Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
SEASON 2 DIMULAI - Bab 1


__ADS_3

Namaku Nagara Dewa Bimasena, 23 tahun. Aku adalah pengusaha online yang dibilang cukup berhasil, manis pahit sudah aku jalani. Mulai dari di tipu pembeli, di tipu suplier, di maki pembeli, di maki suplier semua sudah aku rasakan namun ini semua ada berkahnya juga. Penjualanku semakin meningkat dan bisa menghidupi ke 6 anakku.


Oh ya perkenalkan juga, istriku adalah Nona. Dia bule yang lahir di negara ini dan menikahi bocah sepertiku. Umurnya hampir 10 tahun lebih tua dariku namun ia yang malah justru terkadang bersikap ke kekanakan tapi aku sangat cinta padanya. Dia sudah melahirkan keempat anakku.


Dan perkenalkan kedua putra angkatku bernama Kenzo dan Kenzi. Mereka adalah anak tertuaku.


Sedangkan anak kandungku bernama, Davan, Devan dan Daven. Oh ya, beberapa bulan yang lalu Nona melahirkan bayi perempuan yang imut. Aku beri nama Monalisa. Perpaduan wajah Nona yang bule membuat Monalisa sangat cantik, bulu mata lentik, alis tebal serta matanya yang biru membuat semua orang akan jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Monalisa. Bahkan rambut Mona sudah nampak pirang.


"Mas Dewa, tolong ambilkan minyak kayu putih dong!" pinta Nona yang tengah menyusui Monalisa.


Dewa dengan sigap mengambilkan lalu memberikan kepada Nona. Nona membuka minyak itu dan menghirupnya dalam-dalam. Dia memang tak banyak waktu untuk beristirahat walau sudah memakai pengasuh untuk putra-putranya.


Dewa memandang Nona sangat kasian, ia duduk disamping Nona dan menawarkan liburan pribadi untuknya. Sedangkan anak-anak mereka akan diurus Dewa.


"Nona sayang, mas ada rekomendasi tempat wisata pribadi. Nona jika mau bisa ambil liburan..."


"Gak mau, bagaimana Nuna mau liburan sendiri jika anak-anak kita masih kecil?" ucap Nona memotong ucapan Dewa.


Dewa menghela nafas, ia mengelus kepala Nona. Dirinya tahu jika Nona sangat stres mengurus anak-anaknya. Sambil menyusui Monalisa, Nona mengeluarkan air mata. Dia sudah berusaha menjadi ibu yang baik. Dewa mengelap air mata Nona. Memberikan semangat untuk sang istri.


"Jika lelah bilang ya sayang, nanti mas gantian yang gendong Mona."


"Bentar lagi Mona tidur kok, mas jaga D3 dengan benar selama pengasuh pada cuti."


Mendengar ucapan sang istri, ia teringat ketiga putranya yang baru genap dua tahun itu. Dewa berlari menghampiri ketiga bocah kecilnya yang asyik bermain bedak berukuran besar sampai habis. Muka mereka cemong oleh bedak, sementara si Ven malah menelan bedak itu.


"Wah... anak-anak nakal. Baru ditinggal sebentar sudah main bedak."


"Papapa... edak, akan edak," ucap si Dav menunjuk si Ven yang memakan bedak.


Dewa langsung menggendong Ven lalu memuntahkan apa yang sedang di kunyah balita itu.

__ADS_1


"Pis... pipis... pipis," ucap si Dev yang tiba-tiba pipis mengucur tanpa rasa berdosa.


"Au... au...," sahut Ven yang berarti bau saat melihat Dev pipis dicelana.


Dewa menghela nafas panjang, baru ditinggal cuti seharian oleh sang pengasuh ia sudah kelimpungan. Pria berusia 23 tahun itu mengasuh ketiga putranya dengan telaten. Satu persatu ia cek popok mereka masing-masing mengingat popok milik Ven bocor. Setelah itu ia menyapu bedak yang bertaburan dilantai. Dia sangat berhati-hati sebab sangat licin. Namun kesialan terjadi, ia terpeleset lalu terjatuh ke lantai tapi sialnya ia jatuh telungkup dan burungnya mengenai mainan putranya sehingga membuatnya sangat kesakitan.


"Aduuuuuh... burungku..." teriak Dewa.


Dewa berusaha bangkit namun tangannya yang sebagai penyangga tiba-tiba terpeleset lalu wajahnya jatuh membentur lantai.


DUAAAAK...


"Aaaaaw.... sakit sekali..." ringik Dewa.


Ketiga putranya malah menertawainya. Mereka menyangka jika sang papa sedang bergurau dengan mereka.


Dewa hanya nyengir kuda lalu mencoba bangun untuk menghampiri ketiga bocah itu. Dewa menggelitik perut mereka sampai mereka tertawa terbahak-bahak.


"Mas, jangan menggelitiki mereka! Nanti mereka gak doyan makan," ucap Nona sambil meletakan Monalisa di ranjang.


"Mamanya jika di gelitiki malah bertambah nafsu 'kan?" tanya Dewa.


"Aaah... Apaan sih mas? Lepasin!" jawab Nona meronta.


Dewa mendorong Nona ke sofa lalu menciumnya dengan gemas. Mereka asyik sendiri karena sudah beberapa hari ini tidak melakukan ritual ranjang. Sedangkan ketiga putra mereka naik ke ranjang untuk menghampiri sang adik perempuan yang sedang berbaring sendirian di atas kasur yang empuk.


"Adek... andi," ucap si Dav yang mengucapkan adek mandi.


"edak mana?" tanya si Dev yang mengucapkan bedak mana.


Dav mengambil bedak yang tergeletak pada samping bayi yang baru lahir beberapa bulan itu. Monalisa hanya cengengesan saat kakak-kakaknya membaluri seluruh badannya dengan bedak bayi terutama pada wajah bulenya.

__ADS_1


"'Iaaam...." ucap Si Ven yang menyuruh diam Monalisa.,


Ketiga bocah itu melumuri adiknya dengan senang. Sedangkan kedua orang tuanya malah asyik sendiri. Mereka tidak tahu jika Monalisa sedang dikerjai ketiga kakaknya.


Setelah Dewa dan Nona selesai berciuman. Dewa merasa ada yang ganjil, ia melirik ketiga putranya di lantai sudah tidak ada. Tentu saja membuatnya sangat terkejut.


"Mas? Mona, mas!" teriak Nona langsung menghampiri putrinya yang sedang dalam bahaya.


Dewa dan Nona berlari ke tempat tidur lalu melihat putrinya sudah mandi bedak. Wajahnya seperti donat putih serta seluruh tubuhnya putih karena bedak. Tempat tidur juga terkena bedak begitu banyak.


Nona menggendong putrinya dengan khawatir, tangannya membersihkan semua bedak yang berada di sekujur tubuh Monalisa. Bahkan di mulut Mona juga ada bedak.


Dewa melihat ketiga pelaku, ia menghela nafas lalu menggendong mereka menuju tempat lain. Inilah jika sebentar saja di tinggal, ketiga kembar itu pasti melakukan hal rusuh serta membahayakan.


"Dav, Dev, Ven, gak boleh seperti itu!" ucap Dewa.


Mereka bertiga hanya diam, mereka asyik bermain sendiri-sendiri tanpa mendengarkan ucapan dari sang ayah. Dewa terus-terusan menghela nafas tatkala ketika bocahnya tidak mengerti maksud ucapannya.


"Papa pergi lho jika kalian nakal," ancam Dewa.


"Itut," jawab Ven.


"Jangan nakal-nakal lagi!"


Dewa lalu mengajak mereka keluar untuk menghirup udara segar dan membiarkan Nona menidurkan Monalisa. Ini adalah awal dari kenakalan para putranya belum lagi jika si Mona sudah besar. Pasti rumah akan menjadi kapal pecah jika mereka tidak diawasi.


Saat akan keluar, mereka berpapasan dengan Kenzo dan Kenzi yang baru pulang dari les.


"Papa mau kemana?" tanya Kenzo.


"Papa mau jalan-jalan diluar."

__ADS_1


"Ikut," pinta Kenzi.


Dewa mengangguk, ia membiarkan kedua putranya ikut. Dewa adalah sosok ayah yang baik. Walaupun kelima bocahnya membuat ribut namun ia menyikapinya dengan sabar. Tak ada kata membentak bahkan memarahi berlebihan. Apalagi dengan Duo Ken yang terkadang bandel. Dewa memilih menasehati mereka dengan harus daripada membentak mengingat Duo Ken adalah anak orang lain yang ia asuh menjadi anaknya sendiri


__ADS_2