terkejut, apa yang di pikirkan Sarah? Dia sedang hamil muda malah memilih tinggal di luar kota.


"Untuk apa tinggal disana?" tanya Dani.


"Aku ingin berkuliah disana."


Dani berpikir sejenak, sepertinya memang yang terbaik untuk Sarah cepat melupakan Bara. Alisa meremas jemarinya dan mengisyaratkan Dani untuk tidak menyetujuinya tapi yang ada malah Dani menganggukkan kepala.


"Okelah, papa akan mengurus semuanya setelah kau sembuh baru bisa berangkat kesana," ucap Dani.


"Mas..."

__ADS_1


"Tidak apa-apa Alisa, Sarah jauh lebih baik disana ketimbang disini bertemu dengan Bara."


"Sarah sedang hamil 3 bulan dan itu anak Kak Bara," celetuk Alisa membuat Dani terkejut.


****


Dewa menemani sang istri si rumah sakit. Walau keadaan Nona lebih baik tetapi ia tetap harus berada di rumah sakit. Sambil mengurus toko online miliknya melalui ponsel, ia mengelus perut besar Nona.


Mata Nona terbuka menatap langit-langit ruangan rumah sakit. Dia masih saja mengingat kejadian saat sang suami dihina dan di caci maki. Guratan demi guratan emosi tergambar di pelupuk mata menjadi sebuah air bening mengalir begitu saja di wajah cantiknya. Kenapa suaminya di perlakukan begitu? Sungguh tidak adil.


Dewa yang sedari tadi duduk didepannya menatap ponsel terkaget melihat sang istri yang menangis. Tangannya mengelap air mata Nona lalu mengelus keningnya.


"Sayang, jangan dibuat pikiran! Kasian bayi kita jadi ikut sedih. Dokter bilang apa kemarin? Tidak boleh banyak pikiran 'kan? Nanti mempengaruhi perasaan bayi kita," ucap Dewa.


"Mereka pasti ikut sedih saat ayahnya di hina sampai segitunya. Aku tidak akan memaafkan ibu dan anak-anaknya apalagi Kak Bara ternyata watak aslinya seperti itu."


Dewa mengecup pucuk kening Nona, memberinya sugesti agar tidak berpikiran apa-apa tapi yang namanya perasaan perempuan tidak dapat di pungkiri lagi. Dia memilih mengutarakan pada sebuah tangisan yang berharap akan segera mencair kesedihan itu.


Ceklek...


Pintu terbuka, ibu datang membawa banyak makanan. Ia tersenyum manis kepada mereka tetapi Nona memalingkan wajah.


"Nona, ibu bawa buah dan roti untukmu. Nanti di makan ya?"


Dewa yang menjawab. "Terima kasih."


Ibu mendekati Dewa lalu bersujud di depan menantunya. Dia meminta maaf sebesar-besarnya atas perlakuannya selama ini hingga menimbulkan trauma bagi Dewa maupun Nona. Dewa membantu ibu untuk berdiri lalu menganggukkan kepala.


Ibu berkaca-kaca, ia memeluk Dewa. Dewa hanya bisa menahan kekesalannya di depan Nona.


"Sudah bu, tidak apa-apa."


Dewa menggenggam tangan Nona untuk memberi kode memaafkan ibu tirinya. Nona awalnya sangat malas mengingat sifat ibu tetapi Dewa memaksanya.


"Baiklah, ini demi Mas Dewa aku memaafkan ibu dan untuk seterusnya aku tidak ingin ibu melakukan hal buruk lagi pada Dewa."


"Ibu berjanji. Terima kasih sudah memaafkan ibu."


Dewa memutuskan keluar dari kamar yang merawat Nona. Dia berjalan menuju keluar mencari udara segar. Berselang menit, ibu datang menghampirinya. Dia mengucapkan banyak terima kasih tetapi respon dari Dewa sangat di luar dugaan.


"Apa ibu pikir aku memaafkanmu semudah itu setelah kau menabur garam pada luka di hatiku? Ketika aku miskin bahkan ibu tidak mau menatapku dan saat aku banyak uang ibu menatapku dengan penuh sendu tapi itu sangat menjijikkan. Ibu orang munafik."


Ibu tersentak mendengarnya, jadi tadi hanya akting Dewa memaafkan ibu di depan Nona? Harusnya Dewa menjadi aktor jika bisa berakting seperti itu.


"Dewa, ibu meminta maaf dengan tulus..."


"Aku juga membencimu dengan tulus dan satu lagi. Panggil aku Nagara! Itu nama asliku," ucap Dewa bahkan tidak menatap ibu.


Dewa langsung masuk ke gedung rumah sakit meninggalkan ibu yang mulai menitikkan air mata. Dewa berdecih, ia sudah sangat sakit hati bertubi-tubi dan saat inilah waktu yang tepat untuk menunjukkan siapa dirinya.


Di rumah sakit yang merawat Sarah.

__ADS_1


Dani begitu murka saat mengetahui putrinya hamil anak sahabatnya sendiri. Bisa-bisanya Bara melakukan itu padahal ia memiliki anak perempuan.


"Kalian bicaralah dulu, kami akan keluar," ucap Dani sambil merangkul Alisa untuk keluar.


Setelah mereka keluar. Sarah hanya diam memalingkan muka tidak berani menatap Bara yang memandanginya penuh intens.


"Selamat. Keinginanmu terkabul. Kau pernah bilang jika suatu saat aku meninggalkanmu kau bisa menahanku untuk pergi dengan dua garis merah dan ini menjadi kenyataan," ucap Bara tanpa ekspresi.


"Om Bara tidak senang?"


Bara tersenyum tipis. "Apakah ini benar-benar anakku?"


Sarah menatap wajah Bara, ia kecewa dengan pertanyaan dari pria itu.


"Om trauma yang namanya tanggung jawab. Om takut jika ini bukan anak om."


"Ini anak Om Bara, kenapa om bertanya seperti itu?"


"Karena aku belum pernah menidurimu."


Ucapan Bara sangat menusuk hati Sarah. Bahkan kekuatannya melebihi terkena bom berkali-kali. Sarah menjambaki rambutnya dan Bara hanya menatapnya nanar.


"Aku memang pria bodoh yang gampang sekali terkena tipu oleh wanita. Aku adalah pria yang paling bodoh."


"Apa yang om katakan? Ini anak om Bara," teriak Sarah.


"Mari kita lakukan tes DNA! Jika itu anakku maka aku akan menikahimu dan jika bukan anakku berarti kau pendusta."


Bara keluar dari ruangan Sarah. Sarah menangis, apakah Bara benar-benar mencintainya? Kenapa Bara seperti itu?


Sarah menarik infusnya dengan kasar, darah mengucur deras dari urat nadinya. Dia berjalan terlunta-lunta dan masuk lift untuk menuju lantai teratas dari bangunan rumah sakit.


Ketika sudah sampai di atas, ia melihat pemandangan kota dari atas ini.


Sarah mencoba melangkah mendekati pagar dinding, ia ingin sekali melompat dan mengakhiri hidupnya.


Jika dengan berpura-pura hamil tidak bisa membuatnya kembali kepada Bara maka inilah yang terbaik untuk mengakhiri hidup.


Ketika kakinya sudah naik ke pagar dinding dan ketinggian sudah terekam pada matanya, ia sangat yakin ingin melompat tetapi tiba-tiba seseorang menariknya.


"Apa kau gila? Kau ingin meninggalkanku?" ucap pria itu adalah Bara.


Sarah menangis histeris di pelukan Bara. Jantung Bara berdegup kencang melihat kejadian barusan. Jika ia terlambat satu detik saja pasti Sarah sudah jatuh dari ketinggian 70 meter.


"Jangan seperti ini Sarah! Om mencintaimu."


"Aku juga sangat cinta dengan om Bara. Jangan tinggalkan aku om!"


Bara menciumi wajah Sarah lalu menangkupnya. Sedikit demi sedikit ia ***** bibir manis milik Sarah, mereka berciuman di atas ketinggian sambil merasakan angin semilir. Mereka saling mencintai tetapi ego yang menjadi penghalang.


*****

__ADS_1


__ADS_2