Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 112 : Sebenarnya?


__ADS_3

Di kesunyian malam ini, ketikan jemari Dewa menggema di ruang kerjanya. Dia masih membuat pembukuan toko onlinenya. Saat istri dan kedua anak Bagas sudah terlelap, Dewa masih harus menyelesaikan tugasnya malam ini juga. Sambil mengetik, ia sesekali melirik mereka yang sudah sangat tertidur pulas.


Kling...


Sebuah notifikasi ponselnya berbunyi, di layar ponselnya tertera nama sang ibu. Dia tersenyum kecil


Ibu


Putraku, ibu sudah membelikan beberapa set pakaian untuk trio boys.


^^^Dewa^^^


^^^Terima kasih, bu.^^^


^^^Hmm... Ibu belum tidur?^^^


Ibu


Belum, akhir-akhir ini ibu tidak bisa tidur. Rasanya ingin cepat bertemu trio boys.


^^^Dewa^^^


^^^Bu, maafkan aku jika pernah berbohong atau berbuat salah pada ibu.^^^


Ibu


Ibu selalu memaafkanmu, Nak.


^^^Dewa^^^


^^^Misal jika aku ketahuan berbohong pada bapak dan ibu lalu kebohongan itu sangat fatal apa kalian masih menganggapku anak kalian?^^^


Ibu


Apa yang kau katakan? Kau tetap anak bapak dan ibu. Jangan berpikiran yang aneh-aneh!


^^^Dewa^^^


^^^😫😫😥😥😫^^^


Ibu


Kenapa Dewa? Ada masalah? Kau terlalu bekerja keras sampai kecapekan seperti ini. Istirahatlah yang cukup!


^^^Dewa^^^


^^^Baik ibuku sayang.^^^


Ibu mengelap air matanya. Tangisan kecil terdengar di kesunyian malam ini. Sesekali tangannya menyeka air mata yang keluar tanpa ampun, ia tidak ingin sang suami terbangun.


Nagara, maafkan bapak dan ibu yang telah berpura-pura tidak tahu. Kami harus melakukan ini sesuai perintah kakekmu.

__ADS_1


Flashback.


"Ayu, Cakra, aku ingin kalian merawat Naga dengan baik. Selama ini dia tumbuh tanpa pengawasan dari orang tua menjadi seperti ini. Dia liar dan nakal, aku ingin kalian membimbingnya dengan baik. Ajak dia hidup sederhana dan ajari caranya menghargai orang lain," ucap Kakek.


Ayu dan Cakra yang masih terpukul dengan keadaan Dewa yang koma masih tidak paham dengan maksud kakek.


"Dewa akan aku bawa ke Amerika untuk berobat disana dan aku akan memalsukan kematiannya lalu Naga bisa berpura-pura menjadi Dewa."


Ayu terkejut, bagaimana bisa anak yang sudah dirawatnya belasan tahun dipalsukan kematiannya? Apalagi sosok Dewa harus di gantikan oleh saudara kembarnya yaitu Nagara.


"Walau mereka itu kembar tetapi mereka berbeda orang. Mana bisa kami tiba-tiba harus merawat saudara kembar Dewa?" ucap bapak.


"5 tahun, hanya 5 tahun saja. Setelah Nagara berubah total selama 5 tahun maka Dewa akan pulang kemari lagi. Biarkan Nagara merasakan hidup susah, selama ini dia selalu aku manja menjadi nakal seperti ini. Suka menghina orang, berkelahi, menghamburkan uang, selalu mengirim teman-temannya masuk ke rumah sakit."


Bapak dan ibu hanya saling memandang, ia bingung dengan kondisinya sekarang. Bagaimana bisa mereka harus berjauhan dengan putra angkatnya? Apalagi di Amerika sangat jauh.


"Kalian jangan khawatir! Kalian masih bisa komunikasi dengan Dewa, dia akan menjadi orang sukses disana," ucap kakek.


"Tapi bagaimana dengan Naga?" tanya ibu.


Kakek menghela nafas panjang. "Biarkan dia merintis dari nol. Sudah dari kecil ia merasakan kekayaanku sampai kartu kredit jebol untuk membeli barang tidak berguna. Sekarang gantian Dewa yang merasakannya."


Ibu meremas jemarinya, bapak yang melihat kebingungan ibu menggenggam tangannya. Ini adalah bukan pilihan yang mudah. Mereka harus merawat anak nakal seperti Nagara dan merelakan Dewa yang baik untuk pergi.


"Dewa akan cepat sembuh jika dibawa ke Amerika, dia pasti akan mengerti."


Bapak dan ibu saling berpandangan lagi, ini bukan pilihan yang mudah. Mereka harus berpikir untuk keselamatan Dewa yang sudah ada diujung maut. Jika mereka egois maka Dewa tidak terselamatkan.


"Apa ini tidak terlalu kejam pada Naga sampai dia harus menikah sesuai dengan pilihan anda?" tanya bapak.


"Ada kalanya memang harus ada yang jadi korban."


Flashback selesai.


Ibu terduduk mengusap air matanya. Dia melirik ponselnya bergetar karena ada panggilan video. Dia tersenyum sumringah saat melihat Dewa Arga menelponnya dari Amerika.


"Ibu, belum tidur? Cuaca disini sangat dingin. Aku butuh pelukan ibu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nona terbangun mendapati suaminya tidur di sofa. Ia melirik jam yang menunjukkan pukul setengah 7 pagi. Nona berusaha untuk bangun dari ranjang untuk membangunkan suaminya.


"Mas Dewa, bangun!"


"Heeeem..."


"Mas kok tidur disini?"


Dewa mengucek matanya. "Duo Ken tidur seperti kuda. Mas tidak mungkin ikut tidur disana."


Nona menghela nafas lalu berusaha duduk. Ia memandang keponakannya yang nampak kasihan. Bagaimana nasib mereka nantinya? Apalagi ibu mereka tengah mendekam dipenjara dan ayah mereka sedang sakit parah.

__ADS_1


"Apa kita perlu melaporkan ke polisi?" tanya Nona.


"Masalah Duo Ken? Harusnya lapor polisi, ibu tirimu keterlaluan."


"Tapi nasib mereka bagaimana jika ibu juga tidak ada?" tanya Nona.


Dewa memandangi wajah istrinya yang bingung. Dia lalu membelai rambutnya yang kian memanjang. "Mereka 'kan masih punya 2 paman dan 2 tante."


Nona menaikkan alisnya mencerna ucapan dari Dewa.


"Maksudku masih ada Kak Bara, Kak Bayu, Alisa dan kau."


Tiba-tiba bayi yang ada dalam perut Nona menendang dengan kuat membuatnya sangat kesakitan. Dewa refleks mengelusnya, ia merasa kasian dengan Nona karena menderita selama 9 bulan akibat ulah nakalnya.


"Trio bayi mau minum susu?" tanya Dewa.


Nona mengangguk, Dewa berdiri lalu segera membuatkannya didapur. Sedangkan Nona memandangi kedua keponakannya yang masih tidur sangat pulas.


"Eeehmmm... Mama... Papa... Huaaaaa..."


Kenzi, terbangun sambil menangis. Dia mengigau mencari orang tuanya. Nona dengan susah payah berjalan menghampirinya.


"Kenzi, kenapa menangis? Mimpi apa sayang?" tanya Nona.


Kenzi memeluk Nona, Nona hanya bisa menenangkannya. Dia bahkan bingung harus melakukan apa. Hanya pelukan yang bisa ia berikan.


***


Sarah mengemasi barang-barangnya ke koper, mereka sore ini akan berangkat bulan madu untuk beberapa hari kedepan. Tak lupa ia membawa beberapa baju haramnya untuk menyenangkan sang suami.


Bara yang masih terlelap akibat kelelahan melakukan malam pertamanya sampai beberapa ronde.


"Bara... Bangun! Mandi gih sana!"


Sarah menengok ke belakang melihat suaminya masih tidur pulas.


"Baraaaaa..."


Teriakan Sarah membuat sang suami terbangun.


"Bara bangun!!!!"


"Apa sih sayang? Belum ada jam 7. Mas capek habis olahraga semalaman dan lagian mulutmu manggil nama mas begitu, kurang ajar," ucap Bara.


"Baraaaa... Baraaaa... Baraaaa...."


Bara membuka mata lebar-lebar melihat istrinya yang pagi-pagi sudah memakai baju dinas alias baju haram.


"Males... Cuman dianggurin doang," sindir Sarah.


Bara menarik Sarah supaya jatuh ke pelukannya, ia memberikan apa yang ingin Sarah mau. Biasa, pengantin baru pagi, siang, malam tak pernah kenal lelah.

__ADS_1


__ADS_2