
Setelah selesai mandi, Dewa segera bergabung dengan anggota keluarga yang lain. Mereka bercengkerama membicarakan seputar kematian Zalina yang mendadak. Namun tiba-tiba...
“Dewa, kudengar kau mabuk? Kau sudah masuk ke keluarga Wiratmaja bisa-bisanya melakukan hal seperti itu,” ucap Bagas.
“Kak Bagas tidak sadar diri jika kakak malah lebih parah dari itu,” ucap Nona.
Bara tersenyum kecil sementara Bagas menatap tajam Nona. Dewa yang sadar langsung menarik kepala Nona untuk bersandar pada bahunya. Nona tersenyum sambil memandang Dewa yang pengertian. Bagas memilih keluar untuk sekedar merokok, saat membuka pintu ia terkejut melihat motor Dewa yang terparkir disebelah mobilnya. Bagas mengirim pesan kepada Bayu untuk mengajak Dewa untuk keluar. Sambil menunggu mereka
keluar, Bagas menyesap rokok lalu menghembuskan asap dari mulutnya.
Dewa yang dirangkul oleh Bayu merasa risih, ia meminta Bayu untuk menurunkan tangannya
dengan sopan. Bayu berdecih lalu mengelap tangannya yang merasa terinfeksi dari virus miskin Dewa.
“Adik ipar, pindahkan motormu!” ucap Bagas.
Dewa menganggukkan kepala. Dia memindah motor maticnya kedekat mobil Bara. Setelah
itu ia akan masuk ke dalam rumah tetapi Bagas mencegahnya.
“Kudengar kau suka membersihkan mobil Bara dan Bara meberimu upah? Sekarang tolong cucikan mobil kami nanti aku akan beri uang!” ucap Bagas.
Dewa mendengar itu langsung senang karena ia mendapat uang tambahan untuk bertahan hidup. Dewa mengiyakan lalu segera mengambil selang dan sampo khusus mobil. Dia membersihkan dengan semangat, ia memang senang jika mendapat tambahan pekerjaan seperti ini. Bagas dan Bayu masuk kedalam membiarkan adik ipar mencuci mobil mereka. Dewa mencucinya dengan hati-hati pasalnya mobil milik kedua iparnya
merupakan mobil mewah. Disaat bersamaan, Nona datang. Dirinya terkejut melihat
sang suami mencuci mobil.
“Apa yang mas lakukan?”
“Lumayan nanti dapat tambahan uang.”
“Mas tidak perlu melakukan ini, mereka hanya merendahkan Mas Dewa,” ucap Nona.
Dewa tetap mencuci mobil tanpa menghiraukan ucapan sang istri. Nona menarik Dewa tetapi Dewa menepisnya. “Mas sudah biasa mencuci mobil begini sebelum menikah denganmu. Lumayan buat tambah-tambah beli bensin. Sayang jangan khawatir, sebentar lagi selesai.”
Nona menghela nafas panjang, ia menunggu Dewa mencuci mobil. Dia menatap kagum sang suami yang begitu rajin dan mempunyai pemikiran dewasa. Nona menangis sedih pasalnya kehidupannya selama ini bergantung pada harta sang ayah, ia hanya
melanjutkan saja tetapi pada akhirnya harta itu kembali pada sang pemilik sebenarnya. Melihat kegigihan Dewa, ia
__ADS_1
menjadi malu sendiri.
“Sayang, gajian pertama nanti aku mau mengajak teman-temanku makan-makan. Boleh tidak? Saat kita menikah mereka tidak kuundang, aku merasa bersalah,” ucap Dewa.
Nona mengelap air matanya, ia tersenyum memandang Dewa. “Terserah mas saja.”
Dewa mengusap keringat pada lengannya. Dia juga membalas senyuman Nona. “Biar ibuku
yang memasak supaya irit.”
Nona mendekati Dewa, mengusap wajah Dewa dengan tangannya. Mereka bertatapan dibawah sinar rembulan. Mata mereka terikat satu sama lain, Dewa tidak bisa membayangkan jika Nona sampai tahu kebenarannya jika dirinya bukanlah Dewa melainkan Nagara Bimasena.
“Sayang, akhir minggu kita ke dokter kandungan ya? Aku ingin melihat bayiku.”
“Baik, aku juga tidak sabar. Bagaimana ya wajahnya saat sudah lahir nanti?”
“Pasti bule sepertimu.”
Dewa melanjutkan pekerjaannya yang sempat ia tinggal bermesra-mesraan. Nona tetap menunggunya sampai selesai. Beberapa menit kemudian, akhirnya selesai juga. Dewa membereskan selang dan tidak lupa menggulungnya. Bagas keluar dan melihat mobilnya sangat bersih. Dia
mengambil uang didompetnya lalu melemparnya tepat dibawah kaki Dewa. Hanya uang 20 ribu yang didapat oleh Dewa.
“Itu uang juga untuk membayar mobil Bayu, jadi kau tidak usah meminta uang padanya lagi,” ucap Bagas.
“Tidak apa-apa. Rezeki sedikit harus kita syukuri. Ayo masuk sayang! Lama-lama dingin juga diluar,” ucap Dewa sambil menggandeng Nona masuk kerumah.
Di dapur,
Nona menatap Dewa yang tengah makan malam sendirian didapur. Dia bisa melihat wajah lelah Dewa. Dewa makan sangat lahap karena sedari pulang kerja belum makan. Suapan demi suapan Dewa nikmati sambil bersyukur karena pasalnya diluar sana masih banyak yang kelaparan.
“Aku tidak tahu lagi harus bagaimana? Penjualan tokoku semakin sepi. Persaingan semakin ketat, bisa-bisa kedua tokoku bangkrut. Satu-satunya harapan hanyalah kebun kopiku,” curhat Nona.
“Maaf, mas tidak bisa membantumu banyak. Mas tidak bisa apa-apa.”
Nona tersenyum kecil, ia menggenggam tangan Dewa. “Melihat usahamu sekarang pasti suatu saat mas akan menjadi sukses.”
“Doakan, sayang! I love you.”
**
__ADS_1
Dewa memutuskan pulang dari rumah Bara setelah menyelesaikan makan malamnya. Dia memakai helm dan sudah naik ke atas motor. Bara menyuruh Dewa untuk menginap seperti kemarin tetapi dirinya menolak karena beralasan seragam kerjanya yang bersih ada dirumah Nona. Bara membisikan sesuatu ditelinga Dewa tetapi tangannya menyelipkan sejumlah uang untuk Dewa.
“Jangan menolak!” ucap Bara.
“Kak, aku bukan pengemis.”
“Siapa yang menganggapmu seperti itu? Itu untuk jajan,” jawab Bara.
Dewa beruntung memiliki kakak ipar yang baik seperti Bara. Dia berjanji akan
membalas kebaikan Bara selama ini.
“Yasudah, aku pulang dulu sayang, kak Bara.”
“Hati-hati mas!” jawab Nona.
“Hati-hati Dewa!” jawab Bara.
Dewa melajukan motornya meninggalkan rumah Bara. Dia segera menuju ke rumah sakit tempat sang kakek dirawat. Setelah sampai jalan raya, sebuah mobil mewah
mengklaksonnya. Dewa menepikan motornya.
“Tuan Nagara, mari saya antar!” ucap Zian.
Dewa melepas helmnya, ia menggelengkan kepala. “Aku bisa kesana sendiri.”
Zian turun dari mobil, membukakan pintu untuk putra keturunan ningrat itu. Dewa mendengus kesal, susah sekali mengatakan kepada Zian. Pada akhirnya Dewa mengalah, Zian menyuruh orang lain untuk membawakan motor Dewa dan Dewa masuk kedalam mobil yang jauh lebih mewah dari milik Bara,
Bagas maupun Bayu.
“Keadaan kakek bagaimana?” tanya Dewa sambil memakai sabuk pengaman.
“Keadaannya hari ini membaik tapi beliau tetap ingin menemui anda.”
Dewa hanya manggut-manggut pasalnya ia tahu jika kakeknya sedang sehat-sehat saja dan beralasan sakit supaya cucu kesayangannya menemuinya. Dewa termenung saja karena badannya sangat lelah, ia bahkan sangat mengantuk tetapi dia tidak bisa tidur.
“Tuan Nagara...”
“Sudah aku bilang, panggil aku Dewa!”
__ADS_1
“Haha... maaf, tuan. Heeemm... Akhir-akhir ini anda sangat bahagia. Maaf jika saya lancang.”
Dewa tersenyum. “Mana yang tidak bahagia? Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah.”