Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 70 : Kesedihan Bara


__ADS_3

Dewa terbangun ditengah malam, ia mendapati kamar yang tidak familiar baginya. Dia mengucek mata dan memegang keningnya, kepalanya begitu berat bahkan dia masih bertelanjang dada.


Ingatan demi ingatan kembali. Dirinya begitu bodoh dengan mudah ditipu oleh Altaf. Mata Dewa melirik sang istri yang terlelap tidur sangat pulas, ia teringat jika permainannya sangat beringas.


Dewa menelan ludah saat menyibak rambut yang menutupi leher Nona, dipenuhi bekas gigitan merahnya.


Tangan Dewa juga menurunkan baju tidur yang dipakai sang istri dan terlihat bekas gigitan begitu banyak di dada Nona.


"Astaga, ini perbuatanku?" gumam Dewa seolah tidak percaya.


Dewa mengelus kepala Nona. "Maafin, mas! Mas sudah menyakitimu dengan meninggalkan semua gigitan ini."


Kruyuuuuuk...


Perut Dewa terasa lapar, ia melirik jam yang menunjukan pukul 12 malam. Dia baru sadar jika ini berada dirumah Bara. Ia ragu untuk melangkah ke dapur sebab tidak enak kelimpungan di tengah malam begini tetapi perut tidak bisa dikompromi. Pada akhirnya Dewa menuju ke dapur. Baru melangkah keluar, dia mencium aroma wangi makanan.


Siapa yang tengah malam begini memasak?


Dewa menuruni tangga, menghirup aroma wangi yang membuatnya lapar tetapi ia terhenti sejenak sebab dirinya baru mengingat kematian Zalina yang baru seminggu yang lalu. Bulu kuduknya seakan merinding mengingat ia sedang berada dirumah Zalina.


Kenapa jadi merinding?


Dewa mengurungkan niat untuk menuju kedapur. Dia membalikkan badan tetapi tiba-tiba seseorang mengagetkannya.


"Setaaaaaaaaan...." teriak Dewa sambil terjatuh di lantai.


"Apaan sih, Wa?" ucap gadis yang ternyata itu Sarah.


Dewa berdiri, ia mengelus dadanya yang hampir meledak karena terkejut. Bara datang menggunakan celemek, ia ikut kaget mendengar teriakan dari Dewa.


"Kenapa, Dewa?" tanya Bara.


Sarah berjalan melewati Dewa. "Parah banget Si Dewa, aku dikira setan."


Bara tersenyum, ia mengajak Dewa untuk ikut di dapur. Rupanya Bara sedang memasak untuk kedua gadisnya tentu saja untuk Elara dan Sarah, Elara sudah duduk di meja makan untuk menunggu papanya memasak.


Sambil memasak, Bara melirik ketiga bocah yang sedang menunggunya di meja makan. Dia merasa menjadi seorang Papa yang sedang membuatkan makanan untuk anak-anaknya.

__ADS_1


"Dewa, kau menikmati permainanmu tadi? Leher istrimu sampai begitu," ucap Sarah.


Dewa menaikkan alis. "Kok kau tahu jika Nona..."


"Haha... Apa yang tidak aku ketahui," jawab Sarah Bangga.


Elara mendengus kesal tetapi masih bingung kenapa bisa sampai merah begitu sampai akhirnya ia bertanya kepada papanya.


"Pah, saat Mama masih ada kok leher mama tidak pernah merah?" tanya Elara membuat Bara terkejut.


Sarah dan Dewa menahan tawa mendengar pertanyaan maut dari Elara. Bara tidak menjawab karena itu pembicaraan yang tidak baik.


"Om Bara kurang hot sih," celetuk Sarah sambil memainkan jemarinya.


Bara melirik Sarah, "Jangan pernah bilang begitu jika belum pernah melihatnya sendiri!"


Ucapan Bara membuat ketiga bocah itu saling bertatapan. Bara yang sadar dari ucapannya tadi mendadak kaku. Dia begitu malu mengatakan hal seperti itu didepan para ABG itu.


Bara mengalihkan pembicaraan, ia mengajak mengobrol hal yang lainnya. Setelah nasi goreng siap, Bara membaginya dalam 3 piring untuk ketiga ABG. Mereka makan dengan lahap tetapi mereka heran kenapa Bara tidak ikut makan.


"Melihat kalian makan dengan lahap, om jadi senang. Om ingin sekali memiliki 3 anak tetapi Tuhan hanya memberikan om anak 1 saja," ucap Bara.


Elara mengusap punggung papanya. Dia tahu kesedihan Bara selama ini. Bara tersenyum lalu berpamitan untuk tidur karena ini ia sudah sangat mengantuk.


15 menit kemudian.


Sarah mengetuk pintu kamar Bara, Bara membuka pintu yang rupanya dia belum tidur.


"Om Bara, mungkin ini terlihat konyol bagi kita. Ini bukan hal yang pas untuk membicarakan saat berduka seperti ini. Bisakah Om Bara mendekati mamaku? Mamaku juga sudah menjanda setelah berpisah dari suami keduanya. Aku hanya ingin Om Bara menjadi papaku. Elara pasti juga akan setuju jika Om Bara menikah dengan mamaku. Jangan pikirkan Dani sialan itu! Aku juga ingin melihat papaku merasakan sakit hati," pinta Sarah dengan ragu.


Bara membuka pintu kamarnya lebar-lebar, ia begitu terkejut mendengar permintaan dari Sarah. Sarah tidak berani menatapnya karena takut akan reaksi Bara. Pasalnya istri Bara baru meninggal seminggu yang lalu.


"Kau hanya menganggapku seperti papa? Tidak ada hal lain?" tanya Bara.


Sarah mengernyitkan kening.


"Om menyukaimu. Mungkin ini cinta mendadak sekitar sebulan ini. Semenjak papamu sering menitipkanmu kepada om, entah mengapa hati ini tidak dapat dibohongi apalagi istri om tidak bisa memberikan anak kepada, om,"ucap Bara.

__ADS_1


Sarah terdiam kaku, Bara sudah menduga jika Sarah akan berekspresi seperti ini. Umur mereka yang hampir berjarak 20 tahun seperti ada batas penghalang diantara mereka. Bara tidak mau beranggapan lebih jika Sarah akan menerimanya tetapi ia sudah lega mengakui perasaan terlarangnya.


"Aku harap setelah ini jangan jijik dengan om!" ucap Bara.


Sarah mundur, ia berjalan lemas menuju ke kamarnya. Bara bisa melihat wajah Sarah yang seakan tidak suka. Bara menarik tangan Sarah.


"Sarah, jangan jijik dengan om! Maafkan, om!"


"Lepaskan! Aku menganggap om seperti papaku sendiri, aku pikir Om Bara menyayangiku seperti anak om sendiri tetapi nyatanya... Sungguh menjijikkan! Om ini sudah tua harus sadar diri!" ucap Sarah membuat Bara sangat terluka.


Sarah kembali ke kamarnya, membanting pintu sekencang mungkin. Ini adalah kesalahan Bara yang terburu-buru mengungkapkan perasaannya. Bara menutup pintu kamarnya, kesedihan menghampirinya. Dia adalah pria bodoh yang sangat gegabah.


Sedangkan Sarah sedang mengemasi bajunya ke tas besarnya. Dia ingin pulang ke apartemen dan memilih tinggal sendiri. Dia merinding mengingat ucapan Bara. Bisa-bisanya teman sang papa menyatakan cinta kepadanya.


Cih... Menjijikkan! Jadi selama ini dia menganggapku sebagai apa? Huh... Pantas saja dia sangat baik denganku rupanya ada udang dibalik batu.


Setelah berkemas, Sarah memutuskan untuk langsung tidur supaya besok ia bisa cepat pergi dari rumah Bara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bara bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan untuk mereka dan tentunya memasak untuk Sarah supaya ia mendapat maaf dari Sarah. Semua dia lakukan sendiri di pagi buta ini.


Nona yang bangun menuju ke dapur melihat Bara yang memasak sepagi ini.


"Nona, sudah bangun? Duduklah! Kakak akan membuatkan teh untukmu," ucap Bara.


"Tidak perlu, kak. Hem... Kakak bertengkar dengan Sarah. Maaf, aku mendengarnya tadi malam saat hendak ke dapur."


Bara menganggukkan kepalanya. "Kakak yang bodoh."


"Kak Bara tidak bodoh tapi waktunya yang belum pas tapi pasti semua itu ada hikmahnya, siapa tahu Sarah berubah pikiran dan bisa menerima kakak," hibur Nona.


Arsel datang untuk menjemput Nona yang akan pergi ke kebun kopi pagi ini. Bara menyuruhnya untuk ikut duduk dan sarapan tetapi tiba-tiba tubuh Arsel dipeluk dari belakang oleh Sarah.


"Beb, pasti mau menjemput aku ''kan? Yuk kita langsung ke apartemnen, aku sudah tidak betah disini," ucap Sarah.


Bara hanya memandang Sarah dengan diam. Hatinya terasa sakit melihat pemandangan yang menyakitkan itu.

__ADS_1


"Oh ya, kami sudah berpacaran. Kami akan memutuskan untuk tinggal bersama jadi Om Bara tidak perlu repot mencampuri urusanku lagi karena sudah ada Arsel disampingku," ucap Sarah.


******


__ADS_2