Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 116 : Menuju akhir 2


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Semua aset milik ibu dan Bayu disita karena melakukan perjudian ilegal yang menaruhkan semua aset yang dimiliki. Bayu, anak ketiga dari keluarga Wiratmaja mengalami kebangkrutan. Semua aset milknya dan milik ibunya dijadikan jaminan.


Hanya sepetak rumah yang ia punyai untuk tempat ia berteduh dengan keluarga kecilnya. Dia juga meminta belas kasihan dari saudara-saudaranya.


Nasib ibu tetap mendekam dipenjara atas kasus penganiayaan terhadap cucunya. Keluarga Wiratmaja benar-benar hancur kecuali Bara yang sudah hidup bahagia bersama istri mudanya.


"Beb... Ehm... aku punya sesuatu untukmu," ucap Sarah sambil menyembunyikan sesuatu dibelakang punggungnya.


Bara yang sedang menonton TV langsung menarik tubuh Sarah ke pangkuannya dan memberi kecupan tipis pada bibirnya.


"Buat penasaran saja," ucap Bara.


Sarah menunjukan sebuah benda yang menunjukan dua garis merah. Bara merebutnya dan memperhatikan dengan seksama. Air mata Bara menetes melalui sudut matanya, rasa haru serta bersyukur menyertainya.


"Kamu hamil?" tanya Bara memastikan.


Sarah mengangguk pelan, Bara langsung memeluknya. Dia sangat bahagia setelah menunggu sekian lama, ia akhirnya bisa mempunyai anak.


"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu..."


Sarah juga menangis, ia akan menjadi ibu. Mereka berpelukan sangat erat saling melampiaskan kebahagiaan satu sama lain.


Disisi lain,


Elara bertolak ke Singapura untuk menemui Bagas. Setelah ia keluar dari rehabilitasi belum bertemu dengan Bagas yang ternyata adalah ayah kandungnya. Elara mengajak kedua adiknya yaitu Kenzi dan Kenzo untuk melihat keadaan sang papa.


Sesampainya di rumah sakit.


Mereka menuju ke taman tempat biasanya Bagas termenung duduk dikursi roda. Elara menggandeng kedua adiknya dan berjalan pelan menghampiri Bagas.


Dari belakang, Bagas nampak kurus membuat Elara sedih.


"Papaaaaa..." Kenzo dan Kenzo berteriak menghampiri papanya.


Bagas menengok kebelakang, ia sangat terkejut melihat putra kecilnya menemuinya.


"Papaaaa... Kami kangeeeen..."


Bagas memeluk mereka berdua, air mata nampak menetes dari sudut matanya tetapi dengan cepat Elara mengelapnya menggunakan sapu tangan. Bagas mendongakkan kepala melihat putri kandungnya datang untuk menemuinya.


"Elara..."


"Apa kabar, papa?" tanya Elara sambil tersenyum.


Elara ikut memeluk Bagas, pada akhirnya ia bisa melihat papa kandungnya sendiri. Mereka menangis bahagia karena masih bisa dipertemukan kembali.


Beberapa menit kemudian, mereka saling mengobrol tentang keadaan masing-masing. Kenzo juga bercerita selama ini yang merawatnya adalah Dewa dan Nona.


Bagas merasa sangat menyesal kepada Dewa pasalnya ia dulu sangat jahat sekali dengan adik iparnya itu tetapi justru kini Dewa yang merawat kedua putranya.


"Papa, kami juga tinggal dengan tiga adek kecil. Papa harus segera sembuh supaya bisa melihatnya," ucap Kenzi.


Bagas mengelus kepala putra terkecilnya, ia berjanji akan segera sembuh supaya bisa bermain bersama-sama lagi.

__ADS_1


****


"Oee... oeee... oeeee..."


Dewa dan Navier bingung pasalnya ketiga bayi yang menangis bersamaan. Mereka sama-sama bingung harus melakukan apa? Nona pergi keluar sebentar bersama sang sopir meninggalkan ketiga bayinya yang berusia 1 bulan untuk keperluan penting.


"Dewa, anakmu membingungkan. Susu tidak mau, e'ek juga tidak. Maunya apa?" tanya Navier sambil memegang dagu.


"Aku juga bingung," jawab Dewa sambil mengecek popok ketiga putranya.


Dewa dengan cepat menggendong salah satu dari putranya lalu menimangnya. Dia juga menyuruh Navier untuk menimang bayinya yang lain.


"Aku seorang presdir hebat menimang bayi?" tanya Navier.


"Kenapa? Kau 'kan nantinya juga akan menjadi ayah."


Navier menghela nafas, ia menggendong bayi lainnya lalu menimangnya. Kedua pria itu harus menidurkan ketiga bayi kembar itu.


Setelah menimbang selama 10 menit. Akhirnya kedua bocah itu terlelap dan tersisa bayi ketiga bernama Davan berhenti menangis tetapi menunjukan mata bulat nan putihnya seolah sama sekali tidak mengantuk.


"Kedua saudaramu sudah bobok, ayo bobok!" ucap Dewa.


Preeeeeet...


Tiba-tiba terdengar suara kentut dan tercium bau tidak sedap. Dewa memandang bayinya yang juga menatapnya.


"Davan kentut atau e'ek?" tanya Dewa.


Preeeet...


Terdengar suara itu lagi lalu Dewa mengecek popok bayinya tetapi masih bersih.


Dewa melirik Navier dengan sinis, ia menutup hidungnya lalu menyuruh temannya untuk pergi.


Setelah Navier pergi, ia kini sendirian bersama satu bayinya yang masih diam.


Dewa memandanginya dengan gemas, perpaduan wajahnya dan wajah Nona menyatu pada ketiga wajah bayi mereka.


"Papa tidak menyangka kalian hadir dikehidupan papa yang rumit ini. Semoga saja kehidupan kalian jauh lebih bahagia dibanding papa," ucap Dewa.


Dewa melirik ponselnya yang bergetar, sebuah nomor tak dikenal melakukan pamggilan via video. Rasanya enggan untuk mengangkatnya tetapi ia sangat penasaran, siapakah yang menelponnya?


Tombol hijau ia tekan, ia memperhatikan wajah yang masih gelap sebab tidak ada cahaya disana.


"Hallo, siapa ini?" tanya Dewa.


Tiba-tiba wajah yang tidak nampak kini terlihat membuat terkejut bukan main. Seseorang yang wajahnya sangat mirip dengannya.


"Hai, Naga. Apa kabar?"


"Dewa? Kau Dewa? T--ta--tapi kau sudah..." ucap Dewa alias Nagara sangat terkejut.


"Kau pasti sangat terkejut, aku masih hidup dan memang aku tidak ingin semua orang tahu jika aku masih hidup."


Nagara tidak bisa berkata-kata, kenapa kakek menyembunyikan semua ini?

__ADS_1


"Kau jangan khawatir! Kita memang bertukar kehidupan. Aku di Amerika menjadi dirimu, aku disini sudah sangat nyaman sebagai Nagara."


Dewa bergetar mendengarnya, Dewa yang asli masih hidup dan kini menyamar menjadi dirinya di Amerika?


"Kenapa kau tidak pulang kesini?" tanya Nagara.


"Tidak bisa, kakek menyuruhku untuk tetap tinggal disini untuk mengurus bisnisnya tapi aku tetap merindukanmu."


Dewa menatap saudara kembarnya yang menjadi dirinya. Mereka sama-sama terharu. Setelah itu mereka berbagi cerita kehidupan mereka selama hampir 5 tahun ini. Mereka satu sama lain mengagumi kegigihan dalam membangun bisnis masing-masing.


"Tapi yang kutanyakan kenapa kakek memisahkan kita? Kenapa dia diam saja dan tidak mempertemukan kita?"


"Aku juga tidak tahu tapi mungkin ini yang terbaik. Kita memiliki jalan masing-masing dan aku ingin bilang jika memang kehidupan kita sudah tertukar lalu kita sangat nyaman dengan apa yang kita jalani sekarang."


"Aku masih belum paham," ucap Dewa alias Nagara.


"Tidak masalah, memang kehidupan ini sulit dipahami. Yasudah, nanti aku akan mengirimkan beberapa parsel untuk ketiga keponakanku dan jika ada waktu aku akan mengunjungimu."


Setelah itu panggilan video selesai, Dewa sangat lemas mengetahui jika saudara kembarnya masih hidup dalam keadaan sehat. Dia menangis terharu sampai sesegukan, Nona yang baru datang terkejut melihat sang suami menangis.


"Mas Dewa? Kenapa menangis?"


"Dewa Arga, masih hidup. Dia menjadi diriku di Amerika, kenapa kakek tega sekali denganku?" jawab Dewa sambil memeluk Nona.


Nona menenangkan suami bocahnya lalu mengajak untuk makan malam bersama tetapi mata bulat bayi ketiganya memperhatikan mereka.


"Nah, dilihat sama Davan 'kan? Malu sama bayi kita masak seorang papa sangat cengeng?" ejek Nona.


"Mas terharu, bolehkah mas pergi ke Amerika untuk menemui Dewa yang asli?"


"Tidak boleh, pikirkan bayi kita! Tapi jika bayi kita sudah agak besar, kita bisa mengajaknya ke Amerika juga," ucap Nona.


Dewa tersenyum lalu berterima kasih pada sang istri yang sudah pengertian kepadanya.


***


Keesokan harinya.


"Mas, dokumennya sudah jadi," ucap Nona menyerahkan dokumen penting yang telah berganti nama milik Dewa.


Dewa menambahi namanya dengan Nagara Dewa Bimasena dan mengganti semua nama pada dokumen.


"Jadi tetap panggil aku Dewa saja!"


"Baiklah."


Nona melihat brosur wisata, ia membacanya dengan keras supaya Dewa bisa mendengar.


"Eheem... Piknik ke pantai enak nih..."


"Mau jalan-jalan saat ketiga bayi kita masih kecil?" tanya Dewa.


"Dekat saja kan tidak apa-apa."


Dewa sedikit berpikir lalu menganggukkan kepala. "Baiklah, nanti mas atur deh."

__ADS_1


Nona memeluknya. "Terima kasih, sayang."


****


__ADS_2