Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 74 : Jadian


__ADS_3

Pagi hari Dewa terbangun dengan langkah penuh semangat, ia menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Dewa melihat wajahnya yang tidak terawat tetapi ia masih bersyukur karena ketampanannya tidak berkurang. Setelah selesai, ia menuju ke garasi untuk memanasi motor pemberian istrinya. Kenapa Dewa tidak memakai hartanya untuk membungkam mulut-mulut dari keluarga Wiratmaja? Untuk apa? Toh, itu harta kakeknya. Bahkan Dewa juga bisa membeli semua aset milik keluarga Wiratmaja dengan sekali kedipan mata tetapi Dewa sudah menjelma sebagai Dewa yang sederhana. Kehidupannya sekarang jauh lebih berarti jika berjuang sendiri.


Dewa memanasi motornya, membiarkan mesin motor itu berolahraga pagi. Ponselnya bergetar, ia mengenyembulkan senyuman, rupaya sebuah pesan dari sang istri tercinta.


Nanti sore jemput aku, mas! Aku akan pulang ke rumah.


Dewa langsung menelpon istrinya. Dia rindu suara Nona yang khas. Senyumnya mengemban saat mendengar suara sang istri tercinta.


"Sayang, selamat pagi. Jangan lupa sarapan!" ucap Dewa.


***


Bara sudah bangun pagi untuk menyiapkan sarapan. Biasanya ada Sarah yang sedikit membantunya tetapi kali ini ia memasak sendirian karena sudah tidak ada Sarah di rumahnya. Bahkan Sarah juga memblokir nomor Bara membuat Bara menyesali perbuatannya.


"Papa..."


Elara mengecup pipi papanya, ia sudah harus berangkat untuk kuliah. Walau Elara keadaannya belum cukup membaik tetapi semoga saja kesibukan Elara bisa melupakan mamanya.


"Duduklah! Papa akan buatkan susu."


Elara menarik kursi, ia mengambil buah pisang untuk mengganjal perutnya. "Pah, aku ingin membawa mobil sendiri."


"Tidak boleh, papa akan menyewa sopir untukmu."


Elara cemberut padahal teman-temannya sudah membawa mobil sendiri dan contohnya adalah Sarah.


Bara mengaduk susu lalu menyerahkannya kepada Elara. Ketika menatap wajah Elara ada yang sedikit berbeda dari Elara.


"Anak papa sudah pandai bermake up?" tanya Bara.


"Iya pah, biar ada cowok yang naksir."


Bara tersenyum gemas, ia tidak menyangka jika Elara sudah sebesar ini. Tidak bisa membayangkan jika Elara akan menemukan cinta sejatinya dan akan meninggalkan Bara sendirian.


"Pah, kok bengong?"


Bara tersadar, ia menggelengkan kepala. Setelah masakan siap, mereka makan bersama-sama. Nona juga belum terlihat keluar dari kamar membuat Bara tidak nyaman makan berduaan.

__ADS_1


"Lanjutkan makannya! Papa mau memanggil tante Nuna."


Bara melangkah menuju kamar yang ditempati Nona. Dia menaiki tangga dan mengetuk pintu Nona, dari luar dia memdengar suara orang yang sedang mual. Bara langsung membuka pintu, melihat pintu kamar mandi yang terbuka. Kakinya melangkah menghampiri Nona yang tengah berjongkok didepan kloset.


"Nona? Kenapa?" tanya Bara panik.


Bara membangunkan Nona dan memapahnya menuju ke ranjang.


"Mau kakak panggilkan dokter?" tanya Bara.


"Tidak usah kak, baru kali ini aku merasa mual," jawab Nona.


"Apa kau hamil?"


Nona menganggukkan kepala, Bara tersenyum senang lalu memeluk adik tirinya itu. "Selamat Nona, Dewa sudah tahu?"


Nona menganggukkan kepala dengan malu. Dirinya bisa dihamili bocah seperti Dewa. Setelah itu Nona malah membahas Sarah membuat Bara hanya terdiam. Nona tahu ucapan Sarah memang keterlaluan apalagi secara tidak langsung sudah menghina umur Bara.


"Kemarin aku bertanya kepada Arsel, ternyata mereka tidak berpacaran. Itu hanya akal-akalan Sarah saja."


"Sarah masih belum bisa menerima situasi ini apalagi istri kakak baru saja meninggal."


"Aku tahu, Nona. Aku memang gegabah karena baru kali ini aku merasakan cinta yang tulus dari dalam hatiku," jawab Bara.


Bara berdiri, ia mengajak makan Nona. Cinta tidak akan terpisah jauh dari pemiliknya, itulah kata hati Bara yang sesungguhnya.


***


"Bye, pah. Nanti siang jemput, ya?" ucap Elara sambil melambaikan tangan.


Bara yang didalam mobil membalas lambaian putrinya. Elara tumbuh sangat cepat dan tak terasa dia sudah duduk dibangku kuliah.


Setelah mengantar putrinya, Bara memutuskan untuk langsung ke kantornya. Jalan raya cukup ramai lancar, suasana kota ini selalu begini-begini saja. Tidak ada yang istimewa. Hati Bara juga sudah mengikhlazkan Zalina, walau perselingkuhannya masih belum dimaafkan dengan ikhlas tapi mau bagimana lagi jika si pelaku sudah meninggal? Hanya menunggu pelaku pembunuh Zalina terungkap. Siapa yang tega memutilasi Zalina?


Ketika akan sampai di kantornya, ia melihat Sarah dipinggir jalan sedang bingung. Bara ingin sekali turun tetapi Sarah akan tidak suka bertemu dengannya. Tapi hati tidak bisa dibohongi, pada akhirnya Bara menepikan mobilnya dan menghampiri Sarah.


"Eh... Om Bara, bisa bantuin gak? Mobilku mogok," ucap Bara.

__ADS_1


Bara tidak menyangka reaksi Sarah justru sebaliknya, ia terlihat biasa saja dan tidak jijik dengan Bara.


Bara melihat mobil Sarah, karena dia juga terburu-buru pada akhirnya memanggil tukang bengkel langganannya. Sarah meminta Bara untuk mengantarnya ke ujung jalan supaya bisa ke tempat temannya yang bekerja di minimarket.


Bara menganggukan kepala, ia membuka pintu untuk Sarah dan mengantarnya ke ujung jalan.


"Om, maafin aku ya?" ucap Sarah.


Bara tersenyum kecil.


"Aku waktu itu hanya emosi. Om Bara semudah itu melupakan Tante Zalina, tante Nuna menceritakan jika perselingkuhan tante Zalina bukan pertama kalinya. Aku jadi menyadari jika Om Bara begitu sangat kasian. Maafkan aku!"


"Tidak apa-apa, om yang lancang sudah menyukai teman putri om sendiri."


"Om gak salah, aku juga sebenarnya suka sama Om Bara. Ku pikir hanya rasa nyaman sebagai seorang Papa tapi aku menyadari jika lebih dari itu," jelas Sarah membuat Bara terkejut.


Bara memilih menepikan mobilnya lalu menghentikan di pinggir jalan. Keringat dingin membasahi tengkuk lehernya. Apakah Sarah tidak salah bicara? atau ini hanya mimpi?


Sarah menepuk pundak Bara membuat Bara tersadar dari lamunannya.


"Umur om jauh lebih tua darimu..."


"Tak masalah yang penting aku merasa nyaman," jawab Sarah.


Bara tersenyum sumringah, jantung mendadak meledak-ledak. Sarah adalah cinta keduanya.


"Jadi Sarah mau jadi pacar om?" tanya Bara yang mendadak dan tidak sadar atas ucapannya.


"Aku mau, aku mencintai om Bara."


Bara menepuk kedua pipinya, rasa sakit dan panas menjalar di kedua pipinya. Ini bukanlah mimpi, ini nyata. Sarah mencubit gemas pipi Bara. Bara tersadar lagi dari lamunannya.


"Jadi kau sungguh jadi pacarku sekarang?"


Sarah menganggukkan kepala. Bara saking senangnya melepas sabuk pengaman lalu mendekati wajah Sarah untuk menciumnya. Sarah menutup matanya karena baru pertama kali dia mendapat ciuman dari laki-laki. Bara rupanya hanya mencium pipi Sarah. Sarah mengira jika Bara akan mencium bibirnya.


"Sarah, nanti malam om akan mengajakmu ke suatu tempat. Om akan menjemputmu di apartemen," ucap Bara kembali pada posisi duduknya.

__ADS_1


__ADS_2