Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 89 : Kejujuran


__ADS_3

"Mas aku bermimpi jika Mas Dewa bukanlah Mas Dewa. Itu mimpi yang aneh," ucap Nona.


Dewa terhenti menghitung, ia memandangi wajah Nona sambil menelan ludah.


"Apa maksudnya? Aku bukanlah aku? Bagaimana? Bikin pusing," tanya Dewa.


"Aku bermimpi jika Mas Dewa bukanlah Mas Dewa. Jadi Mas Dewa ada dua? Eh... aku pun juga ikut pusing," jelas Nona sambil menggaruk kepalanya.


Dewa berpura-pura sakit perut, ia langsung beranjak tetapi Nona menahan tangannya. Dewa memandang Nona dengan tatapan menyelidik. "Sudah basi jika berbicara serius lalu pura-pura sakit perut."


Dewa langsung terduduk kembali. Nona menghela nafas panjang menatap Dewa yang kini berwajah pucat.


"Mas Dewa kenal yang namanya Nagara? Dia siapanya Mas Dewa?" tanya Nona.


Dewa merasa kikuk, ia bahkan merasa lidahnya kelu. Nona masih menunggu jawaban Dewa yang tidak bisa berkata-kata. Nona beranjak mencari sesuatu diatas nakas. Dia lalu menyodorkan paspor yang ia temukan di tas punggung Dewa. Dewa semakin bingung dibuatnya.


"Dia saudara kembar Mas Dewa? Kenapa foto di paspor ini mirip sekali denganmu?" tanya Nona.


Apakah aku harus jujur sekarang? Aku tidak ingin Nona kenapa napa jika mengetahui hal sebenarnya karena dia sedang hamil, apalagi hamil kembar sangat beresiko.


"Mas kok melamun?"


Dewa terkejut, dia menarik nafas panjang. Berusaha merangkai kata yang pas untuk menjelaskan yang sebenarnya. Bayangan akan kekecewaan Nona sudah ia prediksi sebelumnya tapi mau bagaimana lagi? Mereka sudah menjadi suami istri yang harus saling jujur satu sama lain.


"Mas?"


"Eh.. Begini sayang. Mas minta maaf jika selama ini tidak jujur. Sebenarnya..."


Tit... tit... tit...


Dering ponsel Nona berdering, Nona segera mengangkatnya. Dia beranjak menjauhi Dewa dan menuju ke balkon kamar.


"Bagaimana Arsel?" tanya Nona.


Raut wajah Nona menjadi kesal. Dia melirik Dewa yang juga memperhatikannya. Setelah 5 menit berbicara, Nona menutup telponnya. Dia memandang Dewa dengan tatapan tajam.


Kakinya melangkah menghampiri Dewa, tangannya mengayun menampar pipi sang suami.


"Siapa kau? Di mana Dewa yang asli?" bentak Nona.


Dewa berdiri memegangi pipinya yang begitu nyeri akibat tamparan dari Nona. Nona memandangi suaminya lalu memukul-mukul pundaknya Dewa.


"Siapa kau?" teriak Nona sambil memukul Dewa.


"Aduh... Mas mau jelasin. Jangan pukul dulu!


Nona begitu lemas sampai terjatuh dilantai tetapi Dewa menahannya. Nona menangis histeris. "Dimana Dewa yang asli? Siapa kau sebenarnya?"


"Sayang, maafin mas! Mas sangat terlambat memberitahumu. Tapi mas tetap suami sahmu."

__ADS_1


Nona semakin histeris. "Bisa-bisanya aku ditipu bocah sepertimu. Dasar bocah kurang ajar!"


"Mas bukannya mau menipu."


Dewa menenangkan Nona, ia memeluk Nona dengan erat. Dirinya memang sangat bersalah sudah tidak jujur kepada Nona. Tangannya terus mengusap air mata sang istri. Inilah saat dirinya mengakui semua itu.


Setelah beberapa menit kemudian, Nona nampak sudah agak lebih tenang. Dewa membopong Nona dan membaringkannya di tempat tidur.


Nona tidak mau menatap wajah suaminya.


"Sayang, mas minta maaf."


"Aku saja sangat kecewa apalagi kedua orang tuamu."


Dewa memang sangat bersalah, ia hanya memikirkan perasaannya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.


"Jadi kau bukan Dewa?" tanya Nona.


Dewa mengangguk. "Maafkan, mas! Tapi mas 'kan yang menikahimu dengan sah. Jadi mas pikir tidak ada masalah menyangkut rumah tangga kita tentang ini dan mas juga yang menghamilimu."


"Kau bisa berpikir begitu setelah menipu banyak orang? Memalsukan identitas itu sudah melanggar hukum."


"Tapi mas bukan memalsukan identitas. Mas hanya menjadi Dewa," bantah Dewa.


"Dasar bocah! Saat kau menikahiku memakai identitas Dewa berarti suamiku yang sah dimata negara adalah Dewa yang asli."


Dewa terdiam. Nona beranjak dari tempat tidur lalu mengambil tasnya. Dewa hanya memperhatikan Nona yang akan keluar dari kamar.


"Aku ingin mencari Dewa yang asli. Dia suamiku yang sebenarnya. Kau mencuri identitasnya."


Dewa menarik tangan Nona. "Mana bisa begitu? Mas 'kan yang mengucapkan akad pernikahan kita. Mas suami sahmu."


"Aku benci denganmu! Kau menipuku, aku ingin Dewa yang asli," Nona kembali menangis histeris.


Dewa memeluk Nona dengan erat. Ia meminta maaf yang sebesar-besarnya. Pada akhirnya Nona pingsan membuat Dewa panik. Dewa membopong Nona ke ranjang lalu memberinya minyak kayu putih.


"Nuna, bangun sayang! Maafin mas!"


Dewa menepuk-nepuk pipi Nona tetapi Nona tidak terbangun. Saat bersamaan Arsel menelpon di ponsel milik Nona, Dewa mengangkatnya dan langsung memaki Nona.


"Gara-gara kau, Nona jadi pingsan. Nona sedang hamil kenapa membuatnya syok? Jika kau tahu siapa aku lebih baik simpan dulu informasi itu mengingat kesehatan Nona semenjak hamil menjadi gampang pingsan," ucap Dewa marah.


"Itu semua salahmu. Kenapa menjadi menyalahkanku?" jawab Arsel.


Dewa mendengus kesal lalu menutup telpon. Dia kembali membangunkan Nona, Nona membuka mata dan melihat Dewa sangat panik.


"Sayang, jangan pingsan lagi! Mas sangat takut."


"Dimana Dewa yang asli?"

__ADS_1


"Dewa Arga sudah meninggal sejak SMP."


Tak terasa Nona meneteskan air mata. "Jadi kau siapa?" tanya Nona.


"Aku saudara kembarnya, kita sudah terpisah saat bayi. Namaku Naga lebih tepatnya Nagara Bimasena Mahesa."


Mendengar kata Mahesa, sebuah keluarga ningrat yang sangat kaya raya seketika Nona pingsan lagi.


"Sayang, kok pingsan lagi?" ucap Dewa sambil menepuk jidatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selang infus terpasang pada tangan Nona. Dia mendapat beberapa vitamin untuk daya tahan tubuhnya. Matanya yang terpejam dan tangannya yang begitu dingin di genggam oleh Dewa.


"Kakek sudah bilang, jujurlah lebih awal! Nona saja sampai syok apalagi kedua bapak dan ibu tirimu?" ucap Kakek.


"Ini semua gara-gara Arsel, kenapa dia harus memberitahu Nuna?"


TOOKKK....


Kepala Dewa di getok oleh kakeknya. Dia mendengus kesal sambil mengelus kepalanya.


"Jangan salahkan orang lain! Lambat laun mereka memang harus tahu. Nagara, ini kesempatanmu untuk menunjukan yang sebenarnya siapa dirimu pada keluarga Wiratmaja. Kakek sudah tidak tahan lagi."


"Untuk apa sih kek pamer-pamer? Aku belum mau pamer kepada mereka," ucap Dewa.


Kakek memukul kepala Dewa lagi. TOOOOK...


"Aaaah... Beginilah aku tidak mau tinggal sama kakek. Sedikit-dikit memukul. Sakit tauk."


"Bocah nakal! Sudahlah, kakek mau pulang. Mengurusimu buat pusing sendiri."


Dewa hanya mendengus. Setelah kakeknya keluar dari kamar mereka. Dewa mencium kening Nona membuatnya terbangun.


"Sayang, plis jangan pingsan lagi!" ucap Dewa.


Nona menggigit bibirnya. Tangisan bahkan keluar lagi membuat Dewa bingung.


"Mas harus bagaimana? Mas minta maaf."


"Naga, itu namamu 'kan? Kenapa tidak jujur dari awal? Ternyata aku mempunyai suami kaya raya. Apa ini mimpi? Coba cubit pipiku!" pinta Nona.


Dewa mencubit pipi Nona, Nona merasakan kesakitan. Ini bukan mimpi, ini adalah nyata.


"Woaaaaaaaah... Suamiku kaya raya... Yuuuhuuuuuuuu...." teriak Nona dengan girang.


"Kok jadi berubah pikiran? Tadi menangis gara-gara aku bukan Dewa tapi sekarang?"


"Ssssstttt... Mas Naga sayang, aku mau minta rumah, apartemen, berlian, cincin, jalan-jalan keliling luar negeri, shopping sepuasnya, bulan madu di kapal pesiar."

__ADS_1


"Haaaaa?"


__ADS_2