
"Papa datang juga?" ucap Elara sambil berdiri ceria.
Bara melepas jaketnya dan duduk diseberang Elara. Elara memberikan daftar menu untuk papanya. Mereka memesan makanan bersama. Senyuman Elara mengemban tatkala melihat wajah papanya yang begitu tampan dan putih. Dia sampai tidak sadar saat Bara juga ikut menatapnya.
"Papa saat menduda menjadi tampan. Aku suka," ucap Elara.
"Kau juga sangat cantik ketika masuk kuliah. Bagaimana, seniormu ada yang naksir denganmu?"
Elara menggelengkan kepala. Dia memainkan taplak meja yang ada dibawahnya. "Papa, bagaimana jika kita menikah? Aku 'kan bukan anak kandung papa."
Mata Bara seketika membulat mendengar ucapan putrinya yang sudah sangat dia sayangi. Elara menampilkan wajah seolah memelas.
"Pah, kita bukan sedarah."
"Apa yang kau pikirkan, Elara? Aku papamu."
"Kita bukan keluarga asli. Papa hanya papa palsu. Papa kandungku sudah meninggal, mamaku juga sudah meninggal. Jadi sah-sah saja kita kita menikah."
Rahang Bara seolah mengeras, ingin sekali menyiram mulut Elara dengan botol air yang ada didepannya. Bisa-bisanya, anak yang dirawatnya sejak berada di kandungan mengatakan hal seperti itu.
Bara berdiri dan membawa jaketnya. "Papa ada urusan lain, kali ini papa tidak bisa menemanimu makan, mungkin lain kali saja."
"Ayo tidur bersama, pah!" teriak Elara membuat pengunjung yang lain melihat mereka.
Plaaaaaak ...
Emosi Bara tak terkontrol, ia dengan refleks menampar pipi anak kesayangannya. Setelah menampar rasanya sangat menyesal tetapi dia menepisnya karena Elara mengatakan hal yang tidak bermoral.
Elara tersenyum kecut sambil memandang Bara yang keluar dari tempat itu.
Bara masuk ke mobilnya dan pergi dari tempat itu dalam keadaan sangat kesal sekali.
Elara mengajaknya menikah? Sangat terlihat gila.
***
Dewa dan Nona pulang dari rumah orang tuanya setelah Nona mengeluh tidak enak badan. Dewa melajukan motornya dengan pelan. Sore ini masih terlihat sangat terik membuat Nona menyipitkan matanya untuk melihat jalanan.
__ADS_1
"Sayang, ehmm... kudengar jika tanah milikmu akan dibangun perumahan elit?" tanya Dewa supaya suasana cair.
"Iya, padahal ayah menyuruhku untuk membangun panti asuhan tapi sebelum aku melakukannya sudah diambil oleh saudara tiriku."
Dewa memandang wajah Nona yang sedih dari spion motor. "Doakan mas sukses biar bisa membantumu membangun panti asuhan."
Nona menganggukkan kepala. Dewa sangat tidak tega melihat Nona yang dicurangi oleh keluarganya sendiri. Dewa tersenyum kecil, ia memiliki sebuah rencana untuk membatalkan proyek tersebut.
Setelah sampai rumah, Nona langsung berbaring tanpa mandi terlebih dahulu. Badannya menjadi cepat pegal untuk bergerak sedikit saja.
Dewa ingin menjadi suami yang baik, ia memijat kaki Nona yang mulus. Nona tersenyum senang melihat bocah baru lulus sekolah sudah paham menjadi suami yang baik.
"Sayang, mas mau tanya. Waktu di rumah lama, mas menemukan seperti diary dalam bahasa Inggris. Apa itu milikmu?"
Mata Nona terbelalak, ia menepis tangan Dewa yang memijatnya. Amarah nampak jelas berada diwajahnya. Dewa bisa melihat semua itu.
"Lancang sekali kau menyentuh barang pribadiku?" bentak Nona.
"Kenapa sayang segitu marahnya? Toh, aku juga tidak paham artinya. Yang aku tangkap dari surat tersebut hanya tulisan 'aku akan membunuhmu'."
Nona memalingkan wajah, ia begitu panik membuat Dewa heran. Sepertinya ada hal yang disembunyikan oleh Nona.
Dia melangkah menuju tirai putih, menutupnya karena sorot matahari sore ini cukup terik membuat mata menjadi silau.
"Alisa, dia saudara kembarku. Dia tewas dibunuh bersama mommyku. Keluarga Wiratmaja tahu akan hal itu tetapi semua bungkam dan bilang jika mommyku meninggal karena sakit parah," ucap Nona.
Dewa menatap Nona lalu mendekatinya, air mata Nona mengalir sangat deras bahkan dadanya menjadi sesak. Dewa memeluknya dengan lembut.
"Itu adalah surat yang di tulis Alisa, aku menemukannya di kamar Kak Bara sewaktu dia belum menikah. Sebab itulah aku juga tidak mempercayai Kak Bara. Karena dia ikut menyembunyikan kasus pembunuhan mommyku padahal dia adalah saksi utama," ucap Nona.
"Jangan fitnah begitu jika belum ada bukti! Bisa saja Kak Bara di bungkam oleh ayahmu supaya tidak bercerita?"
"Aku tidak peduli, Bara sangat jahat."
Tetesan demi tetesan air mata berlinang. Dewa semakin memeluk erat Nona. Potongan puzzle demi puzzle terkumpulkan, apakah Bara juga dibalik pembunuhan mommy Nona? Tapi dimana makam Alisa? Nona sendiripun tidak tahu akan hal itu.
"Sayang, kepalaku pusing," ucap Nona sambil memegangi kepalanya.
__ADS_1
Dewa dengan sigap membaringkan sang istri dan tidak lupa menyelimutinya. Dewa akan membantu mengungkap apa yang sebenarnya terjadi karena surat tersebut masih janggal.
"Mas, jangan pergi! Usap kepalaku!" pinta Nona yang manja.
Dewa mengangguk, ia menemani Nona yang terlelap sore ini. Membelainya, memberinya kasih sayang untuk keempat cintanya. Minggu depan, Dewa sudah mulai masuk kuliah walau tidak setiap hari tetapi tetap saja akan mengurangi waktu Dewa bersama sang istri tercinta.
"Badanku gak enak, mas."
"Sayang belum minum obat dari dokter 'kan? Mas ambilkan, ya?"
Nona menggelengkan kepala. "Mas disini saja!"
Semakin hari, Nona semakin manja dengan Dewa. Dewa tidak mempermasalahkan itu, sebab dia sangat menyukai ketika Nona menjadi manja.
"Mas Dewa satu-satunya keluarga yang aku miliki. Mas jangan tinggalin aku!"
Jika kau tahu identitasku sebenarnya apa kau masih mencintaiku? Pasalnya aku bukan Dewa. Bahkan sifat dan kebiasaan asliku sangat berkebalikan dengan Dewa.
Dewa mengusap rambut Nona sampai terlelap, ia berharap jika Nona jangan sampai tahu identitas aslinya.
Walapun sejak awal aku yang menikahimu tetapi tetap saja aku membohongimu. Apa aku bongkar saja sekarang? Tapi bagaimana reaksi Nona? Dia sedang hamil, aku takut akan mempengaruhi kesehatan janin kita.
Flashback... ( POV NAGARA )
"Dewa, selamat kembali ke rumah!" ucap bapak.
Ini pertama kalinya aku datang di rumah Dewa dan orang tuanya. Rumahnya sederhana tetapi terlihat nyaman. Sepertinya orang tua Dewa sangat menyayangi Dewa, tentu saja. Dewa adalah anak satu-satunya mereka.
"Dewa, bapak dan ibu sudah mendaftarkanmu di SMK favoritmu. Minggu depan kau bisa masuk ke sekolah."
Aku hanya mengangguk saja, mataku memandang foto Dewa sedang bermain basket. Ternyata hobby kami memang berbeda, Dewa suka basket dan aku lebih suka sepak bola.
"Dewa, ibu sudah membuatkan susu coklat. Minum ya, nak!"
Iyuuuuh... Aku sangat benci sekali dengan coklat, haruskah aku juga mengikuti kesukaan Dewa? Kita memang kembar tetapi kebiasaan kita memang berbeda.
"Pak, buk. Kamarku dimana, ya?"
__ADS_1
Sebuah pertanyaan maut yang membuat aku terperanjat sendiri tetapi untungnya ibu dan bapak tidak curiga. Dia menuntunku menuju ke kamar yang sangat kecil, menurutku. Seperti inikah kehidupan Dewa?
****