
Di ruangan berbau obat, Bagas mengerjapkan mata. Air matanya menetes tatkala ia sangat merindukan buah hatinya yang masih kecil. Kini ia hanya bisa terbaring lemah di rumah sakit sambil menunggu kesehatannya membaik. Kabar jika Sita ditahan karena kasus pengedaran narkoba oleh pihak kepolisian sudah terdengar ditelinganya tetapi Bagas memikirkan nasib anak-anaknya yang masih duduk di bangku kelas 2 SD dan TK B.
Kedua putranya harus menanggung akibat dari perbuatan orang tuanya. Kini mereka sementara diasuh oleh sang ibu dan tentu saja Bagas belum bisa tenang jika belum melihat keadaan kedua putranya.
Ponsel yang berada di atas meja berdering, dengan susah payah Bagas mencoba mengangkatnya. Nama Bara terpampang di layar ponselnya, ia tersenyum karena sang kakak masih peduli dengannya.
"Hallo?"
"Bagas, sudah merasa baikan?"
Bagas hanya diam, ia menahan tangisannya. Bara tahu kesedihan adiknya.
"Maaf jika aku tidak bisa hadir di pernikahan Kak Bara."
"Jangan dipikirkan! Hanya pesta kecil. Oh ya, Elara akan segera keluar. Kakak akan segera membawanya untuk menemuimu," ucap Bara.
Bagas mengusap air matanya, tangannya bahkan sangat bergetar ketika mengangkat ponselnya. "Apa Ela bisa menerimaku sebagai papa kandungnya?"
"Dia memang ingin tahu siapa ayah kandungnya. Kau jangan khawatir! Dia akan menerimamu. Baiklah, itu saja yang kakak ingin sampaikan. Selamat malam. Istirahatlah yang cukup!" ucap Bara lalu mematikan ponselnya.
Dari kejauhan, Bara melihat kedatangan Dewa dari balik dinding kaca cafe. Dia menaikkan alis tatkala Dewa tidak datang sendirian. Bocah itu membawa dua bocah yang sangat dikenalnya.
Dewa membuka pintu lalu menghampiri Bara yang sedari tadi menunggu.
"Kenzo, Kenzi? Kenapa mereka ada bersamamu?"
Dewa menarik kursi lalu menyuruh kedua anak Bagas duduk disebelahnya. Kedua kakak beradik itu seperti habis menangis sebab matanya memerah dan ada bekas air mata.
"Tadi ketemu dijalan, mereka berlari sambil menangis."
Bara terkejut, ia menelpon ibunya. Kenapa anak kecil seperti mereka bisa berkeliaran dimalam hari tetapi nomor ibunya tidak aktif. Bara menatap keponakannya yang masih sesegukkan.
"Kenzi, Kenzo, kenapa menangis? Kenapa keluar rumah tanpa nenek?"
"Papa, mama..." Kenzi menjawab sambil menangis. Dewa mengusap air matanya.
Bara sangat paham jika kedua bocah itu mencari keberadaan orang tuanya. Dia menghela nafas, melihat keponakannya menangis ia menjadi tidak tega.
"Sudah jangan menangis! Nanti paman akan belikan mainan setelah pulang dari sini."
Kini Bara memandang Dewa, mereka bertatapan mencari selah kebencian. Dewa masih bingung dengan Bara, kenapa ia bisa terseret dalam pertengkarannya dengan Sarah.
"Aku tahu jika Kak Bara kesal denganku karena masalah Sarah 'kan? Kak, kami tidak ada hubungan apa-apa. Tolonglah jangan kekanakkan!"
__ADS_1
Bara menarik nafas dalam-dalam, ia harus berpikir dingin untuk menyelesaikan masalahnya. Dia tahu jika Dewa tidak salah, ia yang terlalu naif karena takut kehilangan istri mudanya.
"Aku hanya ingin meminta maaf atas sikap kakak akhir-akhir ini."
Dewa tersenyum. "Aku sudah memaafkan Kak Bara, namanya orang cemburu pasti dibutakan karena emosi."
Dewa sangat lega jika Bara mau mengakui kesalahannya. Ternyata dugaannya memang benar jika Bara bersikap aneh karena cemburu pada Dewa. Malam ini, kesalahpahaman telah usai. Bara berjanji akan berpikir secara rasional mengingat jika Dewa tidak melakukan kesalahan apapun.
"Ehhmm... Mending Kak Bara pulang saja! Gak baik pengantin baru malah keluyuran. Kasian Sarah."
Bara memandang dua keponakannya, Dewa langsung paham. "Biar duo Ken aku antar ke rumah ibu. Kak Bara langsung pulang saja!"
Bara berdiri sambil mengeluarkan dompet, ia memberikan uang tersebut pada keponakannya karena tidak bisa menepati janji untuk membelikan mainan.
Setelah Bara keluar dari cafe, Dewa bisa bernafas lega karena ia susah tidak ada masalah lagi dengan Bara.
Ia memutuskan untuk mengantar keponakannya untuk pulang.
Di dalam mobil yang dikemudikan oleh Zian. Dewa memangku Kenzi, bocah berusia 5 tahun yang masih sedih. Bahkan mereka masih diam tidak mau diajak bicara.
"Nenek dimana? Kok kalian malam-malam keluar sendirian. Nanti diculik orang jahat bagaimana?" tanya Dewa.
Kedua bocah itu tidak menjawab membuat Dewa semakin bingung. Tangan Dewa meraih ponselnya lalu menelpon ibu mertua. Tak lama kemudian, nenek lampir itu menjawab.
"Menantuku? Ada apa? Ibu sedang bingung pasalnya cucu-cucu ibu hilang."
Ibu heran kenapa bisa bersama Dewa tetapi Dewa langsung mematikan ponsel. Dia tidak ingin basa-basi dengannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat sudah sampai di rumah ibu mertua, Kenzo dan Kenzi berdiri sambil memeluk Dewa. Mereka seolah tidak mau bertemu dengan sang nenek yang sedari tadi mengkhawatirkannya.
"Ken, ayolah! Kasihan Om Dewa, dia juga harus pulang."
Mereka menggeleng dan tetap memeluk Dewa dengan erat membuat Dewa semakin heran. Ketika nenek lampir itu mendekat, pelukan kedua bocah itu kian erat.
"Kami ingin ikut Om Dewa pulang." Suara Kenzo nampak bergetar. Bocah SD itu seolah sangat takut dengan neneknya.
Ibu semakin kesal lalu menarik paksa kedua bocah itu. Dewa tak hanya tinggal diam, ia menahan tangan mereka. "Yasudah, kalian ikut Om pulang ke rumah."
"Dewa, mereka sangat bandel. Biarkan mereka disini," ucap ibu.
Dewa tersenyum kecut. Sebandel apa mereka sampai ibu mertuanya khawatir jika cucunya ikut dengan Dewa? Pasti ada apa-apa diantara mereka. Jelas saja, wajah ibu menjadi pias.
__ADS_1
Dewa menggandeng anak-anak Bagas untuk keluar tetapi ibu selalu menahannya membuat Dewa muak.
"Malam ini biar duo Ken ikut bersamaku. Besok sore akan aku antar kesini lagi," ucap Dewa menatap ibu mertuanya dengan malas.
"Tapi...."
Mereka menaiki mobil meninggalkan ibu yang sangat khawatir. Kenzo dan Kenzi sangat senang bisa pergi dari sang nenek.
Setengah jam kemudian.
Di apartemen.
Nona terheran saat sang suami membawa bocah-bocah nakal ke rumah mereka. Dewa menyuruh kedua bocah itu duduk disofa.
"Mas...."
"Tenang sayang! Mas hanya kasian dengan mereka lari-lari dipinggir jalan. Sepertinya mereka kabur dari rumah ibu," ucap Dewa sambil membuka minuman susu untuk diminum mereka. "Kenzo, kenapa pergi dari rumah nenek?" tanya Dewa.
Kenzo hanya menunduk, ia meremas botol susu dan bahkan hampir menangis. Nona yang hanya duduk diatas ranjang memperhatikan kedua anak-anak Bagas.
"Kami dipukul nenek."
Nona dan Dewa sangat terkejut, Kenzo menarik celana panjangnya lalu menunjukan memar pada pahanya. Nona seketika beranjak dari tempat tidur untuk menghampiri mereka.
"Nenek melakukan itu?"
Kenzo mengangguk, tangannya juga membuka kaos milik adiknya. Terlihat ada memar juga pada punggung Kenzi. Nona yang hatinya sedang lemah menitikkan air mata. Dia tak kuasa menahan kesedihan melihat keponakannya yang begitu malang.
"Papa... mama...." Ringik Kenzi, si bocah TK yang sangat merindukan kedua orang tuanya.
"Sementara kalian tinggal disini ya?"
"Papa... mama..." Ringik Kenzi lagi, ia menangis tersedu-sedu. Kenzo yang tadinya menahan tangisannya, ia ikut menumpahkannya juga tatkala melihat adiknya menangis.
"Mas... Ini bagaimana? Kak Bagas juga sedang dirawat di Singapura."
"Sementara biarkan mereka tinggal bersama kita. Biar mas melapor pada polisi mengenai penganiyaan ini," jawab Dewa.
Nona mengusap wajahnya kasar, kenapa masalah selalu datang padahal beberapa hari lagi si kembar tiga akan keluar. Bagaimana nasib Kenzi dan Kenzo nantinya?
Disisi lain.
Sarah berdandan secantik mungkin dan seseksi mungkin untuk menggoda suaminya yang sempat merajuk dan marah. Bahkan ia memakai baju haram yang sangat tipis.
__ADS_1
Bara yang barusaja pulang terkejut melihat Sarah.
"Bara Wiratmaja..... Yuk main!" ucap Sarah sambil mengedipkan mata.