Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 87 : Terfitnah


__ADS_3

Setelah Bara pulang, Dewa kembali menidurkan Nona. Nona sangat manja membuat Dewa terkadang kesal sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Ibu hamil tidak pernah salah dan selalu benar. Setelah tertidur, Dewa membuka buku untuk mempelajari materi yang tadi dosen ajarkan. Sambil menguap ia terus membaca buku catatannya. Dewa hanya mengambil kuliah 3 tahun saja, itu cara untuk membuat Dewa bisa naik pangkat.


Pasti orang menganggapku bodoh, aku sudah si suguhkan harta milik kakek di depan mata tetapi aku malah mencari cara yang rumit dan menyusahkanku sendiri. Tapi demi Dewa Arga aku harus seperti ini. Seorang Nagara yang bisa saja merusak perusahaan mereka harus mengalah dan selalu di injak. Lihat saja aku akan membuat mereka yang menghina Dewa dan Nona akan menyesali perbuatannya dan bertekuk lutut padaku.


"Hoaaaaam... Ngantuk," gumam Dewa sambil melirik Nona. "Untung saja kuliahnya tidak setiap hari."


Tiba-tiba ponsel Dewa berdering ternyata kakak kelasnya dulu semasih sekolah. Dia tersenyum kecil, temannya sudah menjadi sukses.


"Halo Kak Navi?"


"Sombong kau! Besok malam kita main ke karouke bagaimana?"


Dewa berpikir sejenak. "Istriku sedang hamil jadi tidak bisa."


"Satu jam saja, paling jam 8 sudah pulang," ucap Navier.


"Oke baiklah, satu jam saja, ya?"


"Nah, gitu dong! Ku tunggu besok."


Dewa menutup ponselnya. Sepertinya menenangkan pikiran dengan karaouke pasti tidak masalah. Dewa menutup bukunya lalu ikut berbaring disamping sang istri, mengelus perutnya dan mengecupnya dengan hangat.


Kira-kira 8 bulan lagi aku menjadi ayah dari 3 anak sekaligus. Setelah itu sudahlah, cukup 3 anak saja. Kasian Nuna.


Setelah itu Dewa terlelap sembari memeluk sang istri berharap pagi hari yang cerah segera tiba.


**


Dani sedang mengobrol serius dengan sahabat karibnya. Bara berusaha menjelaskan jika dia memang tidak ada maksud menyukai Sarah pada awalnya tetapi rasa itu tiba-tiba muncul setelah dia mengetahui jika istrinya berselingkuh.


"Bara, Sarah itu masih kecil. Dia labil, aku takutnya malah dia menyakitimu atau sebaliknya. Kita ini bukan muda lagi, gaya pacaran zaman sekarang dengan zaman kita berbeda," ucap Dani.


"Jika kami saling mencintai bagaimana? Izinkan kami menjalin hubungan! Aku sangat mencintai putrimu. Dani, kumohon!"


Dani terdiam, ia tetap tidak menyetujui hubungan teman dan putrinya. Itu baginya adalah cinta terlarang. Umur mereka sangat jauh hampir 20 tahun. Tidak mungkin Dani membiarkan putrinya menjalin hubungan dengan temannya sendiri.


"Jika papa tidak mengizinkan kami pacaran maka aku juga tidak mengizinkan papa menikah lagi," ucapan Sarah keluar dari kamarnya.


"Pernikahan papa itu bukan urusanmu."


"Oh begitu? Hubunganku dengan Om Bara juga bukan urusan papa."


Dani mendengarnya tertohok, ia tidak bisa berkata apa-apa. Dani hanya diam, ia melihat Sarah mengelus perutnya. "Aku udah melakukan sama Om Bara. Tinggal menunggu jadinya. Papa harus merestui kami."


Bara dan Dani terkejut mendengar pengakuan dari Sarah. Dani memandang tajam kearah Bara. Bara menelan ludah, kenapa Sarah harus berbohong seperti itu? Pasalnya Bara tidak pernah melakukan apapun dengan Sarah.


"Bara, aku tidak mau tahu. Kau harus menikahi putriku!" ucap Dani mendadak berubah pikiran.


"Tapi aku..."


"Tanggung jawab! Huh... kesal sekali aku denganmu. Segera nikahi putriku!" ucapan Dani.


Dani beranjak dari sofa, ia meninggalkan mereka berdua yang saling berpandangan. Bara langsung mengajak Sarah untuk berbicara di luar.

__ADS_1


"Kenapa mengatakan seperti itu? Kau membuat Om jadi tambah buruk di mata papamu."


"Ini caranya biar papa merestui kami."


"Tapi papamu malah menyuruh untuk segera menikahimu. Katamu belum siap untuk menikah?" tanya Bara.


Sarah menepuk jidatnya. Dia mengatakan hal bodoh secara tidak sadar. Dirinya malah tersenyum cengengesan pada Bara seakan merasa tidak bersalah.


"Yasudah aku mau bilang pada papaku lagi jika omonganku tadi hanya candaan," ucapan Sarah sambil akan berjalan masuk ke rumah.


Tapi tangan Bara mencegahnya lalu menarik badan Sarah jatuh ke pelukannya. Dirinya memeluk Sarah dengan erat, ia tidak ingin kehilangan Sarah.


"Janji jangan tinggalkan Om, ya? Aku mencintaimu."


"Cium dong, om! Aku tidak percaya jika Om Bara tidak menciumku," ucap Sarah.


Dani memandang mereka dari balkon kamar. Dia menghela nafas panjang, sepertinya Bara sangat mencintai putrinya tapi dia takut jika Bara akan menyakiti Sarah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mas, aku masih ingin disini," ucap Nona.


"Sayang uangnya. Disini semalam saja mahal, mau berapa lama lagi disini?" tanya Dewa sambil mengemasi barang Nona.


"Aku pakai uangku sendiri."


Dewa terhenti, ia memandang Nona. "Bukan berarti itu uangmu terus mau boros. Belajar menyimpan uang dengan baik!"


Nona mengerucutkan bibir, ia padahal masih mau di hotel ini tetapi sang suami menyuruhnya pulang. Setelah siap berkemas, mereka menunggu kedatangan Arsel untuk menjemput Nona. Sedangkan Dewa harus segera berangkat bekerja mencari nafkah untuk keluarga kecilnya.


Nona hanya menggeleng seolah sedang marah dengan Dewa. Dewa mencubit pipi Nona tetapi Nona menepisnya.


"Jangan marah sayang!"


"Aku tidak marah. Cepat sana berangkat bekerja!"


"Itu kelihatan jika sedang marah."


"Apa urusanmu? Sudah sana pergi!" bentak Nona.


Dewa langsung keluar dari kamar hotel. Ibu hamil seperti Nona memang pemarah. Dewa harus banyak bersabar. Setelah berpamitan, Dewa keluar dari hotel dan saat yang tepat Arsel datang.


"Tolong antar istriku sampai rumah!"


"Hem..."


Dewa hanya berdecih, ia melewati Arsel sambil lalu. Pagi hari yang masih panjang akan segera dia lalui. Hari ini dia tidak sarapan karena perutnya tidak enak. Setelah sampai di tempat parkir. Dia segera naik ke motornya menuju ke pabrik.


Sesampainya di pabrik.


Hari melelahkan telah tiba, aktivitas di pabrik cukup menguras tenaga. Hampir satu bulan dia bekerja dan beberapa hari ia akan menerima gajian.


"Pagi, pak."

__ADS_1


"Wah... Sudah semangat saja," ucap Pak Amri.


"Wa, anakku baru pulang dari luar kota. Besok mampir ke rumah ya?"


"Ya jika istri saya mengizinkan. Semenjak dia hamil menjadi pemarah."


Pak Amri terkekeh geli. "Ya begitulah, kau harus bersabar menghadapi ibu hamil. Oh ya, bapak harus ke departemen sebelah. Kau bersama yang lain disini, ya?"


"Siap, pak."


Dewa bekerja seperti biasanya. Seperti biasa, dia dilirik banyak wanita termasuk sekertaris ganjen itu yang sedari tadi mencuri pandang sambil mengecek mesin untuk laporan atasannya. Dewa tidak memperdulikan sampai sekertaris itu mendekati mesinnya.


"Ehhmm... Dewa?"


"Ada apa mbak?"


"Bagaimana jika kita mengenal satu sama lain? Mbak juga masih sendiri."


Dewa menengok wajah wanita itu dengan heran. "Bukannya mbak ada hubungan dengan Pak Kokom ya? Lagian, aku juga sudah punya istri yang jauh lebih cantik dari mbak."


Ucapan Dewa membuat sekertaris itu mati gaya. Dewa melewatinya sambil tersenyum sinis.


"Aduh.... kakiku sakit..." teriak wanita itu.


Dewa terkejut lalu menolongnya. "Kenapa mbak?"


"Kakiku terkilir, bisa bawa ke ruangan saya?"


Dewa yang tidak tega menolong wanita itu untuk dibawa ke ruangannya. Wanita itu terus kesakitan. Setelah sampai, Dewa mendudukannya di kursi.


"Mbak butuh apa lagi?" tanya Dewa.


"Tolong ambilkan minyak urut di meja saya!"


Dewa mengangguk, wanita itu tersenyum menyeringai. Dia mengunci pintu ruangannya lalu membuka kancing seragam dan mengobrak-abrik rambutnya seperti sehabis melakukan sesuatu.


Dewa yang kembali dari mengambil minyak urut langsung terkejut.


"Mbak ngapain?" tanya Dewa sambil mundur.


"Ayo bersenang-senang sebentar!"


"Mbak mau memperkosaku? Wah akhir zaman," ucapan Dewa.


"Sini manis! Mbak puasin..."


"Gak doyan, punya mbak kecil," ledek Dewa.


Sekertaris itu sangat geram, mendekati Dewa tapi Dewa langsung mendorongnya. Seketika itu, Dewa mempunyai kesempatan untuk keluar dari ruangan tetapi alangkah terkejut sudah banyak orang di ruangan itu.


"Tolooooooonggg... Saya diperlakukan tak senonoh oleh dia," ucap wanita itu keluar dengan penampilan yang sangat berantakan.


"Eehhh... Ini fitnah.. Jangan percaya dia!" ucap Dewa membela diri.

__ADS_1


***


__ADS_2