
Saat jam istirahat tiba, setelah mendapat training seharian ia diajak supervisornya untuk makan di kantin. Pabrik itu mendapat makan gratis dengan menggunakan kupon yang sudah di bagi oleh para supervisor mereka. Para karyawan yang berada disana dominan dengan perempuan tetapi tentu masih ada prianya walaupun sudah setengah baya alias bapak-bapak.
Dewa yang masih terlihat paling imut dan tentunya paling muda menjadi pusat perhatian para wanita disana. Para pegawai wanita dominan dengan usia 25 tahun.
Pak Amri, dia adalah supervisor Dewa yang bertugas membimbing Dewa di masa training. Pak Amri yang berusia seumuran dengan bapak Dewa ini begitu ramah. Beliau juga memiliki anak seumuran dengan Dewa.
Dewa mengantri makanan dibelakang Pak Amri. Dia begitu malu saat di pandang para wanita cantik yang sudah duduk menyantap makan siang mereka.
"Cari jodoh tinggal pilih saja disini," goda Pak Amri.
Dewa tersenyum kecil. Pak Amri belum tahu jika Dewa sudah menikah dan untungnya di perusahaan tersebut tidak ada aturan yang mengharuskan untuk masih lajang.
Setelah mengantri, mereka mencari tempat duduk yang kosong. Makanan yang di dapat cukup banyak, nasi pecel, bakwan, kerupuk, buah dan tentunya minuman dingin. Dewa ingin sekali membuka ponselnya tetapi dia ragu.
"Pak, jam istirahat begini boleh menghidupkan HP?" tanya Dewa.
"Boleh saja. Tapi setelah selesai istirahat matikan lagi!"
Dewa tersenyum senang, sebelum makan dia mengabari Nona jika dia sudah diterima di pabrik sepatu dan hari ini sudah diperbolehkan mulai bekerja. Dewa memberitahu juga jika nanti pulang jam 4 sore. Setelah itu, dia menyantap makanan dengan lahap. Pak Amri memperhatikan Dewa yang lebih banyak diam karena mungkin masih malu.
"Dulu sekolah dimana?" tanya Pak Amri.
"Di SMK Kebangsaan 01."
__ADS_1
"Benarkah? Jurusan apa?"
"Dulu saya ambil jurusan Teknik Permesinan," jawab Dewa sambil mengunyah makanannya.
Pak Amri hanya manggut-manggut. "Sudah pernah melakukan berhubungan badan?" tanya Pak Amri membuat Dewa tersentak.
Pak Amri tersenyum, ia mengambilkan Dewa minuman. Dia memandang Pak Amri dengan heran.
"Hehe, pernah pak. Saya sudah menikah."
Pak Amri bergantian memandang wajah Dewa. Bukannya Dewa baru lulus?
"Saya menikah karena suka bukan karena menghamilinya," ucap Dewa menjelaskan supaya Pak Amri tidak berpikiran negatif.
Pak Amri menelan makananya setelah dikunyah, tangannya mengambil minum lalu di tenggaknya. "Hahaha.. Ya... Aku tahu, tidak mungkin kau yang terlihat baik seperti itu."
"Feeling saja, Tuhan memberi saya anugerah memiliki feeling yang kuat. Tapi hanya kau saja yang ku tanyai karena sepertinya bukan orang yang pemarah. Maaf bila sebelumnya menyinggungmu," ucap Pak Amri.
Dewa tersenyum. "Tidak apa-apa, pak. 'Kan memang benar jika saya sudah pernah melakukan."
"Sebagai orang tua, bapak hanya ingin memberi saran saja. Mau diambil terserah jika tidak juga gak papa. Umurmu masih muda mending punya anaknya di tunda dulu," ucap Pak Amri.
Dewa tertawa kecil, justru malah dia ingin cepat-cepat punya anak. Supaya rumah tangga mereka menjadi sempurna.
__ADS_1
"Tapi kalau kau punya uang tabungan lebih atau kau orang kaya bisa-bisa saja langsung punya anak. Sekarang jamannya serba mahal jika tidak pandai mengelola uang pasti keteteran. Maaf lho ya, bukannya aku sok menasehatimu."
"Tidak apa-apa, pak. Bapak saya juga bilang begitu. Punya anaknya di tunda dulu tapi bagi saya tidak masalah. Itu 'kan resiko pernikahan harus siap mempunyai anak," ucap Dewa.
Pak Amri menunjukkan jari jempolnya ke arah Dewa. "Sip! Pemikiranmu oke."
Dewa tersenyum, mereka melanjutkan makan bersama sampai habis. Suara riuh orang disekitarnya tidak membuat mereka kehilangan nafsu makan, pasalnya para pegawai wanita makan sambil mengobrol seperti emak-emak pasar.
"Pak Amri, pernah tidak bapak di posisi saat bapak tidak punya uang sama sekali tetapi istri Pak Amri yang punya uang banyak. Apa istri Pak Amri pernah bilang aneh-aneh kepada Pak Amri?" tanya Dewa.
Pak Amri tersenyum. Dia menepuk bahu Dewa. "Jadi ini yang membuatmu sedih? Kita sebagai suami memang harus menafkahi istri tetapi jika memang kepepet tidak punya uang, bagaimana? Sebuah keluarga itu harus saling melengkapi saat susah maupun senang," ucap Pak Amri lalu menyeruput es teh yang tinggal setengah gelas. "Yang penting kita sudah berusaha bekerja mencari rezeki untuk anak dan istri kita, kadang juga istri bapak mengatakan hal yang tidak enak jika bapak tidak punya uang tetapi bergantung dari sifat istri, dia bakal pengertian atau tidak. Jika pengertian dia pasti memaklumi jika kita belum bisa memberi uang kepadanya. Intinya jika istrimu mengomel maka di iyakan saja. Jangan di masukkan ke hati! Sebenarnya hati istri itu tidak bakal tega kepada suami," sambung Pak Amri.
Dewa meresapi setiap ucapan Pak Amri yang bijak. Dewa beruntung memiliki supervisor yang baik dan selalu menasehatinya.
"Kerja disini mudah untuk naik pangkat. Asalkan mau kuliah dan tekun. Lihatlah anak-anak disini pemimpinnya masih pada muda. Bapak yang sudah paling senior disini malah hanya supervisor saja," jelas Pak Amri.
Dewa semakin duduk mendekat ke Pak Amri, dia ingin tahu berapa perbandingan gaji karyawan biasa dan supervisor. Pak Amri menjelaskan dengan detail. Dewa semakin tertarik untuk bekerja dengan tekun dan rajin supaya mempunyai kesempatan untuk naik pangkat.
"Gaji karyawan biasa hanya 4 juta, gaji supervisor seperti saya 8 juta, gaji manajer 20 juta dan gaji general manajer bisa 50 juta. Itu belum mendapat bonus bulanan, bonus tahunan, bonus target, bonus jalan-jalan ke luar negeri. Kalau hanya jadi karyawan biasa hanya dapat gaji pokok 4 juta saja. Maka dari itu mumpung kau masih muda lebih baik tunda punya anak dulu. Fokuskan untuk bekerja dan mencari uang! Anak bapak juga aku ajarin seperti itu," jelas Pak Amri.
Dewa terdiam, apakah dirinya hanya pasrah menjadi karyawan biasa saja dengan gaji UMK. Padahal kebutuhannya begitu banyak, membayar hutang, menafkahi Nona dan tentunya biaya jika ia sudah mempunyai anak. Tetapi dia juga tidak punya uang untuk kuliah.
"Bicarakan dengan istrimu! Ajak dia musyawarah. Aku tahu tentang kondisimu sekarang, bahkan keluarga istrimu juga meremehkanmu 'kan? Sebagai seorang lelaki jangan mau di remehkan. Buktikan jika kau mampu. Buat mulut mereka bungkam dengan hasil usaha kepadamu! Tapi intinya satu, jika ingin naik pangkat harus kuliah dan tentunya harus tekun. Aku bisa membantumu supaya cepat naik pangkat tapi kau harus kuliah," ucap pak Amri.
__ADS_1
Dewa meletakkan sendok yang sedari ia remas. Dia berpikir sejenak, ucapan Pak Amri membuatnya ingin maju. Dewa memang masih muda bahkan Pak Amri bisa melihat jika Dewa akan menjadi orang sukses jika dia mau berusaha sekuat tenaga. Dewa hanya membutuhkan dorongan dari orang-orang sekitarnya terutama sang istri.
"Oke, pak. Saya ingin sukses. Saya akan bicarakan dengan istri saya. Terima kasih motivasinya."