
Pengantin dadakan itu tengah menyalami para tamu yang hadir terutama kerabat dekat. Pernikahan yang berlangsung sakral ini membuat pengantin baru nampak sangat bahagia.
Bara dan Sarah, memutuskan menikah dengan sederhana mengingat jika Sarah berpura-pura hamil. Tentu saja Dani tidak meloloskan Bara begitu saja, ia menyuruh Bara bertanggung jawab untuk menikahi putrinya.
Pernikahan mereka memang banyak perdebatan, pasalnya Sarah yang berumur 19 tahun menikah dengan pria berumur 40 tahun tepat di bulan ini. Dia tidak malu karena memang Sarah sangat mencintai Bara. Fisik Bara yang seperti umur 30 an membuatnya tidak nampak terlalu tua.
"Ehmm... Om Bara, setelah menikah lalu apa?" tanya Sarah.
Bara menaikkan alisnya. "Ya menjalani kehidupan sebenarnya. Ini 'kan permintaanmu juga, kenapa harus pura-pura hamil? Om jadi terkena jeleknya."
Sarah menunduk, tangannya memelintir kebaya putih yang melekat pada tubuh cantiknya. Diatas pelaminan, mereka duduk diam setelah menyalami beberapa tamu penting yang hadir.
Haduh... Jadi nanti malam aku harus melepas kesucianku untuk Om Bara? Kok aku deg-degan ya. Bisa ditunda gak sih?
"Sarah, yuk kita turun! Nona tidak bisa naik ke tempat ini karena dia pakai kursi roda."
Sarah yang melamun terkejut, ia menyanggupi lalu turun sambil di gandeng Bara.
Nona yang beberapa hari lagi melakukan operasi caesar nampak senang ketika kakaknya sudah menemukan pendamping hidup. Dewa yang berada di belakang Nona juga tersenyum senang tetapi semenjak kejadian itu, Bara seolah berbeda dari biasanya.
Flashback
"Aku sudah tidak ada rasa belas kasihan denganmu lagi, Dewa. Selama ini aku baik denganmu seolah percuma saja, aku baik kepada kedua orang tuamu juga sia-sia," ucap Bara.
Rasa tertohok dibenak Dewa seolah menyerang hatinya yang sakit. Pria yang selalu baik kepada keluarganya ternyata menyimpan pamrih seolah tidak ikhlas. Bocah yang baru genap 20 tahun itu mengerti jika kebaikan Bara selama ini seolah ada maksud lain.
"Aku akan ganti kerugian Kak Bara selama baik denganku atau dengan ibu dan bapakku." Dewa mencoba menatap Bara tetapi pria itu memalingkan wajah.
"Sudahlah, aku bukan orang yang selalu menyangkut pautkan dengan uang. Aku hanya minta jangan sok menasehati Sarah! Aku tidak suka. Mau kami tidur sekamar juga bukan urusanmu," ucap Bara sambil berjalan melewati Dewa.
Padahal aku yakin jika Kak Bara sangat baik tetapi kenapa kau sendiri yang mematahkan kepercayaanku, Kak? Atau mungkin ini karena Sarah? Dia cemburu padaku sehingga membuat Kak Bara seperti ini?
Flashback selesai.
Dewa melemparkan senyum tetapi Bara membuang muka. Ketika Sarah akan mendekati Dewa tiba-tiba Bara menahan tangannya. Sarah hanya terheran melihat suaminya bertingkah aneh.
"Kalian nikmati makanannya! Kami mau menghampiri yang lain," ucap Bara.
Dewa tersenyum tipis. Sepertinya ini memang menyangkut Sarah sehingga Bara menjadi seperti ini. Pria tua itu cemburu pada bocah yang akan memiliki 3 bayi dalam beberapa hari kedepan? Sungguh keluarga Wiratmaja benar-benar aneh.
Dewa mendorong kursi roda yang di duduki Nona untuk menuju ke tempat resepsi. Ia mengambilkan sang istri yang bobot tubuhnya hampir naik 25 kilo.
Tangan bocah itu mengambil sate dan lontong lalu menyuapi Nona yang sudah kesusahan untuk bergerak.
"Aku sudah tidak cantik lagi," ucap Nona memperhatikan wanita-wanita disekitarnya yang langsing dan cantik.
__ADS_1
"Mulai lagi deh, bagi mas itu kau sangat cantik dibanding yang lain. Jarang lho ibu hamil yang masih cakep begini, kulitnya mulus tanpa jerawat, bersinar dan masih fres."
Nona tersenyum kecil, sedikit pujian dari sang suami membuat dirinya seakan terbang melayang. Ia memang sangat suka di puji oleh Dewa.
Saat bersamaan, ibu tirinya menghampiri mereka. Sama seperti biasanya, beliau bersilat lidah merayu Dewa.
"Menantuku, ibu sisakan sate buah untukmu. Ibu juga dapat souvenir dari teman ibu nanti ibu berikan untukmu. Cocok juga untukmu yang begitu tampan."
Dewa hanya membalas dengan anggukkan. Menantuku? Hahaha sebelum tahu jika dirinya kaya saja dianggap menantu juga tidak. Dasar penjilat!
Ibu juga nampak memperkenalkan Dewa kepada teman-temannya. Ia hanya mengikuti permainan mertuanya.
Bapak dan ibu Dewa juga datang, mereka memang belum tahu identitas Dewa sekarang. Dewa masih menyembunyikannya dan belum ingin mengecewakan kedua orang tua asuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di apartemen.
Setelah menghadiri pernikahan kakak iparnya. Mereka pulang ke rumah.
Di kamar mereka sudah penuh dengan perabot bayi, kamar yang begitu luas mereka manfaatkan untuk sekalian menjadi kamar bayi-bayi mereka.
Beberapa saudara sudah membelikan baju dan sebagainya sehingga mereka membeli baju beberapa pasang saja.
"Iya sayang, mas jadi gak sabar."
Dewa terlihat memasang pernak-pernik cantik diatas ranjang calon si buah hati. Nona yang duduk di atas tempat tidur memperhatikan sang suami yang begitu antusias.
"Mas, sudah setahun lebih kita bersama. Aku tidak menyangka jika kita memang berjodoh. Ku pikir Mas Dewa itu hanya bocah ingusan yang bertingkah konyol tapi Mas Dewa lebih dari yang ku sangka."
Dewa tersenyum kecil, apalagi saat ia mengingat perlakuan Nona saat awal menikah membuatnya kesal sendiri tetapi saat itulah awal mereka mengenal satu sama lain.
"Yang membuat mas berkesan itu saat Nuna menyuruhku untuk membuat jadwal kegiatan untuk di tebus dengan makanan. Itu posisi mas memang gak ada duit sama sekali," ucap Dewa.
"Hahaha... Maafkan Nuna! Tapi akting Mas Dewa memang keren. Bisa-bisanya sangat menjiwai menjadi orang miskin."
"Itu bukan akting sih memang kondisi... haha," ucap Dewa merasa sangat geli.
Setelah memasang atribut pada ranjang si jabang bayi. Dewa menghampiri Nona dan membelai rambutnya. Mereka saling bertatapan mata seolah tertuju satu sama lain. Nona sangat bangga dengan Dewa, ia bisa sukses dengan caranya sendiri dengan membangun toko online walau tentu saja pasang surut sering terjadi.
"Ehmm... Tapi Mas Dewa tidak ada niat untuk mengganti nama? Atau sebaiknya kita melakukan akad lagi?" ucap Nona.
"Aku akan berganti nama saja. Nama Dewa akan aku tempatkan di tengah nama asliku menjadi Nagara Dewa Bimasena."
Nona menatap wajah sang suami yang begitu tampan. Apa tidak masalah memakai nama orang yang sudah tiada? Bagi Dewa sendiri tidak masalah karena Dewa adalah saudara kembarnya.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok...
Kepala mereka sama-sama menoleh ke arah pintu. Dewa yang refleks berdiri langsung membukanya. Dilihatnya, sahabat gaib, eh sahabat karibnya yaitu Navier datang sambil membawa mangga muda pesanan Dewa.
"Eh... dapat dimana?" tanya Dewa.
"Ali yang carikan. Oke aku mau balik dulu."
"Makasih, kak."
Dewa menutup pintu lalu menghampiri Nona yang tiba-tiba ingin makan mangga. Nona tersenyum senang lalu menyuruh Dewa untuk mengupaskan.
"Hari terakhir makan mangga, besok-besok setelah lahiran gak akan makan mangga lagi," ucap Nona.
*******
PERINGATAN!!! ADA ADEGAN PANAS!!! HANYA COCOK DIBACA MALAM HARI. YANG PUASA STOP BACA!!!!
"Ehhmm...." Sarah melenguh tatkala suami barunya sedang menggagahinya dari belakang. Dia harus menahan bobot pria yang jauh lebih berat darinya.
Tubuhnya terhentak menikmati setiap permainan ganas dari Bara. Tangannya meremas sprei putih yang tercampur bunga bertaburan di kamar pengantin itu.
"Nggg..."
Bara menghentakkan tubuhnya begitu semangat ketika mengetahui sang istri masih perawan. Desahan demi desahan terdengar dari mulut gadis itu.
"Hhhhh... sa--sa--sakit. Sudah om..."
"Tahan! Belum saja 5 menit."
Bara menyusuri punggung Sarah dengan bibirnya, ia menggigiti secara perlahan lalu tangannya meremas bantal alami di dada Sarah. Sarah semakin tidak bisa terkendali dan hanya bisa pasrah mendapat perlakuan mesum dari suaminya.
"Jangan di keluarin di dalam, ya?"
Bara tidak memperdulikan ucapan Sarah, ia kini merubah posisi senyaman mungkin untuk mengerjai istri cantiknya.
"Emmmmm..... Cepetan dong! Capek!"
Bara menghentikan aktivitasnya lalu melihat wajah Sarah yang memucat. "Berdosa lho jika memotong kesenangan suaminya."
"Ini pun baru jam 8 malam dan Om sudah gak sabaran," ucap Sarah berdiri dari ranjang.
"Sarah, bentar lagi mau keluar."
"Yasudah, Om Bara main saja sendiri," ucap Sarah sambil menuju ke kamar mandi.
__ADS_1