
Nona terbangun dari pingsannya, ia melihat Dewa tersenyum didepannya. Dewa mengecup keningnya dan membelai rambut Nona. Mata Nona mengerjap dan mengingat kejadian tadi.
"Kalian tadi..."
"Ssssttt... Itu hanya mimpi," ucap Dewa.
Nona mencoba untuk bangun, Dewa membantunya. Dia melirik jam yang menunjukan pukul 6 lebih. Nona beranjak dari tempat tidur dan segera mandi. Sedangkan Dewa memandang kaca hotel yang menampilkan suasana malam ini begitu gemerlap oleh lampu-lampu kota.
Setelah menunggu setengah jam, Nona selesai mandi. Dia mandi sendiri walau terpaksa, Dewa membantunya untuk memakai gaun warna krem yang membuat Nona sangat cantik elegan. Dewa membantu menyisir rambut Nona dan memasangkan jepit rambut yang dia beli menggunakan uangnya sendiri.
"Apa ini, mas?" tanya Nona.
"Jepit rambut, tadi dijalan mas lihat ada orang jualan ini. Mas teringat rambutmu yang indah jadi mas beli ini," ucap Dewa.
Jepit rambut itu berwarna emas dengan motif bunga, cocok sekali dengan warna rambut Nona yang pirang. Nona sangat senang, suaminya begitu romantis dan manis.
Nona berdiri, tangannya bergelayut manja pada leher Dewa. Nona mencium pipi Dewa, Dewa hanya tersenyum.
"Sayang, mereka sudah menunggu."
"Baiklah, aku juga takut khilaf jika begini," ucap Nona malu-malu.
Nona mengambil tas kresek yang berisi hadiah untuk ibu tirinya. Dia memang tidak niat dalam memberi hadiah. Mereka keluar dari kamar sambil bergandengan tangan. Dewa yang sangat tampan dengan kemeja serta Nona yang cantik dengan gaun yang elegan membuat mereka menjadi pasangan sempurna.
Mereka naik ke ballroom menggunakan lift. Di dalam lift mereka saling berpandangan melempar senyum satu sama lain. Senyum Dewa yang manis membuat Nona meleleh apalagi Dewa adalah tipe idamannya.
Ting...
Pintu lift terbuka, mereka langsung menuju ruangan ballroom yang sudah disewa penuh oleh keluarga Wiratmaja. Ternyata bukan hanya makan malam biasa, Nyonya besar Wiratmaja mengundang teman-teman terdekatnya dan tentu saja dari kalangan konglomerat.
Pelayan membukakan pintu, Nona dan Dewa masuk. Banyak orang yang sudah datang dan melihat kedatangan mereka.
Ketiga saudari tiri Nona sudah datang, apalagi Bara yang sudah terang-terangan membawa Sarah untuk datang ke acara makan malam ibunya. Sarah sangat cantik dengan gaun yang sedikit terbuka. Bara sudah mengingatkan Sarah untuk memakai baju yang tertutup tetapi pada dasarnya memang Sarah bandel.
"Om agak risih melihatnya," ucap Bara.
"Sabar om! Nanti mampir check in, Om ini ya gak sabaran pengen belah duren," jawab Sarah nyeleneh.
Orang disekitar yang mendengarnya hanya tersenyum kecil. Sarah mengeluarkan hadiah dan menghampiri calon ibu mertuanya.
"Selamat ulang tahun, bu. Semoga panjang umur dan sehat selalu," ucap Sarah sambil menyodorkan hadiah.
__ADS_1
Respon Nyonya Wiratmaja tidak menyenangkan, ia melempar hadiah dari Sarah keatas meja. Ibu dari Bara tersebut tersenyum tipis. "Sudah kuterima, sana pergi!"
"Mbah, jika bukan karena Om Bara aku juga tidak akan memberimu hadiah. Bukan karena simbah orang tua dari pacarku aku harus takut sama mbah? Hahaha, misi mbah," ucap Sarah.
"Siapa yang kau panggil mbah? Dasar kurang ajar!"
Sarah berlari kearah Bara yang sedang mengobrol dengan temannya. "Bebeb, aku sudah memberikan hadiah untuk Nenek Wiratmaja."
"Kok panggilnya nenek?" tanya Bara.
"Ya dong, Om lupa ya jika aku seumuran Elara? Ibu Om juga setuju aku panggil dia nenek."
Sabar Bara! Pacaran dengan bocah harus bersabar. Sedikit-sedikit panggil om, malu sekali didengar teman-temanku.
Disisi lain,
Altaf tersenyum sinis sambil menikmati minuman yang telah disediakan, melihat Dewa yang klimis dan tampan membuat dirinya sangat iri.
Nona mendekati ibunya, mengucapkan selamat ulang tahun dan memberi hadiah. Dia tersenyum walau tidak ikhlas. Ibunya melihat Dewa dengan tatapan tidak suka.
"Mana hadiahmu?" tanya ibu.
Dewa menatap Nona, Nona tentu saja menyela omongan ibu. "Itu hadiahnya baru ibu terima."
Dewa mengeluarkan kado kecil, ia berikan kepada sang ibu mertua.
"Ini ada kado untuk ibu," ucap Dewa menyerahkan pada ibu mertuanya.
Sekotak kecil di bungkus dengan rapi dia sodorkan tetapi ibu mertuanya menepis hadiah itu hingga terjatuh di lantai. Semua orang memandangi mereka, sorot ibu mertuanya menandakan jika tidak menyukai Dewa.
"Jika tidak suka jangan dilempar begitu, bu!" ucap Nona kesal.
Ketika Nona akan mengambilnya tiba-tiba saja Bagas lewat dan menginjak hadiah kecil itu. Nona yang sedang hamil membuat perasaannya mudah lembek, ia menitikkan air mata tatkala suaminya mendapat perlakuan buruk.
"Upsss... kakak tidak sengaja," ucap Bagas.
Dewa membangunkan Nona, ia merangkul Nona dan memeluknya. "Sudah tidak apa-apa," ucap Dewa.
Bara mendekati mereka. "Kalian keterlaluan."
"Kau yang mengundang mereka, Bara? Kenapa kau jadi lancang sekali mengundang mereka di pesta ibu?" tanya ibu menatap Bara.
__ADS_1
Bagas tertawa kecil, ia mengambil kado yang habis dia injak. Membukanya dengan ekspresi jijik lalu menaikkan alisnya. "Apa ini? Sebuah jepit rambut? Haha ini hadiah dari bocah itu? Kuno sekali."
Sebuah jepit rambut berwarna perak yang hampir mirip dengan milik Nona menjadi hadiah Dewa untuk ibu mertuanya. Semua orang kaya tersebut hanya menertawakan hadiah dari Dewa. Perasaan Nona menjadi tak karuan mendengar tawa dari orang-orang sombong tersebut.
"Sombong sekali sih kalian? Jangan dilihat hadiahnya! Lihat ketulusannya!" teriak Sarah membela mantan pacarnya.
"Diam kau bocah!" ucap Nyonya Wiratmaja.
Dinda, yaitu istri dari Bayu seakan tidak asing dari jepit rambut itu. Dia mendekati Bagas dan merebut jepit rambut yang nampak kotor karena sempat terinjak lagi oleh Bagas.
"Eh.. Tunggu! Bukannya ini jepit rambut Roseanne Gold?" ucap Dinda membolak-balikkan jepit rambut tersebut. "Ini jepit rambut yang hanya ada 10 keping di dunia."
"Apa yang kau katakan, Dinda? Itu hanya jepit rambut murahan," ucap Nyonya Wiratmaja.
"Tidak bu, ini benar Roaseanne Gold. Harga 1 keping ini sekitar 10 juta karena di desain khusus oleh Smith Peter dari Canada," sambung Dinda.
Nona langsung melepas jepit rambut miliknya, ia memperhatikan dengan seksama dan benar saja itu adalah jepit rambut langka. Bahkan istri Bagas dan Bayu tidak bisa membeli itu karena dilarang oleh suaminya yang sok kaya itu.
Semua orang berbisik memandangi Dewa. Dewa menelan ludah kasar, keringat dingin mulai keluar dari tengkuk lehernya.
"Mungkin saja itu barang palsu, mana mungkin bocah itu bisa membelinya?" ucap Nyonya Wiratmaja masih tidak percaya.
Nona menatap wajah Dewa. Dewa memalingkan wajah seolah bingung harus berkata apa.
"Ini jepit rambut dari mana, mas?" tanya Nona.
"Mas beli di pinggir jalan kok."
"Jawab yang jujur! Mas Dewa beli dimana?" tanya Nona dengan penuh penekanan.
Disisi lain.
Ibu Dewa kelimpungan mencari sesuatu didalam kloset jongkok. Bapak yang lewat di kamar mandi memandang ibu dengan heran.
"Astaga, bu. Ngapain koret-koret WC? Jorok ih!" ucap bapak.
"Jepit yang dikasih Dewa kemarin masuk ke WC, pak."
"Yaudah, bu. Nanti bapak belikan lagi."
"Mana kata Dewa beli pakai uang tabungannya. Ibu gak enak pak. Baru di kasih malah masuk WC."
__ADS_1
"Halah paling tuh bocah beli 20 ribuan di pasar. Sudah bu, Dewa pasti belikan lagi. Bocah itu gak tegaan dengan orang tuanya," ucap bapak.