Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 97 : Kebenaran


__ADS_3

Saat setengah jam kemudian, Alisa menepikan mobilnya disebuah gedung apartemen mewah. Dia menuju ke apartemen Bara.


Saat sudah sampai didepan apartemen Bara, ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Matanya terbelalak saat melihat kakaknya sedang berciuman mesra dengan Sarah di ruang tamu. Rambut Sarah acak-acakan.


"Lisa, sudah kakak bilang jangan masuk tanpa permisi!"ucap Bara marah.


Sarah yang panik segera membenarkan rambutnya, ia mati gaya dan sangat malu. Dia melihat kedatangan Dewa dibelakang Alisa.


Dewa melihat Sarah dengan acak-acakan seperti itu merasa kesal.


"Dewa, ini bukan seperti yang kau lihat. Kami tidak melakukan itu," ucap Sarah sangat malu.


"Kak Bara, jika kakak memang mencintai Sarah lebih baik nikahi dia dengan cepat daripada mengotorinya pelan-pelan."


Bara tersenyum kecil, ia merangkul Sarah lalu mengecup pipinya. "Besok aku akan menikahi dia."


Sarah terkejut, ia mendorong Bara lalu berlari meninggalkan mereka dengan rasa sangat malu. Sementara itu, Bara hanya menghela nafas dan menyuruh mereka masuk.


"Kau ingin mengambil gajimu kemarin? Biar aku ambil dulu," ucap Bara.


"Tidak usah, aku hanya ingin meminta penjelasan dari kalian mengapa bisa menyembunyikan keberadaan Alisa dan kasus kematian ibu Nona sangat janggal," ucap Dewa.


Alisa berdiri, ia menuding lagi wajah Dewa dengan geram tetapi Bara langsung menariknya untuk duduk. Alisa mendengus kesal sembari melipat tangannya didepan dada.


"Sepertinya ini tidak bisa disembunyikan lagi. Kakak akan bercerita kepadamu tapi berjanjilah jangan bilang ini ke ibu karena dia belum tahu tentang Alisa," ucap Bara.


Dewa menganggukan kepala, telinganya ia buka lebar supaya bisa mendengar penjelasan dari Bara. Dewa memandang wajah Bara seolah tidak berbohong dalam ucapannya.


"Ibuku sangat tidak menyukai mommy mereka, apalagi dengan hadirnya Nuna membuat ibu begitu membencinya. Ayah memberikan segalanya kepada Nuna, baik itu uang, benda, emas dan tanah. Bahkan Alisa juga mendapat bagiannya sama halnya seperti Nuna. Kau tahu sendiri jika ibuku mencari cara untuk menjatuhkan Nuna? Dia mengambil semua pemberian milik Nuna dari ayah," ucap Bara sambil menghela nafas panjang. "Belum lagi semisal ibu tahu jika Nuna memiliki kembaran yang masih hidup, ibu akan mengambil semua apa yang dimiliki Alisa," sambung Bara.


Dewa menaikkan alisnya, sebuah pejelasan Bara yang tidak masuk akal. Lalu apa hubungannya dengan Nona yang tidak boleh tahu tentang keberadaan saudari kembarnya? Bara menjelaskan secara detail jika saat itu sang ayah dengan sengaja memalsukan kematian Alisa supaya Alisa bisa hidup dengan nyaman di luar negeri tanpa diganggu oleh keluarganya dan bahkan sang ayah sendiri yang mengirim Alisa ke luar negeri.


Ayah menyembunyikan Alisa supaya istrinya tidak kecewa padanya dan tidak akan menganggu Alisa yang notabenya anak simpanan.


"Tapi Kak Bara, apakah ibu Nona meninggal karena penyakit? Nona bahkan mempunyai surat wasiat dari Alisa jika..."


"Itu hanya salah paham, kejadiannya bukan seperti yang Alona pikirkan. Waktu itu aku masih kecil dan belum paham jadi aku menulis apa yang aku simpulkan sendiri," ucap Alisa memotong pembicaraan Dewa.

__ADS_1


"Jadi yang dipikirkan Nona semua salah paham?" tanya Dewa.


Alisa menganggukkan kepalanya. Dewa berdiri, ia mengajak Alisa untuk bertemu dengan Nona. Dia harus menjelaskan semuanya sendiri. Bara juga setuju karena rahasia ini sudah terlalu lama terpendam.


Alisa menepis tangan Dewa. "Aku belum siap. Aku masih punya alasan sendiri untuk tidak bertemu Alona. Jangan paksa aku!"


Alisa langsung keluar dari apartemen Bara tanpa permisi. Dia melirik Zian berada diluar sedang bersandar pada tembok.


"Apa lihat-lihat?" tanya Alisa dengan ketus lalu melewati Zian.


Zian hanya diam tanpa ekspresi melihat wanita kemayu itu melewatinya. Disaat bersamaan pintu apartemen Sarah terbuka, Sarah terkejut melihat Zian bersandar pada tembok apartemennya.


"Om sedang apa disini? Om mau menguntitku ya? Aku akan laporkan pada satpam."


Zian yang memang tidak suka di panggil om merasa kesal, ia mendorong Sarah ke tembok lalu mengunci badannya.


Ya Tuhan, belum kelar dengan Om Bara malah dibuat bedebar sama om ini. Tampan sekali. Batin Sarah meleleh.


"Jangan panggil aku, om!" ucap Zian sambil menyentil mulut Sarah.


Sarah merasa kesakitan, ia menggosok-gosok bibirnya supaya rasa sakit itu hilang.


Zian mengunci tubuhnya lagi membuat Sarah semakin terpaku pada ketampanan duda tampan yang tak kalah tampan dari pacarnya yaitu Bara.


Dewa dan Bara keluar. Bara sangat terkejut melihat pacarnya sedang bermesraan dengan pria lain. Hati Bara sangat sakit, apalagi dia mengenal Zian.


Sarah mendorong tubuh Zian lalu memeluk Bara. Dewa berdehem, ia langsung berpamitan pulang bersama Zian.


Bara memandang kesal kearah Zian yang sudah berjalan bersama Dewa.


"Sarah, besok kita harus menikah! Om tidak mau kau direbut pria lain."


"Haaaa?"


****


Nona pergi berbelanja bersama Arsel. Dia memilih sesukanya. Semua model baju casual ia beli menggunakan kartu ajaib itu. Arsel membawa belanjaan Nona di tangan kanan dan kirinya.

__ADS_1


"Nona, maaf jika lancang. Tangan saya sudah tidak muat lagi memegangi belanjaan anda," ucap Arsel.


Nona menatap tajam kearah Arsel. Arsel seketika bersiul lalu mengalihkan pandangan. Nona melanjutkan memilih pakaian lagi lalu matanya tak sengaja melihat kakak iparnya yaitu Sita, istri Bagas bersama pria lain.


Sita yang mengetahui keberadaan Nona hanya memalingkan wajah dan pergi bersama pria barunya.


Mereka kan belum resmi bercerai.


Nona mencoba menelpon Bagas tetapi yang mengangkat adalah ibu tirinya.


"Bu, dimana Kak Bagas?" tanya Nona.


"Ada apa?"


"Kak Sita pergi bersama pria lain."


"Jangan bahas Sita di depan Bagas! Bagas sedang sakit, jika kau menganggap Bagas kakakmu harusnya datang kesini untuk menjenguknya. Dasar adik tidak tahu diuntung," ucap Ibu.


Dasar nenek lampir! Kenapa aku malah kena marah?


Nona menutup telponnya, ia menarik Arsel untuk pergi ke rumah ibunya. Sejahat-jahatnya Bagas kepada Nona tetapi ia tetap kakak Nona sama seperti Bara. Nona mengajak sekalian Dewa untuk menjenguk Bagas. Dewa setuju dan mereka akan bertemu disana.


Sesampainya disana, ibu tiri Nona menyambut mereka dengan wajah tidak suka. Apalagi melihat Dewa, menantu miskinnya yang membuatnya merinding.


"Bagas berada di kamarnya. Jangan bahas Sita di depan Bagas!" ucap ibu.


"Hem," jawab Nona singkat.


Nona dan Dewa masuk ke kamar Bagas, rupanya Bagas sedang berbaring dan terlihat matanya begitu sayu. Bagas yang mendengar pintu terbuka seketika memandangi mereka.


"Kak Bagas tidak apa-apa?" tanya Nona mendekat.


"Jika kalian datang untuk menertawakanku lebih baik pulang saja."


Nona tersenyum kecil, ia duduk dibibir ranjang sambil menggenggam tangan Bagas. "Apa aku pernah menertawakan kakak jika kakak sedang sakit? Justru kakak yang sering menertawakanku saat aku terjatuh," ucap Nona memandang wajah Bagas dengan lekat.


*****

__ADS_1


Udah baca cerita ini belum? Udah Tamat dan hanya 50 bab saja. Menceritakan om dokter duda tampan menaklukan istrinya yang masih bocah labil.



__ADS_2