Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 42 : Nona dan Bara


__ADS_3

“Entah Bayu, Bagas maupun Bara, aku tidak peduli. Aku tahu Kak Bara baik denganku karena ada alasan lain. Aku sudah mengenal sifat mereka dengan baik terutama Kak Bara yang berusaha sok dekat denganku,” jawab Nona.


Arsel memandang wajah Nona yang dingin dari balik spion. “Tuan Bara tidak mungkin akan menusuk anda dari belakang, dia begitu baik. Dia selalu melindungi anda.”


Nona menatap Arsel, ia tersenyum tipis. “Keluarga Wiratmaja tidak ada yang beres, entah ayah, ibu tiri, ketiga kakak laki-lakiku, para istri dan anaknya, mereka semua tidak ada yang benar. Mereka semua memiliki keburukan, aku tidak mempercayai mereka.”


Sama halnya dengan dirimu, Nona.


Sama-sama tidak beres. Hahaha...


2 jam setelah pengadilan harta gono-gini selesai.


Hakim menentukan jika harta ayah mereka dibagi 4 dengan Nona mendapat paling sedikit karena dia perempuan. Bagas dan Bayu tersenyum senang karena ia mendapat apa yang


mereka inginkan, apalagi sang ibu yang tersenyum melihat kekalahan Nona.


Setelah berkas-berkas di tandatangani. Nona memilih untuk langsung pulang


mengurus sisanya.


“Nona, kau ingin makan siang dengan kakak?” tanya Bara.


Nona menganggukkan kepala. Nona menyuruh Arsel untuk mengambil semua barang-barang miliknya dari kantor Alona. Arsel menundukkan kepala dan bergegas pergi.


“Kak Zalin tidak ikut?” tanya Nona.


“Dia tidak enak badan dan kusuruh beristirahat saja.”


“Nuna, adikku yang termanis. Semoga harta yang diberikan cukup untukmu,” goda Bayu.


Nona terhenti dari  langkahnya, dia melihat Bayu dengan wajah datar. Bayu adalah orang yang paling tidak menyukai dirinya. Bahkan sewaktu kecil, Bayu lah yang sering membuat Nona menangis karena mainan Nona dirusak oleh Bayu.


“Kak Bayu, jaga harta ayah dengan baik. Jangan di buat judi yang tidak jelas atau bahkan untuk menambah istri ketiga,” ejek Nona.


Ekspresi Bayu mendadak menjadi kesal, ia mendekati Nona dengan tatapan mematikan. “Lihatlah! Adik kecil ini sudah berani melawan kakaknya,” ucap Bayu.


Tentu saja Bara menghadang Bayu, ia tidak ingin membuat para adiknya saling bertengkar. Bara merangkul Nona lalu mengajaknya ke mobil. Bayu berdecih melihat kedekatan mereka.

__ADS_1


Setelah masuk kedalam mobil, Bara mulai menyetir mobil. Dia melajukan mobilnya menuju ke tempat makan favorit mereka. Bara melihat suasana hati Nona yang senang sesekali melihat Nona tersenyum sendiri.


“Sepertinya sedang bahagia?” tanya Bara.


“Tentu saja, aku membatalkan kontrak pernikahan dengan Dewa. Kami adalah pasangan resmi tanpa status kontrak lagi.”


“Benarkah? Selamat. Oh ya, kau sudah hamil?”


Nona menggelengkan kepalanya. Dia memang belum ada tanda-tanda hamil dan dia sebenarnya juga belum ingin hamil tetapi suami bocahnya sudah meminta bayi yang lucu dengannya. Bara tersenyum simpul, dia tidak salah untuk menyetujui pernikahan sang adik dengan anak tukang kebunnya. Dewa memang sangat baik sehingga Bara mempercayai Dewa untuk menjaga Nona.


“Ku dengar Kak Dani akan menikah lagi?” tanya Nona.


“Aku tidak terlalu tahu sebab dia sering ganti-ganti wanita.”


“Hem... Aku juga baru tahu jika Sarah adalah putrinya. Pantas saja rusuh seperti ayahnya.”


Bara tertawa kecil, dia sempat mendekatkan Dani dengan Nona tetapi Nona tidak mau karena Dani adalah seorang duda apalagi juga sudah mempunyai anak. Nona lebih memilih


berondong ketimbang duda playboy seperti Dani. Setelah sampai di cafe tempat mereka sering datangi, mereka memesan makanan masing-masing. Sambil menunggu makanan, Nona mengirim pesan kepada Dewa, ia bertanya ingin dibawakan makanan


Nona


Sayang, aku ada dicafe bersama Kak Bara. Kau mau dibelikan makanan apa?


Dewa belum membalas pesan, Nona kembali menyimpan ponselnya.  Suasana cafe disini sangat nyaman untuk mengobrol karena tidak ramai orang. Karena tidak ingin canggung, Bara membuka obrolan.


“Kakak memutuskan untuk menyerahkan bagian kakak kepadamu. Kakak terlalu banyak menerima harta orang tua kita,” ucap Bara.


Nona menatap sorot mata Bara, Nona lalu memalingkan wajah. “Tidak usah, kak. Kakak punya anak dan istri yang harus diberi harta juga.”


Pelayan membawakan makanan mereka. Pembicaraan mereka terhenti sebentar. Nona memulai menyantap makanannya, Bara masih memandangi adik bulenya.


“Kau masih menganggap kakak jahat kepadamu?” tanya Bara.


Nona tidak menghiraukan ucapan Bara, dia melahap spagetti favoritnya. Bara menghela nafas panjang, sudah sebisa mungkin ia mendekati Nona tetapi Nona masih menganggap Bara sama jahatnya seperti Bayu dan Bagas.


“Kakak hanya ingin kau bahagia, tidak ada maksud lain.”

__ADS_1


Nona meletakkan garpu disebelah piring, suara garpu itu terdengar nyaring menggema diruangan itu. Nafsu makan Nona seolah menghilang. Rasa kesal terus menghampirinya.


“Kak Bara yang menjual semua aset mommy ku, bahkan tanah yang di bangun di atas perusahaan Kak Bara adalah milik mommy ku.”


“Nona, kau salah paham.  Ayah sudah menjualnya ke orang lain dan kakak membelinya dari orang itu.”


Nona berdiri, ia mengambil tasnya yang di meja. Nona menganggap Bara hanya sebagai penjilat ludah sendiri padahal Bara bukan orang seperti itu. Kaki Nona melangkah menjauhi Bara meninggalkan cafe itu. Bara menghela nafas, dia hanya ingin menyelamatkan tanah warisan milik ibu Nona yang tidak terlalu luas itu.


Pasalnya, orang tua mereka dulu menjualnya ke orang yang salah, tanah itu akan dibuat tempat hiburan malam karena berada di keramaian kota. Bara tidak tinggal diam saja, Bara membeli tanah itu dengan harga tinggi dari orang tersebut. Setelah tanah itu menjadi miliknya, dia membangun kantor perusahaan yang kini masih berdiri kokoh hingga saat ini.


Nona, kakak membelinya dengan  atas namamu sehingga jika keluargaku


mengambil apa yang kau punya maka kau masih memiliki tanah itu untuk membuka


perusahaanmu sendiri.


Nona menaiki taksi untuk pulang, kebahagiaan satu-satunya hanyalah Dewa. Dewa si bocah manis


menunggunya dirumah. Bocah yang selalu membuatnya senang dan nyaman. Nona melirik ponselnya, rupanya Dewa belum membalas pesannya. Tombol hijau


ditekannya pertanda ia menelpon Dewa.


“Sayang, sedang apa? Aku akan pulang, kita makan siang dirumah saja.”


“Nona, aku menuju ke rumah ibuku. Ibuku mengabari jika rumah kami akan disita. Apakah ini karena pembatalan kontrakmu, Nona? Kalian tidak yakin jika kami bisa membayar hutang kami? Aku akan membayarnya, Nona. Kenapa kalian menyita rumah kami tanpa


memberitahu sebelumnya?” ucap Dewa.


Nona tidak mengerti ucapan Dewa, apakah ini ulah ibu tirinya? Ini tidak ada sangkut pautnya dengan mak lampir itu. Orang tua Dewa mempunyai hutang kepada ayah Nona dan hutang mereka dianggap lunas jika Dewa menikahi Nona dan jika kontrak itu batal maka pihak Dewa harus tetap membayar hutangnya sampai lunas ditambah uang pinalti. Itulah yang tertulis di surat kontrak.


“Sayang, aku akan segera kesana. Sungguh aku tidak tahu apa-apa tentang hal ini. Pasti ini ulah ibu tiriku. Jangan biarkan mereka mengambil rumah orang tuamu! Aku akan mengurusnya,” ucap Nona.


Bara yang melihat Nona masih diluaran cafe mendektainya. Sedari tadi Nona belum mendapatkan taksi. Wajahnya begitu cemas dan panik. Bara menghampiri adiknya.


“Kak Bara? Tolong antar aku ke rumah orang tua Dewa. Ibumu sepertinya akan menyita rumah orang tua Dewa,” pinta Nona sambil menarik tangan Bara.


“Apa? Kenapa bisa? Bahkan ibuku tidak berhak melakukan itu.”

__ADS_1


__ADS_2