Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 107 : Pembalasan


__ADS_3

Isakan demi isakan keluar dari mulut Sarah. Dalam cafe yang cenderung sepi ditambah diputarnya lagu galau membuat Sarah semakin menjadi-jadi. Baru kali ini Bara memutuskan hubungan dan terkesan tidak akan mungkin kembali seperti dulu.


Air mata mengalir tanpa ampun membuat wajahya yang begitu cantik basah. Tak dapat di pungkiri jika ia memang sangat menyukai Bara.


"Hapus air matamu! Kau wanita cantik tidak pantas menangis seperti ini," ucap Arsel mengulurkan sapu tangan.


Sarah mendongakkan kepala. Dia melihat Arsel menatapnya dingin. Sarah memalingkan wajah lalu mengusap air matanya. "K--kenapa kau disini?" tanya Sarah.


"Aku selalu makan disini. Ayo pulang biar aku antar!"


Sarah berdiri, ia meninggalkan Arsel tanpa bersuara. Pria itu menghela nafas, mencari bagaimana caranya untuk mengutarakan perasaan kepada gadis yang ia sukai. Tak dapat di pungkiri jika ia sangat menyukai Sarah.


Arsel mengejar Sarah yang sudah keluar dari cafe, sifat Sarah yang ketus selalu membuatnya semakin penasaran.


"Sarah, tidak bisakah kau memberiku kesempatan? Aku tidak akan menyakitimu seperti pria itu. Kau bisa pegang omonganku."


Ketika akan masuk mobil, Sarah menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badan menatap Arsel sambil tersenyum kecut. "Jika aku jatuh cinta pasti aku tidak akan melupakannya semudah itu. Sudah cukup rasa sakit kehilangan Dewa dan justru kini aku kehilangan Om Bara. Aku tidak mau terulang ketiga kalinya oleh pria yang berbeda. Jadi maafkan aku Kak Arsel. Aku tidak bisa menerimamu," ucap Sarah.


Arsel menatap wajah Sarah yang nampak lesu dan pucat, tangan Sarah mencoba membuka pintu mobil tetapi ia tiba-tiba saja pingsan. Arsel refleks berlari untuk menahan tubuh Sarah yang hampir jatuh ke tanah.


"Sarah... Sar... Bangun!" Arsel menepuk pipi Sarah tetapi gadis yang baru genap berusia 19 tahun itu tidak langsung bangun.


Pada akhirnya, Arsel membawa Sarah ke rumah sakit terdekat dan tak lupa ia memberitahu keluarga Sarah.


Di rumah sakit.


Dewa beserta orang tuanya masih menunggu di rumah sakit. Dokter mengatakan jika Nona dan ketiga bayinya baik-baik saja. Dia begitu bersyukur setelah kejadian menegangkan tadi. Kini Nona harus beristirahat di ranjang rumah sakit dengan balutan infus di tangannya.


"Pak, Bu, aku bisa titip Nona sebentar? Aku ada urusan lain," tanya Dewa.


"Sepenting itukah?"


Dewa menganggukkan kepala.


"Pergilah! Biar bapak dan ibu menjaga Nona," ucap Bapak.


Dewa memutuskan untuk pergi, ia harus membalas dendam kepada mereka karena membuat Nona seperti ini. Apalagi hanya Bara dan Alisa yang datang menjenguk Nona. Ibu dan ipar lainnya malah asyik mengurus berkas untuk modal usaha yang akan didirikan oleh Kakek Adhiatma. Sebuah investasi yang menggiurkan bagi semua orang. Mereka akan untung besar jika mengikuti usaha ini.


Dewa masuk ke mobil hitam miliknya yang dikemudikan oleh Zian, duda tampan yang tidak mau di panggil om. Di dalam mobil, Zian sudah membawakan jas hitam milik Dewa dan sebuah jam tangan yang tentunya sangat mahal. Dewa segera memakai semua itu dan tidak lupa menyisir rambut dengan pomade mahal supaya rambutnya tertata rapi.


Semua kancing ia pasang dan dasi ia kalungkan pada lehernya. Tak lupa juga kacamata hitam menggantung di tulang hidungnya yang sangat mancung.


"Naga, anda sudah siap?"


"Aku siap untuk menghancurkan mereka."


Zian tersenyum tipis, inilah sifat Nagara yang sesungguhnya mempunyai jiwa iblis yang siap menghancurkan siapapun.


"Kakek anda bahkan juga membatalkan proyek rumah mewah yang dijalankan Bagas dan lainnya," sambung Zian.


"Bagus. Itu yang aku inginkan. Setelah itu kita bisa membeli tanahnya dan mendirikan panti asuhan seperti yang diinginkan istriku."


Malam ini adalah malam pembuktian jika dirinya tak bisa dihina dan di caci maki begitu saja. Mengingat kejadian saat istrinya pendarahan tadi membuatnya sangat murka. Untung saja Nona dan ketiga bayinya baik-baik saja, jika tidak maka Dewa akan menghancurkan bisnis mereka dalam sekejap mata.


Setengah jam kemudian.


Di ruang hotel mewah yang sudah di pesan oleh kakeknya ia melangkah penuh wibawa. Jas hitam serta kacamata hitam melekat ditubuhnya menambah ketampanan pada dirinya.


Di ruang itu sudah berkumpul sekitar 50 orang untuk berinvestasi secara legal bersama Kakek Adhiatma tetapi batang hidung kakek belum juga muncul membuat semua orang di ruangan itu mulai resah dan tidak sabar. Ibu, Bara dan Bayu berada di ruangan itu juga kecuali Bagas yang tidak dapat hadir di karenakan ia harus berobat ke luar negeri lagi.

__ADS_1


"Lama sekali, ibu sudah tidak sabar."


"Hahaha... aku juga tidak sabar untuk melipatgandakan uangku," ucap Bayu.


Sedangkan Bara yang baru saja patah hati hanya diam. Dia bahkan tidak membaca satupun proposal kinerja dari pihak Kakek Adhiatma yang sudah dibagikan ke semua orang di ruangan tersebut.


Pintu terbuka, Zian datang sendiri. Semua orang senang ia sudah datang tetapi dimana kakek? Zian sendirian membuat orang bertanya-tanya.


"Selamat malam, saya Zian Anggara. Asisten pribadi Tuan Adhiatma. Saat ini Tuan Adhiatma sedang ada di pulau sebelah untuk mengurus bisnis utamanya dan sebagai pengganti beliau, maka akan di wakilkan oleh penerus satu-satunya keluarga Mahesa."


Semua orang saling berbisik, mereka hanya tahu jika pewaris Mahesa adalah cucu satu-satunya kakek Adhiatma yang tidak pernah terlihat sebelumnya.


"Bagaimana ya wajahnya?"


"Iya, katanya sedang berada di Amrik?"


"Dia sangat beruntung bisa menjadi pewaris tunggal."


Zian melanjutkan bicaranya. "Dia adalah cucu kesayangan Tuan Adhiatma dan bisa dibilang penerus dari Mahesa. Silahkan anda masuk Tuan Nagara Bimasena!"


Pria tinggi berjas dan berkacamata hitam masuk ke ruangan itu. Wajahnya yang sangat tampan membuat semua orang terpana dan bahkan beberapa orang sangat syok.


Dewa membuka kaca mata hitamnya dan meletakkan pada meja begitu saja.


"Itu Dewa?" gumam ibu mertuanya sangat terkejut.


Tak hanya ibu, Bayu juga sangat syok sedangkan Bara hanya memandang Dewa biasa saja. Dia sudah menduganya.


"Selamat malam. Saya Nagara Bimasena mewakili kakek saya. Panggil saja saya Naga!" ucap Dewa.


Salah satu orang mengacungkan tangannya keatas, dia adalah ibu mertuanya. Semua orang tertuju kepadanya.


"Wah anda sangat antusias sekali nyonya, belum apa-apa sudah ingin bertanya," ucap Dewa sambil tersenyum.


Dewa tersenyum tipis, semua orang berbisik. Dewa melangkah maju kedepan sambil membawa tas kresek hitam yang berisi sesuatu. Tangannya mengambil sesuatu yang membuat ibu terbelalak. Sebuah kaos murah yang ternodai dengan kuah rendang.


"Uuuuh... Bau rendang. Apakah ini milik menantu ibu? Ibu menyiramnya dengan rendang panas ke bajunya karena dia miskin," sambung Dewa.


Ibu terdiam, darimana pria itu mendapatkannya. Dewa tersenyum kecil lalu kembali ke mejanya.


"Oke, baiklah. Aku ini orang sibuk dan tidak ada waktu berbincang lebih lama, jadi kumpulkan semua proposal kalian masing-masing!" ucap Dewa.


Zian membantu mengumpulkan proposal pengajuan pengikutan usaha dari mereka. Setelah terkumpul. Dewa membacanya satu persatu.


Ibu dan Bayu saling berbisik. Jelas-jelas orang yang didepan itu sangat mirip dengan Dewa. Bayu mengambil ponselnya untuk mencoba menelpon Dewa dan seketika ponsel Dewa berdering menggema di ruangan itu.


"Hehe... Maaf, jika ponsel saya berisik," ucap Dewa sambil cengengesan. Dia mengangkat telpon dari Bayu. "Hallo Kak Bayu, ada apa?"


Bayu terkejut lalu seketika menjatuhkan ponselnya. Dia sungguh tidak percaya pada hal ini.


"Kak Bayu kenapa menelpon jika jarak kita tidak ada 4 meter? Jika kakak ingin bertanya langsung saja maju ke depan," ucap Dewa sambil tersenyum menyeringai.


Situasi itu menjadi membingungkan. Apalagi Bayu dan ibu baru menyadari jika orang penting di depan adalah menantunya.


"Tidak ada yang ditanyakan? Oke biar aku melanjutkan membaca proposal dari kalian," ucap Dewa sambil melempar ponselnya ke meja.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Bayu berteriak.


Semua pasang mata memandanginya, ibu bahkan mulai bergetar.

__ADS_1


"Apa kita harus berkenalan lagi, wahai kakak ipar?" tanya Dewa. Dia bersedekap memandangi Bayu dengan tajam.


"Jangan membuat kami bingung!"


Dewa menghela nafas lalu Zian yang bergantian menjelaskan siapa sebenarnya pria muda didepan ini.


"Dia adalah cucu dari Tuan Adhiatma. Nagara Bimasena alias Dewa Arga. Sudah jelas?" tanya Zian.


"Hahaha... Kenapa jadi tegang begini? Santai saja... Kita lanjutkan pembahasannya. Biar Zian yang menerangkan dan aku mengecek proposalnya," ucap Dewa.


Zian membuka laptopnya, sebuah layar di dinding bisa memunculkan apa yang di buka didalam laptop. Zian menerangkan satu persatu mulai dari keuntungan sampai berapa uang yang akan dihasilkan sekali berinvestasi disini.


Ibu sedari tadi bergetar bahkan menunduk tidak berani menatap menantunya.


Sreeeeek...


Satu proposal Dewa buang ke lantai, membuat semua orang terkejut dan menerka-nerka milik siapa proposal itu.


Sreeeek...


Satu proposal lagi terbuang ke lantai, Dewa yang sedang berdiri tapi pantatnya bersandar pada meja hanya tersenyum tipis.


"Oke, total 48 proposal yang aku terima dan kunyatakan layak. 2 proposal yang ku buang ke lantai tidak layak untuk ikut bisnis ini," ucap Dewa.


Zian mengambilnya lalu melihat nama yang tertera pada proposal tersebut.


"Nyonya Wiratmaja dan Tuan Bayu, ini milik kalian," ucap Zian sambil menyerahkannya kepada mereka.


Bara yang hanya melihat sedari tadi mulai bersuara. "Tidak bisakah jangan di lempar seperti itu? Bahkan kau belum membacanya."


"Itu sudah keputusan Tuan Naga sendiri. Anda tidak berhak mengatur," jawab Zian memandang tajam Bara.


Bara berdecih, ia meminta proposalnya kembali. Dewa dengan senang hati memberikannya. Bara mendekati Dewa lalu berbisik kepada adik ipar yang selalu ia perlakukan baik.


"Jika ingin mempermalukan ibuku jangan seperti ini! Melihat sifat aslimu kakak jadi berpikir jika kau dan mereka sama saja," ucap Bara.


"Maaf, Kak Bara. Aku tidak akan melawan jika mereka tidak bertindak keterlaluan. Gara-gara mereka, Nona dan bayiku hampir saja terjadi apa-apa. Aku sudah terlalu lama untuk diam tapi kali ini aku muak atas perilaku mereka."


Ibu tiba-tiba menghampiri mereka lalu bersujud sambil menangis didepan kaki Dewa. Semua memandangnya dengan heran. Isakan dari ibu mertuanya membuat Dewa memandang dingin penuh amarah.


"Dewa, ku mohon terima proposal dari ibu! Ini satu-satunya harapan ibu. Ibu meminta maaf atas perlakuan ibu kepadamu. Ibu tidak tahu jika kau cucu dari Tuan Adhiatma."


Tangisan ibu menggema di ruangan mewah itu. Dewa berdecih dan memalingkan wajah.


"Bangunlah, ibu!" ucap Bara membangunkan ibunya.


Dewa bersedekap lalu mengambil kacamatanya dan berjalan ke arah pintu. "Zi, sisanya kau urus! 48 proposal yang aku terima, Eh.. jadi 47 karena Kak Bara menarik proposalnya. Selamat malam semuanya. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya," ucap Dewa sambil berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.


Ibu masih menangis tersedu-sedu. Bara mencoba menenangkannya sedangkan Bayu lemas karena kejadian ini. Orang yang selalu mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari mereka justru adalah konglomerat.


"Yang tidak ada kepentingan silahkan keluar!" ucap Zian.


Bara memandang kesal kearah Zian. Zian hanya tersenyum tipis. Ibu, Bara dan Bayu keluar dari ruangan itu dengan rasa malu bercampur kesal.


Visual


NAGARA BIMASENA


__ADS_1




__ADS_2