
"Jangan mencela Zalina dan Elara! Mereka tidak seperti itu. Jaga ucapan ibu! Aku tahu jika ibu tidak suka dengan mereka tetapi jangan pernah menghina mereka dengan mulut jahat ibu!" ucap Bara nampak kesal.
Ibu beranjak dari tempat duduknya. Dia meninggalkan Bara yang nampak kesal karena sudah meremehkan istri beserta anaknya. Bara terduduk di sofa, ia mengusap wajah secara kasar lalu mencoba menelpon Nona.
"Nona, kakak akan usahakan untuk mempertahankan apa yang sudah diberikan oleh ayah kepadamu."
"Terima kasih, kak. Tapi aku tidak punya bukti yang kuat untuk mempertahankan apa yang aku miliki. Tenang saja! Aku masih punya sesuatu yang aku jalankan dari peninggalan ibuku. Kakak mulai sekarang jangan memikirkanku! Aku sudah dewasa dan sudah mempunyai suami yang siap membimbingku ke jalan yang seharusnya aku pilih," ucap Nona.
Bara menyunggingkan senyuman. Adik perempuannya sudah dewasa dan mandiri. Bara akan mendukung apapun yang terbaik untuk sang adik. Semoga saja Nona bisa bangkit dari keterpurukan ini.
**
Bara memutuskan untuk ke tempat Dani yaitu sahabat karibnya. Mereka dulu satu SMA dan selalu bersama dalam suka maupun duka. Bara selalu curhat dengan Dani bila sedang ada masalah. Dani adalah tipe pendengar yang baik, dia selalu memberi saran positif kepada sahabatnya itu.
"Anakmu masih bersikap aneh? Kenapa tidak di berobat ke luar negeri saja? Ada sebuah rumah sakit yang bisa mengobati putrimu. Dia masih ABG, kasihan jika harus menderita seperti itu," ucap Dani.
"Istriku yang tidak mengizinkan tapi kami sudah mempunyai psikiater yang setiap minggunya mengontrol Elara. Bagaimana dengan putrimu?"
Dani berdecak, sama saja dengan Sarah. Sarah semakin hari semakin nakal dan seenaknya. Apalagi dia sering pulang malam bermain bersama teman-temannya. Anak remaja sekarang memang susah untuk diatur.
Terdengar suara mobil diluar, Dani menduga jika itu putrinya. Sarah masuk dengan raut wajah yang masam. Sarah melewati kedua pria itu.
"Sarah, ada Om Bara. Setidaknya sapa dia. Tidak sopan melewati seperti itu," ucap Dani.
Sarah yang sudah menaiki tangga terhenti. Dia dengan malas membalikkan badan. "Aku lelah, pah. Mau ke kamar," ucap Sarah.
"Jangan memakai celana seperti itu lagi! Papa akan buang jika kau memakai celana hotpants super pendek itu."
Sarah mendekat lalu menguap. Dia semakin menarik celananya keatas membuat paha mulusnya terlihat. Dani mengambil bantal lalu melempar kearah Sarah tetapi gadis itu menghindar.
"Wekkk.. tidak kena," ejek Sarah langsung lari menuju tangga.
Dani hanya menggeleng-gelengkan putri nakalnya. Bara hanya tersenyum kecil malah menganggap Sarah lebih bandel dari pada putrinya.
"Ya begitulah jika dia tidak dibesarkan oleh ibunya. Dia menjadi liar," ucap Dani.
__ADS_1
"Dia hanya butuh perhatian. Kenapa kau tidak mencari Ibu lagi untuk Sarah?"
"Belum nemu yang pas, bro."
Di rumah sakit.
Nona menemani Dewa, ia begitu merawat Dewa dengan baik. Dewa beruntung mempunyai istri sebaik dan sesabar Nona, walaupun Nona memiliki masalah tetapi ia tidak menunjukkan sikap sedihnya.
"Aaaaa... makan dulu!" ucap Nona menyuapkan bubur polos untuk Dewa.
Dewa memakan bubur aneh itu. Dewa menelannya dengan kasar, ia menunjuk gelas lalu Nona memberikannya. Di tenggaknya air putih oleh Dewa.
Nona tersenyum karena walau sedang sakit Dewa tidak kehilangan nafsu makannya.
"Yang menabrakmu sudah tertangkap."
"Benarkah?" tanya Dewa.
"Dan sudah di proses oleh pihak kepolisian."
"Dewa, kau harus dirawat lebih lama. Lagi pula rumah kita juga belum siap."
Dewa mengernyitkan dahi belum paham dengan ucapan Nona.
"Aku sudah membeli rumah baru untuk tempat tinggal kita. Disana belum siap dan masih di tata dengan rapi. Rumahku yang lama akan diambil oleh ibu dan saudaraku," jelas Nona.
Dewa mengusap pipi Nona, guratan kesedihan Nona tergambar jelas di wajah Nona. Nona seolah tegar dan tidak ingin membuat Dewa khawatir. Dewa memeluk Nona, rasa nyaman menghampiri Nona. Untung saja saat ini dia memiliki Dewa yang baik dan selalu ada untuknya.
"Rezeki tidak akan kemana, sayang," hibur Dewa.
Nona menganggukkan kepala, jemari tangannya mengusap bulir-bulir air mata yang berjatuhan. "Setelah ini mau 'kan membangun bisnis bersamaku, kita bisa mengelola kebun kopi. Itu satu-satunya usaha yang kini aku miliki setelah perusahaan Alona akan dipecah untuk ibu dan saudaraku," ucap Nona.
"Iya, aku akan membantumu sebisaku. Aku mencintaimu, sayang," jawab Dewa.
Ceklek...
__ADS_1
Arsel datang, seketika Dewa dan Nona yang berpelukan melepaskan pelukan mereka. Arsel menatap mereka biasa saja seolah tidak melihatnya.
Arsel menyerahkan berkas yang harus diserahkan kepada Nona. Dia juga sudah mencari pengacara untuk Nona.
"Nona, anda tetap akan mendapat sebagian harta ayah anda tetapi karena anda perempuan maka akan jauh lebih sedikit mendapatkan hak anda daripada ketiga saudara laki-laki anda," jelas Arsel.
Nona tersenyum, "Tidak masalah."
Arsel melirik Dewa, Dewa menatapnya. Arsel memalingkan wajah lalu duduk di bangku dalam ruangan itu. Arsel melanjutkan pekerjaan yang tertunda tanpa menghiraukan mereka yang asyik bermesraan.
"Sayang, aku ingin makan buah apel," ucap Dewa sambil melirik Arsel.
Nona mengambil apel segar lalu mengupasnya. Nona memotongnya kecil-kecil tetapi jemarinya malah terkena pisau. "Aduh...."
Dewa dan Arsel refleks mengenggam tangan Nona, mereka melihat jemari Nona yang terluka. Dewa memandang Arsel dengan tajam.
"Harusnya aku yang tidak terima saat istriku dipegang pria lain. Kenapa kau malah memelototiku?" ucap Dewa.
Arsel melepaskan tangannya. Dia kembali duduk di kursi. Dewa tersenyum senang lalu mengusap darah Nona dengan sebuah tisu. Nona tersipu malu saat dirinya diobati oleh Dewa.
"Semoga saja tisu ini bisa menahan darahmu supaya tidak keluar," ucap Dewa.
Dewa melirik Arsel lagi, dia sekarang suka sekali membuat Arsel cemburu. Arsel memasang wajah masam lalu beranjak pergi tetapi tiba-tiba pintu terbuka, Sarah datang lagi lalu matanya mencari sesuatu barang yang tertinggal.
"Kau tidak sopan masuk ke ruangan orang tanpa permisi," ucap Arsel.
"Diamlah! Ponselku ketinggalan," jawab Sarah sambil melihat di sekelilingnya.
Jadi Sarah tadi kesini? Batin Nona cemburu.
Sarah mengambil ponselnya yang tersedia di sofa. Dia bergegas keluar tetapi Arsel menahannya. "Setidaknya bilang sesuatu sebelum kau pergi dari sini."
"Bilang apa? Aku juga barusan dari sini kok. Benar 'kan, Dewa? Wah... Kau makan apel pemberianku," ucap Sarah membuat Nona semakin cemburu.
****
__ADS_1