Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 16 : Permintaan maaf Nona


__ADS_3

Nona sedari tadi mondar-mandir di ruangan kantornya. Wajahnya sangat panik ketika membaca pesan dari Dewa. Dewa mengatakan jika dirinya tidak mau pulang. Nona merasa bersalah, dia harus membuat Dewa pulang ke rumah. Arsel memandangnya dari balik ruangan kesal melihat Nona yang takut jika Dewa tidak pulang, apakah Nona menyukai Dewa? Nona terus menelpon Dewa tetapi bocah itu tidak mengangkatnya dan justru hanya membalas pesan.


“Arsel, tolong siapkan mobil untuk ke tempat kerja Dewa!” pinta Nona.


Arsel menganggukkan kepala, Nona mengikutinya dari belakang dan menuju ke lobi. Sedari tadi dia memang sangat takut jika Dewa tidak mau pulang.


“Nona, mobil sudah siap.”


Nona dengan cepat masuk ke mobil dan Arsel mengemudikan mobilnya menuju restoran tempat Dewa bekerja.  Setelah menempuh waktu setengah jam mereka sampai direstoran itu dan Nona segera turun. Dia berjalan


cepat, Arsel hanya heran karena baru pertama kali Nona bersikap seperti itu. Manik mata Nona mencari setiap keberadaan Dewa sampai ia melihat Dewa sedang mengobrol asyik dengan Nisa. Hati Nona merasa sakit, dia mencoba mendekati mereka dengan wajah tenang.


“Dewa?” ucap Nona.


Dewa membalikkan badan, ia terkejut melihat Nona sudah ada dibelakangnya. “Nona, kenapa kau ada disini?”


Nisa melihatnya terheran, wanita yang pernah datang kesini sekarang berkunjung lagi dan menemui Dewa.


“Bisakah kita mengobrol?” tanya Nona.


Dewa memandang Nisa seolah meminta izin, karena restoran tidak banyak pengunjung akhirnya mau tidak mau Nisa mengizinkannya. Dewa berterima kasih lalu mengajak Nona untuk duduk. Mereka duduk berhadapan, Dewa menatap Nona sambil tersenyum Nona seolah salah tingkah dan tidak bisa berkata apa-apa.


“Mau bicara apa? Aku harus segera bekerja,” ucap Dewa.


“Ehm... Maafkan aku telah mengusirmu.”


Dewa tersenyum tipis. “Hari ini sudah meminta maaf berapa kali?”


“Aku tidak bercanda, aku sungguh meminta maaf. Mau kah kau pulang ke rumah?”


Dewa menggelengkan kepala membuat Nona semakin merasa bersalah. Nona mencoba menggenggam tangan Dewa tetapi Dewa menepisnya karena dia tahu sedang diperhatikan Nisa dari jauh.


“Dewa, pulang ya? Aku menyesal.”


“Tidak mau.”


Hati Nona semakin sedih, matanya mulai memerah. Sepertinya Dewa sudah tidak menyukainya lagi. Akankah setelah ini pernikahan mereka akan berjalan dengan baik? Dewa bisa membaca kesedihan Nona, dia tidak tega lalu menepuk bahu Nona.


“Jangan menangis! Jika menangis wajah cantikmu akan luntur,” ucap Dewa.


“Jangan bergurau, Dewa! Kau masih bisa tersenyum saat aku sedang sedih?”


Dewa semakin menertawai Nona, bulir air mata Nona langsung menetes dan ini pertama kali Dewa


melihat Nona menangis.


“Jangan menangis, Nona! Aku bercanda, aku akan pulang tapi tidak sekarang karena aku harus bekerja. Nanti malam aku akan pulang ke rumah.”


Nona mengusap airmatanya, matanya kini mulai berbinar. Dewa senang memandangnya. “Kau harus pulang, aku tunggu nanti malam,” ucap Nona.


Nona berdiri, ia mengulurkan tangan untuk menyepakati jika nanti malam Dewa harus pulang. Dewa berdiri lalu menerima uluran tangan Nona. Dia berjanji akan pulang tetapi dengan syarat jika Nona tidak boleh bersedih lagi. Disisi lain, Nisa memandang mereka dengan cemburu. Dia penasaran apa hubungan Dewa dengan wanita itu.


Apa itu pacar Dewa? Tapi tidak mungkin sepertinya wanita itu jauh lebih tua dari kami.


**


Sepulang kerja, Dewa pulang ke rumah Nona. Dia sedikit membeli camilan dipinggir jalan untuk dibawa pulang, rasa lelahnya tergantikan dengan gaji yang cukup lumayan untuk menjatah Nona dan membeli jajan dirinya sendiri.


Dewa melihat diseberang  jalan berjualan sempolan ayam, camilan favoritnya saat masih sekolah. Dewa lalu menuju ke seberang dan


membeli 15 tusuk. Sambil menunggu sempolan ayam itu matang, dia membuka pesan


di ponselnya dan membaca pesan digrup jika akan ada makan bersama setelah


menerima ijazah nanti. Teman-temannya akan membawa pacar masing-masing dan Dewa


tidak mungkin membawa Nona ikut dengannya nanti dikira malah kakaknya sendiri.


Dewa juga


membuka pesan dari mantan pacarnya yaitu Sarah, gadis labil itu mengirimkan kata-kata


permintaan maaf saat semasa pacaran dulu dia belum bisa menjadi seorang pacar


yang baik.


Basi. Aku tidak mau berhubungan


dengan Sarah lagi. Dia yang mutusin, dia juga yang ngejar-ngejar lagi.


“Mas,


sempolannya sudah siap,” ucap si penjual.

__ADS_1


Dewa segera


membayarnya lalu mencari angkot, andai saja sepeda motornya tidak dijual pasti


dia tidak akan naik angkot yang jauh lebih membuang ongkos. Tetapi tiba-tiba


sebuah mobil mewah berhenti didepannya, kaca mobil itu terbuka yang didalamnya


adalah Mas Supri.


“Hallo,Dewa.


Ayo cepat naik! Nona sudah menunggu dirumah.”


Dewa


langsung naik dan duduk disamping kemudi, Mas Supri melirik makanan yang dibawa


oleh Dewa.


“Kau mau


bawa makanan itu ke rumah?” tanya Mas Supri.


“Iya, emang


kenapa?”


“Nona anti


sekali makanan di pinggir jalan. Bahkan pelayan dan pembantu pun tidak berani


membeli dan makan didalam rumah Nona,” jelas Mas Supri.


Dewa


mengernyitkan dahi lalu membuang pikiran negatifnya. “Semoga Nona tidak


memarahiku.”


Mas Supri


tersenyum,  jika Nona tidak memarahi Dewa


menggemaskan dan aroma-aroma cinta akan tersebar dipenjuru rumah.


“Nona hari


ini sudah wangi dan berdandan cantik,” ucap Mas Supri.


“Memangnya


Nona mau kemana?” tanya Dewa.


“Haduh...


Pura-pura bodoh rupanya, untuk menyambutmu lah.”


Dewa tertawa


kecil, sampai segitunya kah? Apakah ini hanya akting Nona? Setelah menempuh


waktu selama setengah jam akhirnya sampai juga. Dewa segera turun dan membawa


makanannya. Mas Supri membuka pintu utama untuk Dewa, Dewa langsung memandang


Nona yang berdiri 5 meter darinya seolah menyambut kedatangannya.  Nona melirik makanan yang ditenteng Dewa


tetapi ia seolah tidak mempermaslahkan itu.


“Dewa, mandi


dulu! Setelah itu kita makan malam bersama.”


Dewa


menganggukkan kepala lalu menyerahkan makanan itu ke Nona, Nona menerimanya


walau sedikit tidak nyaman. Nona melihat Dewa naik ke kamarnya sedangkan dia


menuju ke ruang makan dan meletakkan sempolan itu diatas meja. Nona menunggu


sendirian, dia tersenyum sendiri saat melihat wajah tampan Dewa saat sepulang

__ADS_1


kerja tadi.


“Nona


membeli makanan itu?” tanya Bibi yang datang dari arah dapur dan menunjuk


seplastik sempolan ayam.


“Dewa yang


membelinya.”


“Nona tidak


marah?”


Nona


tersenyum. “Saya tidak ingin merusak suasana malam ini.”


Bibi tertawa


kecil, dia lalu berpamitan beberes didapur sedangkan Nona tersenyum sendiri


tidak jelas.


Setelah 15


menit, akhirnya Dewa muncul juga. Rambutnya yang basah dan badannya yang wangi


sabun membuat Nona menjadi tenang. Nona lalu menarik kursi dan menyuruh Dewa


untuk duduk. Nona melayani Dewa dengan baik seperti mengambil minuman, piring


serta lauk pauknya. Mereka lalu makan dengan tenang dan sesekali Nona melirik


Dewa.


“Oh ya, kau


tidak marah aku membawa makanan pinggir jalan ini?” tanya Dewa.


“Sekali-kali


tidak papa.”


Dewa melihat


bulir nasi disudut bibir Nona lalu mengambilnya, Nona cukup terkejut dan


menjadi salah tingkah. “Maaf membuatmu kaget,” ucap Dewa.


Nona


menggelengkan kepala, entah kenapa hatinya seolah berbunga-bunga. Setelah makan


malam selesai, mereka memutuskan untuk kembali ke kamar. Dewa membawa


makanannya ke kamar dan Nona tidak mempermasalahkan itu.


“Nona harus


coba makanan ini, ini makanan jaman sekolah,” ucap Dewa sambil menyerahkan satu


tusuk sempolan yang didalamnya berisi telur puyuh.


Nona


menggelengkan kepala, dia takut tenggorokkannya akan sakit jika makan makanan


seperti itu. Dewa langsung menyuapkan ke mulut Nona, mau tidak mau Nona harus


mengunyahnya. “Rasanya lumayan,” ucap Nona.


Mereka lalu


makan bersama sampai habis tidak tersisa, Dewa segera menuangkan minuman dan


menyerahkannya kepada Nona. Nona sedari tadi melihat bibir Dewa yang menggoda,


ia ingin memagutnya. Tanpa berpikir panjang, Nona mencium bibir Dewa dengan


mesra, memagutnya dengan penuh kenikmatan tiada tara. Dewa langsung membalas

__ADS_1


ciuman itu, lidahnya sudah bermain-main didalam mulut Nona.


__ADS_2