
"Terserah kau saja, sayang. Aku tidak paham bisnis seperti ini. Selagi membuatmu untung mending lakukan saja!" jawab Dewa membuat Nona tidak puas atas jawabannya.
Nona mengambil berkas untuk pendaftaran kuliah Dewa. Beberapa berkas sudah diisi. Nona menyerahkannya kepada Dewa. Dewa berpikir sejenak, apakah dia harus kuliah? Apakah ia bisa membagi waktu antara bekerja, kuliah dan mengurus keluarga? Membayangkannya saja sudah sangat takut jika Nona akan berpaling kepadanya jika Dewa tidak ada waktu untuknya.
"Sayang, aku tidak yakin..."
"Tidak yakin kenapa? Kuliahlah selagi sempat," ucap Nona meyakinkan Dewa.
"Tapi waktu kita jadi..."
"Ssstttt... Saat malam dan hari libur tentunya adalah waktu bagi kita," jawab Nona.
Setelah selesai makan, Nona mencuci piring yang digunakan Dewa. Dewa bergegas untuk mandi dan berganti pakaian. Malam ini keluarga besar Bara akan melakukan doa bersama untuk Zalina dan tentunya Dewa harus berpenampilan rapi karena akan banyak tamu yang berdatangan.
Air dingin menyejukkan pikirannya, sabun mandi pemberian Nona juga membuatnya menjadi wangi menyegarkan. Tak mau berlama-lama di kamar mandi, Dewa menyudahi mandinya. Tangannya merangkai handuk, ia usapkan pada wajah dan seluruh tubuhnya.
"Sayang, sudah selesai mandinya?" tanya Nona mendengar suara gemericik air sudah terhenti.
Dewa membuka pintu kamar mandi, ia melihat Nona telah menunggunya. Nona membawa pengering rambut, tangan Nona menggandeng Dewa lalu mendudukkannya di kursi. Nona baru pertama kali ini melakukan ini pada Dewa setelah bertanya kepada Bara apa saja yang membuat suami senang setelah pulang dari bekerja.
Dewa membiarkan sang istri memijat kepala dan mengeringkan rambutnya. Usaha Nona untuk membuat Dewa senang rupanya cukup ampuh. Dewa menikmati pijatan lembut dari sang istri. Saat itulah Dewa sadar jika harus memberitahu Nona jika cincin pernikahan mereka hilang.
"Nunaku sayang?" ucap Dewa ragu.
"Hem?" jawab Nona sambil mengeringkan rambut Dewa.
"Jika cincin kawin hilang harus beli lagi atau kawin lagi?" tanya Dewa dengan panas dingin.
Nona menghentikan aktivitasnya. Pertanyaan Dewa membuatnya mengernyitkan dahi, ia mencubit pipi Dewa dengan gemas. "Masih kecil sudah nakal ya? Kawin lagi? Kau mau kawin lagi? Awas jika iya!"
Dewa menggelengkan kepala, ia masih bingung bagaimana cara memberitahu jika cincin miliknya hilang. Nona kembali memijat kepala Dewa, ia tidak memikirkan ucapan Dewa yang tadi. Baginya hanya sebuah candaan.
"Sayang, aku minta maaf jika membuat salah. Maafkan, aku! Aku tidak sengaja melakukannya. Aku...."
"Apa sih, sayang? Bicara apa kamu?" tanya Nona yang bingung.
"Plisss... Jangan usir aku setelah ini!"
Nona memandang wajah Dewa yang nampak panik, ia memegang dagunya sendiri. Tubuh sang suami mendadak dingin membuat Nona terheran. Dewa berjongkok di depan Nona, ia meminta ampun kepada Nona.
"Apa masalahmu, mas?" tanya Nona mencoba memanggil Dewa dengan sebutan mas walau masih kaku.
Dewa terbelalak saat Nona memanggilnya dengan sebutan itu. Nona melontarkan senyuman manis pada Dewa membuat Dewa cukup senang.
__ADS_1
"Mas sayang melakukan kesalahan apa sampai meminta maaf seperti itu?" tanya Nona.
"Huh... Jangan marah ya sayang! Cincin kawin mas hilang, mas gak nyadar jika hilang. Maafin, mas! Jangan hukum mas!"
Nona tertawa kecil melihat ekspresi Dewa yang lucu, ia mencubit hidung Dewa sebagai hukuman. Dewa hanya bisa pasrah jika istrinya harus mencubitnya. Setelah itu, Nona mengambil dompet yang berada didalam tas. Mata Dewa terperanjat tatkala melihat cincin kawinnya ada didalam dompet Nona.
"Kenapa bisa?" tanya Dewa heran.
"Aku menemukannya di kamar mandi rumah lama kita."
Dewa mengangkat Nona menuju gendongannya, mereka saling bertatapan wajah. Dewa begitu kesal karena sang istri hampir membuatnya serangan jantung. Nona meminta turun tetapi Dewa menolak. Tubuh Nona diturunkan di ranjang dan Dewa menindihnya. Manik mata mereka saling bertemu, memadu pandang satu sama lain. Kilauan sinar nampak bercahaya terlihat dari mata mereka masing-masing.
Tubuh seakan bergejolak ingin semakin lebih dari ini, wajah mereka semakin mendekat penuh dengan keinginan. Saat bibir mulai menempel terdengar suara pintu kamar dibuka oleh seseorang.
"Nona, ibu sudah datang..."
Bara yang membuka pintu terkejut. Dewa langsung terbangun dari tubuh Nona. Bibirnya seakan kaku seolah sedang melakukan hal mesum didepan kakak iparnya.
"K--kak B--Bara a--aku, eh kami sedang, eh... maaf! Harusnya kami tidak melakukan ini saat situasi seperti ini," ucap Dewa sambil terbata-bata.
"Kenapa meminta maaf? Kakak yang seharusnya minta maaf. Maaf jika tidak sopan langsung membuka pintu. Lanjutkan saja!" ucap Bara langsung menutup pintu.
Bara menelan ludah, ia merasa bodoh karena langsung membuka pintu tanpa mengetuk. Walau ini rumahnya tetapi dia lupa jika Dewa dan Nona sudah menikah.
Disisi lain, Dewa menghela nafas panjang. Sepertinya dia harus menahan hasratnya. Nona hanya diam dan memang sangat malu terpegok akan berciuman oleh kakak tirinya.
"Sayang, aku mau bilang jika bulan ini aku belum datang bulan," ucap Nona.
Dewa menengok Nona, ia memegang bahu Nona. "Walaupun bulannya gak datang tetapi Dewa sudah datang. Sekarang jadi datang Dewa saja, walau tak ada bulan yang menyinari malammu tetapi Dewa akan selalu menyinarimu sepanjang waktu. Dewa selalu ada dihati dan pikiranmu," ucap Dewa.
Nona menaikkan alisnya tak paham maksud ucapan sang suami. "Mas, maksudku aku belum menstruasi bulan ini. Ihhh... Ngelantur!"
Jantung Dewa berdegup kencang, ia menelan ludah. Nona masih menatap ekspresi Dewa yang seakan tidak suka. "Kenapa hamilnya sekarang? Akhir-akhir ini mas masih sibuk kerja dan pastinya akan sibuk kuliah. Bagaimana ini?" tanya Dewa panik.
Nona melihat Dewa yang mondar-mandir melempar bantal kearah Dewa. Dewa menatap Nona, ia melihat perut Nona yang masih rata lalu mengelusnya.
"Dewa, cepat belikan alat pengetes kehamilan di apotik! Aku ingin tahu apakah hamil atau tidak," pinta Nona.
Dewa menganggukkan kepala, ia mengambil jaket lalu menuju ke apotek terdekat menggunakan sepeda motor. Sarah yang berada di teras mengobrol dengan papanya ingin ikut dengan Dewa. Dewa mengizinkannya, mereka ke apotek bersama-sama.
15 menit kemudian mereka sampai di apotek dekat rumah Bara. Dewa dan Sarah masuk ke apotek bersama-sama.
"Mas, aku mau beli alat yang buat hamil dong," ucap Dewa kepada petugas apotek.
__ADS_1
Petugas apotek itu bingung dengan ucapan Dewa.
"Alat buat hamil?"
"Ho'oh, ada gak?"
"Buat menghamili siapa? Dia?" tanya apoteker menunjuk kepada Sarah.
Sarah menatap Dewa. Mereka saling bertatap bingung.
"Umur berapa kalian? Alat buat hamil 'kan kau punya sendiri," ucap apoteker.
Dewa semakin bingung apalagi dengan Sarah.
"Kau mau beli apa sih, Dewa?" tanya Sarah.
"Itu lho alat yang buat hamil," jawab Dewa.
"Isssh... Aneh, ya? Ingin hamil ya bikin dong! Masak beli di apotek, sekalian aja beli embrio di apotek," ucap Sarah.
Si apoteker hanya tersenyum kecil melihat bocah seperti mereka. Padahal apoteker sudah paham alat yang di maksud Dewa.
Dewa mengacak rambutnya, ia ingin menelpon Nona tetapi tidak membawa ponselnya.
"Sarah, coba tanyakan pada papamu! Alat yang buat hamil itu apa," pinta Dewa.
Si apoteker semakin menahan tawa layaknya sebuah tontonan lucu. Sarah yang dasarnya tidak mengerti maksud Dewa menelpon Dani.
"Papa, alat yang buat hamil itu apaan? Papa pasti tahu," tanya Sarah.
"Apa maksudmu? Ngomong yang benar kau!" jawab Dani.
"Begini pah, Dewa mau beli alat yang buat hamil. Aku tidak paham yang di maksud Dewa itu apa."
"Dimana kalian! Pulang sekarang! Dewa sudah beristri bisa-bisanya kalian seperti itu. PULANG!"
Sarah menjauhkan telponnya saat papanya berteriak meminta dirinya pulang. Mas-mas apoteker itu tertawa kecil karena berhasil mengerjai mereka.
"Nah, kalian pasti mau beli testpack? Anak muda jaman sekarang memang payah, kalian masih bocah sudah.... Oh ya, sudah berapa bulan tidak mens?" tanya apoteker yang lembek itu kepada Sarah.
"Amit-amit jabang bayi! Bukan aku yang hamil tapi istrinya," jawab Sarah.
"Semua beralasan begitu, beli buat temannya, beli buat saudaranya..."
__ADS_1
"Mulut abang ini lemes, ya? Mau kena lempar sepatu?" ucap Sarah yang sudah melepas sepatunya.