Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 113 : Main hujan


__ADS_3

Ibu tiri Nona meremas jemarinya tatkala diinterogasi oleh Nona dan Bara, ia tidak bisa menyangkal atas luka memar yang berada pada tubuh Kenzi dan Kenzo.


Bara, anak tertuanya menghela nafas panjang. Baru saja ia berbahagia kini harus ikut menanggung perbuatan ibunya.


"Padahal ibu tidak pernah memukulku tapi kenapa berani memukul cucu ibu sendiri?" tanya Bara.


"Ibu emosi, mereka sangat bandel."


Bara tidak percaya, pasalnya ia sudah sangat mengenal Kenzo dan Kenzi dengan baik. Keponakannya tidak mungkin senakal itu sampai membuat sang nenek memukulnya hingga lebam.


"Bagas sedang sakit, Sita kini mendekam dipenjara karena perbuatannya. Hanya ibu harapan satu-satunya untuk merawat mereka bahkan Sita juga tidak punya kerabat lain," jelas Bara.


Ibu menggelengkan kepala, ia tidak sanggup jika harus merawat kedua cucunya. Kini ia harus diproses di kantor kepolisian karena terbukti menganiaya cucunya.


"Bara, Nona, tolong keluarkan ibu dari sini! Ibu tidak mau di penjara."


Bara berdiri, ia bersiap mendorong kursi roda adik perempuannya. "Akan aku keluarkan setelah selesai berbulan madu. Renungi kesalahan ibu!"


"Tapi Bara, ibu...."


Bara keluar bersama Nona meninggalkan sang ibu di kantor polisi setelah Dewa melaporkannya atas kasus penganiyaan.


Untung saja Bara tidak keberatan karena ia juga tidak tega dengan kedua keponakannya.


Setelah itu, Bara membantu Nona untuk masuk ke mobil untuk diantar sang sopir pulang ke apartemen.


"Nuna, kakak tidak bisa mengantarmu sampai rumah."


"Iya kak, selamat berbulan madu!"


Bara tersenyum, ia mencubit pipi adiknya yang begitu gembul. Nona mendengus kesal, ia merasa diejek. Setelah itu Nona pulang diantar oleh sopir pribadinya. Dia senang karena beberapa hari lagi trio kembar akan keluar ke dunia ini.


Kira-kira siapa nama mereka nantinya? Mas Dewa main rahasiaan denganku.


Disisi lain.


Waktu menunjukan pukul 1 siang, di gudang milik Dewa semua orang sudah sangat santai karena pekerjaan telah selesai dan belum ada pesanan lagi.


Arsel si pria galau sedang menggalaukan nasibnya yang selalu ditinggal menikah dengan wanita yang disukainya.


Ketika teman-temannya sedang asyik bermain game, ia melamun tidak jelas sambil memainkan bolpoin yang ia pegang. Kenapa nasibnya selalu tidak baik dalam urusan percintaan? Apakah ia yang hampir berumur 30 tahun harus melajang terus?


Dewa yang melihat kegalauan temannya hanya bisa tersenyum. Dia memberi semangat kepada pria tampan nan kaya itu.


"Kau itu kaya dan tampan, pasti sangat mudah menggaet wanita cantik," ucap Dewa.

__ADS_1


Arsel hanya tersenyum tipis, jika cantik tidak bisa memikat hatinya untuk apa? Susah sekali untuk mencari wanita yang seperti itu.


"Sepertinya aku terkena kutukan jomblo."


"Hahaha... Aku doakan deh biar kutukannya cepat hilang," jawab Dewa.


Gluduuuuuuk...


Gemuruh pertanda hujan akan tiba terdengar. Suasana langit pun menjadi gelap, terdengar bunyi rintik di genting membuat suasana semakin ramai.


Dewa dan teman-temannya saling berpandangan. Mereka tersenyum secara bersamaan, otak mereka yang nakal seolah memberi tugas negara.


"Dewa, diluar hujan... Lanjutkan, Wa!" ucap Jojo.


"Barang siapa yang menganggurkan hujan saat ini maka akan jomblo seumur hidup jadi mari kita...." ucap Dewa.


"Main hujan-hujanan," teriak mereka secara bersamaan.


Dewa dan teman-temannya langsung berlari berhambur keluar. Mumpung tidak ada pekerjaan mereka bisa bermain hujan-hujanan kecuali Arsel yang tengah merenungi nasibnya didepan teras.


"Woy... Kak Arsel, ayo main!"


Arsel hanya menggelengkan kepala bahkan untuk berdiri saja dia tidak mampu. Badannya terasa sangat lemas.


Dewa kini melepas bajunya, ia tidak sadar jika sebentar lagi memiliki bayi-bayi lucu yang penting dia bisa main hujan tanpa ketahuan Nona.


Mereka mengangguk, sambil bertelanjang dada mereka bergantian main prosotan. Dewa si bocah aneh sangat menikmati permainan kali ini bahkan sampai terjungkal pun ia tidak kapok.


"Sel, ayo ikutan!" teriak Dewa.


Arsel menggelengkan kepala, Dewa mengelap wajahnya yang terkena air lalu menghampiri Arsel yang tengah galau.


"Ayolah! Main hujan gak bakalan bikin sakit," ucap Dewa sambil menarik Arsel.


Arsel menepisnya tetapi Dewa tetap kekeuh untuk mengajaknya bermain hujan-hujanan. Dia menarik Arsel ke halaman yang hujannya kian lebat tetapi jiwanya yang bocah tidak takut akan petir yang menyambar-nyambar.


Pada akhirnya Arsel basah kuyup, Dewa menatapnya dengan senang.


"Hilangkan semua beban! Mari kita bersenang-senang!" ucap Dewa.


Dewa menunjukkan cara asyik main hujan, ia berdiri dibawah talang air yang menjatuhkan air hujan dengan derasnya. Kepala Dewa menadah pada air itu mencontohkan pada Arsel.


Arsel mundur untuk menjauhinya tetapi tangannya ditarik oleh Dewa.


"Ayo coba! Beban pikiran pasti hilang."

__ADS_1


"Umurku sudah tua."


"Apa masalahnya dengan umur. Main hujan tidak ada batasan usia," jawab Dewa.


Dewa meyakinkan Arsel sekali lagi dan pada akhirnya pria itu mau mengikuti ucapan Dewa. Dia berdiri tepat dibawah talang air dan seketika tubuhnya seolah mendapat guyuran yang menyegarkan.


"Asyik 'kan?" tanya Dewa.


Arsel tersenyum sambil menikmatinya. Misi Dewa berhasil membuat Arsel ceria lagi setelah seharian murung. Mereka bermain hujan selama setengah jam. Dewa yang kedinginan langsung berteduh, ia bahkan lupa untuk menghubungi Nona.


Disisi lain.


Nona bersama Kenzo dan Kenzi tengah menikmati mie rebus dikala hujan tapi dipikirannya malah mengingat Dewa. Apakah bocah itu main hujan bersama kawan-kawanya? Mengingat itu kegiatan mereka saat hujan datang.


Bayi-bayinya semakin bergerak aktif membuat tubuhnya sulit untuk bergerak tetapi kedua keponakannya paham jika mereka tidak boleh merepotkan tantenya yang sedang hamil besar.


"Nanti malam papa kalian akan menelpon," ucap Nona.


"Benarkah? Kapan papa akan pulang?" tanya Kenzo.


"Tante juga belum tahu. Secepatnya papa kalian akan pulang."


Bagaimana dengan ibu? Aku yakin pasti Kak Bayu mengeluarkan ibu dari penjara. Huh... semua masalah ini membuat pusing.


Nona beranjak dari meja makan, ia berusaha untuk mengambil air putih dingin di kulkas tetapi Kenzo dengan sigap mengambilkannya untuk sang tante.


"Tante duduk saja! Biar Kenzo ambilkan."


Kenzo berdiri lalu mengambil air di kulkas dan memberikannya kepada Nona. Nona tersenyum melihat Kenzo yang begitu baik dan paham akan kondisinya.


"Tante butuh apalagi?"


"Tidak ada, sana lanjut makan!"


***


Hujan deras membuat perjalanan Bara dan Sarah ke bandara cukup tersendat tetapi mereka tidak khawatir akan tertinggal pesawat karena pesawat pasti delay mengingat cuaca yang buruk.


Didalam mobil, Bara melirik Sarah yang melamun.


"Sayang, jika sementara Kenzo dan Kenzi tinggal bersama kita bagaimana?" tanya Bara.


"Gak mau. Aku gak ingin repot."


Jawaban Sarah membuat Bara kecewa, ia menghela nafas panjang. Memang tidak mungkin gadis manja seperti Sarah mau merawat kedua bocah yang bukan anak mereka sendiri.

__ADS_1


"Selagi menunggu kamu hamil lebih baik sambil merawat mereka. Kenzo dan Kenzi kasian, Nona tidak mungkin merawatnya karena sebentar lagi ketiga bayinya akan lahir."


"Eh... Aku dengar-dengar jika Om Bara mandul? Apa itu benar?" tanya Sarah.


__ADS_2