
Semua orang yang ada di ballroom saling berbisik memandangi Dewa, sedangkan Nona masih menunggu jawaban dari Dewa atas pertanyaannya tadi. Dewa masih diam bingung harus berbicara apa. Sorot mata dari mereka seolah mengintimidasinya.
“Dewa, kenapa diam saja?” tanya Nona sekali lagi.
“Apakah pestanya sudah selesai? Kenapa tegang sekali?” ucap seseorang dari pintu masuk.
Semua orang memperhatikannya, pria tua tapi tampan dengan rambut putih khasnya siapa lagi jika Adhiatma Mahesa. Seorang pengusaha batu bara sukses tak lain adalah kakek Dewa dan Nagara. Nyonya Wiratmaja langsung menghampiri tamu kehormatannya. Dia menyuruhnya duduk. Zian yang berdiri dibelakang kakek menatap Dewa sambil tersenyum manis.
Semua orang lupa akan masalah jepit rambut tadi, mereka memulai makan malam yang super mewah. Nona masih diam membisu memikirkan hal tadi, bagaimana bisa Dewa memberikan jepit kecil yang super mahal itu.
“Karena Pak Adhiatma sudah datang, kita mulai acara makan malamnya. Semoga semuanya menikmati makanan dari chef handal yang keluarga Wiratmaja punyai,” ucap ibu.
Makanan demi makanan keluar, tentu saja makanan yang kualitas baik dan berkelas. Mereka makan dengan diam seperti orang kaya pada umumnya. Teman-teman Nyonya Wiratmaja
memperhatikan cara makan Dewa yang terlihat elegan tidak seperti biasanya yang petakilan. Dewa adalah keturunan ningrat bahkan cara makannya nampak lebih sopan dan berwibawa. Nona melirik Dewa yang sangat mahir mengiris daging
panggang menggunakan pisau tidak seperti biasanya yang belepotan.
Kakek melirik Dewa, cucu kesayangannya dihina didepan banyak orang membuat dirinya sangat geram. Kakek harus membalas perbuatan keluarga Wiratmaja.
“Tuan Adhiatma, terima kasih atas kedatangan anda. Terima kasih juga atas kadonya,” ucap Nyonya Wiratmaja.
Kakek hanya tersenyum kecil. “Suatu kehormatan bisa diundang makan oleh Nyonya. Oh ya, pemuda tampan disamping Nona itu siapa?” tanya Kakek.
Dewa terhenti mengiris daging, ia menatap sang kakek yang tersenyum kepadanya.
“Dia menantu saya, oh ya Tuan mau menambah anggur merahnya?” tanya Nyonya Wiratmaja mengalihkan pembicaraan.
“Kau tampan sekali, nak. Nona kau sangat pandai memilih suami. Kalau boleh tahu apa pekerjaannya?” tanya kakek.
Semua orang menatap Dewa, Dewa melirik kakeknya dengan kesal, untuk apa sang kakek menanyakan hal seperti itu? Dewa berdehem dan menjawab dengan santai. “Saya bekerja di pabrik.”
“Sungguh? Hebat sekali. Nona, kau harus bangga memiliki suami seperti dia. Dia sangat sopan dan tidak gengsi atas pekerjaannya.”
__ADS_1
Dewa tersenyum kecil, ia menundukkan kepala layaknya memberi penghormatan pada sang kakek. Sedangkan Nona juga bangga memiliki suami seperti Dewa walaupun sifat Dewa terkadang konyol.
Nyonya Wiratmaja tersenyum kecil menahan malu, pasalnya semua teman-temannya tahu pekerjaan Dewa.
Beliau mengatakan jika Dewa adalah pegawai negeri sipil supaya tidak terlalu
membuat beliau malu tentang pekerjaan Dewa.
Makanan demi makanan tersaji, mulai dari makanan berat sampai makanan ringan. Memang acara kali ini tidak ada acara tiup lilin karena Nyonya tidak ingin melakukan itu. Setelah satu jam selesai menikmati acara makan kini mereka mengadakan acara dansa.
Dewa meminta izin kepada Nona untuk ke kamar mandi, setelah Nona mengizinkannya ia mengkode Zian untuk mengikutinya. Ada hal yang ingin dia bicarakan dengan Zian.
“Kenapa kakekku datang kesini?”
“Ibu mertua anda yang mengundang.”
Dewa mengusap wajahnya dengan kasar tetapi berkat kedatangan kakeknya ia bisa terlepas dengan insiden jepit rambut itu.
“Aku hanya ingin menyenangkan istri dan ibuku tetapi aku juga membelikan untuk ibu mertuaku. Aku tidak menyangka ada yang sadar dari jepit rambut yang terlihat
murahan itu adalah jepit mahal."
“Pada akhirnya semua akan tahu identitas anda terutama Nona.”
Dewa hanya diam, ia masih tidak bisa membayangkan jika Nona sampai tahu dirinya adalah bukan Dewa yang sebenarnya. Tetapi melihat tangisan Nona membuatnya sedikit merubah rencana. Hinaan dari ibu tiri kepada Nona sangat keterlaluan.
“Aku tidak masalah jika aku yang dihina tetapi beda cerita jika istriku yang dihina. Aku akan membalas semua apa yang telah mereka lakukan kepada Nona,” ucap Dewa.
“Tuan Nagara, jika membutuhkan saya hubungi saja!”
Dewa menganggukan kepala, ia menepuk bahu Zian dan keluar dari kamar mandi. Dewa menghampiri Nona yang duduk diam mengamati jepit rambut pemberian Dewa. Rupanya dia sudah mengecek keaslian benda itu melalui kode nomor yang tertera dibalik jepit rambut menggunakan aplikasi di ponselnya.
Nagara Bimasena, nama pemilik jepit
__ADS_1
rambut ini yang tertera di sertifikat. Siapa dia? Apa hubungannya dengan Dewa? Ini
adalah jepit rambut asli. Kenapa Dewa bisa membelinya?
“Sayang? Perut mas sakit kebanyakan makan enak,” ucap Dewa sambil mengusap perutnya seperti anak kecil.
“Mas Dewa tadi ‘kan hanya makan sedikit,” ucap Nona.
Dewa mengerucutkan bibirnya membuat Nona merasa gemas. Dewa bersandar pada bahu Nona seperti anak kecil. Semua orang menatapnya tetapi Dewa tidak menghiraukan. Nona mengambil jepit rambut warna perak yang telah kotor lalu memperlihatkan kepada Dewa.
“Pokoknya mas harus cerita dari mana mas jepit rambut ini? 2 buah jepit rambut ini seharga 20 juta mas belum lagi pajaknya.”
“Apa sih kok 20 juta? Mas beli di pinggir jalan 10 ribuan. Sumpah.”
Nona mengambil ponselnya lalu menunjukkan jika ada bukti sertifikat dari balik nomor seri pada masing-masing jepit rambut yang beratas nama Nagara Bimasena. Dewa hanya menelan ludah, apakah dia harus memberitahu Nona yang sebenarnya?
“Mas itu orang gak mampu. Tidak mungkin bila membeli jepit rambut 20 juta, mending uangnya bisa buat beli gorengan dapat segrobak,” ucap Dewa.
Dewa merebut jepit rambut itu lalu memakaikannya pada rambut Nona, ia tidak ingin membuat Nona semakin curiga. Diusapnya rambut Nona yang pirang serta dikecupnya dahi Nona membuat semua orang tersenyum kecil.
“Jangan memikirkan yang aneh-aneh! Pikirkan ketiga bayi kita saja! Jangan terlalu banyak pikiran sayang!” ucap Dewa.
Nona mengiyakan ucapan Dewa padahal dia sudah menyuruh Arsel untuk menyelidiki siapakah Nagara yang membeli kedua jepit rambut langka itu. Apa hubungannya dengan Dewa sehingga Dewa mendapatkan jepit rambut super langka dan tentunya sangat mahal.
Disisi lain,
Bara terlihat memarahi Sarah di luar ballroom. Sarah hanya menguap mendengar ocehan Bara yang sudah seperti papanya sendiri. Ternyata mak lampir tersebut bercerita pada Bara jika Sarah sangat tidak sopan dengan sang ibu.
“Om nih sadar tidak jika mulut ibu Om Bara sangat kejam. Dia bahkan melempar kado dariku,” ucap Sarah membela dirinya.
“Tapi setidaknya jangan berperilaku tidak sopan dengan ibuku. Kita juga butuh restu juga dari ibu untuk menikah. Siapa yang mengajarimu berbicara kasar dengan orang tua? Itu tidak baik sayang.”
“Baru pacaran beberapa hari sudah mengajak menikah. Om Bara itu bodoh atau apa? Ibu Om Bara bersikap semena-mena tetapi malah dibela. Aku kecewa dengan Om Bara,” ucap Sarah sambil berlari meninggalkan Bara.
__ADS_1